Saturday , October 21 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Kapan Kita Sungguh-Sungguh Mensyukuri Nikmat Ini?

Kapan Kita Sungguh-Sungguh Mensyukuri Nikmat Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Hanya-orang-orang yang tidak puas dengan nasibnya yang berkeinginan untuk bertukar nasib. Anehnya, kita tidak harus menjadi orang sengsara terlebih dahulu untuk memiliki keinginan itu. Bahkan, dalam keadaan ’serba enak’ pun kita masih ingin bertukar nasib dengan orang lain yang kita anggap bernasib lebih baik. Persis seperti pepatah lama kita; ”rumput tetangga terlihat lebih hijau…..” Tetapi, seandainya memang kita berkesempatan untuk menukar nasib dengan orang lain; apakah benar kita akan menemukan kepuasan itu?

Disebuah stasiun TV swasta ada reality show yang bertajuk ’Tukar Nasib’. Orang kaya bertukar nasib dengan orang miskin. Keluarga kaya pindah ke rumah orang miskin, dan sebaliknya. Ternyata, tidak hanya anggota keluarga kaya saja yang ’tersiksa’ dengan dunia barunya. Orang miskin yang ’berubah’ kaya pun tidak senyaman yang mereka kira sebelumnya. Diluar acara TV, kita sering mendengar orang miskin yang mendambakan kekayaan. Itulah sebabnya, begitu mudahnya menarik minat orang untuk diajak menjadi kaya. Beragam kegiatan pun ditawarkan. Dari mulai arisan fiktif, jual beli barang ’tak berujud’, atau email pemberitahuan menang lotere, hingga seminar untuk menjadi orang kaya. Nyaris semuanya laku keras, melebihi kacang goreng.

Siapa yang ingin kaya? Saya. Karena hingga saat ini, saya memang belum kaya. Bahkan tak jarang masih pusing memikirkan cara membayar tagihan dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang kita anggap sudah kaya. Karena, mereka melihat banyak sekali orang yang lebih kaya dari dirinya. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang sudah terbukti sangat kaya raya. Sebab, konon kekayaan tidak bisa membuat seseorang merasa cukup. Sehingga perburuan itu tidak memiliki garis finis.

Pergulatan semacam itu tidak hanya soal uang dan kekayaan, namun juga banyak hal lain semisal jabatan. Kita sering mengira bahwa jabatan tertentu lebih baik dari jabatan kita saat ini; terutama ketika kita lebih banyak melihat keuntungannya daripada tanggungjawab dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Kerinduan kita akan gaji tinggi, fasilitas menggiurkan, terus bonus segunung membuat diri kita yakin bahwa; kita harus menukar nasib ini. Perkara kita bisa menangani tugas dan tanggungjawab serta konsekuensinya, itu soal belakangan. Pokoknya, kita dapat dulu itu jabatan. Sewaktu jadi staf, kita mendambakan untuk menjadi manager. Setelah menjadi Manager, kita panas hati karena seorang kawan sudah menjadi Senior Manager. Setelah menjadi Senior Manager, kita tahu bahwa gengsi ini belum cukup kalau tidak menjadi Direktur. Setelah jadi Direktur, kita bersedia melakukan apapun untuk menjadi Presiden Direktur. Dan nanti, setelah menjadi Presiden Direktur, kita pasti memiliki kejaran-kejaran baru lainnya.

Tapi, bukankah kita memang harus memiliki visi dan ambisi semacam itu? Betul. Sebab tanpa keinginan seperti itu, kita tidak akan memiliki cukup tenaga untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita mampu meraihnya, mengapa tidak? Sebab, setiap orang berhak untuk mendapatkannya. Sehingga pengejaran impian semacam itu sah-sah saja. Namun, menjadi kurang pada tempatnya ketika kita terlampau berfokus kepada ’apa yang kita iginkan’, bukan kepada ’apa yang sudah kita dapatkan’. Implikasinya, alih-alih menikmati semua pencapaian kita dengan sepenuh rasa syukur, kita malah terus-menerus merasa kurang ini dan kurang itu. Perasaan kurang akan berdampak positif, dalam konteks memotivasi diri untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi. Namun, akan berdampak negatif jika kita kurang mensyukurinya.

Simaklah apa yang terjadi ketika kita lupa bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah anugerah yang sangat besar. Betapapun lebih baiknya keadaan kita dibandingkan dengan orang lain, tetap saja kita merasa kurang beruntung. Jangan-jangan, sebenarnya kita ini tidak kekurangan apapun kecuali rasa syukur. Bahkan kadang kita lupa ketika bangun pagi, mendapati diri kita sehat walafiat. Padahal, bisa saja Tuhan menjadikan kepala kita pening sekali hingga tak mampu bangkit dari tempat tidur. Kadang kita lupa ketika mendapati kedua tangan dan kaki, mata dan telinga kita utuh sempurna. Padahal, bisa saja Tuhan mengambilnya kapan saja. Bahkan, kadang kita lupa bahwa hidup ini layak untuk disyukuri. Karena jika Tuhan menghendaki, bisa saja mengakhirinya kapan saja. Jadi, kapan ya kita akan sungguh-sungguh mensyukuri nikmat ini?

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Managing Partner & Learning Facilitator IFSHA Strategic

Catatan Kaki:
Semoga, Tuhan memberi kecukupan kepada kita. Baik kecukupan secara material untuk menjalani kehidupan, maupun kecukupan spiritual untuk mensyukuri semua anugerah ini.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara gratis. Jika Anda ingin mendapatkan buku tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk Mading kantor silakan
hubungi kami japri dengan subjek “Artikel Mading” ke dkadarusman@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

9 comments

  1. Semoga, Tuhan memberi kecukupan kepada kita. Baik kecukupan secara material untuk menjalani kehidupan, maupun kecukupan spiritual untuk mensyukuri semua anugerah ini.

    AMIN..AMIN…AMIN..YA ROBB.
    SENANTIASA BERSYUKUR ATAS ANUGRAH DARI ALLAH

  2. AGAIN…..Amazing Article !!! Bukunya Kang Dadang ‘Belajar Sukses kepada Alam’ juga Ok banget kang….Buku tsb jadi rebutan teman2 Saya dikantor. Sukses selalu untuk kang Dadang, May GOD Always Bless You Forever, anytime, anyplace…..

    Haturnuhun kang.

    Wassallam’
    Andy

  3. Wahyu Darmayani

    Alhamdulillah, terima kasih atas artikel yang mengingatkan dan mencerahkan jiwa Kang Dadang 🙂

    Memang terkadang kita lupa dan mengabaikan nikmat-nikmat yang ALLAH SWT anugerahkan kepada kita, Nikmat Sehat, Nikmat Selamat dan Nikmat Iman.

    Kami tunggu artikel-artikel positif dan bersemangat berikutnya

    Wassalam,

    (Wahyu Darmayani)

  4. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah..
    semoga kita senantiasa menjadi umat yang Bersyukur.. Amin

    salam
    Deden

  5. Assalamu’alaikum.wr.wb

    Semoga Allah,swt senantiasa menjadikan kita umat yang selalu bersyukur.Amin.

  6. BERSYUKUR itu membawa kenikmatan yang luar biasa lhoo .. 🙂
    Saya ngga ingat mana yg hadir lbh dulu ..
    kebiasaan saya sejak kecil bersyukur atas segala rahmat karunia-Nya, atau ..
    kesadaran saya bahwa apa yang saya terima NYARIS SELALU menyenangkan, sesuai yang saya harapkan, dan segala urusan saya selalu dimudahkan shg saya senantiasa bersyukur ..
    Tapi yang jelas, terbiasa/senantiasa BERSYUKUR membuat saya menjadi org yg bisa menikmati hidup, dalam keadaan yg bagaimanapun, dimanapun, dan menghadapi apapun.

    “Semoga, Tuhan memberi kecukupan kepada kita. Baik kecukupan secara material untuk menjalani kehidupan, maupun kecukupan spiritual untuk mensyukuri semua anugerah ini”

    amien ..

  7. Teguh Wahju Sardjono

    Alhamdulillah, Tulisan akang mengingatkan kita agar tidak selalu melihat ke atas, tetapi melihat orang yang lebih di bawah kita, agar kita tetap dapat bersyukur, seperti hadits Nabi: Undzuruu ilaa man huwa asfala minkum, wa laa tandzuruu ilaa man huwa fauqokum. Saya sangat berminat untuk mendapat artikel-2 lebih lanjut. Semoga Allah selalu memberi rakhmat, hidayah dan kesehatan kepada Akang.

    Wassalam

  8. Assalami’alaikum Wr.Wb……

    Semoga Allah SWT, selalu memberikan HidayahNya dan menjadikan kita sebagai umat yang pandai mensyukuri semua nikmat – nikmatNya….Amiin…

  9. Tamtomo Nusa Hantoro

    Agama adalah nikmat tertinggi dan paling sempurna diantara semua kenikmatan yang Allah SWT telah anugerahkan kepada kita semua. Melaksanakan perintah perintah agama dengan penuh kenikmatan Insya Allah akan semakin meningkatkan kefahaman agama dan menghantarkan kepada kesuksesan hidup dunia dan akhirat.
    Syukron katsiro kang Dadang, semoga Allah SWT melimpahkan pahala yang tiada putus putusnya atas ilmu yang sudah disampaikan kepada kita semua, aamiin