Friday , September 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk

Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

”Enough is not enough when we can get more.” Mungkin anda pernah mendengar ungkapan itu. Cukup itu tidaklah cukup, jika kita bisa memperoleh lebih banyak lagi. Dalam konteks tidak cepat berpuas diri, kalimat itu sungguh sangat memotivasi. Karenanya, ketika kita berhasil meraih pencapaian hingga tahap tertentu, maka kita terus memacu diri. Namun, dalam konteks pengendalian hawa nafsu, kita perlu menggunakan sudut pandang yang berbeda sama sekali. Sebab, hawa nafsu yang tidak mengenal batas membentuk kita menjadi pribadi serakah (greedy), sehingga ’mengambil lebih banyak lagi’ menjadi dogma yang mesti kita patuhi. Sampai-sampai, kita tidak bisa membedakan antara semangat untuk terus mengeksplorasi kapasitas diri dengan keserakahan.

Dipenghujung musim hujan, para nyamuk menggeliat bangun. Sehingga, pada masa-masa awal musim kemarau seperti saat ini dirumah saya sudah mulai beterbangan mahluk haus darah itu. Jika sudah begitu, ketenangan malam-malam kami menjadi terusik. Kami sering dibuat tidak berdaya untuk menangkis serangan-serangan udara layaknya pesawat tempur canggih yang menggempur pemukiman penduduk yang tak berdaya. Hebatnya lagi, nyamuk jaman sekarang sudah semakin canggih melakukan manuver sehingga jangan harap bisa menepuknya ketika dia terbang. Bahkan, ketika dia menggigitpun tingkat kewaspadaannya tetap tinggi. Jadi, saat kita menepuk, dia cepat-cepat terbang lagi. Nyamuk lolos, malah paha kita yang terasa pedas karena terkena pukulan sendiri.

Tapi, tentu Anda tahu bahwa ada ’saat dimana kita bisa menangkap’ nyamuk dengan amat sangat mudah. Yaitu, ketika nyamuk sedang kekenyangan. Ketika kenyang, nyamuk tidak bisa terbang. Boro-boro terbang, untuk sekedar bergerak saja sudah sulit. Sehingga, kita bisa menepuknya dengan teramat gampang.

Setiap kali saya mendapati nyamuk kekenyangan seperti itu saya selalu memiliki dua perasaan yang bercampur baur. Pertama, perasaan puas, karena anda tahulah apa yang saya lakukan kepada nyamuk yang telah menyakiti anak-anak saya yang tengah tertidur pulas itu. Kedua perasaan miris. Miris? Iya. Karena saya melihat sifat nyamuk itu didalam diri saya. Setelah saya memikirkan dalam-dalam, ternyata bukan hanya nyamuk yang memiliki sifat serakah, tetapi juga manusia. Bahkan, mungkin manusia lebih serakah dari nyamuk. Nyamuk memang serakah. Tetapi, yang dia ambil hanya sebatas memenuhi isi perutnya. Tetapi, keberhasilan manusia untuk memenuhi seluruh rongga perutnya tidak akan pernah berhasil menghentikan hasratnya untuk ’mengambil lebih banyak’ lagi. Sebab, selain memiliki rongga perut untuk menyimpan, manusia juga memiliki bank, surat berharga, emas batangan, dan berbagai macam bentuk penyimpanan lainnya. Karena kapasitas tempat penyimpanan itu nyaris tidak terbatas, maka cocoklah dengan sifat rakus manusia yang tidak kenal batas ini.

Seandainya nyamuk itu tidak mengumbar nafsu serakahnya, misalnya dengan menghisap darah secukupnya saja, mungkin dia akan tetap bisa menyelamatkan diri. Tetapi, keserakahan telah menjadikan dirinya terlampau bernafsu untuk mengambil sebanyak-banyaknya sehingga perutnya kepenuhan. Dan karenanya dia menjadi tidak berdaya. Kita sudah melihat begitu banyak bukti bahwa manusia-manusia yang serakah seringkali pada akhirnya harus berhadapan dengan hukum, dan bermuara dibalik jeruji penjara. Jika pun mereka bisa meloloskan diri, mereka harus berpura-pura menjadi manusia terhormat, padahal namanya terpampang dalam DPO alias daftar pencarian orang dengan titel buronan.

Sungguh beruntung bagi sang nyamuk. Sebab, dia hanya berurusan dengan dunia. Sedangkan manusia? Selain dunia, kita memiliki urusan dengan akhirat. Jika nyamuk serakah mati, maka mati pulalah semua ’dosa’ yang pernah diperbuatnya. Namun, jika manusia mati, maka abadilah ’semua amal perbuatannya’. Jika amal itu baik, maka kebaikan itu akan menjadi bekal kehidupan sesudah kematiannya. Namun, jika amal perbuatannya itu berupa keburukan; akan tetap menjadi beban bagi kehidupan keduanya kelak. Padahal, hidup kelak beda dengan hidup kini. Kini, uang bisa menjadi hakim pengganti hukum. Namun nanti, uang tidak bernilai lagi.

Tiba-tiba saja saya merasa beruntung karena ’tidak memiliki kesempatan’ untuk melampiaskan semua bentuk keserakahan itu. Saya bersyukur karenanya. Sebab, seandainya saja saya mendapatkan kesempatan itu; mungkin saya tidak akan mampu mengendalikan nafsu serakah ini. Tetapi, saya juga merasa miris lagi. Karena, meski tidak seserakah itu; saya masih memiliki bibit keserakahan dihati ini. Sehingga, kadang-kadang saya begitu egoisnya sampai berani mengabaikan kepentingan orang lain.

Hari ini, saya belajar sesuatu dari sang nyamuk. Bahwa jikapun kita harus mengambil, maka kita hanya berhak mengambil sesuai dengan hak kita. Yaitu sejumlah kadar kepantasan tertentu. Jika kita mengambil melebihi tingkat kepantasan itu, maka kita telah berubah menjadi mahluk yang lebih rendah dari sang nyamuk. Sebab, keserakahan nyamuk dibatasi oleh ukuran perutnya. Sedangkan keserakahan kita, hanya dibatasi oleh kematian. Sifat serakah kita tidak mati sebelum kita sendiri yang mati. Sementara dalam serakahnya itu, sang nyamuk mati dalam seluruh kebaikan hidup. Sebab, ketika dia mati, dia datang menghadap Tuhan. Lalu dia katakan; ”Tuhan, saya sudah menunaikan tugas yang Engkau perintahkan.” Maka malaikat yang mendampinginya berkata;”Tuhanku, sesungguhnya kami menyaksikan hambamu ini menunaikan tugasnya seperti yang Engkau perintahkan….”

Lalu batin saya bertanya kepada sang malaikat. ”Wahai Malaikat suci, apakah sesungguhnya tugas yang Tuhan berikan kepada sang nyamuk itu?” Balas malaikat:”Tuhan menugaskan nyamuk untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia, agar mereka menghindari sifat serakah dan berlebih-lebihan…..” Lalu pagi itu, saya terbangun dengan beberapa ekor nyamuk yang gemuk. Saya kesal karena dia telah mengambil darah dari tubuh ini. Namun, saya juga kagum kepadanya. Karena demi menjalankan perintah Tuhan, dia rela untuk mengorbankan dirinya. Sehingga para manusia, bisa menarik pelajaran penting darinya….

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta

Catatan Kaki:
Memberi adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk menerima. Sedangkan menerima adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk memberi. Karenanya, kesediaan untuk memberi dan menerima menghindarkan kita dari keserakahan.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

Kami akan mengundi 4 perusahaan untuk mendapatkan In-house GRATIS Workshop 4 jam bertema ”Never Give Up, Never Surrender” untuk para karyawannya. Perlu diketahui bahwa program ini BUKAN preview untuk menarik minat peserta mengikuti program lanjutan. Ini adalah program yang dirancang khusus berdurasi ½ hari. Jika perusahaan Anda ingin mengikuti undian Workshop Gratis ini, silakan mendaftar/hubungi kami dengan subjek “Workshop Gratis” ke dkadarusman@yahoo.com. Penawaran gratis ini hanya untuk pelaksanaan di Jakarta, dan dijadwalkan pada bulan Agustus 2009. Pengumuman perusahaan hasil undian dilakukan pada minggu ke-2 bulan July.

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

12 comments

  1. masuk akal.. thank you

  2. ah tidak sesederhana itu jika mengupas tentang keserakahan yang sudah mendatangkan bencana di anak-anak Nabi Adam generasi pertama (kasus Habil dan Kabil).

    See u

  3. makasih kang, kalau urusan dunia lihatlah ke bawah dan bila urusan akhirat lihatlah ke atas, itu kata ortu, Buat pak Sueb tolong terangkan biar kami dapat manfaat.

  4. trima kasih kisahnya.. utk pelatihan grats bagi perusahaan ditunggu untuk yg surabaya/sidoarjo.. 🙂

  5. siiplah kang.

    oh ya, matur nuwun kiriman ebooknya. buku yang inspirasional.

    “ayo MBS”

    regards

    SQ_Bae
    Cah jogja

  6. Kang…. cm sdikit bertanya,… bgm kita bisa membedakan semangat utk mengeksplorasi diri dengan keserakahan utk meraih lebih banyak lagi????
    kayaknya, semangat yg menggebu dalam mengexplorasi diri juga akan berujung pada keserakahan… jd sangat tipis sekali jurang pemisahnya…

  7. #1. Pak Andika, terimakasih
    #2. Pak Sueb, terimakasih. Bapak benar, mungkin tidak sesederhana itu. Hal ini mencerminkan kedangkalan pemahaman dan ilmu saya Pak. Jika ingin menambahkan agar menjadi lebih berbobot sipersilakan Pak.
    #3.Pak Kentut, orang tua kita benar ya Pak. Cuma kita saja yang belum bisa menerapkannya.
    #4.Pak Wahyu, kapan ya Pak? Belum mampu nih saya…
    #5.Pak Syafiq, sami-sami Pak. Semoga bermanfaat.
    #6. Pak Wira, nah itu Pak. Gimana membedakannya, ya? Mungkin kita bisa mengacu kepada nasihat nabi tentang “mencari dunia seolah akan hidup seribu tahun, dan mencari akhirat seolah akan meninggal besok…” Kemudian ditambahkan lagi bahwa konon tentang harta (dunia) kita akan ditanya 2 hal; darimana/bagaimana mendapatkannya, dan bagaimana menggunakannya. Karena itu, memang tidak ada batasan sampai sejauh mana kita boleh mengeksplorasi;silakan saja sejauh yang kita bisa. Namun, dengan keyakinan bahwa ‘cara’ kita mendapatkan dan menggunakannya akan dipertanggungjawabkan, maka tentu kita akan mengindahkan rambu-rambunya.

    salam,
    dadang

  8. sungguh memberi inspirasi….

  9. alhamdulillah..saya tiasa belajar banyak dari artikel bapak…

  10. saya suka banget sm isinya tiasa belajar banyak..

    haturnuhun..
    Rina m.

  11. Kang Dadang

    Yang pasti Tuhan tidak menciptakan manusia = Nyamuk.

    Maka prilaku manusia tidak boleh seperti nyamuk

    Nyamuk Tetap saja Nyamuk !!!

    Manusia Tetap saja Manusia !!!!

    Coba Renungkan Apa Maksudnya????????

    Ebiet bilang “Tanya Pada Rumput yang Bergoyang”
    dari pada nanya rumput lebih baik “Bertanya pada Tuhan”, “Apa yang Tuhan inginkan Dari Mu……”

    Lakukanlah sesering dan se-intens mungkin dan jumlahnya lebih banyak dari Sholat 5 Waktu, agar tidak seperti nyamuk, yang tetap nyamuk.

    Hatur Nuwun

    RDSGL

  12. Yang pasti Tuhan tidak menciptakan manusia=Nyamuk” (benar)
    Maka prilaku manusia tidak boleh seperti nyamuk”(itu hanya perumpamaan)
    Nyamuk Tetap saja Nyamuk!!!Manusia Tetap saja Manusia !!!!”(of course)
    Coba Renungkan Apa Maksudnya????????”(tiap makhluk ciptaanNya punya tugasnya masing-masing yg akan dipertanggung jwbkan akhirat nt..)
    Apa yang Tuhan inginkan Dari Mu”(setelah manusia diciptakan kemudian diberi petunjuk untuk kehidupan yg sempurna)
    Terimakasi