Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Mengapa Banyak Ilmu Kita Yang Menghilang?

Mengapa Banyak Ilmu Kita Yang Menghilang?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika anda termasuk orang yang suka mengumpulkan sertifikat dan ijasah, sekali waktu coba perhatikan berapa banyak jumlah sertifikat yang anda miliki itu. Kemudian, perhatikan kembali sertifikat itu satu demi satu, sambil mengingat kembali event apa yang anda ikuti sehingga anda berhak mendapatkan sertifikatnya. Selanjutnya, coba ingat-ingat kembali; topik, ilmu atau keterampilan apa yang anda pelajari dalam event itu. Lalu, tanyakan kepada diri sendiri; berapa banyak ilmu atau keterampilan itu yang masih anda miliki hingga saat ini? Jika anda masih mengingat keseluruhan ilmu yang diwakili oleh sertifikat itu, anda termasuk orang istimewa. Sebab, kebanyakan orang hanya memiliki sertifikatnya saja, namun sudah tidak lagi memiliki ilmunya. Mengapa bisa demikian?

Di komplek perumahan yang saya tinggali terdapat beberapa unit rumah kosong. Kata orang, rumah-rumah tersebut sudah belasan tahun tidak ditinggali. Dulu, rumah-rumah itu tampak cantik dan tertata rapi. Namun setelah ditinggalkan, debu-debu yang dibiarkan lama kelamaan menyebabkan menempelnya segala kotoran. Lantas, hujan dan panas yang datang silih berganti menyebabkan kayu-kayu rumah itu menjadi lapuk. Sekarang, bahkan atapnya nyaris ambruk. Semua jendelanya hancur, pintu dan kusen-kusen tak lagi berujud. Beda sekali dengan rumah-rumah lain disekitarnya yang terus dihuni. Meskipun umurnya sama tak muda, namun, rumah-rumah berpenghuni tampak tetap indah tak kurang suatu apapun.

Saya menjadi teringat akan frase ’use it, or loose it’. Rumah kita akan lebih cepat hancur jika tidak digunakan. Hey, bukankah pepatah itu biasa kita gunakan untuk otak kita? The brain; use it, or loose it. Kita hanya memiliki dua opsi atas otak kita; (1) Menggunakannya, atau (2) Kehilangannya. Memang, kita tidak secara signifikan kehilangan ukuran fisik otak, namun mungkin kita kehilangan ’isinya’. Ukuran otak kita boleh saja besar. Dan kedalam otak yang besar itu boleh saja kita sudah memasukkan segala macam ilmu dan pengetahuan. Dan sebagai bukti bahwa kita pernah memasukkan banyak hal kedalam otak itu, kita memiliki sertifikatnya. Namun, ketika segala sesuatu yang sudah kita masukkan kedalam otak itu terlalu lama tidak digunakan, mungkin akan lenyap juga.

Sekarang, mari kita bahas 3 kemiripan rumah kosong tadi dengan ilmu pengetahuan kita. Pertama, sertifikat diklat identik dengan sertifikat kepemilikan properti. Kedua, tanah tempat rumah itu dibangun identik dengan otak tempat kita menyimpan ilmu pengetahuan. Ketiga, rumah yang dibangun ditanah itu identik dengan ilmu yang disimpan dalam otak kita.

Meskipun rumah itu tidak digunakan, sang pemilik rumah tidak serta merta kehilangan sertifikatnya. Dia tetap memiliki sertifikat itu. Sama dengan kita. Meskipun kita tidak menggunakan ilmu pengetahuan itu, namun kita masih memiliki sertifikatnya. Ukuran tanah rumah-rumah itu tidak berkurang. Mungkin ukuran otak kita juga tidak berkurang. Namun, rumah yang dibiarkan kosong itu kini nyaris tidak berbentuk lagi, hingga lebih cocok disebut ’reruntuhan’. Boleh jadi, ilmu pengetahuan kita yang bersertifikat itu pun kini tinggal ’reruntuhan’ karena sudah terlalu lama tidak digunakan.

Bayangkan jika sang pemilik rumah kosong tadi membeli properti dimana-mana. Mengumpulkan sertifikatnya. Lalu membiarkan semua properti yang sudah dibelinya tidak digunakan. Sekarang, bayangkan perusahaan memiliki komitment untuk mengirim kita mengikuti diklat ini dan itu, hingga mendapatkan banyak sertifikat. Namun, kita seperti sang pemilik rumah yang tidak menggunakan rumah-rumah yang telah dibelinya tadi. Boleh jadi, itulah sebabnya; mengapa banyak ilmu kita yang menghilang. Meskipun kita masih menyimpan sertifikatnya dalam map dan figura-figura yang indah; namun. Kita sudah tidak lagi memiliki ilmunya.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta

Catatan Kaki:
Uang dan waktu yang sudah kita investasikan untuk berbagai program pelatihan sering menguap begitu saja kerena kita tidak berhasil mempertahankan ilmu yang kita dapatkan melalui penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. Kang Dadang mah aya aya wae nu pas pisan keur aki aki…….

    kelihatannya sangat menyentuh kepada setiap orang sesuai dengan profesi dan fungsinya masing masing…

    Mencari kesempatan, menggunakan waktu , adanya kemauan untuk berbagi dengan ikhlas dalam mengexplore KSA ( knowledge, skill, ability/attitude ) dengan Aplikasi, implementasi positif kepada orang lain ini yang sulit….

    Ngak usah jauh jauh di Indonesia probadi yang kaya mang Dadang ini ada berapa orang sih…

    Saya mah 110 % setuju pisan dengan sentuhan ini

  2. kang dadang, saya sangat tersentuh ketika membaca tulisan ini, saya sangat setuju mengingat sebenarnya saya juga mengalami hal yang sama seperti dengan apa yang kang dadang paparkan…

  3. Kang Dadang, kalo properti yang kita tidak pakai kan bisa kita sewakan, jadi selain dapat keuntungan sewa, properti kita juga terjaga, padanannya dengan ilmu kita apa ya?

  4. Memang benar banyak sekali ilmu yang sudah dimiliki hilang begitu saja karena sang pemilik ilmu tidak mengulang/mengingat dan mengajarkan/berbagi kepada yang lain. sang pemilik ilmu tidak bersedekah dengan ilmunya, karena itu banyak ilmu yang sudah didapat hiang begitu saja. Saya sendiri mengalami…., Tulisan ini bagus untuk penuntut ilmu dimanapun sebgai pembelajaran

  5. Terkesan sekali saya dengan tulisan pak dadang..

    mari bersemangat untuk membangun negeri ini.

    salam hangat

    Wawan Ridwan

  6. Saya baru masuk situs ini…..

    Jadi teringat sertifikat ijasah S1 saya yang hilang….hiks….

  7. Terima kasih atas tulisan-tulisan-nya Pak, sangat mencerahkan … salam kenal

  8. Menurut hemat saya, masalah ini bukannya issue Ilmu Pengetahuan (Science) tapi tekanannya ada pada issue Pengetahuan (Knowledge). Science, walaupun S2 atau S3, hanya membikin kita “well informed” saja selama belum ditransformasikan lewat “learning process” menjadi knowledge yang menjadikan kita “knowledgeable”. Dengan “knowledgeable” langsung menyangkut “action & performance” kita baik sebagai SDM atau organisasi.

    Jadi yang benar bukannya banyak Ilmu (Science) yang hilang, tapi banyak Ilmu (Science) tidak tertransformasikan menjadi Pengetahuan (Knowledge) sehingga “action & performance” kita tsb tidak konkrit dan nyata.

    Lebih lanjut penjelasan tentang masalah diatas, bisa diikuti link http://mobeeknowledge.ning.com/forum/topic/show?id=2090583%3ATopic%3A1844 – TO BE “WELL INFORMED” OR TO BE “KNOWLEDGEABLE” ?

    Sebagai tambahan, Knowledge Management (KM) dalam peran luas mengemban masalah tsb yakni bagaimana “Learning – Growth -Innovation” tercapai. Situs kami, Social Networking Site (SNS) http://mobeeknowledge.ning.com khusus membawakan misi KM. Silahkan sign-up untuk ramai-ramai saling berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di SNS tsb. Trims