Friday , October 23 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Pekerjaan Ini Layak Untuk Disyukuri?

Apakah Pekerjaan Ini Layak Untuk Disyukuri?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika kita mengeluh tentang pekerjaan, siapa sih sesungguhnya yang rugi? Perusahaan jelas rugi karena kalau terlampau sering mengeluh kita tidak dapat berkonsentrasi kepada pekerjaan, sehingga hasil yang bisa kita berikan tidak sebagaimana mestinya. Ini logis, sebab tidaklah mungkin seseorang yang tengah mengeluh bisa berkontribusi secara optimal kepada perusahaan. Kita bisa mengerahkan seluruh kapasitas diri yang kita miliki jika dan hanya jika bersedia melayani dengan sepenuh hati. Sedangkan, hati yang sudah dipenuhi oleh keluhan tidak lagi memiliki ruang untuk berkontribusi. Itulah sebabnya, mengapa setiap orang yang sering mengeluh dikantor bukanlah orang yang berprestasi tinggi.

Alkisah, ada seorang petani yang memiliki dua ekor kuda. Kedua kuda itu biasa digunakan untuk menarik pedati. Pada suatu malam, keduanya mengobrol sambil memandang bintang-bintang yang bertaburan. Mereka sepakat untuk saling membuka perasaan masing-masing. Kata kuda pertama;”Rasanya aku sebal sekali berada ditanah pertanian ini….”

Kuda yang satu lagi menimpali;”memangnya kenapa?” katanya.
”Aku sudah bosan dengan perlakuan petani itu kepadaku,” balasnya.
”Memangnya apa yang dilakukan petani kepadamu?” tanya kuda kedua.
”Yaaah…., dia memperlakukan aku seperti halnya memperlakukan dirimu….” jawabnya. ”Terus, bagaimana dengan kamu?” Dia segera melanjutkan kata-katanya.

Si kuda kedua menjawab; ”Aku bersyukur sekali berada ditanah pertanian ini…..”
Kuda yang satu lagi menimpali;”memangnya kenapa?” katanya.
”Aku menikmati perlakuan petani itu kepadaku,” balasnya.
”Memangnya apa yang dilakukan petani kepadamu?” tanya kuda pertama.
”Yaaah…., dia memperlakukan aku seperti halnya memperlakukan dirimu….” jawabnya.

Apa yang saya ceritakan itu tidak lebih dari sekedar dongeng yang saya karang-karang sendiri. Itulah sebabanya anda tidak pernah mendengar dongeng itu sebelumnya, sehingga mungkin agak janggal dibenak anda. Namun, mari perhatikan sekali lagi dialog yang dilakukan oleh kedua kuda tadi. Rasanya kok relevan sekali dengan kehidupan kita. Di kantor, mungkin kita menghadapi perlakuan yang sama dengan orang lain. Namun, mengapa orang lain bisa menjalani kehidupan kerjanya dengan senang hati, sedangkan kita penuh dengan keluhan seperti ini?

Anda mungkin bilang; ”Atasan saya pilih kasih. Dia baik kepada orang-orang tertentu tapi tidak kepada saya.” Perhatikan; ketika bekerja, kuda pertama melakukannya dengan terpaksa. Dia cemberut. Bahkan, saking kesalnya dia dengan sengaja meliak-liukkan pedati supaya sang petani merasa tidak nyaman. Kalau ada lubang dijalan, sang kuda sengaja berlari lebih kencang sehingga ketika roda pedati melindas lubang itu petani merasakan guncangan yang keras. Kalau sudah begitu, sang kuda meringkik untuk mentertawakan ketidaknyamanan penumpang pedatinya. Lalu, petani itu memecutnya supaya kuda itu berjalan dengan benar.

Perhatikan lagi; ketika bekerja, kuda kedua melakukannya dengan senang hati. Dia tersenyum. Bahkan, saking senangnya dia dengan hati-hati dan telaten menarik pedati supaya sang petani merasa nyaman. Kalau ada lubang dijalan, sang kuda memperlambat jalannya, sehingga ketika roda pedati melindas lubang itu petani sama sekali tidak merasakan guncangan yang berarti. Kalau sudah begitu, sang kuda meringkik turut terseyum atas kenyamanan penumpang pedatinya. Dan karena semuanya berjalan lancar, petani itu tidak perlu menggunakan pecutnya karena sang kuda sudah berjalan dengan benar.

Sekarang kita tahu bahwa tidak terlalu sulit untuk memahami; mengapa atasan kita baik kepada para karyawan teladan, dan keras kepada para karyawan yang asal-asalan, bukan?

Pada suatu malam, kuda kedua bertanya kepada temannya;”Kalau kamu tidak lagi suka bekerja disini, mengapa kamu tidak pergi?”

”Gila saja kamu,” kuda pertama segera menghardiknya. ”Memangnya gampang cari tempat lain?” katanya.

”Aku rasa ada saja, kalau kamu bersedia mencarinya…” jawab kuda kedua dengan santai.
”Mungkin sih, tapi kan kalau pun aku bisa menemukan majikan baru…” sergah kuda pertama, ”Belum tentu lebih baik dari tempat ini……” lanjutnya.

”Nah, kalau kamu merasa tidak mudah untuk mendapatkan tempat lain yang lebih baik, bukankah lebih baik jika kamu mensyukuri saja apa yang saat ini kamu miliki?” timpal kuda kedua.

”Bersyukur?” sang kuda terperanjat. ”Bagaimana caramu bersyukur?” tanyanya.
”Aku memilih untuk menikmati setiap langkahku ketika bertugas menarik pedati.” jawabnya. Dan benar, setiap kali petani itu menggunakannya untuk menarik pedati; sang kuda selalu menikmatinya. Sehingga dia dengan sukarela memberikan yang terbaik kepada majikannya. Oleh karenanya, dia bisa memberikan pelayanan yang terbaik, sehingga majikannya merasa puas atas pekerjaannya. Sebagai tanda terimakasih, sang petani memperlakukan kuda itu dengan istimewa, sehingga bertambah senang jugalah dia. Kuda itu senang bekerja, dan sang majikan senang dengan kinerjanya. Sekarang, kedua-duanya jadi merasa senang. Dan keduanya, saling menghargai. Dan saling menyayangi.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta

Catatan Kaki:
Kepuasan hidup tidak mungkin ditemukan ditempat manapun, kecuali kita mencarinya dengan hati yang dipenuhi oleh rasa syukur.

Kami menyelenggarakan pelatihan in-house dengan topik-topik kepemimpinan/managerial, motivasional, mental fitness, dam character building. Untuk informasi In-house program kami, silakan kunjungi www.dadangkadarusman.com atau email ke dkadarusman@yahoo.com .

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

6 comments

  1. Bang Dadang,

    Ada yang tdak dimunculkan dalam artikel tersebut, yaitu niat berperilaku dalam berbagai bentuk aktivitas pada`hakekatnya sejatinya hanya untuk beribadah kepada Alloh Swt, hal ini berlaku untuk semua cipataanNya (termasuk dua kuda di cerita tersebut). Jadi motivasi intrinsik kita dalam beraktivitas adalah beribadah kepada Alloh Swt, bukan puja dan puji dari majikan.
    Begitu kan seharusnya?

    Terima kasih,

    Wassalam,
    Suaeb
    PT Grand Kartech
    Kawasan Industri Pulogadung Jakarta Timur

  2. Kajian Ilustrasi yang apik, asyik dan menarik sehingga kita perlu untuk saling sharing dalam forum ini , bermula dari 3 kata dasar yang selalu menggelitik dan menghantui dalam dinamika kehidupan… Puas , Nikmat , Syukur…….. kalau dijadikan kata benda menjadi Kepuasan, Kenikmatan, Kesyukuran….kalau dijadikan pasif ditambah akhiran i … menjadi dipuasi…dinikmati… disyukuri…. kalau dijadikan kata kerja menjadi memuaskan… menikmati…mensyukuri…..

    Sobat puas…dipuasi….memuaskan itu sesaat tapi bila sesuatu itu dengan sedikit paksaan … harus dinikmati… harus disyukuri selanjutnya kita akan dapat menikmati dan mensyukuri apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, hidup akan tenang…..tentram,langgeng… saran saya hilangkan konotasi Puas… Dipuasi …. memuaskan jadikanlah setiap masalah itu untuk dinikmati, disyukuri… pada awalnya mungkin sulit tetapi coba terus dan sedikit memaksa….

    Dari pada puas hanya untuk waktu 5 menit akan 1 masalah lebih baik setiap masalah itu dinikmati dan disyukuri dengan paksa sehingga kita dapat menikmati dan mensyukuri setiap apapun yang terjadi terhadap kita……

  3. #1. Pak Suaeb, Bapak betul, motivasi tertinggi kita dalam beraktivitas adalah dalam kerangka beribadah kepada Allah (vertikal). Terimakasih atas masukannya.

    #2. Pak Sabar Sedjati, Bapak melihat dari dua sisi (Vertikal dan horisontal). Terimakasih atas tambahannnya.

    salam,
    dadang

  4. benar sekali pak dadang. seringkali sifat manusia ini muncul, mengeluh dan terus mengeluh akan pekerjaan. ingin mendapatkan yg terbaik dan lebih baik lagi. bila kita cermati, banyak pengangguran yg bingung cari kerjaan bahkan mungkin banyak juga orang yang antri menginginkan pekerjaan kita. tapi kenapa diri ini masih selalu merasa kurang?

  5. Ikhwan Abdul Kohar

    Kang Dadang
    yang Luar Biasa
    Artikel nya mantap.Ilustrasi nya pas banget. Fakta nya,dlm kehidupan sehari hari memang mirip banget dengan kuda nya dalm cerita kang Dadang.
    Menurut saya sih jawabannya mungkin Pertama manusia harus tahu dulu apa tujuan hidup itu sesungguhnya,ikhlas dalam menjalankannya.Kedua bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki sambil dan terus berusaha untuk melakukan hal yang lebih baik dalam kehidupannya.
    Terima kasih atas semua artikelnya ya,semoga kang Dadang tetap sehat.
    Wassalamu’alaykum warahmatuLLah Wabarokaatuh.

  6. Ikhwan Abdul Kohar

    Salam sejah tera buat kang Dadang Kadarusman.