Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita percaya bahwa rasa percaya diri itu sangat penting artinya bagi keberhasilan seseorang. Masuk akal memang, karena orang-orang yang tidak percaya diri tidak mungkin bisa secara leluasa berekspresi agar seluruh potensi dirinya tergali. Sayangnya, tidaklah mudah untuk membedakan’rasa percaya diri’ itu dengan ’sikap takabur’. Sehingga, kita sering tidak menyadari telah tergelincir kadalam sifat ’takabur’ itu. Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa terhindar dari sifat takabur ?

Belum lama ini saya menyaksikan tayangan The Biggest Loser disebuah televisi international. Program reality show itu mengajarkan arti kerja keras, bukan hanya kepada mereka yang ingin membebaskan diri dari obesitas; tapi juga kepada kita semua. Bahwa, menjadi langsing dapat dicapai bukan dengan berbaring beberapa jam dimeja operasi. Tidak pula membiarkan diri kelaparan hingga mengalami anoreksia. Melainkan dengan melatih diri melalui tantangan fisik dan mental yang tidak kenal menyerah. Dengan kata lain, perjuangan dalam hidup kita sangatlah berharga. Maka orang-orang yang bersedia untuk terus berjuang, adalah pribadi-pribadi yang berharga.

Dalam episode kali ini, setiap anggota Team Merah dan Team Biru berlomba mengayuh becak sejauh 200 meter bolak balik secara estafet, sementara trainer mereka duduk manis didalamnya. Seperti biasa, sebelum bertanding setiap peserta menyampaikan komentarnya masing-masing. Dan salah satu peserta, Rahmi, mengatakan bahwa dia sangat percaya diri karena dinegaranya dia mengayuh sepeda sejauh 7 kilometer setiap hari. Dia mungkin akan menjadi andalan Team Merah.

Pertandingan baru saja dimulai. Namun, pemenangnya sudah hampir bisa dipastikan, yaitu Team Merah yang setiap invidu didalamnya ternyata lebih terampil mengayuh becak. Team Biru tertinggal jauh di belakang. Dan kini peserta terakhir, Rahmi, mendapat giliran. Disaat kritis itulah keajaiban terjadi. Rahmi yang tadi begitu percaya diri itu panik, sehingga becaknya terperosok keluar jalur. Ketika Rahmi menarik becak itu dari rerumputan, becak Team Biru yang tertinggal jauh sudah berhasil melewatinya. Rahmi semakin panik, sehingga tanpa disadari dia menginjak rantai pengayuh sampai putus. Bisa anda bayangkan betapa berat beban moral yang harus ditanggung oleh Rahmi karena Team Merah akhirnya kalah.

Team Merah, mengingatkan kita untuk menjaga diri dari sifat takabur. Terlebih lagi karena antara rasa percaya diri dan sifat takabur itu seolah hanya dipisahkan oleh sebuah batas yang sangat tipis dan samar-samar. Sehingga kita sering tidak sadar kalau sudah menyeberang dari ranah kepercayaan diri yang positif, ke wilayah sifat takabur yang destruktif. Guru mengaji saya menjelaskan bahwa ketika Tuhan memerintahkan malaikat untuk mengakui kesempurnaan penciptaan manusia, para Iblis membantah-Nya. Iblis berkata; ”Kami lebih baik dari Adam. Engkau menciptakan kami dari api. Sementara Adam Engkau ciptakan dari tanah”.

Rupanya, ada dua aspek mendasar yang membentuk sifat takabur. Pertama, membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan kedua, mengklaim diri sendiri lebih baik dari orang itu. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai kesombongan. Sampai disini, kita bisa mengenali 2 jenis kesombongan, yaitu; kesombongan dihadapan Tuhan, dan kesombongan dihadapan sesama manusia. Dan dari kedua jenis kesombongan itulah sifat takabur muncul. Dengan kata lain kesombongan adalah benih kelahiran sifat takabur.

Bagaimana dengan ’rasa percaya diri’? Dasarnya sama, yaitu; Tuhan telah menciptakan manusia dengan sesempurna-sempurnanya penciptaan. Ketika kita meyakini kesempuranaan penciptaan Tuhan atas diri kita, maka kita tahu bahwa didalam diri kita sudah Tuhan ’lekatkan’ apapun yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Jadi, ketika kita berhadapan dengan apapun, kita selalu yakin untuk dapat menjalaninya dengan baik. Tugas kita hanyalah berupaya menggunakan anugerah Tuhan itu sebaik-baiknya. Dengan kata lain, keyakinan atas firman Tuhan itulah yang menjadi benih lahirnya ’rasa percaya diri’.

Ketika memiliki sikap seperti itu, tiba-tiba saja kita kehilangan hasrat untuk takabur. Karena, saya dan anda, juga mereka; – semua orang – telah diciptakan Tuhan dengan sempurna. Sehingga, masing-masing kita memiliki kesempurnaan dalam definisi Tuhan. Maka, tidak ada lagi ruang untuk mengagung-agungkan diri sendiri sambil menistakan orang lain. Sebaliknya, kita bisa saling mengisi dan berfokus untuk berkarya dengan masing-masing kelebihan yang kita miliki. Dengan begitu, mudah-mudahan kita diijinkan Tuhan untuk mengatakan kepada-Nya: ”Tuhan, sudah kutunaikan tugas yang menjadi bagian ikhtiarku. Sekarang, kugantungkan segenap harapku kepada-Mu.”

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator

http://www.dadangkadarusman.com/

Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta

Catatan Kaki:
Rasa percaya diri dan sifat takabur seolah hanya dibatasi oleh selaput tipis. Padahal, keduanya berada di kedua ujung kutub yang saling berjauhan.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com



posted at January 11th, 2010 - 11:51 am in Inspirational | Send to friend  | Post 2 PDF | Jump to Top

Comments

8 Responses to “Apa Bedanya Rasa Percaya Diri Dengan Sifat Takabur?”

  1. wawan on January 11th, 2010 5:11 pm

    memang beda tipis kang..sulit membedakannya

  2. kiki4hire on January 12th, 2010 8:55 am

    Cerita yang memberikan gambaran yang pas, terlalu percaya diri terperosok.
    Jadi pembelajaran yang amat berharga dari pengalaman orang lain.

    Salam,
    kiki4hire – your personal consultant on web

  3. Febby Yanti on January 12th, 2010 10:45 am

    Dear Mas Dadang,

    Sangat bagus sekali artikelnya….apalagi bagi orang-orang yang tertindas…dihina, di omongin setiap hari dicaci maki….dan mau dirusak rumah tangga nya….karena setiap malam bermimpi buruk…hanya allah yang tau kenapa rasa percaya diri bisa timbul dan orang yang teraniaya bisa menang…ALLAH AKBAR”

    Febby Yanti

  4. Rafi on January 12th, 2010 6:14 pm

    Setuju tuh kang, apalgi dijaman sekarang sangat sulit sekali membedakan hal-hal yang Putih maupun yang hitam. untuk itu ada baiknya segala urusan kita kembalikan kepada sang Pencipta. Karna dialah yang maha tau atas segalanya.

    WaSallam

  5. Abah Sabar on January 15th, 2010 5:33 pm

    ” PD sama Takabur ” friksinya pada individual ya kang……..lalu kalau ” PD sama Takaburnya ” jamaah atawa berame rame lebih bahaya lagi……..

    Mari kembali ke titik 0 ….instropeksi dirilah…

  6. Abah Sabar on January 16th, 2010 7:47 am

    Kajian cermat tentang jebakan karakter ….yang realitasnya sering terlihat dan terasakan saat ini………salut kang

  7. semenanjung cinta on January 21st, 2010 8:44 am

    bagus kang artikelnya, saya suka

  8. Nashrudin on February 24th, 2010 3:34 pm

    Saya merasa orang yang merasa kepercayaan dirinya kurang, tetapi banyak teman saya yang menasehati saya supaya jangan sombong. Artikel ini membuat saya berani untuk percaya diri tanpa takut menjadi sombong.
    Hatur nuhun