Friday , October 23 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Bagaimana Merekonstruksi Masa Depan Bangsa Ini?

Bagaimana Merekonstruksi Masa Depan Bangsa Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kelihatannya tantangan yang dihadapi Sumber Daya Manusia kita semakin mengkhawatirkan saja. Khususnya dalam konteks mempersiapkan generasi masa depan. Bukan saja karena sudah sejak lama kita menengarai kelemahan sekolah dan pemerintah untuk mempersiapkan SDM terampil yang siap bersaing di dunia kerja. Bahkan, akhir-akhir ini situasinya makin mengerikan saja karena entah disadari atau tidak; menorehkan warna buram potret masa depan generasi muda kita. Ironisnya, kedua instansi berwenang itu seolah tidak begitu memperdulikannya.

Pagi itu, saya baru selesai mengisi acara on air di sebuah radio di Jakarta. Sekitar jam 9 pagi saya meninggalkan studio. Dijalan, saya dihentikan oleh lampu merah perempatan. Jadi, saya bisa leluasa melirik kiri-kanan. Lalu, mata saya tertahan oleh kerumunan orang yang sangat banyak dihalaman sebuah pusat perbelanjaan. Agak aneh juga kalau pagi-pagi begini sebuah mall sudah diserbu begitu banyak orang. Apakah mungkin sedang ada diskon besar-besaran?

Saya keliru, karena itu bukan kerumunan orang yang hendak rebutan diskon. Melainkan penonton konser musik group band ternama. Saya kagum pada industri musik masa kini. Bahkan mereka bisa melakukan konser sepagi ini. Disisi lain, saya melihat ironi. Karena ternyata penontonnya adalah para remaja yang seharusnya berada diruang-ruang sekolah menggembleng diri. Ada apa ini? Rasa perih seperti mengiris-iris hati. Membayangkan betapa beratnya persaingan yang akan mereka hadapi nanti.

Setelah peristiwa itu, secara tidak sengaja saya melihat tayangan siaran langsung konser musik di sebuah stasiun televisi. Jam sembilan tigapuluh pagi. Lalu kejadian di mall itu terbayang lagi. Sekarang saya melihat benang merahnya, karena ternyata acara seperti itu difasilitasi oleh media televisi. Lalu saya memindahkan chanel tivi. Saya terkejut sekali lagi. Karena ternyata, ada tivi lain yang melakukan siaran langsung serupa. Penonton yang jingkrak-jingkaknya juga sama-sama remaja. Lalu saya memindakan channel tivi, sekali lagi. Dan kali ini, saya seperti terkena alergi. Karena, ada tivi lain juga yang menyiarkan program dengan format yang sama. Sekarang, saya mulai menemukan sebuah link. Yaitu sebuah sistematika yang menghubungkan industri musik dan hiburan, uang, popularitas, serta media massa, dalam mendorong proses migrasi anak dan remaja kita; dari ruang-ruang kelas, menuju ke arena jingkrak-jingkrak di pagi hari.

Sungguh, sekarang saya sangat sedih. Mengapa di negara kita hal yang semacam ini dibiarkan terjadi. Tanpa ada yang peduli. Atau secara sungguh-sungguh mengawasi. Disaat bangsa China berada dipuncak gairah untuk menembus benteng-benteng diseluruh penjuru bumi, generasi muda kita dinina bobokan oleh buaian hura-hura secara membabi buta. Lalu, saya bertanya dalam hati; bagaimanakah nasib masa depan sumber daya manusia kita?

Jaman ayah saya masih remaja, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan karena banyaknya lowongan. Namun lebih karena sedikitnya orang berpendidikan. Itu sekitar 40 tahun silam. Jaman saya lulus sekolah, mencari pekerjaan dengan imbalan sesuai dengan harapan sungguh tidak gampang. Itu sekitar 15 tahun yang lalu. Ketika saya memilih untuk berhenti bekerja, dan bertekad untuk mencoba mandiri; saya tahu bahwa banyak karyawan yang berjibaku untuk sekedar mempertahankan pekerjaan mereka. Itu baru dua belas bulan ditambah 3 minggu yang lalu. Biang keladi utamanya adalah; ketatnya persaingan bisnis, suramnya dunia usaha, dan berjubelnya pengangguran.

Tidak bisa dibayangkan betapa semakin ketatnya mencari pekerjaan lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Apalagi kita tahu bahwa sebentar lagi, persaingan tidak hanya terjadi melawan bangsa sendiri. Melainkan dengan sumber daya manusia asing yang semakin banyak berdatangan kesini. Menyadari hal ini, saya merasa semakin perih dihati. Membayangkan anak-anak yang dibujuk untuk berjingkrak disaat seharusnya mereka berlatih mengasah otak.

Mungkin saya sudah terlampau kuno. Sehingga mudah kaget melihat orang berpesta. Tapi tidak juga. Karena, mereka yang pernah melihat saya dilantai dansa tentu tahu bahwa; jika saya sudah berdansa, saya sering lupa pada usia. Tetapi, saya tidak melakukannya dipagi hari dimana seharusnya saya bekerja. Sehingga, saya percaya bahwa merayu anak-anak sekolah dengan acara-acara semacam itu adalah kekeliruan besar. Entah atas nama eskpresi bermusik. Kebebasan siaran terlevisi. Ataupun kerja keras para produser dan event organiser untuk meningkatkan pendapatan. Jika kita lebih mementingkan penghasilan dan persaingan bisnis dengan mengorbankan masa depan generasi muda kita; bagaimana kita bisa merekonstruksi masa depan bangsa ini?

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“SS-Pro™ Personality Leadership Strategy” Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Selamat pagi Pak Menteri Pendidikan RI. Selamat pagi para produser televisi. Selamat pagi para pemusik. Selamat pagi para pendidik. Apakah kita masih peduli?

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

8 comments

  1. semenanjung cinta

    bagus kang artikelnya,..!!
    saya mau doung buku gratisannya,..

  2. Kurang Kang…. Selamat pagi para orang tua…..
    Tugas orang tua bukan hanya membiayai sekolah anak-anaknya, tetapi MENDIDIK ANAK MERUPAKAN TUGAS UTAMA ORANG TUA YANG AKAN DIMINTAI PERTANGGUNG-JAWABANNYA OLEH TUHAN.

  3. kang .. terus terang kalo dirumah sudah ga pernah nyalain tv lagi .. efeknya jelek buat anak-anak ..

    dukungan penuh dari saya deh untuk artikelnya ..!

  4. Betul Pa..
    mulai dari pagi.. sampai malem nyambung terus itu acara semacam konser musiknya.. di stasiun televisi yang berbeda.

    Pelan2 secara halus generasi ini dijauhkan dari ibadah..

  5. hanya ada di negri kt sj kyknya on air music di mal2 pd sàat jam sekolah. ini sangat2 merusakkkk generasi muda kita. ayö ber aksi utk menswitch off tayangn2 tv seperti ini, mudharat buat anak negeri

  6. emang idealnya kang anak anak atawa cucu cucu kita harus – wajib hukumnya untuk disekolahkan di sekolah yang nilai agamanya tinggi…. apakah itu global.. atau international …. walaupun mahal

    TV… itu bisnis… Music itu bisnis…. jadi harus dilawan dengan tekad sekolah.. sekolah.. sekali lagi sekolah tentunya dengan sekolah yang tadi….

    Semangat pagi para orang tua murid…. Selamat Malam para penanggung jawab pendidikan…

    Kalau dulu ada slogan ” Student to day, leader tommorow “…sekarang mah ” study.. study… and study beat the bad climate”…

  7. coba ganti kacamata deh…..

  8. arifin amiruddin

    materi yang menarik dengan gaya penulisan yang sangat mudah dimengerti…. jadi saya pun tertarik membaca dan menyimak lebih banyak….