Sunday , September 20 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Orang Beneran, Atau Orang-Orangan?

Orang Beneran, Atau Orang-Orangan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika orang lain memperlakukan anda dengan semena-mena; tentu anda tidak akan tinggal diam. Anda akan melawan. Jika ada orang yang mengancam kepentingan anda; tentu anda akan mempertahankan diri mati-matian. Pendek kata, segala sesuatu yang orang lain lakukan kepada anda akan mendapatkan respon sepadan. Apakah respon anda itu merupakan ’sikap pemberontakan’? Tidak. Itu merupakan gambaran bahwa sebagai manusia, kita memiliki kewenangan dalam menentukan hidup kita sendiri. Dengan itu; kita tidak akan membiarkan orang lain memegang kendali atas hidup kita. Setiap intervensi dari orang lain tentu akan kita hadapi. Tetapi, apakah kita masih memegang kendali atas aspek hidup yang lebih esensial lagi?

Setiap sore selepas sembahyang Ashar, saya berangkat ke sawah untuk mencari rumput bagi domba kami. Sedangkan di musim padi mulai menguning, tugas itu bertambah dengan keharusan untuk mengusir burung-burung liar yang memakan bulir padi di sawah kami. Tahukah anda bagaimana caranya kami mengusir burung-burung itu? Kami menakut-nakuti mereka dengan sesosok tubuh berupa boneka yang terbuat dari jerami. Lalu dibentuk mirip manusia. Dipakaikan baju bekas yang sudah rombeng. Ditutupi topi. Kemudian ditancapkan ditengah sawah dan dihubungkan dengan seutas tali ke sebuah saung pengintaian. Kami menyebut boneka itu sebagai ’bebegig’. Anda menyebutnya sebagai ’orang-orangan’.

Anda tentu tahu karakter orang-orangan. Misalnya; dia tidak pernah menuntut. Tidak pernah membantah. Tidak melawan. Tidak berdebat. Tidak memberontak. Tidak menolak perlakuan apapun yang diterimanya. Pokoknya apapun perlakuan dari orang lain kepadanya, diterimanya dengan apa adanya. Pendek kata; tidak ada mahluk sepasrah orang-orangan. Dia pasrah, rah, rah, rah……

Emh, ngomong-ngomong; bukankah kita baru saja menyebutkan sifat-sifat kita sendiri ya? Saya tahu anda keberatan dengan pernyataan terakhir saya. Kita tidak seperti orang-orangan kok. Karena, kita tidak mungkin membiarkan orang lain mengintervensi hidup kita. Lagi pula, kita kan bukan orang-orangan. Kita ini adalah orang beneran.

Anda benar. Kita adalah orang beneran yang bukan orang-orangan. Kita memiliki jiwa. Dan Tuhan melengkapi kita dengan hasrat, dan keinginan. Tetapi, mari kita uji kembali apakah benar kita masih bertanggungjawab penuh terhadap hidup kita sendiri. Misalnya; jika seseorang menyakit hati kita, apakah kita bisa menetralisir pengaruh buruknya pada diri kita? Kalau kita masih sering sakit hati atas perbuatan buruk orang lain; itu menunjukkan bahwa kita belum benar-benar memegang kendali atas hidup kita sendiri. Kita masih bisa disetir oleh orang lain. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang beneran.

Jika dikantor teman-teman kita malas bekerja. Kemudian kita berpikir tak ada gunanya rajin sendirian karena gajinya sama saja. Lantas, kita ikut malas seperti mereka. Maka itu mengindikasikan bahwa kita sudah tidak lagi memegang kendali penuh atas hidup. Ini adalah sifat orang-orangan. Bukan sikap orang beneran.

Jika ditempat kerja anda memperhatikan; semua orang pada sibuk bermain facebook. Padahal dijam-jam itu seharusnya mereka bekerja. Sehingga, pekerjaan mereka harus jeda sesaat setiap kali ’buah beri berwarna hitam’ berbunyi; ’durirang’. Atau, konsentrasi kerja mereka terpecah setiap kali ada pop-up chatting muncul dilayar monitor. Lantas, anda merasa menjadi alien ditempat canggih itu. Lalu, anda mengikuti cara kerja mereka. Tidak lagi peduli bahwa perusahaan telah membayar jam kerja anda; sehingga dengan sepenuh kesadaran anda membiarkan gurita komunikasi tanpa batas itu mengendalikan diri anda juga.

Ehm, bukankah itu adalah sifat orang-orangan? Padahal, kita ini orang beneran. Teman saya yang orang beneran, sengaja sign-out dari account facebooknya pada jam kerja. Kemudian dia sign-in lagi pada jam-jam istirahat dimana dia berhak mengisi waktunya sesuka hati. Meskipun begitu; ternyata nilai dirinya tidak berkurang. Dia tetap bisa menjaga kualitas dirinya. Merawat profesionalisme kerjanya. Tanpa harus kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi. Dan terus mengikuti perkembangan teknologi masa kini.

Kita beruntung telah diciptakan Tuhan menjadi orang beneran. Karena, itu berarti bahwa Tuhan mengijinkan kita untuk memiliki prinsip hidup. Dan berpegang teguh kepada prinsip hidup itu. Tuhan mengijinkan kita untuk mengatakan ’tidak’ kepada arus yang diciptakan dan menghanyutkan manusia lain. Kita boleh mengambil keputusan yang berbeda dengan orang lain. Terlebih lagi, kita boleh mengukur; apakah sesuatu memberikan manfaat kepada kita dan organisasi yang kita wakili, atau tidak. Mengapa demikian? Karena, tidak semua hal yang ada diluar diri kita adalah baik adanya bagi kita. Dan tidak segala perlakuan orang lain kepada kita memberikan dampak positif bagi hidup kita.

Misalnya, ketika orang lain memperlakukan kita dengan cara yang buruk; kita memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari keburuan yang ditimbulkannya. Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mencegah orang itu agar tidak melakukan keburukan kepada kita. Namun, didalam diri kita ada sistem pertahanan yang sudah dirakit oleh Tuhan. Sehingga kita bisa mempertahankan diri. Jadi, kalaupun ada orang yang bersikap buruk kepada kita; Tuhan memberi kita kekuasaan untuk memutuskan apakah kita mengijinkan keburukan itu merusak diri kita, atau sekedar melintas seperti angin lalu saja.

Orang-orangan juga memiliki banyak sikap yang terpuji, misalnya; dia tidak pernah memiliki inisiatif. Lho, tidak memiliki inisiatif kok disebut sebagai sikap terpuji? Oh, tentu saja. Sebab, setiap petani seperti kami sama sekali tidak menginginkan orang-orangan sawah kami memiliki inisiatif. Bayangkan kalau dia berinisiatif untuk mengejar burung-burung itu? Atau, dia berinisiatif untuk mengusulkan sebuah gagasan brilian kepada kami? Kami tidak akan senang dibuatnya. Malah kami ketakutan karenanya. Sebab, fitrah dari orang-orangan sawah adalah; pasrah kepada titah, perintah dan perlakuan siapapun kepadanya.

Itulah orang-orangan. Mereka memiliki sepenuhnya sikap ’tidak memiliki inisiatif’. Merekalah pemilik 100% sikap itu. Ehm, bukankah itu berarti bahwa orang beneran sama sekali tidak berhak memiliki sikap ’tidak memiliki inisiatif’? Oh, ya tentu saja. Karena sikap itu belongs to orang-orangan. Tuhan telah memberikannya kepada orang-orangan. Sebagai gantinya, Tuhan menganugerahi orang beneran seperti kita dengan sifat ’mengendalikan hidup’. Melalui akal yang Dia berikan, fitrah kita adalah untuk berpikir. Sehingga, dari kepala kita; muncul banyak inisiatif.

Makanya, agak mengherankan jika dikantor-kantor; banyak orang yang tidak memiliki inisiatif. Mereka menunggu saja apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh atasan. Jika atasan diam, mereka diam. Anehnya, jika atasannya memerintahkan untuk melakukan ini dan itu; mereka sering mengeluh. Beda sekali dengan orang-orangan. Mereka menerima fitrahnya sebagai ’mahluk yang tidak memiliki inisiatif’. Dan mereka konsekuen dengan akibatnya, yaitu; menerima dengan ikhlas apapun yang dilakukan oleh tuannya. Jika petani menarik tali sekali, dia bergoyang sekali. Jika petani menarik tali seribu kali, dia bergoyang seribu kali. Dan dia, tidak pernah mengatakan; ”mentang-mentang elu atasan gue, elu semena-mena memerintah gue.”

Setiap sore sepulang sekolah, saya bertemu dengan orang-orangan sawah. Setiap kali saya bertemu dengannya, setiap kali pula saya diingatkan bahwa; ada perbedaan kontras antara dirinya dengan saya. Kita para manusia adalah orang beneran. Sedangkan mereka hanyalah orang-orangan. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa kita memiliki sifat-sifat dalam fitrah orang beneran. Dan memastikan bahwa, kita tidak mirip orang-orangan. Mengapa demikian? Karena, ketika orang-orangan itu rusak atau usang; maka urusannya berhenti sampai dititik itu. Tetapi, orang beneran seperti kita; jika meninggal kelak, masih memiliki urusan. Karena setelah itu, kita akan berhadapan dengan pertanyaan dari Tuhan; kamu gunakan untuk apakah, seluruh daya hidup yang sudah Aku berikan?

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Learning Facilitator for “Fundamental Leadership Development” Program
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Perbedaan orang beneran dengan orang-orangan, bukanlah karena mereka terbuat dari jerami; melainkan karena kita mempunyai kesempatan untuk membuat hidup ini memiliki arti.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

4 comments

  1. makasih insightnya kang dadang, melalui tulisannya sy seperti diingatkan untuk mawas diri agar tidak termasuk orang – orangan….

  2. Terimakasih atas artikelnya kang! Artikel ini membuat saya sadar bahwa saya itu mungkin ‘setengah orang-orangangan’. Karena jika saya tidak diperintah saya tidak akan melakukan apa-apa. Dan ketika saya diperintah, saya selalu mengeluh. Tapi dengan artikel ini saya menjadi sadar.