Monday , February 24 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Demonstrasi Karyawan Yang Disukai Perusahaan

Demonstrasi Karyawan Yang Disukai Perusahaan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh sedunia. Setiap kali memperingatinya, para buruh sedunia melakukan demonstrasi untuk menuntut perbaikan nasib mereka. Sayangnya kita sering melihat demontrasi buruh itu cenderung menjadi kegiatan kontra produktif. Terutama karena buruh nyaris selalu dicitrakan sebagai lawan bagi management. Ini ironis. Karena pakem ilmu management mengatakan bahwa buruh itu adalah aset terpenting bagi perusahaan. Tetapi, antara buruh dengan menangement seolah nyaris selalu berseberangan.

Ironi yang kedua adalah, kita sering dikelirukan oleh definisi ’buruh’ yang salah. Menurut anggapan kita, buruh adalah pegawai kelas rendah di perusahaan. Padahal, sekalipun Anda seorang Direktur Utama sebenarnya Anda juga adalah buruh seperti mereka. Bedanya? Anda menduduki posisi yang tinggi, sedangkan mereka berada pada strata yang paling rendah. Paradigma ini penting, supaya kita bisa mendudukan permasalahan buruh ini pada proporsi yang tepat. Selama management belum benar-benar memandang buruh sebagai aset paling penting perusahaan, kita tidak akan pernah bisa menemukan keselarasan. Mengapa demikian? Karena dengan sudut pandang itu management tidak akan memperlakukan buruh dengan baik. Sedangkan buruh, akan terus menerus merongrong melalui tuntutan-tuntutan atas perbaikan nasib dan kesejahteraan.

Salah satu penyebab utama mengapa para buruh memilih untuk turun ke jalan adalah karena mereka tidak memiliki nilai tawar di ruang-ruang pertemuan. Sehingga jalan menjadi satu-satunya arena pelampiasan. Padahal setiap kali buruh melakukan demonstrasi, lebih banyak lagi pihak yang mengalami kerugian. Apakah buruh tidak boleh turun ke jalan? Kadang-kadang turun ke jalan bisa menjadi pendobrak pintu para pengambil keputusan yang terlalu angkuh dalam ketertutupannya. Para penyelenggara negara juga terkadang harus digedor dengan kehebohan besar sebelum memainkan perannya sebagai regulator tertinggi. Namun, kita harus sudah mulai memikirkan strategi demonstrasi yang lebih efektif. Yaitu, proses demonstrasi yang tidak usah berdarah-darah. Tidak menimbulkan kehebohan, serta tidak menyebabkan tertundanya proses produksi perusahaan. Apakah bisa melakukan demo yang demikian? Bisa. Mari saya tunjukkan.

Pertama-tama, kita mesti memahami sistem nilai (believe) yang digunakan dalam pengelolaan bisnis perusahaan. Ada 3 sistem nilai utama yang dipegang teguh oleh petinggi perusahaan manapun. Pertama, penghematan biaya (cost effectiveness). Kedua, pengoptimalan produksi (productivity). Dan yang ketiga, daya saing (competitiveness).

Posisi karyawan memiliki keterkaitan langsung terhadap ketiga believes itu. Makanya, memberikan gaji serendah mungkin dan menekan ongkos kesejahteraan karyawan menjadi jalan pintas yang masih diterapkan dibeberapa perusahaan. Hal ini berkaitan dengan sistem nilai pertama dan kedua.

Bagaimana dengan yang ketiga? Perusahaan apapun, keberlangsungan bisnis jangka panjangnya sangat ditentukan oleh kemampuan mereka untuk bersaing. Oleh karenanya, daya saing atau competitivesness merupakan agenda yang menempati posisi tertinggi didalam benak para pengambil keputusan atau top management. Sedangkan daya saing itu, tidak pernah bisa dilepaskan dari peran para karyawan. Oleh sebab itu, jika perusahaan ingin memiliki daya saing yang tinggi maka satu-satunya cara adalah dengan memiliki karyawan yang berkualitas tinggi.

Setelah memahami ketiga believes itu, mari kita mulai merancang strategi untuk melakukan demo karyawan yang lebih efektif. Dimulai dengan visi. Setiap demo karyawan harus mengikuti visi yang berbunyi: ”Menjadikan Karyawan Sebagai Mitra Sejajar Bagi Perusahaan”. Selanjutnya, misi. Setiap pelaku demo karyawan harus berpegang teguh kepada misi yang berbunyi: ”Melakukan demonstrasi secara simpatik dan elegan untuk memperjuangkan kepentingan karyawan dan perusahaan”. Setelah itu, barulah kita membuat grand strategynya, yaitu: ”Bergerak mengikuti alur berpikir para pengelola perusahaan”.

Visi dan misi membantu kita untuk menjaga agar demonstrasi karyawan tetap berada dalam koridor yang benar. Sedangkan strategy memberikan arahan tentang pelaksanaan demo itu dilapangan. Mari kita membahas taktik demo efektif sesuai dengan grand strategy yang kita rancang diatas. Kita sudah mengetahui alur berpikir para top management, yang tiada lain adalah ketiga believes yang sudah kita bahas tadi. Jika kita mampu mendukung usaha-usaha top management untuk mewujudkan ketiga believes itu, maka kita akan bisa mewujudkan Visi untuk menjadikan karyawan sebagai mitra sejajar perusahaan. Bagiamana implementasinya? Mari, akan saya beberkan.

Cost effectivess (believe pertama). Para karyawan harus memahami bahwa top management yang hebat sudah sejak lama menyadari jika penghematan biaya itu tidak hanya bisa dilakukan dengan cara membayar gaji dan kompensasi yang rendah kepada karyawan. Justru yang paling utama adalah memperbaiki proses produksi, atau proses bisnis yang selama ini diterapkan. Dibagian mana karyawan bisa berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan kemauan untuk memperbaiki cara mereka melakukan pekerjaan.

Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah bekerja dengan sebaik-baiknya? Jika anda masih sering mengobrol dengan teman pada saat mesin sedang beroperasi, maka itu menunjukkan bahwa cara anda bekerja menimbulkan resiko biaya bagi perusahaan. Jika terjadi kegagalan produksi gara-gara kelalain anda itu, maka tujuan top management tidak tercapai. Contoh lain yang terjadi di pabrik; seorang karyawati mengalami kecelakaan kerja karena membiarkan rambutnya terurai panjang pada saat mengoperasikan mesin pemintal benang. Karena kecelakaan itu, mesin berhenti berproduksi dan perusahaan harus mengeluarkan biaya pengobatan. Hal-hal semacam ini, bisa dihindari jika seluruh karyawan mendemonstrasikan perilaku yang tepat ditempat kerja. Mengindahkan peraturan perusahaan. Dan menyokong usaha perusahaan untuk mewujudkan zero accident. Itu adalah contoh pelaksanaan demonstrasi sejalan dengan believes top management yang pertama.

Productivity (believe kedua). Para karyawan harus menyadari bahwa para pemegang jabatan tinggi diperusahaan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya dihadapan para pemegang saham. Sedangkan ukuran realistis bagi para pemegang saham adalah sampai sejauh mana uang yang diinvestasikannya menghasilkan keuntungan. Itu berkaitan dengan produktivitas. Dibagian mana karyawan bisa berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan komitmen mereka untuk memperhatikan kualitas kerja dan penggunaan jam kerja yang diamanatkan oleh perusahaan.

Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah mengedepankan kualitas kerja daripada melakukannya secara asal-asalan? Jika anda masih sering terlambat masuk ke kantor, atau mengambil waktu jam makan siang lebih lama dari yang seharusnya, maka itu menunjukkan bahwa cara anda bekerja menimbulkan jatuhnya tingkat produktivitas perusahaan. Jika produktivitas perusahaan tetap rendah setelah pekerjaan itu diberikan kepada Anda, maka tujuan top management tidak tercapai. Contoh lain yang terjadi di kantor-kantor; seorang karyawan kepergok atasannya bermain games komputer pada jam kerja. Karena itu, waktu kerjanya menjadi berkurang, dan tentu saja produktivitas pun berkurang. Hal-hal semacam ini, bisa dihindari jika seluruh karyawan mendemonstrasikan komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan. Bekerja sungguh-sungguh. Dan menyokong usaha perusahaan untuk meningkatkan produktivitas. Itu adalah contoh pelaksanaan demonstrasi sejalan dengan believes top management yang kedua.

Competitiveness (believe ketiga). Para karyawan harus menyadari bahwa perusahaan tidak akan bisa bertahan jika kalah bersaing dari lawan-lawannya. Jadi, jika top management memaksa kita untuk tangguh dalam bersaing sebenarnya mereka sedang memperjuangkan kepentingan kita juga. Dibagian mana karyawan bisa berdemo? Karyawan mengambil bagian dengan cara mendemonstrasikan kesediaan untuk mencurahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, serta berupaya untuk terus menerus meningkatkan diri.

Misalnya, apakah sebagai seorang karyawan saat ini anda sudah mengoptimalkan potensi diri anda dalam menangani pekerjaan? Juga perlu direnungkan apakah Anda terus memacu diri untuk belajar dan mengasah keahlian? Jika anda masih berkutat dengan sekedar memenuhi job-description, maka itu menunjukkan bahwa cara anda bekerja menempatkan perusahaan pada kelompok mediocre, alias tidak memiliki keunggulan. Jika para karyawannya hanya bekerja sebatas itu, maka tujuan top management tidak tercapai. Contoh lain yang terjadi di lingkungan kerja adalah; seorang karyawan mengeluh ketika kepadanya diserahkan tugas yang lebih banyak. Menurutnya, gaji kecil kok harus kerja banyak? Karena sikapnya seperti itu, maka karyawan yang hebat diperusahaan lain akan dengan sangat mudah mengalahkan mereka. Hal-hal semacam ini, bisa dihindari jika seluruh karyawan mendemonstrasikan dedikasi yang tinggi kepada profesi dan diri mereka sendiri. Mendorong proses pertumbuhan perusahaan. Dan menyokong usaha perusahaan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya. Itu adalah contoh pelaksanaan demonstrasi sejalan dengan believes top management yang ketiga.

Tidak ada top management yang akan menentang jika Anda bisa melakukan demo seperti itu. Artinya, itulah cara berdemo yang efektif bagi para buruh. Sebab, ketika buruh bisa berdomo dengan cara seperti itu; maka managament bukan sekedar bersedia memberikan gaji yang anda tuntut. Mereka akan membayar anda jauh lebih tinggi dari itu. Memberi fasilitas yang melimpah. Serta membuka kesempatan yang seluas-luasnya.

Sekarang, kepada Anda sudah disodorkan alternatif berdemo yang jauh lebih baik dan lebih efektif. Silakan tentukan sendiri, cara berdemo mana yang akan Anda pilih. Cara lama yang menguras begitu banyak energi, kehebohan dan kericuhan itu? Atau, cara baru yang saya tawarkan disini. Jika Anda memilih cara baru ini, saya mengucapkan selamat. Karena pada tahap ini, nilai diri Anda sebagai seorang karyawan sudah menanjak tinggi. Bagaimana jika setelah melakukan semua itu perusahaan tetap menyepelekan kita? Tenang saja. Sebab, jika Anda mengikuti strategi demonstrasi ini dengan baik, maka Anda akan menjadi karyawan yang sangat handal. Sehingga di pasar tenaga kerja; harga anda, sangatlah mahal.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Penulis Buku: “Ketika Kuda, Semut Dan Gajah Bekerja”
www.bukudadang.com/ dan www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Dalam hal demonstrasi karyawan, ada cara yang dibenci dan yang sangat disukai oleh Perusahaan. Cara mana yang akan Anda lakukan?

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi www.bukudadang.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

2 comments

  1. sy sebagai karyawati salah satu perusahaan di jakarta cukup senang dengan adanya buku demonstrasi karyawan yg disukai perusahaan,dimana buku tersebut menunjukan kepada kita bahwa demontrasi sah-sah saja dilaksanakan hanya tetap berjalan sesuai koridor yg harus memikirkan masyarakat umum jg.
    terima kasih pak dadang

  2. Trimaksih Pak Dadang , karena hal ini saya jadi merasa betapa mulianya perusahaan , meskipun saya di posisi ujung tombak tp saya merasa perusahaan telah memberi lebih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*