Sunday , September 20 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang Kaya?

Apakah Anda Berbakat Menjadi Orang Kaya?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Maaf, judul bagian ini bukanlah iklan sebuah pelatihan untuk menjadikan anda orang kaya. Selain karena saya tidak memiliki program pelatihan semacam itu, saya juga tidak tahu bagaimana caranya membuat seseorang menjadi kaya. Sampai saat ini saya baru memiliki kesempatan untuk sama-sama mengajak merenungkan tentang bagaimana cara kita memandang kekayaan. Konon, dari hal sederhana semacam ini saja sudah bisa ketahuan apakah seseorang berbakat untuk menjadi manusia kaya atau tidak.

Saya baru selesai melakukan aktivitas di fitness center. Setelah membersihkan diri, saya menuju ke loby untuk menanti istri saya yang menjemput. Di loby itu terdapat sebuah kursi panjang yang bisa diduduki oleh tiga orang. Saya mendapati seorang Bapak tengah duduk disana. Setelah mengucapkan permisi, saya duduk disampingnya. Lalu membuka laptop kembali. ”Wah, kerja terus, nih….” beliau menyapa ramah begitu layar notebook saya menyala. Saya bilang, ”Sambil menunggu istri saya memjemput, Pak.” begitu saya menjawab.

”Bekerja dalam bidang apa?” lanjutnya. Sesaat kemudian beliau mengetahui kalau saya menjalani profesi sebagai penulis jika sedang tidak ada tugas untuk memfasilitasi program pelatihan.

”Oh, Anda seorang trainer, ya?”
Saya mengangguk. ”Jika Bapak lebih senang menyebutnya demikian….”
”Motivator, begitu?” orang ini menjadi semakin menyenangkan.
”Nah, kalau itu bukan…..” Saya bilang. ”Soalnya saya tidak tahu bagaimana cara memotivasi orang.” saya melanjutkan ”Saya sendiri masih sangat membutuhkan motivasi.”

”Tapi, buku-buku Anda kelihatannya menunjukkan itu.” Seseorang yang penuh perhatian.
Saya menjelaskan kalau memang kadang-kadang saya diminta untuk membawakan topik training semacam itu. Jika saya mampu, ya ayo saja. Tetapi sebenarnya program utama yang saya bawakan berhubungan dengan Management, Leadership, Communication, dan Productivity Enhancement. Untuk memperkuat itu, lalu saya menyerahkan kartu nama. Ketika beliau membalas dengan sebuah kartu nama juga, saya jadi tahu kalau ternyata beliau adalah seorang trainer juga. Karena merasa diri lebih muda, secara otomatis saya memposisikan diri untuk lebih mendengar dari beliau. Siapa tahu dari pertemuan ini saya bisa belajar suatu ilmu. Benar saja. Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan insight dari beliau. Sebuah ciri khas trainer yang handal.

”Saya punya sebuah teka-teki,” katanya. ”Tolong Mas Dadang jawab ya.” Saya mengiyakan, selama saya mampu untuk melakukannya. Lalu pada selembar kertas kecil beliau menuliskan tujuh kata. Berani, Kaya, Kasih, Memberi, Syukur, Menerima, Sehat. Kira-kira begitulah. Kemudian beliau meminta saya untuk mengurutkan berdasarkan prioritas diri saya sendiri. Nomor satu prioritas tertinggi, sedangkan nomor 7 untuk prioritas terendah. Setelah memberikan skor berdasarkan prioritas pribadi, saya mengembalikan kertas itu kepadanya.

”Mas Dadang,” katanya. ”Berdasarkan penelitian, sekitar sembilan puluh persen orang yang ditanya dengan daftar ini menempatkan kata ’kaya’ pada urutan yang paling rendah. Dinomor 6 atau nomor 7.” katanya. Seketika itu juga saya menyadari kalau kata ’kaya’ menjadi prioritas saya yang nomor 6. Berarti saya termasuk kebanyakan orang, dan saya segera mengerti konsekuensinya. ”Saya pernah membaca buku,” lanjut beliau. ”Dalam buku itu dijelaskan seandainya seluruh uang yang ada di dunia ini dikumpulkan lalu dibagi rata kepada semua orang maka setiap orang akan kebagian sekitar 25 Milyar.” Saya mengangguk-anggukan kepala.

Lalu beliau melanjutkan, ”Namun setahun kemudian, sekitar 90% uang itu akan kembali dimiliki oleh 5% orang. Anda mengerti maksudnya?” Hmmh, sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Rupanya itulah kaitan antara meletakan kata ’kaya’ pada prioritas rendah dengan kepemilikikan uang. Mungkin itu juga alasannnya mengapa sampai sekarang saya belum kaya juga, haha.

Bagaimanapun juga, segala sesuatunya bisa masuk akal. Mari kita lupakan soal seerapa akuratnya angka-angka yang tadi kita sebutkan. Tapi, fakta bahwa saya menempatkan kata ’kaya’ siurutan ke-6 dalam prioritas hidup menegaskan jika saya tidak mungkin mengalokasikan sebagian besar potensi dan kapasitas yang saya miliki untuk mencari uang. Jika saya tidak mengerahkan seluruh atau sebagian besar daya hidup untuk mencari uang, mana mungkin saya bisa mewujudkan pencapain tertinggi dalam bentuk kekayaan? Begitulah logikanya. Anda pun pasti demikian bukan? Jadi, pelajaran penting yang saya dapatkan dari pertemuan ini berbunyi, ”Kalau kamu mau kaya, jadikanlah kata ’kaya’ sebagai prioritas hidupmu.”

Apakah saya tidak ingin kaya? Sejujurnya saya tidak tahu. Soalnya yang melekat dalam diri saya dari dulu sederhana saja, yaitu ingin serba berkecukupan. Jika saya ingin ini uang saya cukup, jika ingin itu juga cukup. Padahal, banyak hal yang ingin saya lakukan dalam hidup. Sehingga untuk mewujudkannya tidaklah mungkin kecuali jika saya memiliki dana yang cukup. Apakah itu termasuk ingin kaya? Entahlah. Yang jelas, sampai sekarangpun jika saya harus memilih ’kaya’ atau ’syukur’ tetap saja saya memilih syukur diurutan tertinggi. Soalnya, setiap kali saya memperhatikan jemari tangan saya memijit key board laptop disana saya melihat keajaiban. Saya tidak bisa membayangkan jika Tuhan mengurangi jari-jari tangan ini. Saya tidak tahu lagi mesti bagaimana menuangkan gagasan tanpa jemari tangan.

Lalu saya membayangkan kedua mata ini. Saya belum menemukan harga yang tepat seandainya boleh ditukar dengan sejumlah uang. Jantung ini. Sepasang telinga. Kaki, paru-paru dan segala sesuatu yang Tuhan lekatkan didalam diri saya. Istri, anak-anak, ayah dan ibu kami. Semuanya. Jika saya harus mendahulukan ’kaya’ dari ’syukur’ dan ’kasih’ maka itu bertentangan dengan panggilan hati saya. Saya beruntung hari ini bisa bertemu dengan kenalan baru itu. Sebab dari pertemuan itu saya jadi semakin menyadari betapa banyaknya hal yang mesti saya syukuri.

Ketika kendaraan yang menjemput saya tiba, saya segera pamit kepada beliau. Sebelum berpisah, saya mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh saya rasakan dihari itu. Saya bilang,”Saya belum kaya, Pak. Masih sering pusing memikirkan bagaimana cara menafkahi keluarga. Tapi entah mengapa, sewaktu saya sembahyang Ashar tadi saya kok merasa seperti orang yang sangat kaya.” Kami bersalaman, lalu berpisah dengan kesepakatan untuk terus menjalin silaturahmi.

Saya terkenang Firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Suci. ”Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambah nikmatku lebih banyak lagi.” demikian kata Tuhan. ”Tetapi jika kamu tidak bersyukur, sesungguhnya siksaanku sangatlah pedih.” Sekarang saya tahu bagaimana caranya untuk kaya hanya dengan dua langkah sederhana. Langkah pertama berusaha, langkah kedua bersyukur. Apapun yang kita dapatkan dari hasil ikhtiar merupakan modal untuk memperoleh kepemilikan berikutnya seperti yang Tuhan janjikan. Sesuai janji Tuhan, ikhtiar tanpa henti akan mengantarkan kita kepada sebuah pencapaian. Sedang rasa syukur yang terus menerus menjamin tambahan dari Tuhan. Dengan demikian, kekayaan yang kita dapatkan nanti bukan hanya banyak dalam hal jumlah. Namun nilainya juga penuh dengan berkah.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
WTS – Writer, Trainer, and Speaker
www.bukudadang.com/ dan www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:

Sangatlah penting untuk menjadi orang kaya dengan harta dan kekayaan yang penuh berkah. Namun berkah, tetap lebih bernilai daripada jumlah.

Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi www.bukudadang.com

Foto: usm.maine.ed

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

5 comments

  1. Sangat menggugah kang, makin membuat saya makin yakin bahwa syukur tetap menjadi TOP LIST saya…saya tak dapat bayangkan jika tuhan mengurangi jari-jari ini, Saya tidak tahu lagi mesti bagaimana dan mengirimkan ucapan terima kasih melewati blog ini….^_^

    thanks atas artikelnya dan pencerahannya

  2. Kang Dadang,

    Saya setuju dengan pendapat Kang Dadang yang memprioritaskan “syukur” dalam peringkat pertama, karena tanpa kata “syukur” hidup kita akan penuh dengan ketidakpuasan. Padahal untuk meraih mimpi-mimpi dan keinginan kita yang demikian banyak, yang kadang-kadang mustahil untuk dicapai, tanpa rasa “syukur” maka akan melahirkan berbagai kekecewaan yang akhirnya akan berakhir pada rasa frustasi dan yang paling parah adalah depresi. Padahal hidup kita ini hanya singkat, dan terlampau mubazir untuk disia-siakan, hanya untuk meraih mimpi-mimpi. Walau ada sebagian orang yang berhasil seperti Bill Gates, namun itu kan hanya segelintir saja.Lagipula kalau kita percaya dengan qadha dan takdir bahwa apapun yang kita jalani tidak terlepas dari qadha dan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT, jauh sebelum kita dilahirkan. Jadi memang sudah selayaknya kita selalu bersyukur….. untuk dapat menikmati kehidupan ini.

    Bravo kang Dadang…dengan setumpuk ide-ide brilian yang tidak habis-habisnya.

    Salam

    Tatiana

  3. Pak Dadang, cerita ini juga pernah saya alami… seperti Pak Dadang saya memilih syukur…. dan respon yang saya terima adalah anggapan bahwa saya tidak mau berjuang untuk kaya…. Rupanya saya berdiskusi dengan orang yang punya pemahaman berbeda mengenai kata ‘kaya’… buat saya “dengan bersyukur saya merasa kaya” mungkin untuk orang tersebut “harus kaya supaya dapat bersyukur”….

    sekedar berbagi,

    salam

  4. Terima kasih artikelnya yang sangat menarik, kang. Kaya itu, imho, adalah sebuah konsepsi yang multi makna. Saya sendiri memaknainya sebagai suatu perasaan keserbacukupan atau keberlimpahan sumber daya. Uang adalah salah satu, bukan satu-satunya alat untuk mewujudkan itu. Dan perasaan cukup tadi itu, umumnya terwujud jika kita mau bersyukur. Menysukuri apa yang ada atau terjadi sekarang. Jadi menempatkan syukur di prioritas utama, sebagaimana kang Dadang, menurut saya sekaligus juga mengundang perasaan keberlimpahan, perasaan (menjadi) kaya…
    Salam syukur.
    Josef

  5. wah bagus nich artikelnya…..