Friday , September 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Apakah Arti Hidup Ini?

Apakah Arti Hidup Ini?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri; Apakah arti hidup ini? Saya dengar, banyak orang yang memiliki pertanyaan serupa itu. Namun, saya tidak begitu yakin jika setiap orang berhasil mendapatkan jawaban yang sama atas pertanyaan itu. Jadi, bagi Anda sendiri; apakah artinya hidup itu?

Bak air di kamar mandi saya yang terbuat dari semen dan batu bata belakangan ini sering sekali mengalami kebocoran. Maka saya menggantinya dengan bak baru yang berbahan dasar fiber. Proses pergantian itu menghasilkan setumpuk puing yang teronggok disamping rumah kami. Sudah saya niatkan meminta bantuan tukang sampah untuk menyingkirkan puing itu. Namun saya belum bertemu dengannya dalam beberapa hari terakhir ini. Walhasil, puing-puing itu tetap teronggok disitu. Membuat pemandangan menjadi terganggu.

Pagi-pagi sekali terdengar seseorang tengah berteriak; ”Maaf Mas, puingnya masih akan digunakan oleh Bapak.” Perkiraan saya itu adalah suara Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga kami. Secara spontan saya menuju ke halaman depan. Beberapa orang dalam mobil bak terbuka telah bersiap meninggalkan rumah kami. ”Mas, Anda membutuhkan puing-puing itu?” saya bertanya. Saat mereka mengiyakan, saya mempersilakannya. Dan. Sejak saat itu, saya tidak lagi melihat puing-puing itu.

Saya tercenung selama beberapa saat. Sesuatu yang saya anggap tidak berguna, tanpa disangka dicari-cari oleh orang lain. Kalau dihitung biaya bahan bakar mobil dan ongkos kerja mereka, maka tidaklah mungkin mereka melakukannya jika tidak menemukan ’nilai ekonomi’ dari puing-puing itu. Maka kesimpulan saya; sesuatu yang saya anggap sampah bisa jadi merupakan benda berharga dimata orang lain.

Bukan sekali itu saya menganggap sesuatu tidak berharga. Bahkan lebih parahnya lagi, tidak jarang yang saya anggap tidak berharga itu adalah bagian dari diri saya sendiri. Misalnya, ketika saya merasa sebagai seorang pecundang, maka saya telah merendahkan nilai diri saya. Betapa seringnya juga saya merasa tidak berdaya untuk melakukan sesuatu. Seolah tangan ini. Kaki ini. Kepala ini. Dada ini. Semuanya tidak cukup berguna untuk menjadikan hidup saya bermakna. Padahal, seandainya saya mengumumkan di media masa: ”barang siapa yang menginginkan mata saya, silakan diambil saja,” maka saya yakin akan banyak sekali peminatnya. Tetapi, mengingat betapa saya sering menyepelekan makna mata ini bagi kehidupan saya, nyata sekali bahwa; saya tidak benar-benar menghargai anugerah yang telah Tuhan hadiahkan melalui mata saya. Astaghfirullah.

Bukti lain jika saya sering menyia-nyiakan anugerah Tuhan adalah ketika saya begitu seringnya membiarkan kemampuan diri saya tersia-siakan. Mata saya tadi, lebih sering saya gunakan untuk melihat hal yang mungkin Tuhan tidak sukai. Telinga saya. Lebih sering saya gunakan untuk mendengarkan suara-suara yang negatif daripada yang positif. Jari jemari saya lebih sering dipakai untuk menuliskan kalimat-kalimat buruk daripada yang baik-baik. Sekujur tubuh saya juga begitu.

Saya sering sekali bertanya-tanya tentang ’apa arti hidup ini’. Sekarang saya mengerti, mengapa saya tidak kunjung menemukan jawabannya. Sebab seseorang hanya akan bisa menemukan apa arti hidupnya, jika dan hanya jika dia bisa memberikan arti dari setiap organ tubuh melalui kegunaannya. Dengan kata lain, ’arti hidup ini’ itu bukan untuk dicari definisinya. Melainkan untuk diciptakan oleh diri kita sendiri melalui tindakan yang kita lakukan dengan menggunakan sekujur tubuh kita. Baik tubuh kasar ragawi, maupun tubuh halus ruhani. Jadi, agak aneh jika kita terus mencari arti hidup tetapi kita terus menerus menyia-nyiakan hidup kita sendiri.

Jadi, sebenarnya apa sih arti hidup ini? Entahlah. Tergantung bagaimana kita menggunakannya saja. Jika kita menggunakan hidup untuk kebaikan, maka kita akan menemukan bahwa ’hidup ini memiliki arti yang baik’. Namun, jika kita menggunakannya untuk keburukan maka kita memberi arti sebaliknya. Maka pantaslah jika Tuhan memberi nilai yang berbeda-beda atas hidup yang telah diberikannya kepada setiap insan. Dan karena balasan Tuhan sangat ditentukan oleh bagaimana cara seseorang menggunakan hidupnya, maka baik dan buruknya kita dimata Tuhan sangat ditentukan oleh apakah kita menggunakan hidup kita untuk kebaikan atau keburukan.

Dengan demikian, tidak penting lagi untuk mencari apa itu arti kehidupan. Karena ternyata, justru tugas kitalah untuk memberikan arti kepada kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan. Seperti kertas putih polos. Terserah kita mau menggoreskan tulisan seperti apa didalamnya. Karena bersama kehidupan, Tuhan memberi kita seperangkat kebebasan untuk memilih; apakah kita ingin kembali kepada Tuhan dengan catatan hidup yang baik atau tidak.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – www.dadangkadarusman.com
Leadership & People Development Training – 0812 19899 737
Supervisor & Manager Anda sudah terampil memimpin? Let us help to ensure.

Catatan Kaki:
Kita sering terlena dalam rimba pencarian filosofis yang teramat mendalam. Sementara kesederhanaan tindakan sering sekali tersisihkan.

Foto dari: cybermq.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

7 comments

  1. Subhannallah, terima kasih kang atas inspirasinya. Terus tebarkan pikiran positif di muka bumi ini.

  2. Terimakasih artikelnya, bermanfaat buat saya yang masih mencari jati diri dan terus berusaha agar lebih baik lagi…

  3. Yang dihitung sebagai kebaikan adalah amal/tindakan positif…bukan angan-angan semu.
    Luar biasa Kang Dadang, semoga segala yg telah Akang tuliskan…menginspirasi kami utk senantiasa semangat beramal…

  4. Dadang Kadarusman

    @ Kang Imam, alhamdulillah Kang jika ada manfaatnya. Insya Allah dengan dukungan dan doa Kang Imam.

    @Mbak Gendis, Sami-sami Mbak. Saya juga sedang dalam perjalanan mencari jati diri untuk manjadi lebih baik. Seperjalanan lah kita rupanya.

    @ Mas Karianto. Betul Mas, saya pun sedang belajar untuk mengambil tindakan, mudah-mudahan bisa kesampaian. Terimakasih atas doanya Mas.

  5. Terima kasih , artikelnya yang menginspirasi saya untuk menjadikan kehidupan yang lebih baik

    SALAM

  6. HIDUP=KOMPETISI
    itu menurut saya, dan tlah menjadi pegangan dalam hidup saya selama bertahun-tahun (now i am 19th).
    Yang saya maksud kompetisi disini bukanlah persaingan untuk mendapatkan angka-angka (uang/materi atau nilai2 mapel/makul) yang menurut saya tidak terlalu penting!
    but more than, dalam agama yang saya anut saya diciptakan untuk beribadah. Namun tentu saja, ibadah yang Tuhan saya maksud disini artinya luas sekali, dan pada intinya kesempatan hidup yang Tuhan berikan pada kita semua adalah seperti suatu pemberian tiket untuk sebuah kompetisi. Dan hadiah utamanya tentu saja SYURGA! Nah, bagaimana kita berkompetisi dalam hidup adalah tugas kita. Kompetisi macam apa?
    kompetisi dalam kebaikan (fastabikul khairat), kompetisi untuk berbagi dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya umat manusia(khoirunNas anfa’u linNas), kompetisi untuk mendapat sebanyak-banyaknya ilmu lalu berkompetisi lagi untuk membagikan ilmu-ilmu itu ke sebanyak-banyknya manusia lain. Semua itu menjadikan kita mendapatkan predikat “sebaik-baik manusia” (tersebut dalam beberapa hadits SHOKHEH, cara-cara menjadi sebaik-baik manusia). Semua itu yang slalu menyentakkan saya di dini hari, dan berkobar semangat dalam dada saya untuk kembali berkompetisi, saya selalu berusaha agar tidak ada waktu sia-sia untuk sebuah “pencetakkan” dosa (meski saya yakin betul, dosa saya kini menggunung atas kesalahan yg sengaja/tdk sengaja tlh saya lakukan).
    Dan itulah HIDUP di mata saya^_^terimakasih

  7. good jobs,. artikel yang luar biasa