Saturday , July 2 2016
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Sikap Atasan Yang Paling Tidak Disukai Bawahannya

Sikap Atasan Yang Paling Tidak Disukai Bawahannya

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita sering mengira hanya bawahan yang sangat ingin sekali untuk disukai oleh atasannya. Faktanya, setiap atasan pun ingin disukai oleh bawahannya. Disukai, tidak berarti semua bawahan mengagung-agungkan, memuji-muji, atau hal-hal superficial lainnya. Secara esensi, disukai bawahan lebih bermakna pengakuan dalam hati bawahan bahwa atasannya sudah menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Jadi, meskipun mereka sering protes, misalnya; mereka tetap mengakui bahwa kita adalah atasan yang baik. Apakah Anda sudah menjadi atasan seperti itu?

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah membahas 5 hal yang diharapkan oleh bawahan dari atasannya. Semoga artikel itu bisa membantu Anda untuk memperindah kualitas kepemimpinan Anda. Sekarang, ijinkan saya berbagi hasil pengamatan tentang 5 hal yang menyebabkan bawahan sebel sekali kepada atasannya. Menghindarinya akan meningkatkan efektivitas kepimimpinan seorang atasan. Berikut ini uraiannya.

1. Sok kuasa. Setinggi apapun jabatan seseorang, jika hal itu hanya menyebabkannya sok kuasa maka dia hanya akan mendapatkan cemoohan ‘tidak terdengar’ dari orang-orang yang dipimpinnya. Mengapa? Karena tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang menyukai orang-orang sok kuasa. Oleh para ‘licker’ sikap sok kuasa atasan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri, sehingga akan memperburuk suasana. Mereka yang pandai mencari muka atasan berebut untuk mendekat, sedangkan mereka yang benar-benar professional akan semakin tersisih. Atasan yang sok kuasa, jarang yang mampu untuk membangun kinerja team secara optimal.

2. Tidak sejalan antara kata dan perbuatan. Apa yang bisa dipegang dari seorang manusia selain kata-katanya? Maka setiap kata yang diucapkan oleh seorang atasan adalah jaminan dari perilaku dan tindakannya. Sikap plin-plan, sangat membingungkan bawahan. Kebiasaan untuk ‘menelan ludah sendiri’, menyebabkan hilangnya kepercayaan dari bawahan. Menyuruh bawahan berdisiplin sedangkan dirinya sendiri bertindak sesuka hati, sangat menyebalkan bagi bawahan.

3. Melempar tanggungjawab kepada bawahan. Fungsi atasan adalah untuk memastikan bahwa setiap orang yang ada dalam unit kerja yang dipimpinnya dapat menjalankan perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, maka kewajiban atasan untuk mengambil tanggungjawab; lalu mengambil langkah-langkah perbaikan. Selain menandakan ketidakmampuan dalam memimpin, melempar tanggungjawab juga sangat melukai perasaan bawahan. Makanya, atasan yang seperti itu sangat dibenci oleh bawahan.

4. Mengklaim keberhasilan team sebagai prestasi pribadinya. Tidak ada prestasi tinggi yang kita buat sendirian. Pasti ada kontribusi orang lain dalam setiap pencapaian tinggi yang kita raih. Apalagi jika kita berada pada posisi yang tinggi; pastilah orang-orang yang kita pimpin lebih banyak bekerja daripada kita. Memang benar, ada kontribusi kepemimpinan kita yang menyebabkan mereka bekerja dengan baik. Namun, kepemimpinan sama sekali tidak memiliki makna tanpa mereka yang kita pimpin. Jadi, mengklaim pencapaian team seolah-olah prestasi atasan semata sungguh berlawanan dengan logika maupun hati nurani.

5. Sering menghilang, pada saat seharusnya berada di tempat.