Sunday , February 1 2015
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Sikap Atasan Yang Paling Tidak Disukai Bawahannya

Sikap Atasan Yang Paling Tidak Disukai Bawahannya

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita sering mengira hanya bawahan yang sangat ingin sekali untuk disukai oleh atasannya. Faktanya, setiap atasan pun ingin disukai oleh bawahannya. Disukai, tidak berarti semua bawahan mengagung-agungkan, memuji-muji, atau hal-hal superficial lainnya. Secara esensi, disukai bawahan lebih bermakna pengakuan dalam hati bawahan bahwa atasannya sudah menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Jadi, meskipun mereka sering protes, misalnya; mereka tetap mengakui bahwa kita adalah atasan yang baik. Apakah Anda sudah menjadi atasan seperti itu?

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah membahas 5 hal yang diharapkan oleh bawahan dari atasannya. Semoga artikel itu bisa membantu Anda untuk memperindah kualitas kepemimpinan Anda. Sekarang, ijinkan saya berbagi hasil pengamatan tentang 5 hal yang menyebabkan bawahan sebel sekali kepada atasannya. Menghindarinya akan meningkatkan efektivitas kepimimpinan seorang atasan. Berikut ini uraiannya.

1. Sok kuasa. Setinggi apapun jabatan seseorang, jika hal itu hanya menyebabkannya sok kuasa maka dia hanya akan mendapatkan cemoohan ‘tidak terdengar’ dari orang-orang yang dipimpinnya. Mengapa? Karena tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang menyukai orang-orang sok kuasa. Oleh para ‘licker’ sikap sok kuasa atasan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri, sehingga akan memperburuk suasana. Mereka yang pandai mencari muka atasan berebut untuk mendekat, sedangkan mereka yang benar-benar professional akan semakin tersisih. Atasan yang sok kuasa, jarang yang mampu untuk membangun kinerja team secara optimal.

2. Tidak sejalan antara kata dan perbuatan. Apa yang bisa dipegang dari seorang manusia selain kata-katanya? Maka setiap kata yang diucapkan oleh seorang atasan adalah jaminan dari perilaku dan tindakannya. Sikap plin-plan, sangat membingungkan bawahan. Kebiasaan untuk ‘menelan ludah sendiri’, menyebabkan hilangnya kepercayaan dari bawahan. Menyuruh bawahan berdisiplin sedangkan dirinya sendiri bertindak sesuka hati, sangat menyebalkan bagi bawahan.

3. Melempar tanggungjawab kepada bawahan. Fungsi atasan adalah untuk memastikan bahwa setiap orang yang ada dalam unit kerja yang dipimpinnya dapat menjalankan perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, maka kewajiban atasan untuk mengambil tanggungjawab; lalu mengambil langkah-langkah perbaikan. Selain menandakan ketidakmampuan dalam memimpin, melempar tanggungjawab juga sangat melukai perasaan bawahan. Makanya, atasan yang seperti itu sangat dibenci oleh bawahan.

4. Mengklaim keberhasilan team sebagai prestasi pribadinya. Tidak ada prestasi tinggi yang kita buat sendirian. Pasti ada kontribusi orang lain dalam setiap pencapaian tinggi yang kita raih. Apalagi jika kita berada pada posisi yang tinggi; pastilah orang-orang yang kita pimpin lebih banyak bekerja daripada kita. Memang benar, ada kontribusi kepemimpinan kita yang menyebabkan mereka bekerja dengan baik. Namun, kepemimpinan sama sekali tidak memiliki makna tanpa mereka yang kita pimpin. Jadi, mengklaim pencapaian team seolah-olah prestasi atasan semata sungguh berlawanan dengan logika maupun hati nurani.

5. Sering menghilang, pada saat seharusnya berada di tempat. Memang benar, kinerja bagus bawahan tanpa kehadiran atasan menunjukkan efektivitas kepemimpinan. Tetapi, jika atasan sering menghilang pada saat seharusnya mereka ada; memperlihatkan adanya masalah dalam kepemimpinan. Jika berada di luar kantor pada jam kerja, maka seharusnya itu untuk urusan dan kepentingan kantor juga. Berada dimanapun tetap tepat, jika seorang atasan focus kepada tugas-tugas yang harus diembannya sebagai seorang pemimpin.

Kematangan kepemimpinan seseorang bukanlah status yang statis, melainkan sebuah proses dinamis yang berjalan dari waktu ke waktu. Satu hal yang berlaku secara universal; atasan yang baik itu, pasti dihormati dan disegani oleh bawahannya.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – 19 Mei 2011
Book Author & Master Trainer Natural Intelligence
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi – 0812 1040 3327
Facebook
Follow dangkadarusman on Twitter

Catatan Kaki:
Salah satu penyebab mengapa seorang atasan ’tidak dianggap’ oleh bawahan adalah karena dia tidak berperilaku sesuai norma dan nilai-nilai yang berlaku secara universal.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.

Follo DK twitter@dangkadarusman
Follow DK on Twitter @dangkadarusman

Gambar: riodauhand.blogspot.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327 atau 0812 19899 737.

5 comments

  1. izin copy paste. link dicantumkan. Terima kasih

  2. Miliyani tumanggor

    Setuju…

  3. Miliyani tumanggor

    Mhn di share tq.

  4. seorang pemimpin seharusnya memang bisa bersikap adil sera bijaksana, bukan malah semena mena terhadap bawahannya.
    Blgwlkng…..