Friday , October 23 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Meningkatkan Employee Engagement Di Kantor Anda

Meningkatkan Employee Engagement Di Kantor Anda

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Employee engagement (EE) bukanlah masalah yang hangat dibicarakan hanya di Negara berkembang seperti Indonesia saja. Perusahaan-perusahaan di Negara paling maju sekalipun menghadapi masalah yang sangat pelik untuk diselesaikan ini. Banyak yang masih secara keliru mengira bahwa para karyawan bisa diikat oleh gaji tinggi. Padahal, hanya mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di tempat lain saja yang masih rela melakukan apapun demi gajinya. Mereka yang memiliki daya jual dan daya juang tinggi pasti akan hengkang juga. Sungguh, ini bukan semata-mata soal uang. Jadi apa dong penyebab utamanya?

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling utama yang menyebabkan rendahnya tingkat EE ternyata adalah atasannya. Jadi, jika Anda memiliki masalah serius dengan rendahnya EE dikalangan anak buah Anda, maka sudah waktunya untuk bercermin sambil bertanya; “Apakah saya sudah menjadi atasan yang baik bagi para bawahan saya?” Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya mamahami peran atasan dalam meningkatkan Employee Engagement, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:

1. Memahami kebutuhan dan keinginan karyawan. Ada bedanya antara kebutuhan dengan keinginan. Memahami keduanya membantu atasan untuk menentukan mana yang layak untuk diperjuangkan atau diberikan kepada bawahan, dan mana yang tidak perlu terlalu dihiraukan. Kebutuhan mengacu kepada apa yang pantas mereka dapatkan berkaitan dengan hubungan kerja, sedangkan keinginan berkaitan dengan tuntutan-tuntutan yang belum tentu patut untuk mereka dapatkan. Segala sesuatu yang pantas mereka peroleh itulah yang wajib hukumnya untuk diperjuangkan oleh seorang atasan. Harapan karyawan itu beragam macam sehingga tidak mungkin seluruhnya bisa dipenuhi. Memahami antara kebutuhan dan keinginan mereka membantu atasan untuk melakukan penyaringan sehingga lebih efektif dalam menggunakan sumberdaya.

2. Bersedia mendengarkan masukan dan keluhan bawahan. Tidak semua masukan dari bawahan relevan dan bisa diimplementasikan. Juga tidak semua keluhan bawahan bersifat objektif dan berada dalam kewenangan atasan. Tetapi, kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan bawahan. Mereka bisa merasakan bahwa di kantornya masih ada kesempatan untuk menyalurkan aspirasi. Tersumbatnya saluran penampung aspirasi sering menyebabkan hilangnya kepercayaan bawahan. Dalam jangka panjang hal ini bisa berubah menjadi gejolak yang sulit untuk diredam. Bahkan sekalipun atasan tidak sanggup untuk memenuhinya, bawahan mendapatkan kepuasan ketika suaranya didengar oleh atasan.

3. Menjaga ketulusan hati dalam hubungan dengan bawahan. Saya meyakini bahwa ketulusan adalah kunci terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Khususnya antara atasan dan bawahan. Hubungan yang didasari oleh ketulusan tidak sekedar diukur dari keramahan, sebab atasan yang berkarakter keras bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa untuk berubah wajah menjadi ramah dan murah senyum. Sebaliknya, bawahan yang kurang supel juga tidak bisa dipaksa untuk hay-hay-hey-hey dengan atasannya. Ketulusan hubungan mengijinkan bawahan untuk mengkritik atasannya, dan memberi keleluasaan bagi atasan untuk menegur bawahannya yang kurang baik. Selama ada ketulusan itu, seseorang tidak harus mengubah kepribadian untuk memastikan bahwa hubungannya dengan rekan di kantor tetap sehat

4. Memenuhi kebutuhan pengembangan bawahan. Seperti halnya Anda, para bawahan membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Begitu banyak karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena atasannya keliru mengira bahwa pengembangan karyawan itu harus selalu berupa kenaikan jabatan. Bukan. Berkembang bisa berarti mendapatkan pengalaman baru, makanya menugaskan bawahan untuk bergabung dengan proyek yang melibatkan departemen lain bisa sangat membantu. Berkembang juga bisa berarti meningkatnya pengetahuan. Untuk hal ini juga tidak harus selalu mahal, karena dengan kreativitasnya seorang atasan bisa melakukan sesuatu yang bisa menambah pengetahuan bawahan dengan biaya yang sangat rendah. Mengirimi mereka artikel-artikel yang berkualitas tinggi misalnya.

5. Memberi kesempatan karyawan untuk mencurahkan seluruh kemampuannya. Jika Anda memiliki kemampuan yang sangat tinggi namun perusahaan tempat Anda bekerja tidak dapat memberikan cukup ruang bagi Anda untuk menggunakan seluruh kemampuan Anda, maka Anda akan meninggalkan perusahaan itu. Sebab, Anda tahu kalau terus tinggal di perusahaan itu akan menyebabkan kemampuan Anda mengecil bahkan menghilang seperti kaki ular yang mengalami proses rudimenter. Atau Anda akan menjadi seperti ikan besar yang berada di kolam yang sangat kecil. Begitu pula dengan bawahan Anda yang pintar dan berkemampuan tinggi. Maka tidak ada kompromi bagi Anda selain memberinya kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuannya. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur.

Jika Anda seorang atasan yang memiliki anak buah, maka Anda adalah orang pertama yang bertanggungjawab terhadap Employee Engagement. Tidak ada bawahan yang betah tinggal dan bekerja dengan atasan yang tidak berusaha maksimal untuk membuat mereka kerasan di kantor. Boleh jadi masih banyak karyawan yang tetap tinggal bersama Anda, tetapi Anda kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena mereka yang tinggal di tempat yang tidak menyenangkan mungkin saja sedang menunggu peluang ditempat lain yang lebih baik. Jadi, inilah saatnya bagi setiap atasan untuk benar-benar memikirkan dan memberikan perhatian pada upaya-upaya mewujudkan Employee Engagement.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – 16 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi – 0812 1040 3327
Follow dangkadarusman on Twitter

Catatan Kaki:
Seorang atasan itu seperti lem yang berfungsi untuk merekatkan antara bawahannya dengan perusahaan yang memberinya tanggungjawab kepemimpinan.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.

Follo DK twitter@dangkadarusman

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

Gambar : workexposedblog.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

2 comments

  1. menarik sekali artikel yang Pak Dadang tulis.
    sesuai dengan mata kuliah yang pelajari di kampus, adapula istilah OCB (organizational commitment behavior) yang pengertiannya hampir sama denga EE, bedanya apa ya Pak?

    terima kasih
    salam,
    eva

  2. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur.

    kata-kata ini yang paling kusuka…