Sunday , April 11 2021
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Terlihat Benar Belum Tentu Benar

Terlihat Benar Belum Tentu Benar

Mencari trainer untuk karyawan di perusahaan Anda? Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327.

Hore, Hari Baru! Teman-teman.

Catatan Kepala: ”Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar.”

Sudah cukup sering kita berhadapan dengan orang-orang yang menganggap dirinya benar. Melakukan hal-hal yang benar. Dan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Anehnya, kebenaran yang diperjuangkan itu berbenturan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam lingkup yang lebih besar. Orang-orang semacam itu tidak hanya bisa kita temui di jalan. Juga di lingkungan tempat kita tinggal. Maupun di kantor tempat kita bekerja. Orang-orang itu tidak berada jauh. Banyak yang dekat dengan kita. Ada yang sangat dekat dengan kita. Bahkan ada yang sedemikian dekatnya sehingga jantungnya adalah jantung kita juga. Ehm, kalau begitu; orang itu adalah diri kita sendiri dong ya. Kita yang sering merasa telah berada di jalan yang benar, seolah hal lain di luar kita adalah salah.

Saya punya janji rapat presentasi program pelatihan saya dihadapan management sebuah group perusahaan. Berbekal alamat lengkap lokasi meeting, maka saya pun meluncur ke lokasi. Karena kurang faham wilayah itu, saya sesekali berhenti untuk menanyakan arah. Sesuai petunjuk orang yang ditanya, saya pun belok kanan. Alhamdulillah, nama jalannya sudah pas seperti seharusnya. Tinggal mencari menara perkantoran itu, sampailah. Namun, saya tidak kunjung menemukan menara itu, hingga nama jalan yang dilalui berubah. Saya putar arah, sampai diujung perempatan lagi. Menara itu tetap tidak ada. Apa pasal? Rupanya, jalan di seberang perampatan itu juga masih sambungannya. Seharusnya tadi saya belok kiri, karena menara itu ternyata berada di sebelah sana. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga, bahwa; “Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar.” Ini bukan sekedar soal mencari alamat tertentu, melainkan isyarat Ilahi tentang cara menelusuri sepanjang perjalanan hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami isyarat itu dalam menjalani hidup, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

Untuk bantuan in-house training dan pemberdayaan karyawan Anda, hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327.

1. Berhenti merasa benar sendiri. Misalkan saja Anda sedang berada di jalan Jenderal Sudirman. Saat menelepon teman Anda, dia mengaku jika dia pun sedang berada di jalan yang sama. Apa yang selanjutnya Anda lakukan? Anda mengatakan bahwa dia berdusta? Tidak. Mungkin malah Anda akan bertanya; “Elu ada disebelah mana? O, gitu. Ya udah elu jangan kemana-mana. Gue langsung meluncur kesana.” Kan begitu. Mudah bagi kita untuk memahami hal itu. Yang sulit adalah ketika kita merasa semua kebenaran ini milik kita seluruhnya sedangkan semua orang lain salah. Karena sama-sama ngotot, maka kita saling mempertentangkan kebenaran masing masing. Padahal, boleh jadi sebenarnya kita berada pada ‘rute jalan’ yang sama, namun kita berada pada ‘spot’ yang berbeda. Jika Anda bisa mengatakan ‘ya udah elu tunggu aja, sebentar lagi gua kesana’ di Jalan Jenderal Sudirman itu, kenapa sih kita tidak bisa mengatakan;’Elu bener. Gue pun akan punya keyakinan serupa itu jika menggunakan sudut pandang nyang entu…” Itu loh yang sering kita sebut sebagai empati itu. Kita memahami latar belakang dan sudut pandanganya, sehingga bisa memahami pendapatnya. Dan sikap serupa itu, hanya bisa kita miliki jika kita berhenti untuk merasa benar sendiri.

2. Jalan itu bukan lokasi. Kalau kita sudah berada di sebuah jalan, hal itu tidak berarti kita telah melintasi semua bagian dari jalan itu, begitulah faktanya. Saya sudah berada dijalan itu. Tapi saya tidak bisa menemukan lokasi rapat itu. Faktanya, jalan adalah lorong untuk mengantarkan kita ke lokasi yang kita tuju. Masalahnya, jika jalan hidup kita, jalan pikiran kita, jalan keyakinan kita sudah benar kita sering merasa jika kita sudah berada di ‘lokasi’ yang benar. Makanya, kebenaran sering kita amalkan secara membabi buta. Kita merasa berhak menindas orang lain atas nama kebenaran. Kita boleh memaki bawahan atas nama kebenaran. Kita boleh menghujat atasan dan pemimpin atas nama kebenaran. Dan kita, boleh ‘melakukan apapun juga’ selama kita berpijak diatas sendi-sendi kebenaran. Tidak bung. Anda baru sampai di Jalan tempat kebenaran itu ada. Namun Anda, belum sampai di lokasi kebenaran itu sendiri. Tak heran jika banyak atasan yang semena-mena. Banyak bawahan yang suka membangkang. Banyak teman yang berani melakukan apa saja demi memenangkan persaingan. Karena mereka lupa; bahwa yang mereka perjuangkan itu bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan sebuah perjalanan yang belum selesai ditempuhnya. Maka tempuhlah perjalanan menuju kebenaran itu terlebih dahulu. Pastikan Anda sampai di lokasi kebenaran itu berada. Izinkan semua orang dari berbagai penjuru bumi menggunakan bermacam alat transportasi, dan menempuh jalur-jalur yang berbeda bisa tiba ditempat yang sama. Setelah berada disana; kita baru akan menyadari jika ternyata; kita berbeda ini memiliki tujuan dan kebenaran yang sama. Oh, ternyata jalan itu, bukanlah lokasi.

3. Tidak ada jawaban yang salah. Saya salah berbelok. Harusnya ke kiri, bukan ke kanan. Tapi, itu saya lakukan karena seseorang memberitahukan untuk belok kanan. Lho, kok kesalahan saya malah ditimpakan kepada orang lain yang sudah berusaha untuk memberi bantuan. Saya bertanya ‘jalan ini ada dimana?’. Dia bilang, ‘diperempatan itu, Bapak belok kanan.” Dia benar. Bahkan sekalipun orang itu menjawab salah, bukan salah dia. Yang salah adalah saya yang bertanya kepada orang yang tidak mengetahui jawabannya. Kita? Oooh, sering sekali menimpakan nasib sial, kesulitan, kegagalan, kekecewaan dan semua perasaan yang tidak menyenangkan sebagai ulah yang diakibatkan oleh orang lain. Saya melakukan ini karena istri saya tidak merawat diri. Saya melakukan itu karena suami saya tidak perhatian lagi. Karir gue mandek gara-gara teman gue suka menjilat atasan. Saya malas kerja karena suasana di kantor kurang kondusif. Saya sering telat karena teman dan boss saya juga begitu gak diapa-apain. Lha, kok semua keburukan, kesialan, dan kelemahan kita malah ditimpakan penyebabnya kepada orang lain. ‘Lantas, elo mau aja menyerahkan nasib kepada orang lain?’ Begitu saya mendengar teguran keras dari dalam diri saya. Jikapun orang lain telah menyebabkan kita menderita; belum tentu karena mereka sengaja. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu kita dengan lebih baik. Maka ketika kita mendapatkan jawaban atau bantuan dan perlakuan apapun dari orang lain, bukan salah mereka jika kita menerimanya. Kitalah yang mesti belajar untuk memilahnya; dan menjaga diri dari dampak buruknya.

4. Tidak semua pengguna jalan tertib aturan. Orang tidak sengaja menyulitkan kita? Iya. Tapi, kadang kita bisa kecipratan dampak buruk dari perilaku kotor orang lain. Sama seperti pengendara di jalan-jalan yang kita lalui. Ada saja tingkah polah pengendara lain yang menyusahkan kita. Angkot yang berhenti sembarangan. Motor yang ngecot kiri-ngecot kanan. Bis kota yang ngetem di tikungan. Bahkan, ada juga mobil pribadi yang menggunakan sirene polisi hanya untuk menakut-nakuti. Sama seperti hidup kita. Meskipun kita sudah berada di jalan yang lurus, namun banyak juga orang yang melintasinya secara ugal-ugalan. Mereka kelihatan percaya diri dengan kengawurannya. Mereka baru meringis nangis kalau pelipisnya sudah teriris oleh kerikil dari aspal yang terkikis. Sekitar tahun 1998, saya bahkan pernah menjadi korban tabrak lari. Seperti itulah kira-kira fakta hidup kita. Jangan pernah pergi melintasi jalan manapun jika tidak ingin bertemu dengan para pengendara ceroboh dan arogan seperti itu. Jangan pergi ke kantor jika tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Jangan bekerja jika tidak mau dibentak. Jangan keluar rumah jika tidak ingin berpapasan dengan tetangga judes. Jangan keluar kamar jika ogah melihat wajah marah orang serumah. Jangan hidup jika tidak mau menghadapi konsekuensi-konsekuensi lumrah sebagai mana layaknya. Tidak semua pengguna jalan tertib aturan. Begitulah faktanya. Maka mari kita hadapi kenyataan itu. Dan mari kita lintasi semua jalan dan jalur kehidupan yang semertinya kita tempuh. Meski berhadapan dengan resiko serupa itu.

5. Jalan yang tidak pernah menyesatkan. Ada banyak jalan menuju ke Roma, katanya. Itu benar. Tetapi tidak berarti bahwa semua jalan bisa membawa kita ke Roma. Semua orang boleh memilih jalan hidupnya masing-masing, katanya. Itu benar. Tetapi, tidak berarti bahwa seseorang boleh bertindak semau udele dhewek. Kenyataannya ada jalan buntu. Bahkan jalan yang menyesatkan. Kewarasan kita patut dipertanyakan jika sudah tahu itu buntu tapi masih maksa menembusnya juga. Sudah tahu itu sesat, eh ngotot saja hanya karena merasa nikmat. Makanya, meski kita boleh memilih jalan hidup; kita perlu memilih jalan hidup yang tidak pernah menyesatkan. Adakah jalan seperti itu? Ada. Yaitu, jalan yang dibentangkan berdasarkan petunjuk dan bimbingan Tuhan. Untuk menemukan jalan itu, tidak cukup sekedar bertanya kepada pemuka agama. Pertama, mereka juga manusia yang bisa salah seperti kita. Kedua, pemuka agama tidak memiliki kemampuan untuk memaksa kita mengikuti kata-katanya. Ketiga, hanya diri kita yang bisa membuka pintu hati agar isyarat dan cahaya Ilahi bisa memasuki relung terdalamnya. Kita akan bisa menemukan jalan Ilahi itu hanya jika terus mencari, menerima, menyadari, mempersiapkan dan memahami tanda-tandanya. Dan salah satu tanda itu adalah; ketika kita ikhlas menjalani peran yang sehari-hari kita mainkan. Tanpa keikhlasan itu, jelas sekali jika kita tidak sedang melangkah dalam jalan yang tidak pernah menyesatkan itu.

Setelah sekian puluh tahun perjalanan hidup kita, sudahkah kita menemukan jalan hidup yang benar-benar tepat untuk kita lalui? Jika kita pernah salah jalan, tak usah terlampau gusar. Segeralah memutar arah, lalu ikutilah jalur yang seharusnya. Setelah berada di jalan yang kita kira benar pun, teruslah memeriksa apakah kita berada di lajur yang benar? Boleh jadi, jalan kita sudah benar, namun kita berada di lajur yang salah, atau menuju kearah yang salah, dan mengikuti rambu yang salah. Mengapa? Karena sesuatu yang terlihat benar itu, belum tentu benar. Hanya ada satu kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Mengapa kebenaran dari Tuhan sifatnya mutlak? Karena Tuhan itu hanya satu, sehingga kebenaran yang ditentukanNya tidak ada yang bisa mempertanyakan. Mempertentangkan. Atau memberi tandingan. Dalam jalan kebenaran yang dilandasi petunjuk Ilahi itu; yuk, kita sama-sama melangkah.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 08 Desember 2011
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap dummy di penerbit)
Follow dangkadarusman on Twitter

Catatan Kaki:
Isyarat kebenaran Ilahi hanya bisa ditangkap oleh pribadi yang menyediakan jiwa dan raganya untuk selalu bersih dalam menjalani hidupnya.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Tentang Dadang Kadarusman
~ Spesialisasi training di bidang: NATURAL INTELLIGENCE dan penerapannya dalam LEADERSHIP, PERSONNEL DEVELOPMENT dan PERSONAL EXCELLENCE ~

Saya selalu mengingat TRAINING PERTAMA yang saya bawakan sebagai trainer profesional. Ketika itu, saya baru saja resign dari sebuah perusahaan multinasional terkemuka. Bagaimanapun juga, ini adalah pilihan hidup saya. Maka saya bertekad untuk kuat menghadapi apapun. Namun, ternyata tidak semua hal berjalan seperti yang kita bayangkan. Salah satu hal yang ‘mengerikan’ itu antara lain adalah BAGAIMANA mendapatkan order training pertama itu. Duh, kalau saya tidak mendapatkan order itu; bagaimana saya bisa menghadapi sisa perjalanan ‘karir’ ini selanjutnya?

“I don’t understand why my people reccommended you to speak in our forum!” Itu adalah kalimat yang saya dengar ketika berhadapan dengan Pak President Director sebuah perusahaan multinasional. Saya akui, kalimat itu cukup menggetarkan hati saya. Sekarang saya berhadapan dengan pimpinan perusahaan yang sangat menentukan apakah saya jadi di hire untuk memberikan pelatihan kepemimpinan itu atau tidak. Kemudian, saya menunjukkan sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Inggris kepada beliau. Dan saya katakan bahwa buku ini penulisnya adalah ‘orang yang sedang berada dihadapan Anda’. Ya, buku berbahasa Inggris itu saya yang tulis; sesuai dengan nama ‘author’ yang tertera di halaman depannya. Pertama-tama saya membahas isi buku itu, dan bagaimana peran saya dalam proses penulisannya. Sekarang saya boleh mengatakan bahwa saya termasuk diantara hanya sedikit saja trainer di Indonesia yang pernah menulis buku dalam bahasa Inggris. Dan itu menunjukkan komitmen keilmuan dan pelayanan saya pada bidang pelatihan. Saya tidak ingin hanya menjadi ‘another trainer’. Saya ingin menjadi trainer yang bisa memberikan nilai tambah alias, tidak sekedar menyampaikan sesuatu yang saya dapat dari training lain. Menakjubkan; akhirnya saya mendapatkan kontrak itu. Di luar kantor, saya disalami oleh HR Headnya; ”Selamat, Kang Dadang mendapatkan kontrak training kepemimpinan itu,” kata beliau.

Peserta training kami terdiri dari top management dimana Presiden Director dan President Commissioner juga hadir. Hmmmmh, ini merupakan sebuah pertaruhan bagi saya. Bukan itu saja, peserta trainingnya juga terdiri dari berbagai macam latar belakang kebangsaan yang selain Indonesia juga ada expatriate dari Australia, New Zealand, Thailand, dan Jerman. Begitulah gambaran training yang pertama kali saya fasilitasi sebagai seorang Trainer Profesional.

Bagaimana akhirnya training itu bisa berlangsung? Saya tidak akan menceritakan detailnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa setelah selesai sesi training itu, Pak Presiden Direktur dan Presiden Komisaris menyalami saya. Dan pada saat itu pula saya mendapatkan ‘mandat baru’ untuk memberikan training kepada leader-leader lainnya di perusahaan itu.

Saya memiliki lebih banyak lagi pengalaman mengesankan, kisah mendebarkan, bahkan situasi mengerikan selama menjadi trainer. Dan saya percaya jika hal itu akan semakin meningkatkan kekayaan nilai dalam jiwa saya.

Sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung, saya memang senang sekali berbicara dan saling berbagi semangat dengan orang lain. Ketika bekerja di 2 perusahaan Multinasional pun, saya tidak pernah berhenti melakukannya. Sampai-sampai ada kelakar seperti ini; ”Jangan Pernah Memberikan Mikrofon Kepada Si Dadang….” Soalnya, sekali saya diminta untuk bicara; maka kata demi kata akan mengalir deras dari lisan saya. “I love sharing inspiring stories with others,” itulah yang saya rasakan. Maka saya pun memantapkan hati untuk meninggalkan semua ‘kenyamanan’ yang saya dapatkan di tempat kerja yang semuanya serba menyenangkan itu.

Hingga pertengahan tahun 2011 saya sudah menulis dan mempublikasikan lebih dari 1,000 artikel dan berbagai buku inspirasi. Sekarang saya sedang mempersiapkan buku terbaru berjudul NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP yang direncanakan untuk hadir ke ruang publik pada bulan Januari 2012. Saya berupaya keras untuk melahirkan cara pandang baru dalam pemahaman terhadap kecerdasan dan karakter kepimpinan manusia melalui konsep Natural Intelligence. Semua itu saya lakukan agar bisa terus berbagi semangat seperti moto yang selalu saya dengungkan; “Mari Berbagi Semangat!”.

Sampai hari ini, saya merasakan bahwa menjadi trainer itu BUKANLAH PERKARA GAMPANG, khususnya bagi mereka yang menganggap bahwa setiap tarikan nafasnya adalah tahapan panjang sebuah proses pembelajaran. Ya, jadi trainer itu tidak gampang. Bahkan bagi seorang trainer yang sudah sangat berpengalaman. Sebab menjadi trainer bukanlah sekedar mendapatkan order-training, melainkan; bagaimana mempertanggungjawabkan amanah yang sudah diberikan untuk melakukan pelatihan kepada para peserta. Oleh karenanya, sampai sekarang saya masih ingin terus belajar. Sampai kapanpun, saya bertekad untuk terus belajar. Maukah Anda mengundang ‘trainer’ yang sedang terus belajar ini? Hubungi saya di 0812 19899 737, atau Ms. Vivi di 0812 1040 3327.

In-house training: “Adapting To Change“. Cocok untuk membangun paradigm karyawan secara tepat dalam menghadapi perubahan di perusahaan Anda. Segera booking melalui Ms. Vivi di 0812 1040 3327. Info lebih lanjut klik disini: “Adapting To Change“.

Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman

Gambar : wvs.toleftpixel.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

One comment

  1. Artikel yang menarik, dari pengalaman lapangan dan mental yang orisinil. Semoga semakin sukses dalam berkarya!

    Salam sukses

    Agung Nugroho