Sunday , April 11 2021
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Memimpin Dengan Karakter Pribadi

Memimpin Dengan Karakter Pribadi

Jika di perusahaan Anda terjadi perubahan, bantulah karyawan untuk menysuaikan diri dengannya. Jika perlu training “Adapting To Change” dari DeKa Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327.
Hore, Hari Baru! Teman-teman.

Catatan Kepala: ”Pemimpin yang handal sanggup menanggalkan kekuatan jabatannya, lalu memimpin dengan mengedepankan karakter pribadinya.”

Lucu juga ya kalau mendengar orang yang mengerutu tentang atasannya. Dulu saya sering mendengarnya di toilet atau di lorong bawah tangga tempat orang-orang merokok. Sekarang, kita bisa menyimaknya lewat facebook, twitter, atau milist. Nyata sekali jika banyak orang yang dihargai hanya karena mereka memiliki posisi lebih tinggi. Jika Anda mempunyai posisi tinggi, maka perlulah juga untuk bertanya pada diri sendiri; apakah orang-orang yang Anda pimpin benar-benar menghargai ‘diri Anda’ atau ‘posisi Anda’? Apakah itu penting? Kalau bagi saya itu penting. Bagi Anda? Silakan tentukan sendiri.

Alhamdulillah, saya pernah mendapatkan kesempatan untuk berperan sebagai pemimpin dalam beberapa tingkatan. Selain di kantor, juga sebagai Ketua RT. Ternyata, peran yang paling menantang adalah menjalankan amanah sebagai Ketua RT itu. Di kantor, semuanya jelas, dan setiap orang yang saya pimpin memahami makna hirarki. Sebagai pemimpin di kantor saya memiliki kewenangan yang mengikat setiap orang dalam team. Sedangkan sebagai Ketua RT? Boleh dibilang, kita memimpin dengan ‘tangan kosong’. Sekarang saya sudah tidak lagi menjadi Ketua RT. Namun, justru dari pengalaman itulah saya menyadari hal ini; “Kalau Anda ingin belajar tentang kepemimpinan yang sesungguhnya, maka jadilah ketua RT.” Jika Anda bisa sukses menjadi Ketua RT, maka Anda bisa sukses memimpin team Anda di kantor, di lembaga kenegaraan, atau dikomunitas manapun. Mengapa? Karena ketika Anda menjadi Ketua RT, Anda hanya bisa mengandalkan karakter diri Anda sendiri. Jika dengan ‘tangan kosong’ itu saja Anda bisa memimpin dengan baik, maka apalah lagi seandainya Anda punya otoritas dan kewenangan seperti yang didapatkan oleh para pemimpin formal, bukan? Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memimpin dengan karakter pribadi, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

Untuk bantuan in-house training dan pemberdayaan karyawan Anda, hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327.

1. Belajar memimpin sebelum menjadi pemimpin. Ini adalah pelajaran yang sangat mendasar sekali. Banyak orang yang merasa dirinya bukan pemimpin hanya gara-gara mereka belum memiliki anak buah. Makanya, kebanyakan anak buah tidak memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin. Padahal, justru ketika belum menjadi pemimpin itulah kita harus belajar menjadi pemimpin. Anda harus belajar menerbangkan pesawat sebelum menjadi pilot; bukan sesudahnya. Ini yang sering tidak disadari orang. Makanya, nunggu aja sampai nanti jadi pemimpin. Kalau masa itu datang. Kalau tidak? Seumur hidup bakal jadi follower terus. Kalau ternyata ada ‘nasib mujur’ kita menjadi pemimpin, ya cuma bakal jadi pemimpin yang bingung dan jadi bulan-bulanan bawahan. Sebelum Anda punya anak buah adalah saat yang tepat untuk belajar memimpin. Caranya? Sederhana saja; tampil menjadi pribadi yang penuh inisiatif, berperilaku positif, dan proaktif dalam setiap aktivitas di team Anda. Teman-teman selevel Anda itu adalah ‘media’ bagi Anda untuk belajar memimpin orang lain. Jika dapat tugas dari atasan, pastikan hasil punya Anda lebih cepat, lebih tepat, dan lebih akurat. Jika teman Anda kesulitan, bantu mereka menyelesaikannya. Jika teman Anda tidak kompak bangun kebersamaan diantara mereka. Sekarang, Anda sudah belajar menjadi pemimpin bagi mereka. Padahal, Anda bukan atasannya, kan?

2. Belajar memimpin tanpa otoritas. Saya serius mengatakan ini; belajarlah memimpin tanpa otoritas. Semua terori kepemimpinan yang Anda pelajari mengajarkan bahwa tidak ada kepemimpinan tanpa otoritas. Setidaknya, begitulah system nilai yang kita dapatkan selama ini. Hari ini, saya mengatakan kepada Anda untuk belajar memimpin tanpa otoritas. Mana bisa? Bisa. Percayalah; kita sudah terlalu lama terkungkung oleh paradigm kepemimpinan structural yang formal. Padahal seperti namanya, kempemimpinan formal sering hanya bisa menghasilkan formalitas saja. “Ya.., gue formalitas aja minta tanda tangannya. Dia kan managernya. Yang ngerti seluk beluknya sih bukan dia…” sounds familiar? Atau, ada orang yang menggerutu ketika mendapatkan tugas dari atasannya. Jadi, bagaimana caranya untuk memimpin tanpa otoritas itu? Sederhana juga; Anda ‘mengirimi’ orang-orang yang memiliki otoritas itu dengan ide-ide brilian Anda. Dengan masukan dan gagasan yang berkualitas tinggi. Jika Anda berhasil, maka orang yang punya otoritas itu akan menerima dan menggunakan ide Anda. Lalu apa yang terjadi? Hal-hal yang bisa diwujudkannya adalah ‘apa yang Anda inginkan’. Bukankah prinsip kepemimpinan itu adalah mendapatkan hasil melalui kerja orang lain? Anda, telah mendapatkan hasil melalui kerja orang-orang yang punya otoritas. So, who is the boss then?.

3. Belajar memimpin untuk melayani. Coba perhatikan, betapa banyak pemimpin yang maunya dilayani oleh anak buah. Gak aci! Tapi, yang seperti itu banyak sekali. Menjadi pemimpin itu bukan untuk dilayani, justru untuk melayani orang-orang yang kita pimpin. Amanah yang Anda emban itu adalah untuk menjadi abdi mereka. Apalagi jika Anda adalah pemimpin lembaga Negara? Duh, betapa kedudukan Anda itu diberikan oleh rakyat yang memilih Anda. Nek sampeyan malah lupa diri itu lha keterlaluan toh Rek. Pemimpin di perusahaan juga sama. Jika Anda Manager, maka tugas Anda adalah melayani anak buah Anda supaya mereka bisa menghasilkan kinerja yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Anda berkewajiban melayani mereka untuk belajar dan mengembangkan diri. Anda bertugas untuk melayani mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan begitu banyak hal lagi yang wajib Anda tunaikan. Contohlah para Nabi ketika memimpin umatnya. Mereka melayani loh, bukan dilayani. Mereka menghibur pengikutnya yang sedih. Mengobati yang sakit. Meringankan beban yang berat. Kita, sering keliru memilih idola pemimpin. Sehingga sekarang, kita sering mengira bahwa menjadi pemimpin itu identik dengan mobil mewah, rumah megah, tongkrongan gagah, dan pemasukan melimpah. Hey, ingatlah. Para Nabi mencontohkan kita untuk menjadi pelayan bagi orang-orang yang kita pimpin. Maka jadikanlah mereka sebagai teladan dalam memimpin.

4. Semuanya berlipat untuk para pemimpin. Orang mengatakan bahwa segala hal baik menjadi berlipat-lipat bagi para pemimpin. Gaji, fasilitas, tunjangan, penghargaan. Semuanya berlipat. Wajar. Karena tanggungjawabnya juga semakin besar. Sekalipun tanggungjawabnya semakin besar, namun orang jarang gentar untuk menerima jabatan sebagai pembesar. Bahkan banyak sekali yang mengejar-ngejar. Padahal, tidak hanya hal baik saja lho yang berlipat. Hal buruk pun berlipat. Jika seorang pemimpin melakukan kesalahan, maka nilai pertanggunjawabannya juga lebih besar dibandingkan jika kesalahan itu dilakukan oleh bawahannya. Hal itu wajar juga kan? Sayangnya, inilah justru yang sering tidak kita sadari. Ketika mengejar suatu jabatan tertentu, benak kita sering sudah terlampau penuh dengan bayangan tentang ‘kenikmatannya’. Enah jadi boss. Ya memang enak. Tapi, mengira bahwa menjadi boss itu bisa seenaknya? Hmmh, berhati-hatilah. Sebab, bagi orang-orang yang mengerti, menjadi pemimpin itu adalah sebuah amanah yang nilai pertanggungjawabannya tidaklah ringan berkali-kali lipat.

5. Luruskan niat dalam memimpin. Tidak ada salahnya kok memiliki impian untuk menjadi pemimpin. Sewaktu bekerja dulu, saya pun sangat berambisi untuk menjadi pemimpin. Bagaimanapun juga, itu adalah indikasi tentang seberapa mampu saya membangun karir. Saya percaya bahwa setiap pribadi wajib menjadi dirinya unggul. Maka menapaki jenjang karir yang tinggi boleh jadi merupakan salah satu cara menunaikan kewajiban itu. Tetapi, eh ada tetapinya. Kita perlu memiliki niat yang lurus saat mengejar dan menjalankan fungsi kepemimpinan itu. Jika niat Anda hanya untuk mengejar uang, maka Anda bakal dikelilingi nafsu untuk mengeruk sebanyak mungkin uang. Padahal, pemimpin itu sangat dekat dengan gudang uang. Berbahaya. Jika niat Anda untuk ‘menunjukkan siapa gua!’, maka Anda akan terjebak kesombongan yang sama seperti ketika dulu Iblis membangkang Adam. Tetapi, jika Anda berniat untuk memberikan kontribusi lebih banyak bagi orang lain. Bagi perusahaan. Bagi masyarakat. Bagi bangsa dan Negara. Maka Anda pun pasti akan mendapatkan kecukupan materi sesuai hak dan tanggungjawab Anda. Insya Allah akan dicukupkan dunia Anda. Namun lebih dari itu; Anda – pasti – memperoleh kecukupan di sisi Tuhan. Tuan dan Nona, siapa lagi yang akan kita temui setelah kita mati selain Sang Pemilik Diri ini? Jika Anda yakin atas hari pertemuan denganNya, maka mari kita luruskan niat dalam mengejar dan menjalankan jabatan kita hanya untuk sesuatu yang disukai olehNya.

Guru kehidupan saya mengingatkan bawa hari hisab atau saat perhitungan amal itu akan menjadi hari yang sangat berat. Bagaimana tidak berat. Ketika akan melakukan ujian akhir semester saja kita stressnya minta ampun. Sekarang, kita akan diadili dihadapan Tuhan. Beranikah Anda untuk tidak deg-degan? ”Namun,” begitu kata guru kehidupan saya; ”Ada beberapa jenis orang yang akan dimudahkan prosesnya. Diantara mereka yang sedikit itu adalah para pemimpin yang adil”. Duh, saya pernah mendapat amanah untuk menjadi pemimpin. Meskipun dalam lingkup yang sangat kecil. Adakah praktek dan perilaku kepemimpinan yang dulu saya tunaikan itu menjadikan ringan masa penghisaban saya? Ataukah justru saya termasuk manusia yang dipersulit dihari pengadilan tertinggi itu karena semasa hidup saya menyalahgunakan amanah ini? Bagaimana dengan Anda? Mari kita benahi cara memimpin kita. Mumpung masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Sekarang.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 12 Desember 2011
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap dummy di penerbit)
ADAPTING to CHANGE.

Follow dangkadarusman on Twitter

Catatan Kaki:
Orang berebut jabatan Manager, Direktur, Bupati, Gubernur, Menteri, DPR, atau Presiden. Tapi sedikit sekali yang bersedia menjadi Ketua RT.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Tentang Dadang Kadarusman
~ Spesialisasi training di bidang: NATURAL INTELLIGENCE dan penerapannya dalam LEADERSHIP, PERSONNEL DEVELOPMENT dan PERSONAL EXCELLENCE ~ (Phone: 0812 19899 737 – www.dadangadarusman.com )

Sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung saya memang senang berbicara diatas podium. Dan, sebagai seorang Trainer & Public Speaker saya selalu mengingat TRAINING PERTAMA yang saya bawakan. Ketika itu, saya baru saja resign dari perusahaan multinasional terkemuka. Bagaimanapun juga, ini adalah pilihan hidup saya. Maka saya bertekad untuk kuat menghadapi apapun. Proses mendapatkan order training pertama itu bisa dibilang ‘mengerikan’.

I wonder why my people reccommended you to speak in our forum.” Itu adalah kalimat yang saya dengar ketika berhadapan dengan President Director sebuah perusahaan multinasional. Kalimat itu cukup menggetarkan hati saya. Sekarang saya berhadapan dengan pimpinan perusahaan yang sangat menentukan apakah saya jadi di hire untuk memberikan pelatihan kepemimpinan itu atau tidak. Kemudian, saya menunjukkan sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Inggris kepada beliau. Dan saya katakan bahwa buku ini penulisnya adalah ‘orang yang sedang berada dihadapan Anda’. Sekarang saya boleh mengatakan bahwa saya termasuk diantara hanya sedikit saja trainer di Indonesia yang pernah menulis buku dalam bahasa Inggris. Dan itu menunjukkan komitmen keilmuan dan pelayanan saya pada bidang pelatihan. Menakjubkan; akhirnya saya mendapatkan kontrak itu.

Peserta training kami terdiri dari top management dimana Presiden Director dan President Commissioner juga hadir. Ini merupakan sebuah pertaruhan bagi saya. Bukan itu saja, peserta trainingnya juga terdiri dari berbagai macam latar belakang kebangsaan yang selain Indonesia juga ada expatriate dari Australia, New Zealand, Thailand, dan Jerman. Begitulah gambaran training yang pertama kali saya fasilitasi sebagai seorang Trainer Profesional. Bagaimana akhirnya training itu bisa berlangsung? Saya tidak akan menceritakan detailnya. Namun, setelah selesai sesi training itu Pak Presiden Direktur menyalami saya. Dan pada saat itu pula saya mendapatkan ‘mandat baru’ untuk memberikan training kepada leader-leader di level lainnya di perusahaan itu.

Saya memiliki lebih banyak lagi pengalaman mengesankan, kisah mendebarkan, bahkan situasi mengerikan selama menjadi trainer. Dan saya percaya jika hal itu akan semakin meningkatkan kekayaan nilai dalam jiwa saya.

Hingga pertengahan tahun 2011 saya sudah menulis dan mempublikasikan lebih dari 1,000 artikel dan berbagai buku inspirasi. Sekarang saya sedang mempersiapkan buku terbaru berjudul NATURAL INTELLIGENCE LEADERSHIP yang direncanakan untuk hadir ke ruang publik pada bulan Januari 2012. Saya berupaya keras untuk melahirkan cara pandang baru dalam pemahaman terhadap kecerdasan dan karakter kepimpinan manusia melalui konsep Natural Intelligence. Semua itu saya lakukan agar bisa terus berbagi semangat seperti moto yang selalu saya dengungkan; “Mari Berbagi Semangat!”.

Sampai hari ini, saya merasakan bahwa menjadi trainer itu BUKANLAH PERKARA GAMPANG, khususnya bagi mereka yang menganggap bahwa setiap tarikan nafasnya adalah tahapan panjang sebuah proses pembelajaran. Ya, jadi trainer itu tidak gampang. Bahkan bagi seorang trainer yang sudah sangat berpengalaman. Sebab menjadi trainer bukanlah sekedar mendapatkan order-training, melainkan; bagaimana mempertanggungjawabkan amanah yang sudah diberikan untuk melakukan pelatihan kepada para peserta dengan dampak dan manfaat yang bermakna. Oleh karenanya, sampai sekarang saya masih ingin terus belajar. Sampai kapanpun, saya bertekad untuk terus belajar. Maukah Anda mengundang ‘trainer’ yang sedang terus belajar ini? Hubungi saya di 0812 19899 737, atau Ms. Vivi di 0812 1040 3327.

In-house training: “Adapting To Change“. Cocok untuk membangun paradigm karyawan secara tepat dalam menghadapi perubahan di perusahaan Anda. Segera booking melalui Ms. Vivi di 0812 1040 3327. Info lebih lanjut klik disini: “Adapting To Change“.

Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman

Gambar :

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.