Catatan Kepala: ”Jika orang yang disebut sebagai leader itu hanya menempatkan bawahannya pada posisi sebagai pelaksana pekerjaan rutin, maka orang itu belum berhasil menjadi ’leader’.”
Judul artikel ini tidak dituangkan untuk menggugat atasan yang dinilai kurang kompeten. Saya menggunakannya untuk mengajak Anda untuk melihat kedalam, apakah didalam diri kita memang sudah ada tanda-tanda jika kita ini memiliki kualitas pribadi yang memadai? Kualitas yang memadai untuk apa? Untuk menjadikan diri kita layak disebut sebagai seorang leader. Mengapa? Karena kita sering terlalu sibut mengejar titel jabatan, bukan mengejar kompetensi. Setelah mendapatkan jabatan itu pun kita sering terlampau sibuk untuk menjaga ‘citra’ sebagai pemimpin yang disegani atau dipatuhi. Dan sering lupa, bahwa nilai diri kita sebagai pemimpin hanya terletak kepada apa yang bisa kita lakukan saat menjalankan fungsi kepemimpinan itu. Bukan pada titel mentereng kita. Jadi, mengapa seseorang layak disebut pemimpin? Continue reading
Monthly Archives: January 2012
Presenting The Future
Catatan Kepala: ”Tidak seorang pun tahu pasti yang akan terjadi dimasa depan. Namun kita bisa memperkirakannya dari cara hidup masa kini.”
Presenting the future. Kalimat yang menarik, bukan? Membawa masa depan kepada kekinian. Maaf, kalimat ini bukan sebuah jargon yang sekedar enak didengar atau keren untuk diucapkan. Bagi saya, kalimat itu memiliki makna yang teramat dalam. Mengapa? Karena kita semua menginginkan masa depan yang lebih baik, bukan? Kita terikat kepada masa depan. Itulah sebabnya mengapa kita menabung. Mengapa kita bekerja. Mengapa kita menjalani hari-hari kita dengan yang seharusnya. Karena jika tidak ada masa depan, mungkin kita sudah sejak lama menyerah. Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda mau bersusah payah melakukan pekerjaan itu? Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda masih mau keluar rumah pagi-pagi sekali, berjibaku dibawah tatapan matahari, dan baru pulang dimalam hari? Masa depan, itulah alasan kita. Pertanyaannya adalah; masa depan kita akan menjadi seperti apa ya……? Continue reading
Menyeimbangkan Akal Dan Kalbu
Catatan Kepala: ”Kesempurnaan manusia tidak semata-mata terletak pada akalnya saja, melainkan juga kalbunya. Maka kesempurnaan hidup hanya bisa dicapai jika seseorang memiliki keseimbangan dalam penggunaan akal dan kalbunya.”
“Kamu itu Hitachi, Nak.” Begitu saya katakan kepada anak saya. “Hitam, Tapi China.” Baru kemarin saya ingatkan lagi tentang hal itu dalam perjalanan kami menuju ke Bandara. Berkaitan dengan Imlek? Tidak juga. Namun meski tidak merayakannya, saya selalu terkesan pada salah satu falsafah kuno Chinese yaitu, Yin dan Yang. Kita selalu diingatkan untuk menyeimbangkan segala sesuatu. Namun, keseimbangan itu seperti apa? Apakah seperti timbangan yang punya bobot sama di kiri dan kanan kedua kompartemennya? Tidak juga. Jika Anda masih ingat symbol Yin-Yang, maka Anda akan lebih mudah memahami makna kesimbangan itu. Atau, jika Anda melihat sampul buku terbaru saya Natural Intelligence (NatIn™) Leadership, Anda tentu melihat logo itu dihiasi hati yang mewakili Kalbu dan lampu yang menggambarkan Akal. Saya menggunakan symbol Yin-Yang itu untuk menggambarkan kesimbangan antara Akal dan Kalbu. Menurut pendapat Anda, mana yang lebih penting: Akal atau Kalbu? Continue reading
Membendung Pengaruh Buruk Lingkungan
Catatan Kepala: ”Tidak ada tempat sembunyi dari serbuan pengaruh buruk lingkungan. Namun kita bisa membendungnya agar tidak mencemari kepribadian kita.”
Beberapa tahun lalu, lingkup interaksi kita dengan orang lain relative masih sangat terbatas. Makanya, pengaruh dari pergaulan pun tidak semasif seperti saat ini. Sekarang, nyaris tidak ada lagi sekat yang memisahkan kita dengan orang lain. Seseorang dari seberang benua pun bisa menelusup masuk hingga ke wilayah paling pribadi di rumah kita. Lalu menanamkan pengaruhnya kedalam relung hati kita. Bagus? Bisa bagus jika pengaruh yang ditebarkannya positif. Namun jika kita bersedia jujur, berapa persen dari pesan-pesan yang kita terima berisi nilai-nilai konstruktif? Mungkin tidak semuanya negatif. Tetapi secara tidak sadar, jiwa kita terus diserbu system nilai yang tidak memberi nilai tambah kebaikan apapun. Emangnya kenapa? Biasa aja lagi! Begitukah? Continue reading
Terbit! – Buku ”Natural Intelligence Leadership”
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala: ”Bagi Anda yang penasaran ingin mengetahui konstruksi ilmiah Natural Intelligence dan aplikasinya – Inilah buku pertama dan satu-satunya sampai saat ini.”
Buku Natural Intelligence (NatIn™) Leadership ini ditulis melalui proses yang panjang dan mendebarkan. Berbeda dengan buku-buku yang saya tulis sebelumnya, kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah buku yang benar-benar berbobot bagi pembacanya dari berbagai kalangan. Saya menyadari betapa berharganya waktu Anda. Terlebih lagi jika Anda menduduki jabatan tinggi seperti Manager, Direktur, CEO, Guru Besar, Konsultan, Menteri, atau Presiden dan jabatan-jabatan penting lainnya. Seperti yang pernah saya pribadi alami; membaca buku yang tidak berbobot merupakan sebuah kerugian yang sangat besar. Jika orang penting seperti Anda membaca buku, maka buku itu harus benar-benar cukup bernilai sehingga waktu yang telah Anda alokasikan untuk membacanya tidak terbuang percuma. Continue reading
Mana Hasil Jerih Payah Inih?
Catatan Kepala: ”Orang yang menjadikan uang sebagai alat ukur utama keberhasilan sering terkecoh oleh tampak luar sehingga gampang menyerah atau lupa diri.”
Kita sering menjadikan uang sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Jika uangnya banyak, maka seseorang layak dinilai sukses. Jika uangnya sedikit, maka tak ada cukup alasan untuk menyebutnya sebagai pribadi yang berhasil. Demikian pula halnya dengan pertumbuhan pribadi kita yang sering diukur dengan takaran yang sama, yaitu; berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tidak heran jika kita sering merasa gagal kala melihat betapa sedikitnya uang yang kita miliki. Anda tidak perlu khawatir kalau-kalau saya menganjurkan hidup sederhana. Anda juga tidak usah takut saya akan mempengaruhi Anda untuk menjadi orang miskin. Tidak. Bahkan, saya pribadi pun ingin sekali menjadi orang kaya raya dengan kepemilikan melimpah, kok. Kita punya keinginan yang sama. Tetapi, ketika sedang berproses untuk mewujudkan cita-cita itu, kita sering disiksa oleh perasaan negatif, hanya karena melihat kenyataan bahwa setelah semua jerih payah ini – uang kita tidak kunjung banyak. Percayalah, ada alat ukur lain yang dapat menentukan apakah usaha Anda sudah membuahkan hasil atau tidak. Dan Anda, tidak perlu menyiksa diri dengan pertanyaan; mana hasil jerih payah inih? Continue reading
Atasan Yang Buruk, Harus Digimanain?
Catatan Kepala: ”Jika memiliki atasan yang buruk, kita bisa memilih untuk mengeluhkannya atau menjadikannya pelajaran berharga bagi pengembangan kualitas pribadi kita.”
Sejauh yang saya ketahui, banyak orang yang kesal kepada atasannya. Ada yang kesal tanpa alasan yang valid. Namun, ada juga orang yang kesal kepada atasannya dengan alasan yang tidak cukup berbobot. Banyak orang yang mengeluhkan tentang atasannya karena memang atasannya tidak cukup mampu menjadi panutan yang layak untuk diteladani. Tetapi, banyak juga orang yang justru mengeluhkan atasannya yang sebetulnya memiliki kualitas kepemimpinan bagus. Namun, sang atasan bertekad untuk melakukan perubahan sehingga banyak ‘kenikmatan’ yang selama ini dirasakan oleh bawahan mulai terusik. Walhasil, sebaik apapun atasan tersebut, bawahannya tetap saja menilainya buruk. Bagaimana Anda menilai atasan Anda sendiri? Continue reading
This is JaNEWary, My Man!
Catatan Kepala: ”Sesuatu yang baru sering kita peroleh dari hal-hal lama yang selama ini kita tidak mendayagunakannya.”
“Apanya yang baru di JaNEWary?” Dapatkah Anda menemukan jawaban atas pertanyaan itu? Anda benar. Yang baru di JaNEWary adalah NEW-nya. Yang lainnya, masih sama seperti sebelumnya. Adakah artinya? Tentu. Artinya; tahun baru hanya akan benar-benar memberi makna baru jika dan hanya jika kita bisa melakukan sesuatu yang baru selama menjalani 365 hari-harinya. Jika tidak? Hmmh, rasanya pesta pora kita kemarin tidak memiliki nilai apa-apa selain hura-hura belaka. Continue reading







