Friday , July 10 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Kematangan Emosi Dalam Profesi

Kematangan Emosi Dalam Profesi

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Kalau kita melihat para senior yang sudah hebat-hebat, kadang-kadang ada perasaan campur aduk ya. Kagum pada kecanggihan dan kepiawan mereka. Juga minder setiap kali berhadapan dengan mereka. Jika kita perhatikan; semakin canggih mereka, semakin percaya diri penampilannya. Rasanya kita ini tidak ada apa-apanya dihadapan mereka. Lalu seribu tanya pun memenuhi benak kita. Adakah dimasa depan kita mempunyai peluang untuk meraih pencapaian seperti mereka? Bagaimanakah caranya mereka mencapai kematangan emosi dan profesi seperti itu?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Diruang tunggu dokter gigi, saya menyaksikan acara ‘Master Chef’ di sebuah stasiun televisi swasta. Para peserta terlihat tegang sekali menghadapi tantangan yang harus mereka selesaikan. Sementara para juri, santai saja karena sepertinya mereka sudah menguasai segala hal. Ada yang mengejutkan buat saya. Karena salah satu juri itu adalah mantan peserta Master Chef episode sebelumnya. Ketika menjadi peserta di episode sebelumnya Sang Juri tamu itu pernah terlihat sama stressnya. Tapi sekarang, beliau berdiri dan berbicara dengan rasa percaya diri yang tinggi. Inilah contoh dari orang yang telah berhasil mencapai kematangan emosi dalam profesinya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar meraih kematangan emosi dalam profesi, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Semua buah pada awalnya mentah. Tidak ada kan, buah yang langsung matang? Begitu juga dengan karir dan profesi kita. Tidak ada yang langsung matang begitu memulainya pertama kali. Memang sudah menjadi fitrahnya begitu. Semua orang yang sekarang kita lihat telah berhasil menjadi pribadi-pribadi mumpuni sekalipun, memulai karir mereka dari awal yang sama. Yaitu awal yang penuh debaran dan ketidaktahuan, serta lemahnya keterampilan. Proses tempaan sepanjang waktulah yang kemudian membawa mereka kepada tingkatan keterampilan yang tinggi. Jadi, kalau melihat seseorang yang sedemikian suksesnya dalam karir dan profesinya; tidak usah berkecil hati. Kita pun bisa mencapai tingkatan itu jika terus gigih meningkatkan diri. Bersabarlah dengan posisi dan situasi yang kita hadapi saat ini. Kegigihan akan mengantarkan kita kepada pencapaian yang tidak kalah bermaknanya.

2. Tantangan terberat membuat kita kuat. Kadang ada momen tertentu dalam karir yang membuat kita tertekan, depresi bahkan dipermalukan. Lalu ingin rasanya kita berhenti saja. Juri tamu Master Chef itu pernah menangis di musim kompetisi sebelumnya ketika beliau menjadi peserta. Ketika itu beliau ditantang untuk membuat kue lapis. Sederhana, tapi sulit. Hingga membuatnya frustrasi. Sekarang, beliau memberikan tantangan yang sama kepada para peserta juniornya. Namun kali ini, beliau menyampaikan tantangan itu dengan percaya diri yang tinggi. Perhatikanlah, betapa orang-orang yang telah berhasil menaklukan tantangan terberat dalam hidupnya bisa tampil jauh lebih baik, lebih terampil, lebih mumpuni disisa kehidupannya nanti. Jadi, jika saat ini kita menghadapai tantangan berat, hadapilah. Maka dia akan membuat kita semakin kuat.

3. Tidak tahu, bukan tidak bisa. Ketika orang lain melakukan hal-hal yang hebat, kita sering terkagum-kagum. Apalagi jika mereka melakukan sebuah kemustahilan. Sama seperti halnya para peserta lomba yang terkagum-kagum pada sang juri yang jago membuat kue lapis itu. Mereka bingung dari mana harus memulainya. Juri senior itu kemudian memberi tahukan beberapa trik kepada mereka. Eh, ternyata bisa. “Oooh, begini toh…” kata mereka. Ternyata, kita ini bukannya tidak bisa melakukan sesuatu. Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana caranya. Begitu kita tahu caranya, satu dua kali mencoba pun kita sudah langsung bisa. Begitu pula halnya dengan orang-orang hebat yang sering membuat kita kagum itu. Mungkin kita hanya perlu mencari tahu bagaimana mereka melakukannya. Lalu belajar mempraktekkannnya, sampai kita bisa. Maka kita pun menjadi orang yang sama bisanya.

4. Tahu, tidak berarti mampu. Diantara orang-orang yang sudah diberitahu itu, masih ada juga yang tetap tidak mampu melakukannya. Di sekitar kita lebih banyak lagi orang yang tahu, tetapi nyatanya mereka tidak mampu. Kenapa bisa begitu ya? Rupanya, mengetahui cara melakukan sesuatu sama sekali tidak menjadi jaminan jika kita akan secara otomatis mampu melakukannya. Ada ongkos yang harus dibayar, yaitu; kesediaan untuk mencoba dan melatih diri hingga terampil. Memang, pengetahuan itu penting. Tapi dalam soal profesi, pengetahuan hanyalah sebuah modal awal. Dia baru bisa menjadi kekuatan kalau sudah dikonversi menjadi keterampilan. Makanya, janganlah mudah berpuas diri hanya karena kita sudah tahu tentang sesuatu. Kita, perlu menggunakan pengetahuan itu untuk menjadi lebih mampu melakukannya.

5. Kematangan itu seperti kue lapis. Ketika kita pertama kali bekerja dulu, kita pernah merasa menjadi anak bawang. Setahun kemudian ada orang baru yang diterima bekerja, kita merasa diri sudah lebih senior dari orang itu. Namun, kita tetap merasa lebih junior dari orang lain yang sudah lebih dulu berada disitu. Orang yang kita anggap senior pun ternyata masih lebih junior dibandingkan dengan orang-orang yang lebih senior dari mereka. Betapa relatifnya senioritas. Dan betapa nisbinya kematangan emosi dalam profesi seseorang. Persis seperti kue lapis. Pertanyaannya adalah; kematangan emosi profesi kita sudah berada pada tingkatan yang mana? Sekarang mungkin kita tidak berada di lapis terbawah lagi. Tapi mungkin kita belum menempati lapisan yang paling atas. Kita akan bisa meraihnya jika terus malatih diri tanpa henti.

Setiap tahapan dalam hidup kita ternyata merupakan sebuah proses pematangan diri. Termasuk jika dalam perjalanan hidup itu kita menghadapi masa-masa sulit yang kurang menyenangkan. Cocok dengan nasihat Rasulullah, bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia. Semuanya mengandung pelajaran bagi setiap hamba yang bersedia memikirkannya. Merenungkannya hingga menemukan hikmah dalam setiap kejadian. Karena setiap kejadian yang kita alami itu tiada lain adalah anak tangga menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi. Hal itu berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita. Termasuk didalamnya soal kematangan emosi dan profesi kita. Mengingat hal ini, kita lebih tenteram menjalani setiap lekuk liku kehidupan kita ya. Semoga.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 18 Juli 2012
Buku Natural Intelligence (NatIn™) Leadership
Phone: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Seperti ban berjalan, akan ada saat dimana kita kebagian giliran menapaki lapisan tertinggi kematangan emosi dalam profesi. Jadi, bersabarlah sambil mempersiapkan diri untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi.

Sudah baca buku Natural Intelligence Leadership saya? Natural Intelligence (NatIn™) Beli Disini atau Di Toko Buku)

Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

In-House Training ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:elsacifer.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*