Wednesday , January 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Berdiam Diri VS Memperbaiki Diri

Berdiam Diri VS Memperbaiki Diri

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Mudah-mudahan Anda masih ingat kisah tentang Kepiting air payau yang mati didalam air tawar kemarin. Selain memberi inspirasi untuk menjadi pemimpin yang memahami kebutuhan anak buahnya, kejadian itu juga memberi inspirasi tentang pengelolaan diri sendiri. Oleh karena itu, ijinkan saya berbagi dengan Anda tentang pelajaran lain yang bisa kita petik dari kejadian itu. Mari mulai dengan pertanyaan agak pilon ini: Apa sih bedanya kita dengan kepiting?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Sekalipun jumlah kaki mereka lebih banyak, tapi mereka bukanlah bandingan yang sepadan dengan kita. Makanya, tidak heran jika mereka diam saja meskipun ditempatkan dalam suatu situasi yang tidak menyenangkan. Mereka memilih menderita sampai mati disana. Memangnya kita bisa melakukan lebih baik dari kepiting-kepiting itu? Klaimnya sih begitu. Karena kita ini mahluk yang lebih mulia. Lebih beradab. Dan lebih berakal. Maka berdiam diri dalam lingkungan yang tidak menyenangkan itu sepertinya merupakan sebuah kebodohan.

Tapi sebentar dulu. Bukankah sebagai mahluk yang mengaku mulia ini kita juga sering hanya berdiam diri saja meskipun berada dalam keadaan yang buruk? Coba saja diingat kembali ketika kita berada di lingkungan yang menyesakkan dada. Terlebih lagi di kantor kita. Sebenarnya kita tidak menyukai tempat itu. Tidak tahan dengan suasananya. Sudah gerah sekali rasanya. Tapi, seringnya kita ya pasrah sajalah. Mau bagaimana lagi. Lho, jika sikap kita juga hanya berdiam diri saja ditempat yang menyebalkan itu, lantas apa bedanya kita dengan kepiting?

Kepiting itu tahu dan sadar betul jika tidak bisa hidup dalam air tawar. Namun mereka diam saja disitu tanpa berbuat apa-apa. Kita juga tahu kalau kita ini susah tidak tahan lagi dengan keadaan itu. Tapi, kita kok ya diam saja. Saya bersyukur telah mengalami peristiwa bersama kepiting itu. Karena melalui kepiting-kepiting itu Tuhan telah membantu saya untuk kembali memahami tentang betapa berbahayanya berdiam diri. Seolah mereka sedang menasihatkan; jika ingin mendapatkan keadaan yang lebih baik, kita harus bersedia bertindak. Berikhtiar. Melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan.

“Saya sudah berikhtiar, Bung!” Kita juga sering merasa begitu. Namun setelah semua hal yang kita lakukan ini, ternyata tidak ada perubahan apapun yang kita dapatkan. Hey, siapa bilang kepiting-kepiting itu diam saja ketika dimasukkan kedalam air tawar? Mereka telah berusaha semalaman untuk keluar dari situasi itu. Jadi kalau kita memgklaim sudah berusaha maksimal, lalu mengatakan; CUKUP! Mungkin akan sangat berbahaya sekali. Karena dengan begitu kita kemudian memilih menyerah kepada keadaan. Dan jika kita menyerah dengan keadaan itu, maka artinya kita memilih bernasib mirip dengan kepiting itu. Jadi, mari hindari merasa telah cukup berusaha. Karena boleh jadi, kita belum mengerahkan 100% kemampuan diri kita.

“Tapi, selama ini juga gue tidak tinggal diam!” Ini protes kita berikutnya. “Managemen tidak mau mendengarkan. Kolega pada tidak peduli. Anak buah pada ndablek!” Uh, berat sekali kan kalau kita berada pada situasi seperti itu. Sudah maksimal apa yang bisa kita lakukan. Namun, segala sesuatu pun ada batasnya kan? Jadi, daripada cape-cape melakukan perbaikan. Ya sudahlah, kisera-sera saja.

Sebelum memutuskan untuk patah arang. Bagaimana kalau melakukan satu hal sederhana terlebih dahulu? Begini: mengidentifikasi siapa yang menghalangi kita melakukan perbaikan. Berdasarkan kalimat umpatan diatas ada 3 kelompok, yaitu; (1) management yang tidak mendengarkan, (2) Kolega yang tidak peduli, dan (3) Anak buah yang ndablek. Betul ya? Ketiga jenis manusia inilah yang sering kali menjadi penghambat utama usaha perbaikan yang kita lakukan. Coba seandainya mereka itu kooperatif dengan usaha-usaha kita. Tentu akan berhasil melakukan perbaikan itu. Namun, karena mereka tidak ambil pusing, ya sudah kita diam sajalah.

Baiklah. Sekarang mari kita simak nasihat yang Tuhan firmankan dalam surah 13 ayat 11. Beginilah sabdaNya: Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. Ayat ini tidak berlaku untuk kepiting. Tetapi jelas sekali jika itu ditujukan kepada manusia. Mengapa? Karena Tuhan tidak ingin membiarkan manusia menderita dalam keadaan yang tidak menyenangkan dirinya. Itulah sebabnya pula Tuhan memberikan kuncinya. Kunci yang mana? Begini:

Mengapa usaha kita untuk memperbaiki keadaan itu sering gagal? Padahal kita sudah berusaha maksimal dengan sekuat tenaga? Itu karena selama ini, kita berfokus kepada orang lain. Kepada management yang tidak mau mendengarkan itu. Kepada kolega yang cuek bebek. Dan kepada anak buah yang ndablek. Kita. Sering luput melihat. Kedalam diri kita sendiri. Selama ini fokus kita adalah orang lain. Padahal kunci keberhasilan melakukan perbaikan keadaan menurut firman Tuhan itu bukan orang lain. Melainkan diri kita sendiri. Maka jika benar-benar ingin memperbaiki keadaan itu, berhentilah berfokus pada perubahan orang lain. Kita. Mesti mengubah diri sendiri. Selama ini, kita terlalu sibuk mengoreksi orang lain. Tapi lupa mengoreksi diri sendiri. Makanya, kita tidak bisa mewujudkan perbaikan keadaan di lingkungan yang kita inginkan.

Contoh sederhananya begini. Ketika mengajak kolega, apakah kita sudah menggunakan pendekatan yang sesuai dengan mereka? Ketika menyeru anak buah, sudahkah kita memberi contoh dan keteladanan? Ketika meminta managemen mendengarkan, apakah kita sudah menyediakan data-data dan analisa penunjang yang mereka butuhkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan? Jika belum, bukan salah mereka tidak menggubris usulan perbaikan yang kita ajukan. Mari merujuk pada firman Tuhan; kita, mesti mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Maka, orang lain yang selama ini dianggap tidak koperatif akan lebih memahami. Lalu mengikuti alur perbaikan yang kita sarankan. Bisa? Tentu dong. Kita kan bukan kepiting.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 31 Juli 2012
Author, Trainer, & Public Speaker of Natural Intelligence
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Kalau orang lain tidak mau melakukan perbaikan yang kita sarankan, mungkin itu karena kita perlu memperbaiki cara kita mengkomunikasikannya kepada mereka.

Sudah baca buku Natural Intelligence Leadership saya? Natural Intelligence (NatIn™) Beli Disini atau Di Toko Buku)

Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

In-House Training ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:how-to-draw-cartoon-online.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*