Friday , July 10 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Pemimpin Mencuci Tangan

Pemimpin Mencuci Tangan

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

“Pemimpin di kampung kami mencuci tangan sebelum makan sate kambing itu.” Tidak ada yang aneh dengan kalimat tersebut, bukan? Coba bandingkan dengan kalimat ini: “Pemimpin dikampung kami cuci tangan atas hilangnya kambing milik tukang sate.” Kalimat kedua ini juga tidak aneh. Hanya saja, pada kalimat pertama kita menggunakan makna sebenarnya dari frase ‘mencuci tangan’, sedangkan pada kalimat kedua kita menggunakan makna kiasan pada frase ‘cuci tangan’. Makna frase pada kalimat pertama mewakili perilaku terpuji seorang pemimpin. Layak dicontoh dan diteladani oleh warganya, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah dewasa. Sedangkan makna frase pada kalimat kedua sungguh sangat tidak layak dilakukan seorang pemimpin. Tidak patut ditiru. Dan tidak pantas dijadikan patokan standar moral kepemimpinan.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Di televisi beberapa waktu lalu ada siaran seorang pemimpin birokrasi yang mengkritik kinerja anak buahnya sendiri dihadapan insan pers. Pada waktu yang lain, seorang manager membeberkan fakta-fakta tentang lemahnya kinerja anak buahnya didepan forum meeting evaluasi sales semester ke-1 2012. Kedua kejadian ini merupakan contoh buruk perilaku pemimpin yang gemar cuci tangan atas kekurangan anak buahnya. Jika Anda yang berada di posisi sebagai anak buah, bagaimana rasanya dipimpin orang seperti itu? Nah, supaya kita tidak jadi pemimpin buruk seperti itu, maka kita mesti mewanti-wanti diri sendiri agar tidak meniru perilaku mereka. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menghindari sikap pemimpin ‘cuci tangan’, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Kinerja anak buah itu tanggungjawab kita. Teori kepemimpinan manapun sama-sama memegang teguh system nilai ini: baik dan buruknya kinerja anak buah adalah tanggungjawab pemimpinnya. Teori saja berkata seperti itu. Apalagi prakteknya. Kenyataannya memang tidak ada seorang pemimpin pun yang bisa berlepas tangan dari kualitas kerja anak buahnya. Kalau ada pemimpin yang menimpakan kesalahan pada anak buahnya, sebenarnya dia sedang menunjukkan bahwa dirinya itu bukanlah pemimpin yang baik bagi anak buahnya. Makanya, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, kita mesti benar-benar memegang teguh prinsip ini. Kitalah yang bertanggungjawab atas baik dan buruknya kinerja anak buah kita. Tanggungjawab itu tidak berarti semua resikonya kita telan sendiri. Melainkan, menjalankan tugas kepemimpinan kita untuk mengembangkan anak buah supaya terhindar dari kesalahan itu, atau bisa memperbaikinya agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

2. Lari dari tanggungjawab itu tanda tidak ksatria. Tahukah Anda apa kebalikan dari kata ‘kstaria’? Sejauh yang saya tahu sih; ‘pengecut’. Mungkin saya keliru. Tetapi, tentu kita sepakat bahwa seorang pemimpin itu mestinya memiliki jiwa kstaria. Berdasarkan kaidah ilmu kepemimpinan tadi, kita menyadari bahwa; menimpakan kegagalan kinerja sebagai kesalahan anak buah kita adalah salah satu bentuk lari dari tanggungjawab kepemimpinan kita. Oleh karenanya, itu bukan sikap ksatria. Bukan berarti kita tidak pantas jadi pemimpin, melainkan; kita, mesti menghindari kebiasaan cuci tangan seperti itu. Artinya, kita mesti belajar bertanggungjawab terhadap baik dan buruknya kinerja anak buah kita. Karena itu adalah ciri bahwa kita memiliki jiwa ksatria, sehingga kita layak untuk menjadi pemimpin bagi mereka.

3. Mengobral kekurangan bawahan itu membuka aib sendiri. Bukan satu atau dua kali saja kita melihat contoh pemimpin yang gemar bicara tentang kelemahan anak buahnya. Baik di media televisi, atau dalam rapat-rapat bisnis. Mereka mengira, dengan cara itu bisa menunjukkan bahwa mereka sudah memimpin dengan baik. Padahal, logika sederhana pun percaya bahwa; jika mereka sudah memimpin dengan baik, maka kesalahan anak buah seperti itu tentu bisa diminimalisir. Oleh karenanya, kita tidak pernah kekurangan contoh nyata atas perilaku yang perlu kita hindari sebagai seorang pemimpin. Mereka adalah contoh buruk yang bagus dijadikan pelajaran. Coba ingat kembali; apa pendapat Anda tentang pemimpin yang suka mengobral kekurangan bawahannya? Negatif, bukan? Maka begitu pula penilaian orang lain kepada kita, jika kita melakukan hal yang sama. Maka hindarilah mengobral kekurangan bawahan, karena itu hanya akan semakin membuka aib diri kita sendiri.

4. Forum umum itu untuk pertanggungjawaban umum. Ada kalanya sebagai seorang pemimpin kita memang dituntut untuk bicara di forum umum. Dalam rapat eksekutif. Dalam Business Review Meeting. Dalam konferensi pers. Setiap kali berada dalam forum umum itu, penting untuk selalu mengingat bahwa forum umum itu tidak diperuntukan bagi pemimpin yang ingin ‘pamer kebersihan diri’. Forum umum adalah tempat dimana kita sebagai pemimpin menjelaskan ‘hasil’ atau ‘dampak’ dari pola kepemimpinan yang kita terapkan. Artinya, itu adalah forum untuk melaporkan kinerja kita. Bukan untuk menelanjangi anak buah kita. Kalau pun ada anak buah yang kurang bagus, di forum itu mesti kita tunjukkan bahwa; kitalah yang paling bertanggungjawab untuk memperbaikinya. Makanya, seorang pemimpin itu pantang mengkritik anak buahnya di forum umum. Karena jika itu dilakukan, malah terlihat sekali jika sebagai pemimpin dia tidak menjalankan fungsinya.

5. Mengoreksi anak buah itu ada forumnya tersendiri. Semua uraian kita itu sama sekali tidak mengandung arti bahwa setiap kesalahan anak buah mesti kita tutupi. Justru sebaliknya, setiap kesalahan bawahan mesti dikoreksi. Namun, sebagai pemimpin, kita mesti memahami bahwa untuk mengoreksi anak buah itu ada forum yang tepat. Dan itu bukanlah forum umum. Jadi forum seperti apa? Jika hal itu menyangkut kinerja bersama atau ada kaitannya dengan proses koordinasi, maka forum yang tepat adalah yang dihadiri oleh semua anggota kelompok terkait. Misalnya, semua supervisor diteam kita, hadir. Koreksi disitu. Selain bagus untuk proses koordinasi, bagus juga untuk pelajaran bagi orang lain. Tapi, jika hal itu tidak ada kaitannya dengan anggota team yang lain, maka forum yang tepat untuk mengoreksinya adalah pembicaraan 4 mata. Mau Anda sebut coaching, counseling atau apapun; silakan saja. Dengan begitu, kita tidak sembarangan asal njeplak mengoreksi anak buah, hanya karena kita ingin terlihat sebagai boss yang bersih.

Ada contoh menarik yang ditunjukkan oleh Jethro Gibbs, saat anak buahnya gagal menjalankan tugas. Ketika orang-orang mempersalahkan dan menuntut pengunduran diri anak buahnya, Gibbs mengatakan;”Sayalah yang menugaskan dia melakukan pekerjaan itu. Dan sayalah yang paling bertanggungjawab atas hasilnya. Jika Anda ingin menuntut pertanggungjawaban, tujukan pada saya. Bukan pada anak buah saya.” Setelah itu, dikantornya Gibbs menelisik anak buahnya; “Bagaimana ceritanya kok elo bisa gagal menjalankan tugas itu?” Sedaaap sekali kalau punya atasan seperti itu, ya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berani mengambil tanggungjawab atas hasil dari proses kerja anak buah yang kita pimpin. Dan sudahkan kita mengembangkan mereka sesuai porsi, proporsi, dan situasinya? Ayo, kita tingkatkan lagi kemampuan kepemimpinan kita. Insya Allah, bisa.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 28 Agustus 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Jika sebagai pemimpin kita masih suka menimpakan kegagalan kinerja sebagai kesalahan anak buah, sebaiknya kita juga menyerahkan gaji, fasilitas dan tunjangan jabatan kepada anak buah kita.

Sudah baca buku Natural Intelligence Leadership saya? Natural Intelligence (NatIn™) Beli Disini atau Di Toko Buku)

Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

CARA BELI BUKU DADANG

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:businessweek.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.