Wednesday , September 30 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Tempat Mengadu Terbaik

Tempat Mengadu Terbaik


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

“Tidak ada orang yang terbebas dari masalah,” demikian kata orang bijak. Anehnya, kita masih sering mengira bahwa orang lain lebih indah hidupnya daripada kita. Lebih sukses karirnya. Lebih melimpah kekayaannya. Lebih mudah mendapatkan apapun yang diinginkannya. Kadang-kadang, kita bahkan merasa jika sudah diperlakukan secara tidak adil oleh nasib. Bahkan tak jarang timbul godaan untuk menyalahkan Tuhan. Mengapa menciptakan kita dengan nasib seperti ini?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Ada seorang pemuda disebuah dusun terpencil. Pemuda itu tidak tahan lagi dengan kehidupannya yang serba susah sehingga hari-harinya dipenuhi oleh keluh kesah. Hatinya gelisah. Dan semakin lama, dia semakin frustrasi dengan keadaannya. Lalu, dia pun bertanya kepada ayahnya;”Kepada siapa lagi aku harus mengadukan kesusahan hidupku ini?”

“Kepada Allah nak,” kata sang Ayah dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.
“Aku tidak bisa melihat Allah,” sanggah sang pemuda. “Tidak masuk akal jika aku harus mengadu kepada yang tidak bisa kulihat” katanya. “Aku butuh seseorang yang bisa mengerti semua kesulitan hidupku ini,” tambahnya lagi.

“Kalau begitu,” demikian kata sang ayah. “Pergilah ke hutan disebelah selatan. Disana ada seorang pintar yang didatangi oleh banyak orang.” Lanjutnya. “Tapi, kamu hanya boleh memperhatikan bagaimana cara beliau menjalani hidupnya. Tidak lebih dari itu…” demikian pesan terakhir ayahnya. Pemuda itupun berpamitan untuk menemui orang pintar itu. Setelah menempuh perjalanan jauh, dia pun tiba di kediaman orang yang dimaksud ayahnya.

Benar saja. Meskipun tinggal di hutan yang tersembunyi, orang ini hidup dengan serba berkecukupan. Tampaknya orang itu dapat menikmati kehidupannya. Banyak sekali orang yang datang bertamu untuk mengadukan kesusahan hidupnya kepada orang pintar itu. Dia pun ingin mengikutinya, namun sesuai pesan ayahnya, pemuda itu hanya boleh memperhatikan, tidak lebih dari itu. Maka dia pun bersembunyi di semak-semak untuk mengintip kehidupan sang pintar. Ketika malam tiba, pintu rumah sang pintar terbuka. Kemudian, orang pintar itu mengeluarkan kepalanya. Setelah melirik ke kiri dan ke kanan, dia pun menyelinap pergi keluar dari kediamannya. Tanpa disadarinya, sang pemuda menguntitnya dari belakang.

Setelah berjalan sedemikian jauh, akhirnya orang pintar itu sampai di sebuah rumah yang lebih besar daripada rumah miliknya. Lalu beliau mengetuk pintunya. Ternyata itu adalah rumah kepala kampung. Sang pemilik rumah pun menerima kedatangannya. Sang pemuda penasaran apa yang dilakukan oleh orang pintar itu di rumah sang kepala kampung ditengah malam gelap gulita seperti ini? Dia pun mengintip mereka dari lubang kunci. Dari lubang kecil itu sang pemuda melihat kalau orang pintar itu menangis dihadapan kepala kampung sambil mengadukan kesusahan hidup yang dialaminya.

Sang kepala kampung memberikan satu dua nasihat hingga akhirnya orang pintar itu berhenti menangis. Sepertinya permasalahan hidupnya sudah teratasi berkat nasihat dari kepala kampung. Maka orang pintar itu pun berpamitan pulang. Sebenarnya pemuda itu hendak mengikuti sang pintar pulang ke kampungnya. Tapi, dia mengurungkan niatnya karena ternyata ada orang yang lebih sakti daripada orang pintar itu. Sekarang dia tahu, kepada siapa harus mengadukan kesusahan hidupnya. Ketika teringat pesan ayahnya, ia pun bersembunyi di semak-semak dekat rumahnya untuk mengintip sang kepala kampung. Ketika malam berikutnya tiba, pintu rumah kepala kampung terbuka. Kemudian, dia pun menyelinap pergi keluar dari kampungnya. Tanpa disadarinya, sang pemuda menguntitnya dari belakang.

Perjalanan mereka pun berakhir di sebuah rumah yang lebih besar lagi. Rupanya itu adalah rumah Pak Kepala Suku. Sang pemuda pun menyadari jika pemilik rumah itu lebih bahagia daripada kedua orang yang diikutinya selama ini. Karena rumahnya sangat besar, maka ia tidak bisa mengintip ke lubang kunci. Dia pun naik ke atas pohon agar bisa melihat apa yang dilakukan oleh kepala kampung dengan kepala suku itu. Ternyata sang kepala kampung sedang menangis tersedu-sedu. Dia mengadukan kesusahan hidup yang tengah dialaminya kepada sang kepala suku. Tangisannya hanya bisa berakhir setelah kepala suku itu mengatakan sesuatu kepada dirinya. Setelah itu, sang kepala kampung berpamitan.

Sekarang dia tahu, kepada siapa harus mengadukan kesusahan hidupnya. Ia pun melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya; mengintip apa yang dilakukan beliau.
Dimalam berikutnya, sang kepala suku itu diam-diam meninggalkan rumahnya. Sang pemuda, menguntitnya di belakang hingga sampai di sebuah rumah yang jauh lebih besar lagi. Tampak sekali jika pemiliknya hidup dalam keberlimpahan. Rupanya, itu adalah rumah saudagar yang paling kaya di negerinya. Dia pun berkata dalam hatinya; “Oh, inilah rupanya orang yang paling bahagia hidupnya.” Saudagar itu bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Sayang sekali, rumah itu terlalu besar sehingga dia tidak bisa mengintip mereka dari atas pohon. Maka dia pun nekat naik ke atapnya sehingga bisa melihat dengan jelas ketika sang kepala suku tengah bercucuran air mata sambil mengadukan kesulitan hidupnya kepada saudagar itu.

Setelah kepala suku itu diberi jalan keluar dari masalahnya oleh sang saudagar, pemuda itu pun menyadari siapa sesungguhnya orang yang paling tepat untuk dijadikan tempat mengadukan nasib. Dia ingin sekali segera menemui saudagar itu. Namun dia teringat pesan ayahnya; “Kamu hanya boleh memperhatikan bagaimana cara beliau menjalani hidupnya. Tidak lebih dari itu…” Maka dia pun mengurungkan niatnya. Lalu memilih untuk bersembunyi di tempat gelap.

Tak lama kemudian, saudagar itu pun keluar dari rumahnya. Lalu diam-diam menyelinap meninggalkan tempat itu. Sang pemuda, mengikutinya dari belakang. Hingga mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar sekali. Rupanya, saudagar itu mendatangi istana raja. Sayang sekali, atap istana itu terlalu tinggi sehingga dia tidak bisa memanjatnya. Maka dia pun memutuskan untuk menyamar menjadi penjaga istana. Setelah memukul penjaga hingga pingsan, dia pun mengenakan seragam prajurit yang dilucutinya.

Di istana raja itulah dia mengetahui apa yang dilakukan oleh sang saudagar. Saudagar menangis tersedu-sedu mengadukan kalau akhir-akhir ini usahanya hampir bangkrut. Hanya paduka rajalah yang bisa memberikan jalan keluar kepadanya. Tangisnya baru berhenti setelah sang raja menjanjikan kalau usaha sang saudagara akan kembali lancar lagi.

Pemuda itu memukul jidatnya sendiri. “Iya ya. Mengapa tidak terpikir untuk mengadukan nasib kepada Raja?” Dialah penguasa tertinggi yang bisa memutuskan apapun. Bahkan menentukan hidup dan matinya seseorang. Tidak ada orang yang lebih berkuasa daripada seorang raja. Ketika hendak membongkar penyamarannya, pemuda itu kembali teringat pesan terakhir ayahnya. “Kamu hanya boleh memperhatikan bagaimana cara beliau menjalani hidupnya. Tidak lebih dari itu…” dia pun mengurungkan niatnya.

Keesokan paginya, sang raja memanggil dirinya. Oh, betapa bahagianya dia. Sebagai orang paling berkuasa, tentunya sang raja sudah tahu maksud kedatangan dirinya. Sebentar lagi, dia akan bisa mengadukan kesulitan hidupnya seperti yang dilakukan oleh saudagar kaya raya itu.

“Pengawal,” demikian sang raja memanggil para punggawa. “Siapkan kereta kuda, aku mau pergi.” Titahnya. Sungguh beruntung pemuda itu, karena dia terpilih untuk ikut dalam rombongan para pajurit yang mengawal sang raja.

Setelah menempuh pejalanan jauh. Sampailah mereka di sebuah rumah ditengah hutan terpencil. Lalu sang raja memerintahkan mereka untuk menunggu diluar. Semua prajurit menunggu dengan patuh. Sedangkan sang pemuda merasa heran bukan kepalang, lalu dia mengintip pertemuan mereka. Hari itu, dia menyaksikan Sang Raja menangis dengan suara yang sedemikian mirisnya sehingga bisa membuat hati siapapun yang mendengarnya seperti teriris-iris. Begitu banyak yang dikeluhkan sang raja sehingga semua prajurit pada ketiduran. Sementara itu, sang pemuda sibuk memikirkan apa yang telah dilihatnya selama ini.

Beginilah kesimpulan yang didapatkannya: Orang pintar ditengah hutan itu mengadukan nasibnya kepada kepala kampung. Sang kepala kampung mengadukan kesusahan hidupnya kepada kelapa suku. Sang kepala suku mengadu kepada saudagar. Sedangkan saudagar itu, mengadu kepada Raja. Lalu sang raja? Mengadu kepada orang pintar ditengah hutan. Sekarang dia menyadari bahwa jika hanya mengadu kepada sesama manusia, dia akan kecewa. Bukan karena mereka tidak mau menolong. Bukan pula karena pamrihnya. Tetapi karena, mereka pun manusia yang tidak luput dari masalah seperti dirinya.

Pemuda itu juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa; semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat keluh kesahnya. Dan semakin besar bobot tanggungjawab yang dipikulnya. Sekarang, dia bisa memahami pesan ayahnya. Allah-lah tempat mengadu yang terbaik itu. Dia tidak lagi mempermasalahkan jika tidak dapat melihatNya. Justru tidak terlihatnya Tuhan menunjukkan bahwa tak ada seorang pun atau sesuatu pun yang bisa menjangkau ketinggian dan keagunganNya.

Dicontohkan oleh Nabi Ya’kub a.s. Jika mendapatkan musibah tidak mengeluh kepada siapapun selain kepada Sang Maha Pencipta. Begini do’a beliau seperti diabadikan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya, kesedihan dan kesusahanku aku adukan hanya kepada Allah semata.” Ciri orang yang meneladani beliau adalah; tidak ketahuan orang lain kalau sedang sedih dan susah atau kena musibah. Tetap saja gigih serta optimis menjalani hidup dengan gagah. Lalu menyerahkan hasil akhirnya pada Ilahi. Bismillah.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 31 Agustus 2012
Leadership, Career and People Develompent Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Tidak ada rasa khawatir didalam hati orang-orang yang berserah diri kepada Tuhannya. Karena Tuhan telah berjanji untuk selalu menjadi penolong dan memberi jalan keluar bagi masalah mereka.

Sudah baca buku Natural Intelligence Leadership saya? Natural Intelligence (NatIn™) Beli Disini atau Di Toko Buku)

Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

In-House Training ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:uddari.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*