Monday , January 27 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Menjual Diri Pada Bawahan

Menjual Diri Pada Bawahan


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Sebuah penelitian global menunjukkan bahwa perilaku atau perlakuan atasan yang tidak tepat merupakan salah satu penyebab utama mengapa banyak karyawan tidak betah bekerja di sebuah perusahaan. Sekalipun kinerja team baik-baik saja, sebaiknya setiap atasan melakukan introspeksi terhadap cara mereka memimpin anak buahnya. Mengapa? Karena bawahan jarang terbuka memberikan masukan atau kritikan terhadap kekurangan atasannya dalam memimpin. Setelah pindah ke perusahaan lain, barulah mereka mau mengatakannya. Segalanya sudah terlambat jika demikian. Sebelum itu terjadi, atasan mesti terus ‘menjual dirinya’ kepada anak buah mereka. Agar mereka selalu dapat menjaga anggota-anggota team terbaiknya untuk tetap berada di team kerjanya. Jangan sampai ‘merasa’ segalanya baik-baik saja, padahal tidak. Bagaimana caranya?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

The Voice merupakan salah satu reality show terbaik di dunia entertainment. Bukan sekedar mendapatkan hiburan proses pencarian bakat, tapi dari acara itu kita bisa belajar bagaimana seorang atasan seharusnya ‘menjual dirinya’ kepada bawahan. Adam, Cee Lo, Chistina, dan Blake; berlomba menarik simpati talenta-talenta bagus agar mau bergabung dengan teamnya. Dalam konteks kepemimpinan, ‘atasan’ sering berada ‘diatas menara gading’. Namanya juga atasan. Kedudukannya tinggi hingga tidak mudah tersentuh. Padahal – seperti diajarkan dalam The Voice – kitalah yang paling membutuhkan talenta-talenta itu. Maka kitalah yang harus pandai menjual diri kepada mereka, agar talenta-talenta hebat bersedia menjadi bagian dari the winning team yang sedang kita bangun. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjual diri kepada bawahan, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Menjaga talenta yang sudah ada. Kita semuanya sudah sadar, kalau kinerja kita sebagai pemimpin tidak bisa bagus kalau anak buah kita tidak bagus. Maka, memilih dan mempertahankan talenta-talenta yang bagus menjadi keharusan yang tidak bisa dianggap remeh temeh. Sayangnya, kita sering baru sadar betapa berartinya anak buah kita itu setelah mereka pergi meninggalkan kita. Makanya, sangat penting untuk selalu mengingat bahwa kinerja kita ini bukan kita sendiri yang buat. Tanpa mereka, tugas ini menjadi terlalu berat untuk kita pikul sendiri. Sekalipun kita sudah berpengalaman, senior, dan mahir. Tentu, para bahawan kita membutuhkan kita. Namun, kita jauh lebih membutuhkan mereka daripada mereka membutuhkan kita. Makanya, setiap saat, kita mesti terus menerus berupaya menjaga mereka. Agar mereka tetap kerasan dan senang hati berada dalam team yang kita pimpin. Percaya atau tidak; cara kita memperlakukan telenta yang sudah Anda, merupakan daya tarik bagi talenta lain untuk bergabung dengan kita.

2. Tugas atasan memimpin, bukan sekedar mengelola. Kita cenderung memforsir team kerja untuk merealisasikan target-target kinerja yang dibebankan oleh perusahaan. Jika target itu tercapai, maka ‘mission accomplished’. Kita dinilai bagus. Sehingga berhak menerima bonus. Selesai. Bagus? Biasa saja. Kenapa? Karena, setiap perusahaan menggaji seorang atasan agar teamnya bisa mencapai target perusahaan. Itu management. Maka seorang atasan baru bisa menjadi manager, jika hanya bisa mencapai target. Tapi management beda dengan leadership. Karena dalam kepemimpinan, fungsi atasan bukan sekedar mencapai target. Melainkan memfasilitasi proses belajar agar anak buahnya bisa mengoptimalkan daya diri mereka. Kita mesti membangun kesadaran anak buah bahwa mencapai target bukanlah tujuan tertingginya. Jadi meski telah berhasil mencapai target, kita tidak berhenti untuk terus mengembangkan diri. Itu, baru leadership.

3. Memiliki bukti keberhasilan dalam memimpin. Mari ingat kembali hal ini; berhasil mencapai target adalah bukti keberhasilan dalam mengelola alias managemet. Bukan leadership atau kepemimpinan. Padahal, kita selalu ingin disebut sebagai pemimpin. Bukan sekedar manager atau atasan. Jadi apa dong buktinya jika kita layak disebut sebagai seorang pemimpin? Sederhana saja. Yaitu; ketika kita bisa membantu anak buah di team kerja kita agar bisa menjadi atasan berkualitas berikutnya. Artinya, kemampuan kita memimpin akan teruji ketika berhasil memfasilitasi proses belajar anak buah kita agar bisa mencapai kualitas tinggi. Minimal dalam 3 aspek ini: kedisiplinannya, komitmennya kepada pekerjaan, dan kegairahannya untuk terus mengembangkan diri. Kenapa begitu? Karena dengan ketiga kualitas itu, mereka bisa berkembang terus untuk menjadi eksekutif masa depan yang bagus. Dan Anda, bisa mendapatkan kinerja bagus. Tanpa mengawasinya terus menerus.

4. Memberi ruang bagi keunikan bawahan. Jika pernah menjadi bawahan yang hebat dimasa lalu, kita cenderung bernostalgia secara keliru. Makanya, ketika sering menuntut anak buah untuk beperilaku seperti kita zaman dahulu. Hey. Selain zaman mungkin sudah banyak berubah, setiap pribadi pun tidak harus seragam. Bukankah untuk sukses dulu Anda pun tidak harus meniru atasan Anda habis-habisan? Jika dahulu Anda bisa sukses dengan cara Anda sendiri, maka boleh dong anak buah Anda menemukan cara dan gaya berbeda untuk merajut keberhasilannya sendiri. Tugas sebagai atasan adalah membantu mereka agar bisa menemukan cara yang paling efektif bagi dirinya untuk mengerahkan seluruh daya diri dengan tetap berpegang teguh pada etika bisnis yang berlaku. Dengan begitu, mereka pasti bisa menemukan teknik dan pendekatan yang cocok untuk dirinya. Mungkin, mereka bisa menemukan sesuatu yang bahkan kita sendiri pun tidak memikirkannya. Bukankah itu yang biasa kita sebut sebagai empowerment?

5. Mendidik dan mempertanggungjawabkannya. Di kantor, kita menuntut setiap anggota team untuk memberikan hasil terbaiknya. Kita memberikan penugasan. Lalu mengharapkan anak buah segera menyesuaikan diri, mencapi penyelesaian masalah yang dihadapi, dan kita terima hasil akhirnya berupa sales atau terselesaikannya pekerjaan yang kita berikan. Dalam The Voice, beda sekali. Setiap leader, tentu menuntut anggota teamnya agar bisa kompetitif. Tapi caranya bukan memberi penugasan lalu ditinggalkan pusing seperti yang sering kita dapati dikantor-kantor. Adam – Cee Lo – Christina dan Blake; terus melatih talenta-talenta yang mereka miliki untuk mengeksplorasi potensi yang belum terasah. Sampai mereka benar-benar berkilau. Setelah itu, barulah mereka di terjunkan diarena kontes sebenarnya. Dan mereka, menerima hasil akhirnya sebagai bagian dari tanggungjawab bersama antara dirinya dan talentanya.

Dalam The Voice, kita tidak pernah mendengar cercaan dari juri. Meskipun ada kekurangan yang mereka kritisi, namun disampaikan dengan kalimat-kalimat yang tetap memotivasi. Sekedar bermulut manis? Bukan. Melainkan karena mereka percaya bahwa setiap pribadi memiliki potensi. Beda dengan keadaan di kebanyakan team kerja. Jika anak buah berbuat salah, maka atasan sering malah berancang-ancang untuk mengambil posisi yang paling aman. Menyelamatkan muka, sekaligus melindungi reputasinya sebagai boss yang tidak pernah gagal. Tentu, hal itu tidak akan terjadi jika sebagai atasan kita memiliki kualitas-kualitas kepemimpinan. Karena seorang pemimpin menyadari, bahwa; kitalah yang paling bertanggungjawab atas baik buruknya kualitas orang-orang yang kita pimpin. Sehingga kitalah yang mesti berperan paling aktif, untuk memastikan mereka bertumbuh kembang hingga di kapasitas pribadinya yang paling tinggi. Sikap seperti itulah, yang bisa menjaga talenta-talenta hebat untuk terus bergabung dengan team kerja kita. Siap menjual diri pada bawahan? Mari mulai sekarang.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 2 Oktober 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Tidak akan ada bawahan yang buruk, jika kita memimpin mereka dengan cara yang baik. Karena pemimpinlah yang menentukan kualitas sebuah team kerja, bukan orang lain.

Sudah baca buku Natural Intelligence Leadership saya? Natural Intelligence (NatIn™) Beli Disini atau Di Toko Buku)

Jika Anda ingin mendapatkan kiriman Artikel Inspiratif dari DeKa secara GREATIST, gampang kok. Caranya, masukkan email Anda dalam kotak yang disediakan dibawah ini:

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

CARA BELI BUKU DADANG

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:The Voice 3

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.