Saturday , January 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Takut Duluan

Takut Duluan


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Tengah malam. Jumat kliwon. Gelap gulita. Hujan rintik-rintik pula. Diselingi gelegar halilitar segala. Anda, bersama teman-teman harus melintasi pemakaman yang luas. Biasanya Anda takut apa? Coba pikirkan kembali jawaban Anda. Apakah yakin kalau itu jawaban yang sebenarnya? Kalau sudah dipikir ulang; silakan tetapkan jawaban Anda. Kunci. Lalu bandingkan dengan kunci jawaban ini; Anda takut duluan. Iya kan? Makanya, Anda lebih suka menyuruh teman Anda yang jalan duluan. “Kamu dulu, kamu dulu…” Kan begitu. Iya kan? Iya. Jadi, kalau jawaban Anda beda, nilai Anda dikurangi seratus. Kenyataannya, kita memang sering takut duluan. Yang namanya takut duluan, tidak hanya berlaku untuk urusan melintas di kuburan. Takut duluan juga menjadi hambatan bagi kita untuk melakukan apapun yang menurut pendapat kita ‘mengandung resiko’. Sebelum melakukannya, kita sudah lebih dahulu takut. Walhasil, kita memilih untuk tinggal di dalam zona nyaman. Anda mengalami hal itu?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Tahun lalu, saya divonis dokter untuk menjalani operasi. Herrrrrrr… begitu mendengar kata ‘Operasi’, sekujur tubuh saya langsung dilaburi bulir-bulir keringat dingin. Padahal, ruang konsultasi itu ber AC hingga udanya sejuk sekali. “Ada alternatif lain, Dok?” itulah pertanyaan spontan yang saya ucapkan. Saya bertanya begitu karena sudah takut duluan. Entah kenapa, pokoknya takut saja kalau harus dioperasi. Takut apa? Ya, pokoknya takut aja. Kalau dipaksa mendefisinikan rasa takut itu, saya yakin bisa. Tapi, semua definisi itu gugur ketika saya kembali ditanya; “Apakah kamu sudah pernah mengalaminya?” Ya belumlah. Dioperasinya saja belum, kok. Lha, jadi. Mengapa mesti takut? Yah. Namanya juga takut duluan.

Jangan salah lho. Yang namanya takut duluan itu ternyata secara tidak disadari sudah merasuk meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Contoh. Saya sering ngobrol dengan cukup banyak orang sukses yang bercita-cita untuk pensiun dini. Rata-rata mereka ingin memulai bisnis sendiri. Sudah teruji jago mengelola bisnis. Sehingga dipercaya memegang jabatan-jabatan strategis. Betapa besarnya dorongan dari dalam hati untuk membangun bisnis sendiri. Tapi etapi. Kenapa ekenapa. Sudah sepuluh tahun omongan itu diumbar kemana-mana, lha kok nggak dijalankan juga. Kawan-kawan saya itu, masih saja tetep ngendon di ruang kerjanya yang sejuk, nyaman, mapan and lucrative for sure.

Eh, kok jadi menggunjing orang lain. Tidak. Sebenarnya saya tidak menggunjing orang lain. Saya sedang membicarakan diri saya sendiri. Dulu, ketika saya bercita-cita untuk pensiun dini. Empot-empotan rasanya. Maju-mundur. Maju mundur. Secara karir sedang moncer-moncernya. Boss besar bilang “Stay! Please….” mikir lagi. Maju lagi. Boss bilang “What do you want?” Mundur lagi. Maju lagi. Boss memberi pencerahan; “This is not the good situation to start a new business!” Mengkerut lagi. Lah, maju lagi saja. Sekarang boss mengatakan: “I will give you anything to make you stay!” Maaf boss. This is my time to… sebentar. Gaji ini? Bisnis apa yang bisa memberi saya penghasilan sebanyak ini setiap bulannya? Sejak bulan pertama? Sebanyak juta gini? Oh….. Aaaaaaargh.

“Ada alternatif lain, Dok?”
Tentu dokter ahli bedah bilang;”Setahu saya, hanya itu satu-satunya ikhtiar yang bisa kita upayakan….” Oh! Tamat deh, gue. Biarin. Mendingan tamat, daripada dioperasi! Bodoh sekali kan? Biar pun begitu, saya memilih bodoh sambil mengharapkan keajaiban dari Tuhan. Saya pulang dari rumah sakit. Karena tahu tidak ada cara lain yang bisa dokter lakukan untuk menyembuhkan selain melalui Operasi. Tidak ada gunanya berlama-lama disini.

“Sembuhkan saya Tuhan…” begitu doa yang tak henti saya ucapkan. Khusyuknya melampaui ibadah seribu bulan. Eh. Sembuh. Seperti doanya orang-orang suci. Laksana mantra para ahli makrifat. Seminggu. Pulih! Tidak ada keluhan sama sekali. Ajaib. Terbukti kan. Kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan berdoa. Melakukan sesuatu yang menakutkan? Please deh. Tidak perlu sampai sebegitunya kalee. Buktinya? Saya sembuh total tanpa operasi! Sampai suatu malam, ketika itu musim hujan. Tepat saat pertandingan sepakbola antara Indonesia versus Vietnam. Saat jeda turun minum saya ngeloyor ke kamar mandi. Sehat. Walafiat. Dikamar mandi itulah, saya kambuh hingga jatuh pingsan. Setelah kejadian itu saya ditanya; “Masih mau menunggu keajaiban?”

Saya sadar jika Tuhan memberi isyarat untuk mengikuti jalur semestinya menuju kesembuhan. Rangkaian peristiwa itu – sakit, dirawat dokter, mesti dioperasi, mangkir operasi, berdoa khusyuk, sembuh, kambuh, pingsan, lebih parah – laksana uraian lengkap penjelasan atas kelirunya pemahaman saya terhadap doa. Saya, keliru mengira bahwa doa bisa menjalankan seluruh proses itu begitu saja. Kenyataannya, doa adalah bahan bakar yang menguatkan jiwa. Sedangkan motor penggeraknya adalah usaha kita. Tanpa ikhtiar, malu rasanya alam memberi kita hasilnya. Karena alam bersikap adil kepada siapa saja. Dia memberi lebih banyak hasil kepada mereka yang lebih banyak berusaha. Doa, tanpa ikhtiar. Sama saja dengan memupuk harapan tanpa usaha. Maka Bismillah. Saya memilih menjalani operasi itu.

Saya akhirnya memutuskan untuk benar-benar mengundurkan diri. Ngeri rasanya. Mahal sekali harganya. Besar sekali pengorbanannya. Dan. Sungguh sangat besar resikonya. Tapi saya yakin bahwa; saya, akan bisa lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang jika bersedia ‘mengurbankan’ segala kenyamanan itu. Dan saya percaya bahwa setiap usaha kita akan membawa hasilnya sendiri-sendiri. Kita punya banyak pilihan dalam hidup. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi, serta hasilnya masing-masing. Tapi, kita. Sering merasa takut untuk mengambil opsi lain selain yang selama ini kita jalani. Salah? Tidak. Selama kita meneguhkan hati untuk menerima saja apapun hasil yang kita dapat. Salah jika kita menginginkan hasil lain tapi tetap saja terpaku dengan pilihan lama. Seperti saya sebelumnya. Ingin sembuh. Tapi takut menjalani operasi yang menjadi satu-satunya jalan keluar yang ada pada saat itu.

Saya mau sembuh. Maka saya menyerah kepada pilihan yang ada. Ajaibnya. Ketika saya menyerah itu, secara otomatis saya bangkit menghadapi rasa takut. Saya menampilkan sosok diri yang gagah berani dihadapan rasa takut. Dan lebih ajaib lagi, ketika keberanian itu semakin kuat; rasa takut justru semakin melemah begitu saja. Tidak ada pertarungan sama sekali. Yang ada hanyalah; keberanian muncul, dan ketakutan menghilang. Hanya itu.

Dalam hidup, kadang kita dihadapkan kepada pilihan yang berat lagi sulit. Tidak jarang kita gelisah hingga tidak bisa tidur. Akhirnya, semua hal tidak mendapatkan perhatian penuh. Dan kita, tidak sampai kemana-mana. Lalu kita, terombang-ambing oleh perasaan tidak menentu.

Kenyataannya, kita jarang sekali dihadapkan pada pilihan tentang hidup atau mata. Seringnya paling pilihan untuk lebih baik, lebih buruk, atau sama saja. Kalau pilihannya sama, tentu kita tidak susah-susah memutuskan. Pilih yang mana saja hasilnya sama kok. Tidak ada resiko. Mau tetap dizona nyaman kita, atau berganti dijalur berbeda. Tidak takut kita. Kalau hasilnya jelas lebih buruk, dungu kita jika mengikutinya juga. Pasti otomatis kita tinggalkan. Jadi, pilihan itu tidak menyita energy dan perhatian kita. Tapi…, kalau pilihan kita menjanjikan hal-hal yang lebih baik…. Apakah kita otomatis memilihnya? Mestinya sih begitu. Nyatanya tidak. Tahu, kalau pilihan itu bisa memberi kita peluang atas hasil yang lebih baik. Masalahnya, kita sudah takut duluan kalau-kalau perjalanannya tidak semulus yang kita kira. Apalagi jika pada awalnya kita harus mengorbankan banyak hal.

Apakah Anda sudah bisa menemukan jalan keluar dari situasi rumit itu? Sejauh yang saya rasakan dan amati; kegundahan hanya menghinggapi orang-orang yang gamang. Mereka yang mantap hati, tidak pernah diganggu oleh kegelisahan dan kecemasan seperti itu. Misalnya, teman saya yang yakin penuh 100% bahwa hidupnya akan menjadi eksekutif kelas atas. Hari ini, sudah jadi direktur dan pejabat tinggi. Maju. Sukses. Dan Makmur tuch. Rumahnya besar lagi mewah. Mobilnya entah sudah berapa. Uangnya? Hanya bisa dikira-kira saja. Memang sih, ada juga teman saya yang lain. Masih jadi karyawan kelas menengah. Tapi mereka optimis sekali atas masa depan keluarganya. Hidupnya, baik-baik saja.

Teman saya yang lainnya, sudah sejak dulu meninggalkan rutinitas kantor. Lalu membangun usahanya sendiri. Sampai sekarang, saya masih saja heran; orang ini dapat duitnya bagaimana ya? Tidak terlihat proses kerjanya, tapi kok bergelimang dalam kemakmuran. Memang sih, masih ada juga teman-teman saya yang jadi pengusaha namun belum juga kaya raya. Tapi mereka sedemikian dinamisnya menjalani hari-harinya. Hidupnya, baik-baik saja.

Begitulah orang-orang yang mantap hatinya. Apa pun pilihan yang mereka ambil, dijalaninya dengan sepenuh hati dan suka cita. Tidak heran jika selama hidupnya mereka bahagia. Dan rezeki gemar sekali mendatangi pundi-pundi mereka. Mungkin karena rezeki mudah masuk melalui pintu hati yang terbuka lebar oleh sikap positif mereka selama ini. Sehingga berkecukupan selalu hidup mereka.

Beda sekali dengan orang-orang yang gamang. Seperti beberapa teman yang saya kenal. Sudah punya jabatan tinggi. Masih saja mengeluhkan betapa pekerjaanya menyita waktu dan kehidupan pribadinya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan juta rupiah diterimanya setiap bulan. Tapi, kehidupan kerjanya selalu diliputi oleh kegalauan. “Ya udah, bisnis sendiri aja kalau gitu…” saya bilang. “Gila lu!” katanya. “Bisnis apa yang untungnya sebanyak ini?” Galau. Dia takut duluan, kalau berbisnis itu tidak menghasilkan.

Sama galaunya dengan teman saya yang pengusaha gamang. Dasarnya dari awal sudah kepingin jadi pengusaha. Ngapain jadi kuli, katanya. Makanya sejak lulus kuliah tidak pernah mencicipi rasanya menjadi buruh itu seperti apa. Tapi nyaris setiap hari dia mengeluhkan bisnisnya yang tidak kunjung maju. Banyak regulasinyalah. BBM naiklah. Pesaingnya curanglah. Inilah. Itulah. “Ya udah, cari kerja aja deh kalo gitu…” saya bilang. “Amit-amit,” katanya. “Jangan sampai deh gue jadi kuli berdasi…” Gelisah. Dia takut duluan kalau menjadi professional itu tidak menyenangkan.

Jadi apa sih sebenarnya masalah kita ini? Kita punya keinginan. Tapi tidak punya kemauan. Kita ingin ini, ingin itu. Tapi tidak mau menghadapi konsekuensinya. Takut duluan. Bahkan sebelum kita mencobanya.

Maka kalau ingin terlepas dari masalah itu, kita mesti meniru orang-orang yang gagah berani itu. Yaitu orang-orang yang tidak takut duluan. Mereka berani mencoba. Mencoba apa? Mencoba hal baru yang memberi kemungkinan baru dengan segala konsekuensinya. Atau, mencoba untuk fokus menekuni apapun yang saat ini dijalaninya. Lalu sebaik mungkin mengukir pencapaian demi pencapain terbaik dalam bidangnya. Dengan keberanian itu, mereka bisa mantap hati. Soalnya, tidak menjadi persoalan kok pilihan manapun yang kita ambil. Mau dioperasi atau tidak. Mau jadi pebisnis atau pegawai. Mau tetap dijalur itu, atau pindah? Tidak masalah. Selama kita memahami konsekuensinya. Dan bersedia menghadapinya. Dengan bulat hati. Lalu menerima semuanya dengan lapang dada.

Oma saya. Usianya sudah lebih dari 80 tahun. Berpengalaman menjalani operasi diusia senjanya. Beliau berkata; “Tak usah takutlah kau Dadang. Oma pun operasi baik-baik saja. Tawakkal saja pada Allah….” lanjutnya. Malu saya kepada Oma.

Lebih malu lagi kepada diri sendiri. Karena sudah sejak lama sekali guru saya mengajarkan sebuah mantra. Begini bunyinya; “Faidza Azzamta, Fatawakkal ‘Alallah!”. Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Lho, kok Oma mempunyai mantra yang sama? Pantas saja, karena mantera itu adalah firman Tuhan dalam surah 3 (Ali Imron) ayat ke 159. Apapun pilihanmu, tidak jadi masalah. Yang penting, setelah engkau menentukan pilihan itu dengan tekadmu, bertawakallah kepada Allah sambil mengiringinya dengan ikhtiar bersungguh-sungguh. Maka Insya Allah, engkau akan tentram hati. Dan hasilnya; sepadan dengan kegigihan, dan kesungguhanmu.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 1 November 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Menyerah kepada kuasa Ilahi sambil terus gigih berikhtiar itu seperti seorang prajurit yang santun, namun tangguh saat bertempur. Tidak ada rasa takut. Karena setiap tindakannya bernilai ibadah.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

JIKA OMSET PERUSAHAAN ANDA DIBAWAH 50M/TAHUN (UKM), MAKA ANDA BERHAK MENDAPATKAN DISKON 50% IN-NHOUSE TRAINING ”LEADERSHIP IN PRACTICE” DARI DEKA – HUBUNGI KAMI

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:stupendouetidbits.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*