Wednesday , August 21 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Memberi Solusi Atas Konflik Anak Buah

Memberi Solusi Atas Konflik Anak Buah


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Sebenarnya, solusi tidak harus selalu datang dari atasan. Lebih baik jika para bawahan pun mempunyai kemampuan untuk menemukan solusi atas masalah yang tengah dihadapinya. Terlebih lagi jika masalah itu melibatkan orang lain. Misalnya saja, masalah yang saat ini tengah marak terjadi di lingkungan masyarakan kita. Urusan sepele, bisa menjadi konflik yang membahayakan. Lalu, para pemimpin mengatakan; “Seharusnya Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik!” Lalu orang pun mencari ‘solusinya sendiri’. Di kantor juga tidak kalah peliknya. Ketika ada anak buah yang tengah berkonflik, atasan cenderung mengharapkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kenyataannya, banyak karyawan – dari level staff sampai direktur – yang memelihara persetruan dengan koleganya sendiri selama karirnya. Sehari-hari, mereka tidak pernah akur. Kerjaannya berselisih melulu. Lantas, masihkah seorang pemimpin boleh mengatakan; “Seharusnya Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik!”?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Memang paling males, kalau menyelesaikan konflik orang lain. Tidak mau pusing. Begitulah sikap para pemimpin pada umumnya. Maunya tenterem ayem saja. Padahal, ketentraman dan keayeman itu mesti dibangun melalui kekuatan kepemimpinannya sendiri. Jika mengharapkan orang-orang yang dipimpinnya menciptakan ketenteraman itu, maka begitulah jadinya; orang-orang yang dipimpinnya berselisih tanpa akhir. Saling sikut-sikutan. Berebut jabatan. Dan bersaing suka-sukanya saja. Apakah mereka tidak pernah mencari solusi? Pernah. Sering malah. Tapi, solusi yang mereka gunakan tidak selalu tepat. Bahkan tidak jarang sifatnya negatif. Tidak bisa tidak. Pemimpin harus bersedia memberikan solusinya. Jika tidak, ya jangan terlalu berharap bakal ada perbaikan hubungan di kalangan orang yang kita pimpin itu.

Gimana sih caranya?
Supaya tidak jadi menggurui, izinkan saya untuk tidak menunjukkan caranya. Saya hanya akan menceritakan sebuah kisah yang terjadi di sebuah pintu toll saja ya. Di Jakarta khususnya, beberapa pintu toll sudah dilengkapi dengan teknik pembayaran yang canggih. Pakai kartu. Semacam kartu pra bayar begitulah. Kita bisa membeli ‘pulsa’ di bank untuk diisikan kedalam kartu. Jadi, kalau masuk atau keluar toll kita tidak usah ikut antri di gerbang konvensional yang biasanya panjang minta ampun itu. Kita menyelusup saja ke gerbang khusus bagi pemilik kartu itu. GTO namanya. Gerbang Toll Otomatis. Di gerbang itu, pintu toll langsung terbuka begitu kita menempelkan kartu itu di scannernya. Lalu, kita pun bisa melenggang kangkung, langsung melaju di jalur kosong. Sementara orang yang tidak punya kartu itu, masih mengantri dijalur lain.

Karena systemnya masih baru, masih banyak pengguna jalan toll yang belum paham. Khsusunya mereka yang tidak punya kartu. Banyak yang setress melihat antrian panjang di jalur konvensional, lalu melihat jalur ‘disampingnya’ yang kosong melompong. Jalur GTO. Otomatis juga dong mereka nyelonong kesana. Padahal, tidak punya kartu. Walhasil, pintu toll tidak bisa dibuka. Mereka pun harus mundur, dan keluar dari jalur itu. Mending kalau tidak ada antrian mobil lain di belakangnya. Pas kalau mobil yang punya kartu masuk di belakangnya, nah terbayang deh repotnya.

“Tidak boleh masuk sini dong, Bu!” teriak petugas tol.
Sang pengemudi jadi semakin panik. “Jadi gimana dong?” katanya.
“Ya mundur ajalah,” jawab ketus petugas.
“Tapi dibelakang ada mobil,” katanya. Kali ini sambil memelas. Menunjukkan penyesalan. Tapi percuma saja. Tidak ada orang yang peduli pada perasaan bersalahnya. Sekarang mobil-mobil yang ‘berhak’ masuk ke jalur itu sudah semakin berjejer.

Petugas toll memberi isyarat agar sang pengemudi mundur pelan-pelan.
“Wooi! Apa-apa sih lu!” begitu teriak pengemudi mobil dibelakangnya. “Pelan-pelan dong!” katanya. Dia kesal. Karena dia pun tidak bisa mundur lagi.

Petugas toll angkat tangan. Sambil mengucapkan entah apa lagi.
Sang penerobos GTO itu semakin terpojokkan. Dia tidak bisa maju karena pintu toll tidak bisa terbuka. Dia juga tidak bisa mundur lagi, karena dibelakangnya sudah terjadi antrian yang panjang sekali. Salah sendiri! Tidak punya kartu kok main nyelonong saja!

Sedetik setalah itu. Terdengar satu bunyi klakson. Hanya satu bunyi klakson. Mungkin itulah yang namanya komunikasi. Kata dibalas kata. Klakson dibalas klakson yang lebih keras. Sewaktu bunyi klakson pertama terdengar. Untuk sementara semua orang masih diam saja. Antara sabar dan kesal. Lalu, terdengar bunyi klakson kedua. Dan, setelah bunyi kedua itulah kemudian terdengar bunyi klakson berikutnya. Lebih nyaring, lebih panjang. Dan. Lebih besahut-sahutan. Maka, terjadilah tahun baru premature. Tahun barunya masih lama sekali. Tapi bunyi terompetnya sudah memenuhi udara di sepanjang jalur GTO itu hari ini.

Sekarang. Orang sudah tidak lagi teriak dari balik kemudi. Mula-mula. Ada satu orang yang turun lalu mencak-mencak sambil berkacak pinggang. Maklum Jakarta. Time is money. Kemarin sudah terlambat masuk kantor. Masak sih hari ini terlambat lagi. Petugas toll tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga orang itu ‘mencari solusinya sendiri’. Lantas entah bicara apa dengan pengemudi yang ada didepannya. Suaranya tertelan oleh riuh rendah bunyi terompet mobil. Kemudian turun satu orang lagi. Turun lagi. Dan akhirnya, pintu toll itu berubah menjadi seperti pasar pagi. Hanya bisa melihat gerakan bibir dan gesturenya saja. Tidak bisa mendengar kata-katanya. Hiruk pikuk itu sudah menjadi seperti benang kusut saja.

Ketika semuanya semakin panas memuncak. Semua menjadi sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh kesalahan pengemudi yang nyelonong itu. Lalu semua orang pun menyalahkannya. “Jadi gimana dong kalau gini Mas!” kata salah seorang pengemudi. Tidak sabar. Soalnya sudah tertahan cukup lama disana. Padahal, gerbang konsvensional sudah mulai lengang. Percuma saja punya kartu GTO.

Meskipun sambil marah-marah, semua sepakat untuk membantu petugas toll mencari solusinya. Banyak teori. Salah satunya semua mobil mundur. Tapi mau mundur bagaimana, dengan jumlah antrian sepanjang itu. Ada juga teori lainnya yang menyebabkan tempat itu berubah fungsi menjadi kelas workshop. Setelah sekian lama, tidak ada juga solusinya. Begitu memang jika rakyat dibiarkan mencari solusinya sendiri. Masih untung tidak ada orang senewen yang bilang;‘gulingkan saja mobilnya!’ Bahaya sekali kan?

Maka dari itu, jika pada situasi genting seorang pemimpin masih menghimbau orang-orang yang dipimpinnya untuk mencari penyelesaian sendiri atas konflik yang terjadi; wah, resikonya berat sekali. Soal kecil saja, bisa menjadi besar. Di kantor pun demikian. Kita tidak boleh berasumsi anak buah akan bisa menyelesaikan semua masalahnya. Minimal, kita mempunyai system monitoring yang bisa mengontrol batasan-batasannya. Jika tidak, maka kita akan terus menerus menemukan konflik berkepanjangan di kalangan orang-orang yang kita pimpin itu.

Seorang pemimpin memang bertugas untuk memastikan lingkungan kerja, masyarakat atau wilayah yang dipimpinnya tentrem ayem, gemah ripah lohjinawi. Mau pemimpin Negara beserta perangkatnya. Ataupun pemimpin perusahaan beserta para managernya, ya sama saja. Jika ada konflik berkepanjangan di Negara, wilayah, atau departemen atau unit kerja tertentu; maka itu menunjukkan bahwa fungsi kepemimpinanya tidak berjalan dengan baik. Konflik yang terjadi antara buruh dengan pengusaha pun, sama. Itu pertanda bahwa kepemimpinan yang membidangi buruh dan industry sedang tidak berfungsi.

Para pengemudi di GTO sudah semakin kesal. Apalagi sebagian dari mereka adalah orang kaya. Orang penting. Dan biasa mendapatkan kemudahan. Kita tahulah, kalau orang terhormat itu kadang-kadang lebih mudah melontarkan hardikan, makian dan kata-kata tidak patut lainnya. Yang tidak sabar meminta mobil belakangnya mundur sedikit. Lalu dibalas; “Mau mundur kemana lagi? Pake dong matamu itu….”

Orang terhormat, mana rela disebut ‘Matamu!’
Yang semula sabar pun bisa-bisa darahnya langsung menyembur ke ubun-ubun. Sekarang konfliknya sudah menyebar kemana-mana.

Ditengah kerumitan sitauasi itu, seseorang turun dari mobil yang mengantri di belakang. Tak ada kata-kata yang diucapkannya. Dia, terus saja berjalan lurus ke depan. Menuju ke mobil yang menjadi biang keladinya. Oh! Gawat! Jika orang ini melakukan satu tindakan kecil saja, maka tindakannya itu bisa menimbulkan konsekuensi besar. Biasanya kan begitu. Hanya butuh trigger kecil untuk menimbulkan peristiwa besar.

Tapi tidak seorang pun mencegah orang itu. Dia terus saja berjalan. Sampai akhirnya tiba di samping pengemudi tolol yang tidak tahu diri itu. Dia melongok kearahnya. Dibalas dengan tatapan pasrah dari pengemudi yang polos itu. Orang lain boleh menyebutnya polos. Dia sendiri merasa dirinya tidak bermaksud membuat keributan itu. Tapi, dia hanya bisa pasrah saja ketika orang itu menegurnya. “Pintu toll nggak bisa terbuka Pak…” katanya. Spontan memberikan penjelasan.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut orang itu. Lalu dia berjalan ke samping. Kemudian dia mendekatkan kartu GTO miliknya ke mesin scanner. Terdengar bunyi ‘Tit’. Lantas pintu toll secara otomatis terbuka selebar-lebarnya.

Pengemudi itu tidak bisa jalan. Bukan karena terhalang oleh pintu toll. Melainkan karena terpukau oleh tindakan yang dilakukan oleh orang itu. Sungguh diluar dugaannya. Dia mengira akan marah-marah seperti pengemudi lainnya. Tapi ternyata tidak. Orang ini, justru menggunakan kartu GTOnya untuk membayarkan karcisnya. “Silakan jalan Bu,” kata orang itu. Seperti dihipnotis saja, pengemudi itu pun berjalan lagi. Bahkan tanpa sempat mengucapkan terimakasih.

Semua mobil kembali melintasi GTO dengan kartunya masing-masing. Sedangkan orang itu dengan santainya kembali ke mobilnya dibarisan paling belakang. Kemudian melengggang, setelah semua mobil yang terjebak didepannya melintasi pintu toll otomatis itu. Begitulah perilaku yang semestinya dimiliki oleh setiap pemimpin. Dia, percaya bahwa semua orang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, tidak tinggal diam pada situasi dimana dia harus turun tangan menyelesaikannya. Mengapa? Karena, tidak pada setiap situasi orang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Terlebih, di zaman ketika setiap orang tertekan oleh tuntutan hidup. Dan kondisi lingkungan yang semakin tidak ramah ini.

Maka para leader. Berhentilah berbicara. Berhentilah menghimbau. Berhentilah menasihati orang-orang yang Anda pimpin. Dan. Mulailah melakukan sesuatu untuk memberi solusi terhadap masalah-masalah pelik yang tengah mereka hadapi. Bukankah untuk itu Anda disebut sebagai pemimpin mereka? Kursi kepemimpinan menjadikan Anda pemilik ‘kartu GTO’ yang bisa menyelesaikan setiap masalah kritis, hanya dengan satu bunyi “Tit’. Selesai. Sebagai pemimpin, Anda punya kartu seperti itu. Masalahnya adalah; bersediakah Anda menggunakan kartu itu untuk memberikan solusinya? Atau masih saja mengharapkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri? Andalah yang menentukan kualitas kepemimpinan Anda, dengan pilihan yang Anda ambil itu.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 6 November 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Jika konflik yang kritis pun harus diselesaikan oleh orang-orang yang kita pimpin, lantas konflik seperti apa yang bisa membuat kita bersedia keluar dari ruang kerja yang cozi ini?

Ingin mendapatkan kiriman “L (= Leaderism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Pesan sponsor: Berikan training leadership kepada para leader di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737. Saya punya banyak topik Leadership yang bisa di tailor-made. Kualitas? Dibandingkan dengan trainer luar negeri juga berani. Harga? Hmmh…. Gue banget!

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:engageconsulting.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.