Tuesday , July 25 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Melestarikan Sumber Penghasilan Kita

Melestarikan Sumber Penghasilan Kita


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Salah satu efek samping bekerja di perusahaan yang besar adalah; menganggap pelanggan tidak penting. Memang kita tidak merendahkan mereka. Namun, kita sering lupa bahwa gaji yang kita terima setipa bulan itu datang dari kantong mereka. Andai saja para pelanggan itu berhenti belanja atau menggunakan jasa kita; maka otomatis, perusahaan pun tidak akan lagi bisa membayar gaji kita. Ini bukan soal apakah pelanggan itu raja atau bukan. Tidak ada gunanya memperdebatkan itu. Zaman kerajaan saja sudah lewat berabad lamanya, eh, kita malah sering berdebat soal raja apa bukan rajanya para pelanggan kita. Ini adalah soal bagaimana kita melestarikan sumber mata pencaharian kita. Bagaimana caranya kita menjaga agar gaji yang kita terima itu terus mengalir. Artinya, mendatangkan pelanggan itu adalah urusan kita. Apakah kita orang front office, ataupun back office. Sama saja. Kita mesti sama-sama berjuang agar pelanggan tetap datang. Demi keberlangsungan gaji kita. Tapi kalau kita bukan orang sales, bagaimana caranya?

Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327

Izinkan saya untuk bercerita saja ya. Semoga, kita bisa menarik pelajaran berharga agar lebih sadar bahwa kita semua bertanggunjawab untuk menjaga pelanggan tetap bersama kita. Akhir pekan lalu, Ayah dan Ibu saya datang dari Bandung. Beliau menggunakan jasa travel A yang sudah menjadi langganan kami sejak lama. Untuk menjamin ketersediaan kursi, sehari sebelumnya beliau memesan tiket via telepon. Dapat. Untuk 2 orang. Lalu seperti biasanya, melalui SMS travel A memberitahukan poin keberangkatan. Maka orang tua saya pun menuju ke tempat dimaksud. Begitu sampai disana, ternyata yang ada hanya gedung ‘bekas kantor’. Kata orang-orang disana, travel A sudah pindah ke lokasi yang lain sejak beberapa minggu lalu. Kira-kira beberapa puluh meter dari kantor kosong itu, ada kantor travel B. Dan ada rute yang sama seperti tujuan mereka. Namun, Ayah saya seorang lelaki dengan kata-katanya yang bisa dipegang. “Kita sudah pesan kursi di travel A,” demikian beliau berkata kepada Ibu. Lalu mereka pun pergi menuju ke lokasi pindahnya travel A itu.

Tuch kan, terbukti. Meskipun ada alternatif lain, pelanggan tidak langsung pindah ke lain hati. Benar. Ketika pelanggan mereka adalah orang yang seperti Ayah dan Ibu saya. Keduanya adalah orang-orang sederhana. Guru di daerah yang sangat menghargai makna dari kata dan komitmen. Sekarang, mari kita renungkan; sudah berapa banyak pelanggan yang mendapatkan informasi keliru seperti Ayah dan Ibu saya. Dan apakah mereka bereaksi sama sabarnya? Disaat setiap pelaku bisnis berlomba melakukan upaya untuk menghasilkan sales lead alias promosi supaya pelanggan berdatangan, travel A justru mengarahkan pelanggan yang sudah booking kursinya – belum bayar – ke lokasi pesaing langsungnya yaitu travel B. Jika Anda mengalami hal itu, lalu Anda kesal; Anda masih bersedia menuju ke lokasi baru travel A, atau langsung saja pindah ke travel B? Saya ragu jika Anda seperti Ayah saya.

Sampailah beliau berdua di kantor travel A. Tanpa memperpanjang masalah, Ayah pun melakukan registrasi ulang. Lalu sampailah kepada pembicaraan ‘tarif khusus’ untuk usia diatas 60 tahun. Lumayan dong. Ada diskon. “Tapi Bapak harus menyerahkan foto copy KTP,” kata customer servicenya. Maksud eloh? Ayah saya harus mencari-cari tukang foto copy dulu gitu baru bisa mendapatkan diskon itu? Oh, please deh. Bukankah mereka bisa membaca langsung data di KTP aslinya? “Maaf, ini kebijakan perusahaan…”

Berapa ya harga diri seseorang sehingga harus menyengajakan diri mencari-cari mesin fotocopyan hanya untuk mendapatkan diskon tiket travel senilai sepuluh ribu rupiah? “Oh, kalau begitu nggak usah pake tarip khusus Mbak…” katanya. Ayah saya riang hati mengucapkannya. Toh sebelumnya juga tidak mengharapkan ada diskon itu. Meskipun dikantor travel A itu pelanggan sudah dibuat melambung tinggi harapannya. Namun segera jatuh kembali begitu saja.

Di Jakarta. Beliau tidak lama. Giliran saya yang memesankan tiket travel pulangnya. Namun sebelum itu, beliau bercerita tentang pengalaman keberangkatannya. Di dekat tempat tinggal kami pun ada kantor travel A dan travel B. Beliau langsung setuju ketika saya menawarkan untuk mencoba menggunakan travel B. Kalau saya sendiri, memang sudah cukup lama pindah ke travel B itu dari sebelumnya yang juga sering menggunakan travel A. Tapi, saya tidak mau memprovokasi. Via call center, tiket pulang Ayah dan Ibu saya sudah aman. Di hari keberangkatan, kami pun menuju ke kantor travel B. Disana kami registrasi. Ada tarip khusus juga. “Syaratnya apa, Mbak?” begitu tanya saya.

“Usianya diatas 60 tahun..” jawab petugas CS.
“Ayah saya 64…” saya bilang.
“Oh, kalau begitu Bapak mendapatkan tarip khusus…” katanya sambil menyebutkan harga khusus yang dimaksudnya.

“Tidak ada syarat lain?” saya kembali bertanya. Khawatir ada prosedur yang dilewatkannya. “Menunjukkan KTP, misalnya?”

“Oh, tidak perlu Pak,” jawabnya.
Saya melirik Ayah yang tersenyum penuh arti.
“Tidak takut pelanggan akan membohongi Anda?”
“Pelanggan kami tidak ada yang membohongi kami Pak. Bahkan kami pun tahu jika mereka sudah lanjut usia…..” betapa menyejukkan kalimat dan pernyataannya.

Travel B ini mempunyai masa depan yang lebih cerah dalam bisnisnya. Meskipun kalah terkenal dari travel A, tapi cepat atau lambat pelanggannya akan semakin bertambah. Setidaknya hari ini saja ada pelanggan baru pindahan dari travel A. Dua pelanggan lama travel A itu sudah menyatakan; “Nanti, kalau ke Jakarta lagi, pesankan tiket di travel B saja….” Begitu kata mereka.

Sahabatku. Betapa pentingnya bagi kita untuk melayani pelanggan dengan kepedulian tentinggi kita. Meskipun kita bekerja di back office. Contohnya, orang IT atau penanggungjawab system informasi di travel A yang saya ceritakan itu. Sebenarnya mereka bisa memberikan pelayanan terbaiknya kepada pelanggan melalui cara yang sederhana ini; Segera memperbaharui system informasinya, ketika kantor mereka pindah ke lokasi baru. Benar, mereka tidak berhadapan langsung dengan pelanggan. Tapi tugas dan pekerjaannya menghasilkan sebuah karya yang langsung bersentuhan dengan pelanggan. Maka dari itu, sahabatku, mari kita lebih sadar lagi. Bahwa kita semua bertanggungjawab untuk memuliakan para pelanggan kita. Karena, hanya dengan cara itu saja kita bisa melestarikan sumber penghasilan kita. Mau terus gajian kan? Makanya, bekerjalah dengan semangat dan kualitas yang lebih baik lagi.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
www.dadangkadarusman.com – 7 November 2012
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Melayani pelanggan sepenuh hati itu menandakan kita setia melayani kelestarian sumber mata pencaharian bagi diri kita sendiri.

Ingin mendapatkan kiriman “C (=Customerism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

CARA BELI BUKU DADANG

Jika Anda membutuhkan trainer untuk perusahaan Anda, Silakan Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327

Gambar:studyinjogja.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.