Monday , September 21 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Menanti Hasil Kerja Kita

Menanti Hasil Kerja Kita

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

“Mau gajian bulan ini? Ya maulah. Mau dapat bonus? Mau. Kerja dong yang bener!” Sepertinya tidak cocok ya kalimat itu dikatakan kepada orang dewasa seperti kita. Kalau anak kecil ditanya begitu masih wajar. Tapi kalau orang dewasa? Kemungkinan orang yang bertanyanya saja yang tidak tahu tata karma. Tidak sopan sama sekali. Itu kalau kita memandang ‘ujungnya’. Tapi kalau kita memandang ‘pangkalnya’, maka kita akan bisa memahami alasan mengapa ada orang yang sampai bertanya seperti itu. Kata orang, zaman sekarang ini banyak sekali manusia yang kepingin mendapatkan gaji besar, tapi kerjanya asal-asalan. Maunya kerja gampang. Susah sedikit sudah mengeluh ini dan itu. Sulit sedikit sudah ribut begitu dan begini. Makanya, sulit mengharapkan mereka bisa bekerja dengan standar yang seharusnya hingga tuntas. Apa benar begitu ya?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Sebenarnya, sikap dan perilaku kerja yang kurang rajin itu sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Hanya saja, zaman sekarang mungkin kita lebih mudah saja mengkomunikasikannya. Makanya orang tua kita sudah sejak dulu mengajarkan tentang etika dalam bekerja. Jangan sampai mau enaknya saja, katanya. Di tatar Sunda, pelajaran moral seperti itu antara lain dikisahkan dalam dongeng Kabayan. Si Kabayan ini digambarkan sebagai tokoh yang malasnya minta ampun. Mau dapat hasilnya, tapi tidak mau mengusahakannya. Kalau pada akhirnya mau juga bekerja, tapi kerjanya ya asal-asalan saja.

Kalau saya perhatikan, di tatar Sunda itu cukup banyak orang yang mau enaknya saja. Ingin terima hasilnya. Tapi jerih payahnya ogah. Waktu saya pergi ke daerah lain, ternyata disana juga banyak yang begitu. Ketika bertugas di tempat lainnya lagi, saya menemukan juga orang-orang yang seperti itu. Saat mengamati perilaku orang didunia kerja, saya lebih banyak lagi menemukan orang-orang yang tidak berkomitmen terhadap pekerjaannya, namun selalu menuntut untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Semakin modern zaman kita, rupanya semakin banyak yang perilaku kerjanya seperti si Kabayan. Tidak hanya ditatar Sunda ternyata. Dimana pun selalu bisa kita temui orang-orang yang malas bekerja seperti si Kabayan. Jika ada orang yang mengamati keseharian kerja saya, mungkin orang itu juga bisa menemukan sifat malas si Kabayan didalam diri saya. Siapa tahu, kan? Di dalam diri Anda? Saya tidak berani berkata apa-apa.

Sekarang, saya paham. Mengapa zaman dahulu para sepuh tatar Sunda tidak bosan-bosannya mengingatkan generasi muda agar tidak meniru kemalasan si Kabayan. Misalnya, melalui kisah ketika si Kabayan disuruh memetik buah nangka oleh Ibu mertuanya. Boleh ya saya ceritakan kembali? Dengan cara saya sendiri, dan menggunakan bahasa Indonesia tentu saja.

Si Kabayan yang gemar memakan buah berasa manis itu heran, kenapa mertuanya tidak lagi menyuguhi buah nangka pagi ini. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya. Lalu, tahulah dia alasannya. Persediaan buah nangka di rumah mertuanya sudah tidak bersisa. “Kalau mau makan buah nangka, kamu harus memetiknya dulu di kebun,” demikian kata mertuanya.

“Kenapa mesti dipetik atuh Ambu, nangka teh?” jawab si Kabayan. “Kan biasanya juga sudah ada diatas meja makan….” Maklum, selama ini dia hanya tinggal terima hasilnya saja. Tidak mau kerjanya.

“Iya sekarang giliran kamu yang kerja,” kata Ibu mertuanya.”Sana pergi ke kebun.” Perintahnya. “Petik nangka yang besar dan sudah tua ya….”

Akhirnya Kabayan pergi juga dengan gerutuan dan gayanya yang malas-malasan. Sesampai di kebun, dia mencari-cari nangka yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Ibu mertuanya. Besar dan sudah tua. Dapat tentu saja. Ada nangka yang besar. Dan sudah tua. Maka si Kabayan pun memetiknya.

Bedebum!
Buah nangka itu pun jatuh dari pohonnya. Dari bunyi bedebumnya itu sudah bisa dibayangkan betapa beratnya dia. Kabayan segera turun dari pohon lalu dilihatnya nangka besar dan tua itu tergolek di tanah. ‘Euleuh-euleuh ini nangka meni segede ujubilah,’ gumam Kabayan. Sambil membayangkan betapa berat dan susah payahnya jika mesti memanggulnya sampai ke rumah. Dia pun memutar otaknya untuk mendapatkan jalan keluarnya. THING! Lampu di kepalanya menyala. Dia sudah menemukan solusinya.

Maka si Kabayan pun menyeret nangka itu ke pinggir sungai untuk dihanyutkan. Kepadanya, si Kabayan berpesan; “Kamu pulang saja duluan ke rumah Ambu,” katanya. “Ingat ya, jangan mampir-mampir dulu. Ambu sudah nungguin kamu!” Maka buah nangka itu pun memulai perjalanan pulangnya.

Setelah itu, si Kabayan pun bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ibu Mertuanya bertanya; “Mana buah nangkanya, Kabayan?” katanya. “Bukankah seharian ini kamu pergi ke kebun untuk memetik nangka?”

“Loh, belum sampai kerumah nangkanya Ambu?” si Kabayan malah balik bertanya.
“Bagaimana mau sampai, kalau kamunya sendiri baru sampai?” balas Ibu Mertuanya. “Kamu itu sebenarnya jadi memetik buah nangka apa tidak?”

“Ooooh, tentu saja Ambu. Saya kan menantu yang giat bekerja.” Jawabnya.
“Ya terus mana nangkanya?” Tanya mertuanya.

“Itulah Ambu, saya juga bingung.” Balasnya sambil garuk-garuk kepala. “Kenapa jam segini eta si nangka teh belum juga sampai ke rumah….”

“Lah, kebanyakan alesan.” Jawab ibu mertuanya. “Dasar kamu itu hanya mau enaknya saja!” tambahnya.

Tentu saja Kabayan protes. “Bener Ambu, saya tadi ke kebun memetik nangka besar dan sudah tua…” katanya.
“Iya tapi mana nangkanya?” ibu mertuanya tidak juga percaya.
“Tadi teh sama Kabayan dihanyutkan di sungai…” jawab Kabayan.

“Kabayaaaan, Kabayan…” kata ibu mertuanya. “Mana bisa nangka itu sampai di rumah kalau kamu hanyutkan di sungai?”

“Ya bisa atuh Ambu,” jawab si Kabayan. “Kan nangkanya sudah tua. Masa sih tidak tahu caranya sampai ke rumah Ambu….”

Seperti cerita rakyat dari daerah lainnya, sebagai tokoh utama, si Kabayan itu adalah tokoh rekaan. Sebuah cara cerdas para sepuh menasihati generasi mudanya. Dibalik kisah-kisah jenakanya yang terkesan absurd itu tersimpan pesan moral yang mampu menembus batas-batas zaman, dan melintasi rintangan-rintangan zona wilayah. Kisahnya ketika memetik buah nangka ini misalnya. Sangat relevan untuk menjadi bahan renungan kita. Pesannya jelas sekali, jika ingin mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan; maka kita harus mau menyelesaikan pekerjaan kita hingga tuntas. Semakin banyak hasil yang kita inginkan, mesti semakin rajin, dan semakin gigih kita dalam menuntaskan setiap penugasan. Hal ini sejalan dengan firman Tuhan dalam surah 94 (Alam Nasyrah) ayat 7 ; “Maka jika Engkau sudah menuntaskan suatu pekerjaan, tetaplah bekerja untuk menuntaskan pekerjaan yang lainnya”.

Memang, ada kalanya sudah gigih pun hasilnya belum juga sesuai harapan. Namun kegigihan kita, memberi peluang yang lebih besar untuk mencapainya. “Dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya Engkau menggantungkan harapan….” Demikian kelanjutan firman itu dalam ayat selanjutnya. Maka ketika kita giat bekerja. Gigih menutaskan setiap pekerjaan, kelak Allah akan melunakan hati para pengambil keputusan untuk memberi kita imbalan yang sepadan. Kenyataannya kan demikian. Kepada orang-orang yang berkinerja tinggi, biasanya para pemilik usaha atau pengambil keputusan itu sayang sekali. Tuhan telah melunakkan hati mereka.

Tapi jika mereka tetap saja tidak mau berbaik hati? Tenang saja, Tuhan punya banyak cara untuk menghargai setiap pribadi yang berkualitas tinggi. Jika kita benar-benar tangguh dan bersungguh-sunguh, pada saatnya kelak Tuhan akan membukakan jalan yang lebih baik. Dan lebih tepat untuk kita tempuh. Namun sebelum itu, ayo kita membiasakan diri untuk bekerja hingga tuntas terlebih dahulu. Setelah itu, kita serahkan dampaknya, kepada Sang Maha Bijak. Insya Allah, hasil yang kita nanti-nantikan itu pada akhirnya akan datang juga.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 12 November 2012
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Catatan Kaki:
Peluang mendatangi semua orang. Namun, dia lebih mudah ditangkap oleh orang-orang yang terbiasa bekerja dengan baik dan berdedikasi tinggi.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Pesan sponsor: Berikan training leadership kepada para leader di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737. Saya punya banyak topik Leadership yang bisa di tailor-made. Kualitas? Dibandingkan dengan trainer luar negeri juga berani. Harga? Hmmh…. Gue banget!

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

CARA BELI BUKU DADANG

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:gantibaju.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*