Saturday , October 21 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Artikel Pilihan / Cerita Tentang Tukang Traktir

Cerita Tentang Tukang Traktir


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Siapa sih yang tidak mau berteman dengan orang yang suka mentraktir? Kayaknya sih, semua orang suka sekali berteman dengan tukang traktir ya. Kita suka kepada orang yang mentraktir minuman di café. Kita suka kepada orang yang mengeluarkan dompet untuk makan siang kita. Tentu kita juga suka sekali kepada orang yang membayari tiket nonton konser. Pokoknya, kalau pergi sama dia; dijamin seru deh. Itulah sebabnya, orang yang suka mentraktir orang lain selalu mempunyai banyak teman, iya kan? Pertanyaannya kemudian adalah; apakah orang yang suka mentraktir kita itu benar-benar mempunyai uang lebih banyak dari kita yang hobby sekali nebeng ini? Coba renungkan sekali lagi; apakah Anda yakin jika orang yang selalu Anda harapkan untuk mentraktir itu punya uang lebih banyak dari Anda?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Harap jangan bertanya siapa namanya dan dimana lokasinya jika saya menceritakan sebuah kisah kecil berikut ini. Karena saya tidak akan mau memberitahu namanya atau indikasi-indikasi lain yang bisa membuat Anda mengenali orang yang saya maksud. Sebut saja teman saya. Baik sekali orangnya. Setiap kali makan bersama orang lain, dia selalu menjadi juru bayarnya. Dari dompetnya sendiri. Selalu begitu. Sehingga setiap orang yang mengenalnya menjulukinya sebagai orang yang paling dermawan sedunia. Tidak peduli tanggal tua atau musim paceklik. Tidak pusing berapa orang teman yang ikut bersamanya. Dia selalu yang membayar makan dan minumnya. Pokoknya, orang ini paling jago kalau urusan mentraktir teman.

Suatu ketika, ada hal yang sangat penting sehingga salah satu sahabatnya mesti datang ke rumahnya. Sengaja tidak memberitahunya dulu, soalnya; kalau memberitahu dulu, kawan kita itu selalu mengajaknya ketemuan dimana gitu. Lalu makan dan minum dia yang bayarin seperti biasanya. Setelah mencari-cari, sahabatnya pun tiba dialamat yang dituju. Namun, dia setengah tidak percaya. Karena ternyata tempat itu tidak seperti dalam bayangannya. Setelah yakin jika alamat itu benar, maka dia pun mengetuk pintu dengan ragu. Dan. Ketika seseorang membuka pintu; keduanya sama-sama terkejut.

Tahukah Anda, apa yang membuat mereka terkejut?
Jelas sekali jika sang tuan rumah tidak mengira ada sahabatnya yang datang. Sebuah kedatangan yang tidak diharapkan sebenarnya. Sedangkan sang tamu terkejut karena tidak percaya jika sahabatnya yang terkenal dermawan dan royal itu tinggal di rumah seperti itu. Seperti itu bagaimana? Susah menjelaskannya. Tetapi, rumah itu sama sekali tidak menggambarkan cara penghuninya yang dengan sangat royal dan sering sekali mentraktir orang lain.

Jangan tanya nama dan lokasinya juga ya, jika saya menceritakan kisah lainnya. Kawan yang royal dalam mentraktir juga. Penampilannya selalu seru dan ceria. Sepertinya, dunia ini hanya diisi dengan tawa saja. Ringan banget deh ketika dia mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah dengan 5 angka nol dari dompetnya. Gesek kartu jika perlu. Top markotop deh pokoknya.

Tidak sengaja juga. Ketemu dengan seseorang yang entah bagaimana terhubung dengan kawan kita itu. Biasa dong, ngobrol ngalor ngidul “Oh Pak Blablabla….” Begitu kan. “Iya anaknya satu sekolahan sama anak saya.” Katanya. “Istrinya juga teman saya waktu di SMP dulu….” Obrolan pun berlanjut. Sampai akhirnya keluarlah informasi yang tanpa diminta namun menunjukkan betapa kehidupan sebenarnya di rumah kawan itu sama sekali bertolak belakang dengan gaya hidup dan keroyalannya kepada teman-teman diluaran.

Jangan tanya kasus lainnya lagi ya. Cukup 2 itu saja untuk membuat kita yang mupeng banget untuk selalu dibayarin orang ini sadar bahwa; boleh jadi, sebenarnya orang yang selalu mentraktir kita itu lebih membutuhkan dari pada diri kita sendiri. Jika kita sayang kepada teman, sebaiknya mulai sekarang dikurangi deh ngarep ditraktir melulu itu. Karena kita tidak tahu kondisi keuangan yang sebenarnya dari teman kita itu.

Sekarang, coba Anda renungkan kalimat ini. “Habis gimana dong,” katanya. “Kalau gue nggak traktir, nggak ada orang yang mau berteman dengan gue……” Renungkan sekali lagi kalimat itu. Dan bayangkan, seandainya kita ini adalah orang yang menyebabkan seseorang memaksakan diri untuk selalu mentraktir kita, hanya karena dia ingin berteman dengan kita. Betapa buruknya ya, cara kita memilih teman. Dimana nurani kita jika demikian?

Baiklah.
Sekarang. Bagaimana seandainya kita yang termasuk tukang traktir itu? Kita yang takut tidak punya teman jika tidak mentraktir. Kita yang khawatir dijauhi oleh orang lain jika tidak mentraktir. Bagaimana jika semua itu adalah gambaran tentang diri kita sendiri?

Sahabatku. Ketahuilah bahwa pertemanan yang terbaik adalah yang datang dari ketulusan. Bukan dari tuntutan atas pemenuhan aspek-aspek material belaka. Maka jika kita hanya mau berteman dengan orang yang suka mentraktir kita. Atau, jika orang lain hanya mau berteman dengan kita hanya karena kita selalu mentraktirnya. Maka, pertemanan kita menjadi sangat rapuh. Boleh juga untuk direnungkan kembali; apakah kita benar-benar hanya mau berteman jika orang lain mau mentraktir? Kan tidak ya? Maka, kemungkinan besar orang lain juga mau kok berteman dengan kita sekalipun kita tidak selalu mentraktir mereka. Iya kan?

Jadi, tidak perlu lagi takut kehilangan teman hanya karena kita tidak lagi royal mentraktir. Memenuhi kebutuhan anak-anak kita, istri atau suami kita, dan keluarga terdekat kita merupakan prioritas nomor satu. Jika kebutuhan dasar keluarga kita sendiri saja masih sering kalang kabut, maka itu pertanda bahwa kita belum layak masuk kedalam kelompok tukang traktir.

Jadi, tidak boleh traktir-traktiran nih?
Bukan begitu. Mentraktir sekali-sekali bolehlah. Tetapi, mesti sesuai dengan takaran dan kewajaran. Mengharap orang lain terus mentraktir kita, bukan sikap seorang teman sejati. Khawatir orang lain menjauh karena kita tidak sanggup mentraktir lagi juga bukan ciri pribadi dewasa. Sesekali mentraktir. Dan sesekali ditraktir. Nah, itu keren. Tetap sehat juga untuk dompet masing-masing. Dan juga bisa membuat hubungan pertemanan menjadi semakin baik.

Memangnya nggak boleh mentraktir terus?
Ada dua kondisi dimana mentraktir terus bisa dimaklumi. Pertama, ketika seseorang menjadi tuan rumah atau pihak yang mengundang. Selama kita yang mengundang, ya wajar dong setiap kali orang datang keundangan itu kita yang traktir. Begitu juga sebaliknya. Kita boleh berharap orang yang mengundang mentraktir kita. Kecuali, ada kecualinya nih. Kecuali dia bilang ‘BM ya…’. Alias, Bayar Masing-masing. BYOP kalau orang-orang bule bilang. Bring Your Own Plate. Maksudnya, makanan elo ya elo tanggung sendiri dong. Di kampung saya, BYOP itu diterjemahkan sebagai ‘membawa makanan dari rumah masing-masing untuk pergi piknik dengan orang lain. Lalu kita kumpulkan semua makanan itu. Untuk kemudian disantap bersama-sama.

Kondisi kedua yang wajar jika seseorang terus tampil sebagai tukang traktir adalah; jika orang itu memang sudah jelas-jelas lebih tajir dan lebih mampu dari orang-orang yang selalu ditraktirnya. Misalnya, jika saya pergi makan malam dengan Om saya, ya beliaulah yang membayarnya. Jelas dong. Karena beliau uangnya bejibun. Nggak bakal berkurang hak keluarganya hanya karena mentraktir saya. Dan kalau saya yang memaksa bayar juga beliau bisa tersinggung. Tapi jika saya makan bersama keponakan saya. Maka mesti saya yang selalu bayar. Kecuali dia merayakan gaji pertamanya tentunya.

Gampanglah jika kita atau teman kita berada pada salah satu kondisi diatas itu. Menjadi tuan rumah, atau memang sudah tajir beneran. Tapi. Jika kita atau teman kita itu tidak memiliki salah satu dari kedua kriteria itu, maka sebaiknya kita tidak memaksakan diri untuk selalu memposisikan diri sebagai tukang traktir. Dan kita, tidak boleh terlalu berharap selalu ditraktir. Gantian aja. Atau BM. Cara seperti itu akan lebih menjamin pertemanan kita menjadi lebih tulus. Dan tidak ada hak keluarga di rumah yang – entah disadari atau tidak – sudah teralokasikan kepada sesuatu yang bukan prioritas terpenting.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 22 Januari 2013
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Mentraktir itu bagus. Selama dilakukan tanpa keterpaksaan. Dan tidak mengurangi kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga yang ada di rumah.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Pesan sponsor: Berikan training leadership kepada para leader di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership yang bisa di tailor-made. Kualitas? Dibandingkan dengan trainer luar negeri juga berani. Harga? Hmmh…. Gue banget! Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

IN-HOUSE TRAINING LEADERSHIP IN PRACTICE”. Program in-house training 2 hari untuk supervisor dan manager yang menitik beratkan pada pembahasan kasus AKTUAL kepemimpinan, CONTOH cara mengatasinya, serta PRAKTEK bagaimana melakukannya. Sangat cocok sekali untuk perusahaan yang ingin memberikan pelatihan kepemimpinan praktis bagi para leader mudanya. Agar mereka bisa menjalankan tugas kepemimpinannya sehari-hari dengan lebih baik daripada sebelumnya. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

IN-HOUSE TRAINING “ADAPTING TO CHANGE”: Diatas kertas, rencana perubahan itu selalu mudah untuk dibuat. Tapi dalam pelaksanaannya, tidak semua orang bisa diajak untuk berubah. Sikap dan respon karyawan terhadap perubahan itu justru menjadi titik kritisnya. Sehingga membuka kesadaran karyawan untuk menerima perubahan menjadi sangat penting sekali. Kalau perusahaan Anda sedang menerapkan proses perubahan, maka para karyawan Anda perlu mendapatkan training ADAPTING TO CHANGE ini. Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327 (COCOK UNTUK PERUSAHAAN YANG SEDANG MELAKUKAN PERUBAHAN)

IN-HOUSE TRAINING ”TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM”. Tak ada karyawan yang direkrut secara asal-asalan. Apalagi di perusahaan yang system system seleksinya ketat sekali. Artinya, para keryawan itu mempunyai potensi diri yang tinggi. Namun, mengapan kebanyakan hanya bisa menjadi karyawan yang biasa-biasanya saja meskipun sebenarnya mereka punya potensi diri yang sedemikian tinggi tadi? Mungkin karena mereka belum bisa mengkonversi potensi tinggi itu menjadi tingkat profesionalisme yang juga tinggi. Jika Anda ingin membantu karyawan di perusahaan Anda untuk melakukannya, boleh dimualai dengan mengadakan training berdurasi 1 hari ini untuk mereka. Dipandu langsung oleh Dadang Kadarusman. . Untuk reservasi, hubungi 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327

CARA BELI BUKU DADANG

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:mysteryreadersinc.blogspot.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

2 comments

  1. Hendrawan Setyo Wibowo

    Salam, ini dengan hendrawan pak

    Tulisan yang menarik pak, sayang endingnya kurang mengena hehehehehe….coba endingnya, alasannya yg suka traktir itu apa?krn dari rumah udah gak layak masih aja traktirin orang……kalo endingnya, jangan sering2 minta ditraktir itu sih tulisan banyak pak, cuman moralnya yg lebih mengena lagi gitu hehehehe

    but any way, saya cuman bisa komentar, yang sulit adalah yg nulis dan menjalani….tulisannya menarik juga.

    Salam

  2. Dadang Kadarusman

    Hi Pak Hendrawan,
    Wah sayang sekali keinginan Bapak itu belum bisa saya penuhi. Soalnya, saya kan memang bukan termasuk tukang traktir, sehingga tidak tahu persis alasan mereka yang sebenarnya. Mungkin nanti ada teman kita yang dapat membantu menambahkanya. Terimakasih atas komentarnya.

    salam, dadang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*