Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Kesaksian Kecil Natin / Memahami Atau Memaklumi

Memahami Atau Memaklumi

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Hujan kembali mengguyur seharian. Setelah sembahyang magrib itu, Ayah masih harus pergi untuk suatu urusan. Ketika mobilnya melintasi sebuah pertigaan, Ayah mesti bersabar mengantri giliran dengan mobil-mobil lain dari arah yang bersilangan. Nggak ada polisi cepek, kalau hujan turun sederas itu. Mungkin karena tidak sesuai antara upahnya dengan usahanya. Atau mungkin mereka sudah kedinginan banget. Sehingga tidak sanggup lagi melanjutkan perannya mengatur lalu lintas. Menunggu polisi beneran? Wah, kayaknya terlampau berlebihan. Terus sampai kapan Ayah mesti menunggu giliran antrian itu?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

“Sabar Ayah… “ begitu kata Adik Z.
Natin hanya diam saja. Memperhatikan bagaimana wajah Ayah berubah antara senang mendengar kata-kata malaikat mungil itu. Sekaligus kesal dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Tapi Ayah kan nggak bisa apa-apa lagi selain menunggu saja. Sabar…. Katanya dalam hati. Menirukan bisikan yang sekali lagi dikatakan oleh Adik Z.

Sudah belasan tahun Ayah mengalami kemacetan lalu lintas Jakarta. Kenapa tidak bisa sabar kali ini? Bukankah setiap hari juga begitu? Tapi Ayah merasa bahwa mestinya saat itu lalu lintas tidak seperti itu dong. Natin juga menyadari kalau kadang-kadang kita memang suka dihinggapi oleh ketidaksabaran secara akut. Bukan yang kronis. Asalnya sih sabar-sabar saja. Tapi, ketidaksabaran langsung tersulut oleh suatu keadaan tertentu yang tidak sesuai dengan harapan. Seperti serangan jantung yang bisa menimpa siapa saja kapan saja.

Hujan tidak juga mau kompromi. Tidak bisa juga berharap pada polisi. Maka Ayah pasrah saja ketika arus kendaraan dikuasai oleh jalur paling dominan dimana antrian kendaraan disitu sepertinya tidak mau memberi kesempatan kendaraan dari jalur lain mendapatkan giliran. Tapi, Ayah bisa apa? Kalau tidak mau sabar juga malah jadi kesel dihati. Sudah mah jalanan dimonopoli kendaraan dari jalur lain. Rasa kesal hanya membuat ruginya berlipat-lipat beberapa kali. Syukur akhirnya Ayah menyadari hal itu. Lalu Natin melihat air muka Ayah berubah menjadi cerah lagi. Ayah. Sudah bisa menerima keadaan itu dengan lapang dada. Hingga suasana didalam mobil pun kembali ceria.

Setelah menunggu sekian lama. Akhirnya arus mobil yang memonopoli itu longgar juga. Habis semua antriannya. Sehingga kini giliran Ayah melintas dipertigaan itu. Ketika moncong mobil Ayah sudah setengahnya memasuki jalur utama, tiba-tiba saja dari arah kanan jalur bersilangan itu muncul mobil lain yang ngebut dan memotong jalur berkendara Ayah. Tabrakan pun tidak bisa dihindari jika Ayah tidak cepat-cepat menginjak pedal remnya. Ayah berhasil melakukan antisipasi. Mobil yang memaksa itu pun lolos dari tumburan, lalu melaju dengan kecepatan tinggi.

Bukan juga Ayah kalau membiarkan kesemena-menaan tanpa makian. Meskipun tidak ada isi kebun binatang yang keluar dari mulut Ayah, tapi kalau sampai orang itu mendengar makian Ayah pasti dia akan balik marah. Apalagi dengan bunyi klakson mobil Ayah yang melengking panjaaaaaaang dan kerahaaaas sekali. Bunyi klakson itu cukup bisa mewakili dampratan Ayah kepada pengendara yang ugal-ugalan itu.

“Sabar Ayah….” Begitu kata Adik Z sekali lagi.
“Ayah sudah kurang sabar apa coba?” protes Ayah. Seperti anak-anak yang merasa sudah selesai mengerjakan PR tapi masih disuruh belajar terus sama Mama. Kesalnya sampai ke ubun-ubun. “Kalau sampai tabrakan, gimana? Kurang ajar sekali orang itu…..”

“Emangnya Ayah tahu kenapa orang itu melakukannya?” tanya Adik Z.
“Egois.” Jawab Ayah. “Begitulah jadinya kalau orang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.” Ayah masih terlihat emosi. Meskipun diluar diguyur hujan, tapi Natin bisa merasakan suasana didalam mobil Ayah yang gerah. Bukan dalam mobil, tapi didalam hati Ayah.

“Ayah nggak tahu kan kalau orang itu sedang dalam keadaan darurat?’ Adik Z seperti sedang menggedor-gedor benteng pertahanan Ayah.

“Itu keadaan darurat dari Hong Kong namanya…” Ayah tetap saja ketus menjawabnya.
“Ayah ingat nggak, waktu Mama mengalami perdarahan dari kandungannya?” Tanya Adik Z lagi.

Wajah Ayah kelihatan sekali berubahnya. “I-iya sih. Tapi….”
“Masih ingat seperti apa Ayah mengendarai mobil waktu membawa Mama ke rumah sakit?” timpal Adik Z.

Skak Mat deh buat Ayah. Kata-kata Adik Z membuat dirinya tidak berdaya. Kali ini benak Ayah menerawang kepada kejadian diakhir bulan desember tahun 2008. Ketika itu Mama yang sedang hamil mengalami perdarahan hebat dan pecah air ketuban. Padahal kami sedang berada di luar kota. Ingatan Ayah kembali memutar semua rekaman yang ada dibenaknya. Dan sekarang Ayah bisa melihat kembali cara dirinya sendiri berkendara ketika itu. Lampu merah diterobos. Mobil orang lain disalip. Klakson melengking-lengking supaya angkot minggir untuk memberi jalan. Untung kejadiannya subuh-subuh. Sehingga belum banyak pengendara lain yang tersakiti, atau secara terpaksa Ayah ambil alih haknya. Ketika itu, Ayah tidak merasa tindakannya salah. Ayah merasa harus melakukan itu. Demi menyelamatkan nyawa Mama dan janin mungil dalam kandungannya.

“B-baiklah…” kata Ayah. “Sekarang Ayah bisa memahaminya.” Tambahnya. “Mungkin orang itu sedang menghadapi situasi darurat. Maafkan Ayah ya….” Katanya lagi.

“Minta maafnya jangan kepada kita-kita dong Yah…” balas Adik Z. Natin hanya senyum-senyum saja.

“Hlo.” Wajah Ayah mengkerut. “Jadi Ayah mesti minta maaf sama siapa?” protesnya.
“Ya sama orang yang Ayah marahin itu dong Yah…” jawab Adik Z dengan polosnya.
“Haaaah????” Mulut Ayah nyaris seperti ikan hiu yang hendak menangkap mangsanya. “Gimana caranya? Masak sih Ayah harus mencari orang itu? Lagian kan dia juga belum tentu benar-benar dalam keadaan darurat….” Protes Ayah semakin berkepanjangan. “Bisa aja dia orangnya emang egois kan?”

“Mungkin juga sih,” jawab Adik Z. “Tapi kan belum tentu juga dia benar-benar egois…” tambahnya. Natin geli melihat raut wajah Ayah yang seperti adonan martabak habis dibanting di atas papan.

“Ya fifty-fitty lah…” kata Ayah.
“Apa-an sih fiftififti itu Yah…?” wajah polos Adik Z membuat Natin tidak kuasa menahan tawa.

Ayah menatap wajahnya yang putih bersih. Matanya berbinar memancarkan kesucian pribadi yang masih suci lagi murni. Lalu dengan gemas Ayah mengaduk-aduk rambutnya. “Fifty-fifty sayangku,” katanya. “Artinya, kamu benar. Bisa jadi orang itu sedang menghadapi keadaan darurat. Dan bisa jadi juga memang dia terlalu mementingkan dirinya sendiri.”

“Kalau begitu…” kata Adik Z. “Ayah fiftififti juga dong….”
“Hloh… kok Ayah fifty-fifty juga sih?” Ayah kembali protes.
“Artinya, Ayah bisa saja salah dong mengira orang itu egois….” Jawabnya.
“Iyyyaaa, iyyya. Terus sekarang Ayah mesti cari orang itu buat minta maaf, gitu?” ketus Ayah.
“Kan waktu itu Ayah sendiri bilang: Kalau kita salah, kita kan harus minta maaf Yah…” Skak-mat lagi buat Ayah.

“I-Iyyaaa… t-tapi…” Ayah kehabisan akal. “Tapi… gimana caranya Ayah minta maaf. Kan nggak tahu juga orangnya yang mana?”

“Ya sudahlah Yah… nggak usah minta maaf…” timpal Adik Z. “Dia sudah memaklumi Ayah kok kalau Ayah nggak bisa minta maaf kepadanya.”

“Ya mesti dong Z, masak sih dia kok nggak paham kalau Ayah nggak mungkin cari-cari dia hanya untuk bilang; ‘Maaf yaa tadi saya memaki-maki kamu gara-gara kamu menyerobot jalanku…’” Mulut Ayah menyon-menyon so iye. Kayaknya Ayah nggak rela banget deh. “Ya mestilah dia memaklumi Ayah.” Omelnya lagi.

“Nah, sekarang giliran Ayah yang memaklumi dia…” Adik Z nggak ada matinya.
“M-maksudnya…..?” Ayah memperlihatkan wajah pilon.
“Iya.” Balas Adik Z. “Ayah juga kan mesti memaklumi dia dong. Seandainya ternyata dia tidak benar-benar sedang darurat…..”

Deg.
Jantung Ayah seperti sedang kena tumbuk. Tiba-tiba saja Ayah seperti disadarkan. Bahwa memang ada 2 kemungkinan jika seseorang melakukan tindakan seperti tadi. Mungkin dia sedang dalam situasi darurat seperti yang pernah Ayah alami ketika Mama mengalami pecah ketuban. Kita mesti memahami kedaruratan seperti itu sehingga sama sekali tidak keberatan jika orang itu melakukannya. Bakal jauh kita dari rasa sakit hati. Apalagi sampai memaki-maki.

Kemungkinan kedua. Orang itu memang egois. Sekalipun begitu, tidak perlu juga membuang waktu atau energy untuk melayani keegoisan seperti itu. Sudahlah ikhlaskan saja. Perasaan didalam hati Ayah pasti akan tetap tenteram. Don’t sweat the small stuffs. Nggak usahlah diri kita diribetin oleh urusan-urusan sepele seperti itu. Lupakan saja.

“Sabar Ayah…. Bukan melupakannya….” Pernyataan Adik Z kembali menyentak sumbu kesadaran Ayah. “Ayah boleh ingat terus kok.” Tambahnya. “Tapi hadapi aja dengan sabar…” katanya.

Natin mengamini nasihat Adik Z untuk Ayah. Sambil membacakan firman Tuhan dalam surah 2 (Al-Baqarah) ayat 153: . “Wahai orang-orang yang beriman. Mohonlah pertolongan kepada Tuhanmu dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah selalu menyertai orang-orang yang sabar…..”

Mata Ayah berkedip-kedip beberapa kali. Mulutnya agak memonyong sedikit. Dan setelah itu. Ayah manggut-manggut. “Iya…” katanya. Mantap sekali. “Ayah mesti belajar untuk lebih banyak bersabar…” tambahnya. Hening sejenak. Lalu….“Let’s go. Yeeee-haaaaaaaa!” teriak Ayah. Udara didalam mobil kami pun terasa sejuk lagi. Seperti sejuknya udara di luar yang terus menerus disirami langit. Seperti sejuknya hati Ayah yang diliputi oleh kesabaran. Karena sekarang Ayah sudah punya dua pilihan. Antara memahami. Dan memaklumi perilaku orang lain yang kurang menyenangkan. Benar. Ternyata Tuhan bersama orang yang sabar. Sehingga setiap kali bersabar. Setiap kali pula Tuhan menghadiahkan ketenteraman. Dan ketenangan. Kedalam sanubari kita. Yang paling dalam.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 7 February 2013
Leadership and Personnel Development Trainer
Call him: 0812 19899 737 (PIN BB: 2A495F1D)

Catatan Kaki:
Kita tidak bisa memaklumi tindakan orang lain, sebelum kita mengalaminya sendiri. Atau memahami situasi yang tengah dihadapi oleh orang itu. Maka kesabaran sangat diperlukan untuk membuat jiwa kita tetap tenang.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:cartoo-icio.ru

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.