Monday , February 24 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Mengeliminasi Atasan

Mengeliminasi Atasan


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Kompor. Mungkin itu yang terbersit dalam benak Anda ketika membaca judul artikel ini. Masak sih kok ada soal ‘mengeliminasi atasan’. Memangnya sebagai bawahan kita bisa mengeliminasi atasan? Kita kan biasanya tidak berdaya dihadapan para atasan. Sekalipun atasan tersebut tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Malah kita yang para bawahan ini yang dieliminasi oleh atasan. Kalau bawahan yang mengeliminasi atasan? Wah, nggak kebalik tuch cara berpikirnya?. Mungkin, memang saya suka kebalik-balik dalam berpikir. Tapi, banyak pikiran yang kebalik justru sesuai dengan apa yang kita alami dalam kehidupan nyata. Bahkan, ada banyak keruwetan yang hanya bisa diselesaikan dengan cara berpikir kebalik-balik. Contohnya, ya soal mengeliminasi atasan itu.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Salah satu hal yang jamak terjadi di dunia kerja kita adalah anak buah yang gemar sekali mengeluhkan perilaku atasannya. Ini bukan soal ngerumpi yang nggak jelas. Melainkan membicarakan atasan secara obyektif. Kenapa ada banyak training kepemimpinan itu kan sebenarnya merupakan sebuah pengakuan, bahwa; memang banyak atasan yang belum terampil menjalankan tugasnya. Makanya mereka perlu ditraining lagi. Perusahaan mengakui jika para managernya belum mencapai tingkat tertinggi dari kualitas kepemimpinan dirinya. Artinya, perusahaan juga menyadari kekurangan yang sering dirumpikan oleh para anak buah di warung kopi itu.

Tahukah Anda bahwa para manager atau pemimpin yang ikut kelas training saya itu sebenarnya menyadari juga bahwa dirinya itu memang masih butuh meningkatkan diri. Apalagi jika Anda sering membaca artikel-artikel saya yang berkode “L” alias “Leaderism”. Pastinya Anda tahu kira-kira cara berpikir saya, serta aspek apa saja yang saya bicarakan dikelas training. Dan saya, bisa sangat lugas soal itu. Sehingga dikelas training saya sering kali para atasan itu mesam-mesem atau tertawa karena merasa bahwa apa yang saya katakan itu menurut mereka ‘GUE BANGET!’. Artinya, para atasan itu pada umumnya sadar kok jika mereka masih punya kekurangan yang harus ditingkatkan. Ya manusiawilah kan.

Makanya, jika Anda melihat ada kekurangan pada atasan Anda; tidak perlu terlampau dirisaukan. Atasan Anda juga manusia kan. Pasti ada kurangnya. Fokus saja kepada aspek-aspek positifnya sehingga dalam interaksi dengan atasan itu, Anda bisa tetap produktif dan – ini juga penting – hati Anda tidak merasa tertekan. Banyak loh orang yang masih sanggup mencapai target-targetnya. Namun hatinya merana. Merasa dijajah oleh atasannya. Atau merasa disepelekan. Bahkan ada pula yang merasa terhina. Emang enak bekerja dalam perasaan seperti itu? Enggak banget kaleee. Jadi, bagaimana dong solusinya? Ya sudah. Maklumi saja sisi lemah manusia atasan Anda. Maka Anda pun akan tetap bahagia.

“Masalahnya, kelakuan atasan saya itu bukan semata-mata karena kelemahan sebagai manusia,” begitu mungkin Anda merasa. “Dia itu memang perangainya buruk. Kelakuannya busuk. Mengaggap anak buahnya seolah bukan manusia. Pokoknya, tidak bisa dimaklumi deh!”

Emangnya ada atasan yang seperti itu?
Ada banget. Bahkan yang melecehkan secara seksual juga ada.
Nah, untuk perilaku tidak manusiawi seperti ini hanya ada satu syarat penerimaan yang boleh kita berikan, yaitu; atasan itu mesti bertaubat. Taubat itu artinya menyadari perilaku keji dan nistanya. Kemudian tidak pernah melakukannya lagi. Bagaimana jika orang itu dengan arogannya tetap keukeuh saja seperti itu? Gampang. Eliminasi saja.

“Iya itu masalahnya. Bagaimana mengeliminasi atasan kita?” Back to square one kan? Kadang-kadang, melapor kepada HRD tidak membuahkan hasil. Melapor kepada atasan yang lebih tinggi tidak ditanggapi. Lagipula, siapa yang berani ambil resiko melaporkan atasan yang berperilaku buruk? Bisa-bisa malah kita sendiri yang kena akibatnya. Sahabatku. Ada kalanya kita yang mesti berani meninggalkan dia. Ya. Anda yang mesti pergi. Jika Anda tidak bisa mengubah keadaan disana.

Halah. Memangnya segampang itu mencari pekerjaan baru? Well, gampang-gampang susah sih. Mencari pekerjaan baru itu memang susah bagi ‘orang-orang yang rata-rata’ saja. Tapi, sungguh mudah bagi mereka yang istimewa. Bagusin saja kualifikasi dan keterampilan kerja Anda. Maka Anda pun tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Daripada terus bekerja bersama atasan yang tidak manusia itu? Salah-salah, harga diri Anda juga bisa jadi korban berikutnya kan? Makanya, hayoh. Giat bekerja. Belajar. Dan berlatih terus. Biar Anda semakin terampil dan semakin ‘laku’ dipasar tenaga kerja.

Kok solusinya malah merugikan perusahaan sih?
Hmmh… begini. Pada dasarnya, perilaku buruk seorang atasan itu ‘sudah diketahui’ oleh orang lain. Sudah menjadi rahasia umum. Betul tidak? Hanya saja, tidak ada orang yang mau atau berani mengambil tindakan. Top management juga sudah tahu kok. Mereka kan bukan orang yang buta tuli. Mereka tahu apa yang terjadi diperusahaannya. Namun mereka tidak terlampau ambil pusing dengan tingkah buruk seorang manager selama target-targetnya terus tercapai. Bagi top management, manager yang bisa mencapai target perusahaan itu asset penting. Sedangkan perilaku buruknya dianggap sebagai sesuatu yang ‘bisa diperbaiki’.

Sayangnya, tidak semua manager sadar dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. Ada saja – dalam jumlah yang sedikit – yang ndablek karena yakin bahwa selama bisa menghasilkan angka-angka yang diminta perusahaan dia merasa posisinya akan tetap aman. Padahal, semua orang juga paham bahwa pencapaian seorang manager itu tidak didapat dari keringatnya sendiri. Melainkan melalui orang lain yang menjadi anak buahnya. Maka tanpa anak buah itu, mereka tidak lagi bisa memenuhi tuntutan perusahaan. Dia tidak lagi bisa bertahan dengan sikap arogannya. Sehingga mau tidak mau, dia mesti memperbaiki tabiat buruknya. Jika tidak, maka perusahaan tidak lagi akan menganggap dia sebagai asset penting seperti sebelumnya.

Maka jika seorang atasan bertabiat buruk itu ditinggalkan oleh anak buahnya yang bagus-bagus, dengan sendirinya kinerjanya akan menurun drastis. Dan itu, membuat posisinya tidak seaman dulu lagi. Sehingga akan berusaha untuk memperbaikinya. Ini baik buat perusahaan, baik buat anak buahnya, dan baik untuk dirinya sendiri.

Pertanyaannya adalah; apakah Anda siap untuk pergi dari tempat itu? Ya kalau Anda sudah tidak lagi bisa mentolelir periku buruk atasan dan tidak bisa mengubahnya; maka Anda rugi sendiri kalau masih tinggal disitu. Namun kalau Anda memilih untuk tetap tinggal disitu dengan segala konsekuensinya itu, maka artinya perilaku atasan Anda itu tidak seburuk yang Anda sangkakan. Buktinya apa? Buktinya; hal itu masih dalam batas tolensi Anda, kan?. Nah, jika begitu keadaannya; maka mendingan Anda terus fokus kepada pencapaian tinggi pribadi Anda. Sekaligus melepaskan diri dari pikiran dan prasangka yang selama ini Anda rasakan.

Pihannya ada pada Anda kan? Benar. Karena Anda sendirilah yang menjadi nakoda bahtera karir Anda. Bukan atasan Anda. Diri Anda sendirilah yang menentukan arahnya. Jika Anda memilih untuk pergi, pergilah dengan tekad yang bulat, persiapan yang cukup, dan perhitungan yang matang. Jika Anda memilih untuk bertahan, maka tinggallah disana dengan sepenuh hati, kesiapan untuk menghadapi gaya memimpin atasan, dan kekuatan untuk ‘melindungi diri’ dari efek negatifnya. Sehingga apapun pilihan Anda, akan membuat Anda tetap ‘terjaga’ dari perlakuan buruk atasan. Dan tetap senang hati dalam menjalani hari-hari kerja Anda. Insya Allah.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 31 Mei 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Bagusin deh kualifikasi dan keterampilan kerja Anda. Supaya lebih mudah bagi Anda untuk mencari tempat lain, jika suatu saat kelak Anda menghadapi situasi buruk yang tidak bisa Anda tolelir lagi.

Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:michaelspiro.wordpress.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*