Monday , February 24 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Perempuan Pun Layak Memimpin

Perempuan Pun Layak Memimpin


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Dalam konteks perusahaan atau organisasi bisnis, tidak ada lagi issue gender soal kepemimpinan. Jika memang mampu, Anda bisa menjadi manager. Direktur. Atau CEO. Tanpa mempermasalahkan apakah Anda lelaki atau perempuan. Tapi dalam kepemimpinan publik, soal gender ini masih sering menjadi batu sandungan. Bahkan, kandidat perempuan sering dipojokkan. Seolah-olah, hanya lelaki saja yang berhak untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin. Bukan rahasia umum pula jika penggiat penentangan kepemimpinan perempuan itu justru tokoh-tokoh atau kelompok-kelompok kaum muslimin. Setidaknya, begitulah kenyataan yang masih kita saksikan hingga sekarang.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Sekalipun demikian, hiruk pikuk panggung politik telah mulai memungkinkan perempuan untuk tampil kedepan. Termasuk di partai-partai yang mengusung bendera Islam. Bagi partai-partai Islam, hal ini menjadi tonggak tersendiri. Pada dasarnya mereka, menganut kepercayaan bahwa perempuan tidak boleh dipilih menjadi pemimpin berdasarkan penafsiran dari hadits-hadits. Berbeda dengan partai-partai lain yang lebih terbuka. Sekalipun demikian, kita tidak perlu mempertanyakan apakah kesempatan yang diberikan oleh partai Islam kepada kader-kader perempuannya itu sungguh-sungguh datang dari penghargaan dan kepercayaannya kepada kaum perempuan? Ataukah hanya sekedar memenuhi keharusan mengajukan 30% calon pemimpinnya dari kalangan perempuan? Kita berhadap saja mereka bukan sekedar bermain dengan muslihat politik.

Saya ingin mengajak Anda untuk melihat akar persoalannya. Supaya kita bisa memiliki sudut pandang yang lebih baik. Sehingga kita, bisa menempatkan perihal kepempimpian perempuan ini pada konteksnya yang tepat. Bagi kaum muslimin, hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Hadits berisi nasihat Nabi untuk menjelaskan atau menguraikan ajaran Al-Quran sehingga lebih mudah dipahami dan dilaksanakan. Maka bagi kaum muslimin, hadits memiliki posisi penting. Oleh karenanya, ada dua aspek penting berkaitan dengan hadits. Pertama, kesahihan atau keaslian hadits itu. Dan kedua, pemahaman yang tepat dari pesan-pesan yang terkandung dalam hadits sahih itu.

Salah satu hadits sahih terkait kepemimpinan kaum perempuan ini tercatat dalam kitab Bukhari. Bunyinya seperti ini; “Suatu kaum, tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.” Hadits ini, tidak diragukan lagi kesahihannya. Berarti, kita boleh langsung fokus kepada aspek penting kedua yaitu; pemahaman yang bernar terhadap makna yang terkandung didalam hadits itu.

Pemahaman secara harfiah atau tekstual menjadikan kaum muslim berpendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Makanya, ada masa atau komunitas tertentu yang melarang bahkan mengharamkan perempuan menjadi pemimpin. Di Indonesia juga begitu. Setidaknya dimasa lalu. Kalau sekarang sudah banyak berubah, itu bukan karena berubahnya pemahaman umat Islam terhadap hadits itu, melainkan lebih karena tuntutan aturan pemilu yang mewajibkan setiap partai untuk mengakomodasi calon-calon perempuan minimal 30%. Jika kurang dari itu, maka mereka dianggap tidak memenuhi persyaratan. Memang, kepentingan politik bisa menggeser sudut pandang bahkan derajat keimanan seseorang atau sekelompok orang supaya tujuannya dalam berpolitik bisa dicapai. Politik cenderung melahirkan orang-orang hipokrit.

Sebenarnya, hiprokrasi politik semacam itu tidak perlu terjadi. Jika para tokoh muslim itu memahami dengan benar makna hadits Nabi tersebut. Memangnya, pemahaman mereka selama ini keliru? Bisa iya. Bisa tidak. Tapi, sudah sepatutnya kita terus menguji kebenaran-kebenaran yang selama ini kita yakini. Karena, tidak ada kebenaran yang mutlak dari manusia bukan? Termasuk kebenaran pemahaman terhadap hadits itu. Caranya bagaimana? Sederhana saja, yaitu; belajar memahami makna hadits itu. Artinya, belajar mengajukan pertanyaan ini; “Apa sih maksud Rasulullah menyatakan hal itu?” Tentu, kita tidak akan memperoleh jawaban yang mutlak atas pertanyaan itu. Karena kita tidak bisa mendengar langsung dari Rasulullah. Namun, kita bisa menarik nasihat beliau ke ranah pemahaman kontekstual. Dengan sudut pandang kontekstual, kita bisa menemukan 3 posisi kepemimpinan kaum perempuan.

Pertama, perempuan yang memegang tampuk kepemimpinan. Perempuan yang menjadi pejababat. Misalnya, Raja perempuan, Gubernur Perempuan, Bupati Perempuan. Dengan kata lain, secara mutlak perempuan menduduki posisi kepemimpinannya secara legal-formal. Tidak ada bukti bahwa pemimpin lelaki selalu lebih bagus daripada pemimpin perempuan. Padahal, salah satu tujuan sebuah kepemimpinan adalah untuk membawa kemakmuran bagi rakyat. Pertanyaannya adalah; apakah pemimpin lelaki dijamin lebih mampu menyejahterakan rakyatnya dari pemimpin perempuan? Sama sekali tidak. Oleh karenanya, maka jelas sekali jika hadits nabi itu tidak dimaksudkan untuk konteks seperti ini. Hadits itu, bukanlah larangan bagi perempuan untuk menduduki jabatan kepemimpinan secara legal-formal.

Kedua, perempuan yang merecoki kepemimpinan para lelaki. Yang menduduki jabatan formal sebagai pemimpin itu adalah lelaki tulen. Tetapi dalam menjalankan tugasnya, sang lelaki pemimpin itu direcoki oleh istri-istrinya. Para istri yang semestinya menjadi mendukung bagi suami, sering tergoda untuk mempengaruhi keputusan-keputusan para suami dalam menjalankan amanah kepemimpinannya.

Repotnya, banyak sekali suami yang bertekuk lutut dihadapan istrinya. Sehingga keputusan yang semestinya diambil atas kewenangannya sebagai seorang pemimpin itu tidak murni merupakan keputusan dirinya sendiri. Melainkan keputusan yang lahir dari bisikan-bisikan para istri. Menurut pendapat Anda, fenomena ini benar-benar ada; ataukah hanya hayalan saja? Ada banget. Dalam konteks ini, sudah mulai kelihatan jelas tuh; maksud Rasulullah dalam hadits itu. Artinya apa? Artinya, Anda para lelaki yang diberi amanah kepemimpinan; bertanggungjawablah. Dan bebaskanlah diri Anda dari dari pengaruh istri-istri Anda yang berusaha merecoki keputusan dan kewenangan yang Anda pegang sebagai seorang pemimpin.

Ketiga, perempuan yang menunggangi kepemimpinan para lelaki. Jika para istri adalah kandidat terkuat untuk merecoki kepemimpinan suaminya, lantas siapakah perempuan yang berperan dalam menunggangi para lelaki yang sedang memimpin? Tentu bukan menunggangi seperti naik kuda. Menunggangi ya mengambil alih kewenangan secara paksa atau melalui intrik-intrik jemari lentik. Plus, paras cantik. Dan, body menarik. Inilah jenis perempuan yang berpotensi untuk menunggangi. Banyak nggak, hal serupa ini terjadi? Sebetulnya tidak terlampau sulit menjawabnya. Cukup bercermin saja kepada kisah-kisah kehancuran raja-raja dimasa silam. Atau kejatuhan para pemimpin zaman modern. Atau keruntuhan dinasti-dinasti diseluruh penjuru dunia. Pada umumnya, mereka tersungkur oleh perempuan-perempuan yang bukan istrinya.

Sulit untuk membantah fakta itu. Apalagi kalau Anda menyimak pernyataan Pak Mahfud MD pekan silam. Beliau menyatakan bahwa “Banyak sekali keputusan pejabat di negeri ini yang dikendalikan oleh wanita-wanita nakal….” Jika Anda orang yang sudah dewasa, maka Anda paham maksud pernyataan itu. Sekarang mari kita simak, betapa sabda Rasulullah SAW dalam hadits itu relevan dalam konteks ketiga yang kita bahas ini. Di dunia ini, ada kecenderungan bahwa para lelaki yang menjadi pemimpin menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita-wanita penunggangnya. Persis seperti yang diisyaratkan Sang Nabi. Selama menduduki jabatan sebagai pemimpin itu, mereka menyerahkan kendali atas keputusan dan kebijakannya kepada wanita seperti yang digambarkan oleh mantan ketua MA itu. Ini lho, konteks yang digambarkan dalam hadits Nabi itu. Indonesia ini akan hancur, jika para pemimpin dan politisinya ditunggangi oleh wanita-wanita yang bukan istri sahnya.

Sahabatku, saya bisa saja keliru dalam memahami makna hadits Nabi itu. Apalagi hadits itu sudah sejak lama dijadikan pegangan oleh para ulama dan ormas maupun partai-partai berbasis Islam. Tapi mari kita sama-sama lihat kembali ketiga konteks kepemimpinan kaum perempuan yang saya uraikan diatas. Lalu, mari gunakan daya pikir yang jernih dan dengarkan suara nurani yang putih bersih. Maka kita, akan bisa memahami makna hadits itu dengan lebih baik. Memang, saya bisa saja salah memaknainya. Tapi, tidak ada jaminan bahwa pemahaman lain yang selama ini dipegang teguh oleh kaum muslimin itu juga mutlak benarnya, bukan?

Saya juga sadar jika sudut pandang ini tidak dibuat oleh ustadz atau kiyai ahli ilmu agama. Melainkan dari seorang muslim biasa saja, yang berprofesi sebagai trainer dalam bidang kepemimpinan. Namun, saya; bersedia mempertanggungjawabkan secara pribadi hasil pemikiran ini. Insya Allah, didunia dan diakhirat. Anda, tidak perlu mengikuti pemahaman saya; jika tidak meyakininya. Saya sudah bahagia kok, jika Anda berkenan mempertimbangkan kedua himbauan berikut ini:

Pertama, himbauan kepada para lelaki. Khususnya mereka yang dipercaya untuk memegang amanah kepemimpinan. Janganlah Anda menyerahkan amanah kepemimpinan itu kepada wanita-wanita yang menunggangi kepempimpinanmu. Sebab jika Anda melakukannya, maka peringatan Rasulullah dalam hadits itu akan menjadi kenyataan. Bangsa ini tidak akan bahagia, jika Anda sebagai pemimpinnya menyerahkan kepemimpinan itu kepada wanita-wanita yang menunggangi Anda.

Kedua, himbauan kepada para perempuan. Khususnya mereka yang dianugerahi dengan kemampuan yang tinggi sehingga sanggup memimpin umat. Majulah kedepan, tanpa perlu ragu. Sekarang, jalan sudah lebih terbuka bagi Anda untuk tampil sebagai pemimpin. Jika Anda mampu, dan Anda bisa lebih amanah daripada para lelaki; maka Andalah yang layak memimpin kami. Sebab dimata Allah, laki-laki dan perempuan itu setara. Dan yakinlah bahwa Allah lebih menyukai pemimpin yang adil, daripada sekedar mempermasalahkan soal-soal berbau gender.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 4 Juni 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Hancurnya suatu Negara, disebabkan oleh perempuan. Yaitu perempuan berakhlak buruk. Makmurnya suatu Negara, juga disebabkan oleh perempuan. Yaitu perempuan sholehah yang tanpa henti menyokong tugas-tugas kepemimpinan suami mereka. Serta mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Ingin mendapatkan kiriman “L (= Leaderism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar: internet

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.