Saturday , October 21 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Kesaksian Kecil Natin / Menolong, Bukan Ditolong

Menolong, Bukan Ditolong


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Pas hendak berangkat itu, Ayah mendapati ban belakang sebelah kirinya kempes. Masih ada sedikit angin sih. Tapi, nggak bisa digunakan perjalanan agak jauh. Bisa rusak nanti bannya. Kalau pas melintas jalanan yang berlubang bisa lebih parah lagi. Mungkin velg-nya juga akan rusak. Paling-paling bisa mencapai tempat tambal ban aja.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

“Ayo cepat, kita segera berangkat,” begitu teriak Ayah. Kakak dan Abang pun langsung memasuki mobil. Sesaat kemudian, kendaraan kami sudah mulai berjalan. Tapi pelan-pelan sekali. Soalnya Ayah takut kalau ban yang kempes itu jadi rusak.

Sekitar dua ratus meter dari gerbang komplek, ada tambal ban kecil. Biasanya disitulah Ayah menambah angin. Tapi pagi itu, bangak banget orang yang sudah pada antri. Kalau menunggu giliran sebanyak itu bisa terlambat sampai ke sekolah. Makanya Ayah memilih untuk jalan lagi. Toh didepan nanti ada tempat nambal ban langganan satunya lagi. Hanya sekitar 300 meteran lagi saja.

Dari jauh selang dan tabung oranye sudah kelihatan. Nggak ada yang antri sama sekali. Ayah bernafas lega karenanya. “Asyik. Disini bisa lebih cepat daripada yang tadi. “Begitulah Ayah berkata. Karena lokasi tambal ban itu ada disebelah kanan jalan, maka Ayah pun mengambil ancang-ancang menyeberang. Dan, sampailah kami didepan kios tambal ban yang sederhana itu. Ada masalah lain. Kios itu belum buka. Hanya kompresor dan selangnya saja yang disimpan diluar. Memang waktu itu masih pagi sekali. Jam enam saja belum.

“Wadduh, gawat nih…” kata Ayah.
“Emangnya kenapa Yah?” Abang penasaran.
“Kalau disini nggak ada, tambal ban lain masih jauh banget,” jawab Ayah. “Apa kita kembali lagi ke tambal ban yang tadi ya?” tambahnya. “Wah, nggak akan keburu dhing…” jawabnya lagi. Ayah itu aneh banget. Dia yang bertanya. Eh, dia juga yang menjawab pertanyaannya sendiri.

“Sudahlah, kita coba saja jalan terus. Siapa tahu nanti didepan ada lagi. Semoga saja ada yang dekat. Dan sudah buka pula.” Begitu Ayah berkata lagi. Anak-anak sih semuanya nyantai aja. Yang penting kan nggak terlambat ke sekolah. Beda sama Ayah. Yang mikirin gimana caranya supaya anak-anak tidak terlambat. Dan ban mobil itu tidak rusak. Tapi, bukan juga Ayah kalau tidak nekad. Dia jalan lagi dengan ban yang kempes.

Jarak beberapa ratus meter dari situ ada tambal ban yang sudah buka. Wah Ayah senang bukan kepalang. Tapi ternyata nggak ada orang yang jaga. Ayah sampai klakson beberapa kali. Hampir saja Ayah jalan lagi ketika tukang tambal ban itu akhirnya menghampiri. Sepertinya sudah nggak perlu dijelaskan lagi. Begitu melihat ban mobil Ayah kempes parah, tukang ban itu langsung paham apa yang harus dikerjakannya.

“Hadduh, kok jadul banget sih…” begitu Ayah berguman.
“Jadul apanya Yah?” anak-anak penasaran.
“Itu kok peralatannya nggak canggih. Tuh liat tuh, masak sih waktu nambah angin aja pentilnya mesti dililit pake kain dulu.” Ayah mengintip dari kaca sepion. Benar saja. Boleh dibilang semua peralatan sudah pada jadul. Alat pengukur tekanan pun masih manual. Pentil ditojos dengan logam berbentuk pensil terus dicabut lagi, kemudian dilihat ujungnya.

“Wah, lain kali nggak usah kesini lagi deh…” kata Ayah. Biasalah. Kalau Ayah merasa tidak puas dengan pelayanan orang lain, sukanya pengen nyari tempat lain. Ayah memang rewel kalau soal itu.

“Ya nggak apa-apa dong,” katanya. “Kita kan berhak mendapatkan pelayanan terbaik…”
“Emangnya kalau disini kenapa Yah?” Kata Adik Z.
“Yaaah, males aja. Masak sih semua peralatannya pada jadul gitu…” jawab Ayah.
“Emangnya kalau peralatannya jadul hasilnya jadi nggak bagus Yah…?” tanya Adik Z lagi.

Ayah nggak langsung menjawab. Keningnya berkerut sebentar. Lalu katanya; “Y-ya nggak juga sih. Sama aja kalau hasil akhirnya mah…” Suaranya terdengar pelan.

“Terus, kalau dengan peralatan yang jadul itu orangnya nggak melayani Ayah dengan baik, gitu?” pertanyaan itu datang lagi.

Ayah tercenung lagi. Sepertinya nggak gampang menjawab pertanyaan itu. Lalu…”Ngggak juga sih…” kata Ayah. “Tapi kan….” Ayah nggak meneruskan kalimatnya.

“Ayah pengen dilayani dengan peralatan yang serba canggih ya…?” Sekarang Abang yang menggoda Ayah.

“Yaa kita kan bayar Bang…” ketus Ayah.
“Loh, bukannya dia yang menolong Ayah untuk mengatasi ban gembos itu?” protes Adik Z.

“Iyya sih… “ jawab Ayah. “Tapi kan lebih baik kalau menolong orang itu dengan sempurna dong….” katanya. “Alatnya canggih. Orangnya juga baik.” Tambahnya.

“Jangan mentang-mentang membayar terus menuntut yang enggak-enggak dong Yah…” kata adik Z.

“Hloh, apa salahnya kalau kita ingin mendapatkan pelayanan yang paling baik?” balas Ayah.

“Nggak salah Ayah,” jawab adik Z.
“Nah terus?” protes Ayah lagi. “Ayah memang ditolong sama orang itu. Tapi kan nggak gratis juga. Kita bayar kok…..”

“Coba deh sekarang Ayah yang menolong orang itu,” adik Z menjelaskan lagi. “Tolonglah Yah orang itu dengan memberinya pekerjaan itu. Kalau semua orang mikirnya seperti Ayah nanti dia nggak dapat uang buat keluarganya….”

Ayah langsung diam mendengarkannya. Lalu kepalanya manggut-manggut. Tampaknya Ayah sudah mulai paham bahwa seharusnya Ayah menempatkan diri sebagai orang yang menolong orang lain. Bagaimana pun juga, kehidupan Ayah jauh lebih baik daripada tukang tambal ban itu. Mengeluarkan beberapa ribu rupiah buat Ayah nggak berarti apa-apa. Tapi buat tukang tambal ban itu sungguh bernilai.

Kalau soal alat kerjanya yang sederhana dan jadul itu…. mestinya tidak menjadikan Ayah kapok datang kesana lagi. Justru mestinya Ayah melihat bahwa orang itu sedang sangat membutuhkan rupiah demi rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan kalau ada lebihnya, pasti dia juga kan ingin membeli peralatan baru. Kalau sekarang masih memakai alat-alat jadul ya karena dia nggak punya yang baru.

Mestinya Ayah punya niat untuk menolongnya. Nggak usah kasih tip tambahan kalau tidak mau. Memaklumi kalau dia pake alat jadul aja pun sudah cukup. Toh hasilnya tidak jadi lebih buruk dibandingkan dengan kios ban besar yang menggunakan alat lebih canggih. Mestinya Ayah maklum ketika tukang tambal ban itu harus melilit pentil dengan kain. Artinya pentolan selang kompresor dia sudah dol. Kan nggak mungkin dia bisa menggantinya dengan yang baru kalau pelanggannya pada mikir seperti Ayah.

Hey Ayah. Jadilah penolong buat orang-orang seperti itu. Dalam serba terbatas pun mereka masih mau bekerja bersusah payah. Jangan dijauhi Ayah. Dekati saja. Biar mereka bisa mendapatkan nafkah.

Novel ”DING and HER GOKIL PAPA! ” Sudah bisa dibeli di Gramedia. Kalau malas ketoko buku, pesan diwebsite ini saja…..

“Iyya deh. “ kata Ayah. “Kita nggak boleh menghindari mereka hanya karena alat kerjanya jadul dan sederhana.”

Benar Ayah. Justru Ayah perlu sengaja mendatanginya. Bukan untuk ditolong. Tapi untuk menolong orang-orang seperti itu dengan pekerjaan kecil yang bisa dilakukannya. Toh uang Ayah tidak berkurang banyak hanya karena pertolongan-pertolongan kecil yang Ayah berikan kepada orang-orang kecil. Bukankah Allah telah senantiasa menolong kita dengan aliran rezeki yang lebih baik daripada orang-orang kecil itu?

NB: Akhir tahun kantor Anda mengadakan annual business meeting ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA bicara di forum itu? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 22 Oktober 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Wajar jika ingin dilayani dengan baik oleh orang-orang yang kita bayar. Tetapi, lebih baik kita menolong orang-orang kecil ini menggapai kecukupan hidup; melalui pekerjaan kecil yang kita berikan kepada mereka.

Ingin mendapatkan kiriman “KKN (= Kesaksian Kecil Natin)” – kisah pendek tentang kejadian nyata yang Natin saksikan yang layak dijadikan teladan – secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman? Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:skinnyandrichcoach.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.