Saturday , November 18 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Family / Jika Pasangan Sama-Sama Bekerja

Jika Pasangan Sama-Sama Bekerja


Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Sekarang mah sudah lazim kalau pasangan suami istri sama-sama bekerja kan? Kalau laki-laki sih memang sejak zaman purba bertugas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perempuan, pada awalnya bekerja karena dipaksa oleh keadaan. Misalnya karena penghasilan suaminya tidak mencukupi. Namun sekarang, banyak perempuan bekerja bukan karena tuntutan nafkah semata. Ketika nafkah sudah terpenuhi, ada kebutuhan lain yang sifatnya lebih pribadi. Tak masalah kan sebenarnya. Tapi, ketika sudah punya anak; apakah keadaannya masih sesederhana sebelumnya?

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Ketika baru menikah dulu, saya dan istri sama-sama bekerja. Saya bekerja di Jakarta. Istri di Bandung. Kami sama-sama punya peluang yang cukup besar dalam karir. Ada suka dukanya tentu saja. Dan sejauh itu sih bisa dijalani dengan saling pengertian dan pemahaman. Tak ada masalah berarti jadinya. Namun cara pandang kami berubah ketika istri saya hamil. Sejak saat itu, keadaan tidak seperti sebelumnya lagi.

Situasi itu bukan hanya kami yang mengalami. Boleh jadi, Anda juga kan? Saya percaya, semua pasangan bekerja yang dianugerahi bayi mungil buah cintanya tentu menghadapi dilema yang sama. Tapi keputusan kita mungkin berbeda. Ada yang memutuskan untuk terus bekerja. Dan ada pula yang memilih berhenti salah satunya. Tentu, setiap pilihan keputusan itu memiliki konsekuensinya masing-masing.

Pasangan yang memilih berhenti salah satunya mesti berhadapan dengan kemungkinan kalau inkam mereka berkurang. Bagaimana pun juga, tidak mudah menyesuaikan arus kas keluarga ‘double gardan’ yang berubah menjadi ‘single gardan’ kan. Belum lagi memikirkan kelahiran si kecil nanti. Pasti akan lebih banyak biaya yang dibutuhkan. Kadang-kadang situasinya juga tidak sesederhana itu. Terlebih lagi jika karir sang istri sedang moncer. Sungguh sayang banget kan kalau ditinggalkan. Makanya, banyak pasangan yang memilih untuk meneruskan karir berdua.

Selesaikah urusannya jika keduanya meneruskan untuk tetap berkarir? Tentu tidak. Karena tantangan lain pun bermunculan. Sebagai seorang lelaki, saya pribadi sering sangat kagum kepada ibu-ibu hamil yang tetap gigih berjuang dalam karirnya. Para lelaki yang secara fisik tidak pernah mengalami ‘interupsi’ pun tidak selamanya nyaman dengan pekerjaan. Kadang-kadang merasa berat juga. Kadang-kadang rasanya memang tidak berat sih, tapi ‘berat banget’ kan. Berat secara fisik maupun mental. Bagaimana pula rasanya jika kehidupan kerja ini dijalani oleh para perempuan hamil? Tidak bisa dibayangkan oleh kaum Adam.

Setelah sang bayi mungil lahir. Pasangan yang memilih menjadi ‘single gardan’ itu menghadapi masalahnya sendiri. Sedangkan pasangan yang tetap ‘double gardan’ punya tantangan lainnya. Walhasil, kedua pilihan itu ada plus dan minusnya masing-masing deh. Dari pengalaman hidup kita sendiri. Dan dari mengamati pasangan lain. Kita bisa lebih memahami bahwa yang paling penting itu bukanlah soal keputusan mana yang kita pilih. Apakah terus berkarya berdua. Atau salah satu saja. Bukan soal itu. Yang paling penting dan paling berat adalah; “Apakah kita bisa konsisten menerima konsekuensi atas pilihan keputusan yang kita ambil bersama itu atau tidak.”

Ketidaksiapan menghadapi konsekuensi itu berpotensi menjadi biang kerok percekcokan dengan pasangan. Baik yang menjadi single gardan, atau pun yang double; sama-sama punya peluang mengalaminya. Jadi, keputusan mana saja yang kita pilih sebenarnya tidak ada yang sempurna. Masing-masing ada lebihnya, sekaligus kurangnya juga. Masalahnya, manusia seperti kita; sering hanya mau menerima kelebihannya saja. Dan cenderung menolak kekurangannya. Padahal, kita tahu bahwa kekurangan dan kelebihan itu merupakan satu paket yang tidak terpisahkan.

Pasangan yang memutuskan salah satu berhenti bekerja, bisa berhasil. Bisa juga gagal. Banyak kok contoh pasangan yang kita lihat berhasil hanya dengan salah satunya saja yang bekerja kan. Mereka berhasil karena konsisten menerima konsekuensi atas keputusan yang mereka ambil. Benar sih, ada juga pasangan yang gagal. Mereka gagal, karena sering goyah ketika menghadapi konsekuensi tidak menyenangkan yang ditimbulkan dari keputusan itu.

Begitu pula pasangan yang memutuskan salah satu berhenti bekerja. Bisa berhasil. Bisa juga gagal. Banyak contoh yang mewakili keduanya disekitar kita kan? Keberhasilan mereka didapat dari konsistensi mereka dalam menerima konsekuensi atas keputusan yang mereka ambil. Dan kegagalan mereka, timbul karena mereka sering goyah ketika menghadapi konsekuensi tidak menyenangkan yang ditimbulkan dari keputusan itu.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Jika demikian, kunci keberhasilannya tidak terletak kepada keputusan yang kita ambil itu ya. Melainkan kepada komitmen kita dalam menjalaninya. Dan konsistensi kita dalam menghadapi konsekuensi yang ditimbulkannya. Hal ini menjadi kabar baik bagi setiap pasangan yang sama-sama bekerja. Kabar baiknya adalah; apapun keputusan yang kita ambil, baik adanya. Jadi, tidak tidak perlu lagi menyesali keputusan yang sudah dibuat dimasa lalu. Karena yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani dan menghadapi konsekuensinya.

Bagaimana jika kita tidak sanggup lagi menerima konsekensinya? Menyesali keputusan itu tetap bukanlah pilihan terbaiknya. Lebih baik kita lakukan revisi saja. Mumpung kita masih memiliki kesempatan sekarang. Memang, mungkin sudah agak terlambat sih. Tetapi, jika revisi keputusan itu bisa membuat masa depan kita lebih baik; mengapa membiarkan diri terikat dengan keputusan masa lalu yang kita sudah tahu jika itu keliru. Meskipun terlambat. Tapi masih ada waktu. Untuk memperbaiki keadaan yang terjadi karena kekeliruan yang kita buat dimasa lalu. Anda setuju?

Kantor Anda akan mengadakan training ya? Berani mengusulkan untuk mengundang DEKA menjadi trainernya? Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 30 January 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Penghalang paling besar dalam mengambil keputusan dengan pasangan adalah ego pribadi masing-masing. Selama kedua ego itu dibiarkan saling mengalahkan, maka selama itu pula kita lupa bahwa dulu kita pernah berjanji untuk sehidup semati. Dalam senang dan susah. Dalam suka dan duka. Berdua.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini:http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Pesan sponsor: Berikan training yang layak kepada karyawan di perusahaan Anda. Jika Anda temukan training provider yang bagus, silakan panggil yang Anda kenal. Tapi, kenapa cari yang lain lagi? Kan ada saya. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327. Saya punya banyak topik Leadership dan Pengembangan diri yang bisa di tailor-made. Call me at 0812 198 99 737 or Ms. Vivi 0812 1040 3327.

Dare to invite Dadang to speak for your company? Call him at 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:dorothydalton.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.