Wednesday , December 11 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Bisnis and Finance / Sekilas Asal Usul Pensiun

Sekilas Asal Usul Pensiun

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Bagian ke-2 (Bagian ke-1: Menghitung Dana Pensiun Kita).

Dalam workshop ‘Persiapan Pensiun’ yang saya fasilitasi, saya menemukan bahwa tidak seorang pun karyawan yang benar-benar ingin pensiun. Setelah kontrak pasca pensiunnya diperpanjang dua atau tiga kali pun mereka masih berharap untuk terus dipekerjakan. Ada beberapa orang yang bahkan menjawab: ‘sekuatnya’, ketika ditanya; “sampai kapan Anda masih boleh bekerja di perusahaan ini?”

Ingin mengundang DeKa untuk bicara di Perusahaan Anda? Hubungi Dadang di 0812 19899 737 atau Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Ada baiknya untuk mengetahui asal-usul yang melatarbelakangi ide tentang pensiun. Supaya kita lebih paham situasinya dan bisa menempatkan diri dalam konteks itu. The New York Times pernah mempublikasikan artikel yang ditulis oleh Mary-Lou Weisman mengenai hal ini.

Sebelum memasuki era industrialisasi, manusia tidak mengenal istilah pensiun. Setiap orang berkarya sampai akhir hayatnya. Ketika kondisi fisiknya tidak bisa lagi melakukan pekerjaan berat, maka perannya bergeser kepada fungsi-fungsi yang lebih ‘ringan’. Dengan begitu mereka tetap memberi kontribusi kepada komunitasnya. Mereka, menjalani peran itu sampai benar-benar tidak bisa bekerja lagi. Dalam konteks saat itu; meninggal dunia.

Pada 1882, Anthony Throllope menulis novel berjudul “The Fixed Period”. Dalam novel itu, Thony memperkirakan bahwa dimasa depan populasi manula bakal semakin banyak sehingga menjadi beban bagi masyarakat. Melalui novelnya dia mempekenalkan ‘jalan keluarnya’. Yaitu, memberi para manula kesempatan selama 1 tahun untuk berkontemplasi. Kemudian ‘ditidurkan’.

Dunia semakin berkembang. Begitu pula kondisi sosial kemasyarakatan kita. Cara pandang orang terhadap kaum senior pun bergeser. Sebagai ilmuwan Amerika terkemuka pada masanya, Cotton Mather berujar; “Bersikap bijaklah untuk menghilang atas kemauanmu sendiri…” Katanya;”Bergembiralah dengan pemberhentian. Bersikap senanglah ketika diberhentikan.”

Ketika terjadi Great Depression pada tahun 1930an, situasi ekonomi di Amerika dan dunia menjadi semakin parah. Banyak pabrik yang tidak lagi mampu bersaing dengan mempekerjakan karyawan yang telah digerogoti usia. Meskipun para manula itu sendiri paham, tapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kerelaan untuk kehilangan pekerjaan.

Ini menunjukkan bahwa problema yang menghantui warga senior yang bekerja tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Negara-negara maju pun sama saja. Intinya adalah; para warga manula tidak akan mau berhenti bekerja, kecuali kepada mereka diberikan tunjangan atau bayaran yang cukup untuk menjalani hidup.

Saya kemudian memahami bahwa ternyata; para peserta workshop persiapan pensiun itu pun sebenarnya sudah merasa lelah bekerja. Mereka sadar jika fisiknya sudah nggak sekuat dulu lagi. Mereka pun ingin beristirahat. Tetapi, keadaan ekonomilah yang menuntut mereka untuk terus bekerja. Bahkan dalam banyak situasi, mereka bersedia mengerjakan apa saja; asal tetap punya penghasilan.

Di tahun 1935 Francis Townsend mengajukan sebuah konsep yang kemudian dikenal sebagai “Townsend Plan” yang pada intinya mewajibkan karyawan untuk pensiun pada usia 60 tahun. Presiden Roosevelt menindaklanjuti proposal itu dengan membuat program Social Security. Melalui program itu, pemerintah memberikan tunjangan pensiun kepada kaum manula.

Mengenai besarnya tunjangan ini, berbagai literature punya angka yang berbeda. Tetapi pada intinya adalah; orang akan bersedia berhenti bekerja, jika kepadanya diberikan jaminan bahwa dia akan masih bisa mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhannya.

Ingin mengundang DeKa untuk bicara di Perusahaan Anda? Hubungi Dadang di 0812 19899 737 atau Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Pertanyaannya kemudian adalah; darimana uang yang akan diberikan kepada para manula itu diperoleh? Maka dari pertanyaan itu berkembanglah berbagai mekanisme dan skenario pensiun. Hingga yang kita kenal saat ini. Insya Allah kita lanjutkan pembahasannya pada bagian ke-3 ya.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 28 Mei 2015
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan kaki:
Setiap orang ingin terbebas dari kewajibannya untuk bekerja, sehingga dia bisa menikmati hidupnya dengan melakukan sesuatu yang disukainya. Tetapi, tidak seorang pun bersedia berhenti bekerja, jika itu berarti bahwa dia akan kehilangan sumber penghasilannya.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “BF (=Business & Finance)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Ingin mengundang DeKa untuk bicara di Perusahaan Anda? Hubungi Dadang di 0812 19899 737 atau Ms. Vivi at 0812 1040 3327

Gambar:jeffreyhill.typepad.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.