Friday , August 18 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Spiritualism / Meringankan Barang Bawaan

Meringankan Barang Bawaan

Barang bawaan itu, biasanya dianggap penting. Makanya mesti dibawa. Kalau nggak penting mah ngapain juga dibawa-bawa kan? Sekalipun penting, bawa bawaan juga menimbulkan beban. Yang tak jarang malah jadi menyusahkan.

Ayolah, Anda pernah membawa-bawa sesuatu yang sebenarnya terasa berat kan? Mau gimana lagi, da penting atuh. Makanya dibawa aja walau berat juga. Tapi. Kalau ada cara yang mudah dan ringan dalam membawa bawaan berat, tentu Anda mau kan?

Karena berbagai keterbatasan, maka setiap bulan saya hanya mampu melayani training untuk 2 atau 3 perusahaan saja. Jika kantor Anda ingin melakukan training, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Ada banyak cara. Yang pertama, seperti teman saya dong. Dia punya ajudan. Kemana pun perginya, sang ajudan mendampingi dengan setia. Boro-boro ngangkat galon air ke dispenser, bahkan tas kerjanya saja dibawain. Naik mobil disetirin. Pintu saja dibukain. Hanya hand phonenya saja yang dia bawa sendiri. Sama dompetnya, mungkin.

Yaaa kalau kelas-kelas seperti kita mah belum cocok kali ya. Rumah kontrakan, mobil cicilan, tagihan banyak tunggakan gak bakalan bisa bergaya layaknya seorang tuan. Untungnya masih ada cara lain. Apa cara lainnya teh?

Cara kedua. Sabar. Iya. Bawalah barang bawaan Anda dengan cara sabar. Maka seberat apapun dia bakal terasa ringan. Ingat, ‘sabar’ loh bukan ‘apa boleh buat’.

Memangnya beda ‘sabar’ dengan ‘apa boleh buat’? Beda banget. Yang namanya ‘apa boleh buat’ itu menunjukkan bahwa kita tidak punya pilihan lain. Terpaksa banget. Hati juga jadi semek. Makanya, muka juga ikut kusyut.

Sabar? Ini merupakan piranti yang sudah sejak beribu tahun lamanya dipergunakan oleh para nabi dan rasul utusan Alloh manakala mereka tengah menghadapi ujian yang sangat berat. Ujian loh, bukan bawaan. Artinya, metode ini sudah sangat teruji. Sehingga orang yang sabar tidak bakal terbebani atau pun tersakiti oleh apapun.

Alloh teh sayang sama kita. Makannya, dalam Al-Qur’an sabar menjadi resep dari Alloh untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Sudah baca Al-Qur’an belum hari ini? Akrim kitaabak. Baca kitab sucimu. Imani. Amalkan dalam segala aspek kehidupan.

Sok baca dulu tah Al-Qur’annya. Akan engkau temukan didalamnya resep kesabaran untuk meringankan beban bawaan dalam kehidupan. Jadi, cara kedua ini bukan saya yang mereka-reka. Melainkan Sang Maha Kuasa memberikan kepada kita petunjuknya.

Masih ada cara lainnya? Masih. Ini cara yang ketiga. Kalau yang ini mah saya sampaikan ceritanya dulu saja. Begini ceritanya. Dikisahkan ada seorang santri diajak ikut ke ondangan oleh pak Kiyai. Awalnya mah santri eta teh menolak. “Saya sudah makan, Yai…” katanya.

“Tah eta harus diluruskeun niat ka ondangan teh. Lain untuk makan. Tapi memenuhi perintah Rasulullah. Kalau diundang untuk acara kebaikan, upayakan datang.” Demikian nasihat pak Kiyai. Si santri mah ngan bisa menurut saja da dia juga paham eta teh pelajaran yang sedang disampaikan.

Berangkat weh Kiyai dan santri teh. Sesampainya di ondangan, eta makanan meni banyak pisan. Ararenak deuih. Matak uruy. Da si santri oge kepengen. Apa lagi melihat Kiyai makan meni semu ni’mat pisan. Santri teh hampir weh ngambil makanan. Namun Kiyai bilang;”Rasulullah melarang umatnya untuk makan kalau tidak lapar…”

Wadduh. Kalau boleh mah minta dispensasi tah si santri teh. Namun kana ajaran Nabi mah kita teh kudu sami’na wa-atho’na. Makanya si santri nurut wae ka nasehat Kiyai teh. Walaupun air liurnya geus ngucur sampai ka ngacay sagala.

Menjelang pulang oge, mata santri teh masih larak lirik keneh kepada makanan yang enak-enak. Untungnya Kiyai mengerti. Disodorkeun besek. Teuing dimana Kiyai nemu besek jaman sekarang. Pokonya mah langsung ada we besek teh. Tapi kosong.

‘Euleuh… Kiyai teh ngerjain ari begini mah.’ Begitu ceuk pikiran santri teh.

“Sana ambil makanan apa saja yang paaaling kamu sukai,” kata Kiyai seolah bisa maca pikiran santri. Eta pas lebah kata ‘paling’ meni lekoh mengucapkannya. Pertanda Kiyai memerdekakan santri untuk ngambil apa sajah sapuasnyah.

Pinuh besek teh oleh makanan yang enak-enak. Prung weh keduanya pulang. Ari di kampung, maklum Kiayi mah banyak yang nyapa dan ngajak mampir. Atuh beuki cape dan lama perjalanan balik ke pesantren teh.

Sedengkeun si santri mamawa besek pinuh. Tadi mah ringan. Ari sekarang karasa beurat pisan. Atuh sempoyongan. Untungnya nanti juga bakal kabayar jerih payah teh ku ni’matna makanan eta.

Kiyai teh kayanya mah memang bisa maca isi hate santri. “Mau bawaannya terasa ringan apa nggak?” Cenah. Duh. Paling enak kalau punya guru teh yang mengerti kitu. Murid kabeuratan teh dibantuan. “Mau Yai,” katanya bari rada malu-malu. Dimana aya murid menyusahkan guru pan?

“Aya carana,” kata Kiyai.
“Ada caranya?” Timpal santri. “Kumaha Yai?” Meni panasaran pisan santri teh pedah geus cape pisan.

“Berikan besek kamu kepada tukang sasapu jalan itu,” demikian kata Kiyai. Pas disana teh ada petugas kebersihan keur sasapu disisi jalan.

Kaget atuh santri teh. Naon maksudna? Atuh kalau dikasih ka tukang sapu mah bakal sia-sia usaha selama ini teh. Boro-boro makan enak, nyicipin saeutik oge belum tentu. “Bikeun ka tukang sasapu,” eta Kiyai meni bari molotot. Atuh santri teh nurut we da sieun sanajan kapaksa oge.

Ari tukang sapu meni bahagia pisan. Keur mah cape, lapar deuih. Dibere makanan sabesek gede bari ararenak. Duh biung ieu rejeki ti Gusti nu maha suci. “Hatur nuhun encep, heg ku amang didoakeun sing kagentosan rezeki ti Alloh ku anu langkung sae sareng langkung berkah…”

Didoakeun kitu teh ngan Kiyai wungkul anu tersenyum tulus mah. Maklum anjeuna mah tos ngaraosan makanan enak teh tadi diondangan. Si santri mah ketawa na teh hambar. Sabab dalam hatina mah ceurik sesenggukan.

Saking tidak tahan dikerjain Kiyai akhirna di perjalanan, santri teh protes. Kenapa kok begitu caranya ngaringankeun barang bawaan teh?

“Kamu teh mau menikmati semua makanan enak itu?” Kata Kiyai.

“Ya mau atuh Kiyai. Makanya dari tadi saya bawa terus. Eh, sudah hampir sampai ka pasantren malah dikasihin ke tukang sapu…” katanya rada menggerutu.

“Sok buka Qur’an maneh,” kitu saur Kiyai. Bari rada males oge dibuka weh Qur’an ki santri teh.

“Al-Baqarah ayat 261” saur Kiyai. “Baca.” Katanya.

Ari eta santri, maca eta ayat teh langsung ciramabay airmatanya. Nangis sesenggukan.

“Naha kamu teh bet ceurik?” Kata Kiyai. “Sedih kehilangan makanan enak?”

“Bukan Kiyai,” jawab santri. “Saya terharu dengan kebaikan Alloh kepada hamba-hambanya…”

“Jadi ngarti sekarang, gimana caranya agar barang bawaan penting kamu teh tidak memberatkan?” Tanya Kiyai lagi.

Karena berbagai keterbatasan, maka setiap bulan saya hanya mampu melayani training untuk 2 atau 3 perusahaan saja. Jika kantor Anda ingin melakukan training, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Santri teh manggut-manggut. Pelajaran ti Kiyai hari ini meni keuna pisan kana sanubarina. Diresapinya. Ternyata kalau kita menganggap sesuatu itu penting kudu dibawa kamana-mana. Sedengkeun biar tidak terasa berat membawanya, maka kudu dititipkeun eta barang penting teh ka orang yang lebih membutuhkan.

Maka sapertos paparan Alloh dina Al-Qur’an yen sagala rupa anu dititipkeun kepada orang yang lebih memerlukan, maka akan kembali kepada kita dengan jumlah yang berkali-kali lipat di akherat.

Selamat hari Jumat sahabat.
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker
www.dadangkadarusman.com

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Mungkin perusahaan Anda akan cocok juga dengan materi dan metode pelatihan saya. Hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “S (=Spiritualism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Karena berbagai keterbatasan, maka setiap bulan saya hanya mampu melayani training untuk 2 atau 3 perusahaan saja. Jika kantor Anda ingin melakukan training, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:housegoeshome

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.