Saturday , October 21 2017
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Memimpin Dengan Mulut

Memimpin Dengan Mulut

Kecuali ada bukti lain, boleh dikatakan bahwa tidak ada seorang pun pemimpin yang berhasil tanpa bicara. Meskipun pemimpin yang banyak bekerja itu lebih disukai, namun tetap saja mereka harus memiliki kemampuan untuk bicara didepan forum baik yang dihadiri oleh anak buahnya, maupun oleh kolega sesama pemimpin lainnya. Memimpin dengan mulut, jika boleh menyebutnya demikian.

Faktanya, banyak pemimpin yang masih belum memiliki keterampilan berbicara didepan forum. Ada yang gemetaran. Ada yang mandi keringat. Ada juga yang suaranya tidak jelas. Atau, pembicaraannya sama sekali tidak menggugah orang lain untuk mendengarkan. Padahal, banyak bukti yang menunjukkan bahwa pemimpin ditingkat dunia maupun level kantoran yang kehebatannya ditunjang oleh kemampuan bicara yang sangat baik. Sudah termasuk pemimpin seperti itukah Anda?

Di layar televisi, kita melihat hadirin tidur ketika seorang pemimpin sedang berpidato dalam forum resmi. Dalam rapat kabinet. Di sidang dewan. Juga pada Business Review Meeting. Sepertinya hal itu menjadi kelaziman. Baru-baru ini malahan anak-anak pun tertidur ketika mendengarkan pidato penting pada peringatan hari anak. Memang, salah satu cara yang efektif untuk mengatasinya adalah menyuruh mereka bangun agar terus melek selama pidato berlangsung.

Namun, sebenarnya ada cara yang lebih elegan daripada menghentikan pidato hanya untuk membangunkan seseorang. Cara elegan itu adalah; melatih keterampilan berbicara didepan forum. Benar. Seorang pemimpin wajib mempelajari kemampuan bicara yang hebat. Yang bisa membuat hadirin tetap mendengarkan setiap perkataannya tanpa dipaksa. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar meningkatkan keterampilan berbicara didepan forum, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Sampaikan dengan cara menarik. Meskipun penting, pesan yang disampaikan dengan cara yang tidak menarik pastinya akan sangat membosankan. Misalnya gaya bicara yang monoton. Suasana yang terlampau formal. Tidak ada interaksi. Atau pun pembawaan yang ‘jaim’. Sebaliknya, informasi yang tidak penting pun kalau disampaikan secara menarik tentu akan mampu memukau pendengarnya. Lagi pula, sesuatu yang dianggap penting oleh pembicara belum tentu penting juga dalam pandangan pendengarnya.

Dalam konteks proses komunikasi berlaku hukum berikut: Ini bukanlah tentang apa yang kita katakan, melainkan bagaimana cara kita mengatakannya. Jika ketika berdiri didepan podium Anda menyampaikan pidato dengan cara yang menarik, maka hadirin akan dengan senang hati mendengarkan apa yang Anda katakan. Tahu kenapa? Karena kita semua tertarik pada cara penyampaian yang menarik.

2. Menyimak pendengar. Biasanya, pendengar yang suka disuruh menyimpak pembicara. Saya menyarankan sebaliknya. Justru pembicaralah yang harus menyimak pendengar, lalu menyesuaikan diri dengan ‘frekuensi’ pendengar. Jika ada pendengar yang tidur – misalnya – tidak perlu buru-buru menganggap mereka tidak respek pada pembicara. Kita perlu mengevaluasi diri; kenapa mereka tertidur ketika kita bicara, padahal bisa menyimak ketika pembicara lain naik ke atas mimbar.

Jelas kelemahan bukan terletak pada pendengar. Melainkan pada kita yang kurang terampil menghidupkan suasana. Jika anak buah kita sering tidak menyimak apa yang kita katakan, kita mesti memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan mereka.

3. Berbicara sedikit, sering lebih baik. Sangat tidak enak mendengarkan seseorang berbicara panjang lebar tapi tidak berbobot. Bayangkan perasaan orang yang harus duduk dalam ruangan berAC yang dingin, dengan lampu agak redup, untuk mendengarkan seseorang berpidato selama 45 menit. Apalagi jika yang dibicarakannya adalah hal-hal yang sudah diketahui oleh para hadirin.

Lebih parah lagi jika pidatonya itu diulang-ulang. Pada rapat minggu lalu bicara soal itu. Rapat kemarin juga. Dan rapat hari ini, mengatakan hal yang sama. Sudah tentu sangat membosankan. Mungkin bicaranya cukup 15 menit saja. Sisa waktunya bisa digunakan untuk dialog atau tanya jawab, diskusi interaktif, atau aktivitas lain yang lebih produktif.

4. Membangun kredibilitas. Sangat tidak mungkin untuk memaksa seseorang mendengarkan kata-kata dari orang yang tidak punya kredibilitas. Misalnya, atasan yang dikenal tidak disiplin bicara soal kedisiplinan. Publik figur yang dikenal berakhlak buruk bicara soal moral. Maka untuk menjadi seorang pembicara handal dihadapan anak buahnya, seorang pemimpin mesti benar-benar mempunyai kredibilitas yang tinggi. Ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum kita berdiri diatas podium.

Oleh karenanya, setiap perilaku baik kita sehari-hari itu merupakan investasi yang sangat berharga untuk hari esok kita. Dengan kata lain, kredibilitas dibangun secara tekun dari hari ke hari. Fakta menariknya adalah ini: setiap pemimpin yang punya kredibilitas tinggi, kata-katanya seperti bertuah sekali.

5. Melakukan apa yang dikatakan. Anak buah atau kolega bisa menyaksikan tindakan dan perilaku kita. Jika setelah berbicara itu kita berperilaku yang bertolakbelakang dengan apa yang kita katakan, maka nilai pribadi kita jatuh sampai ke tingkat yang paling rendah. Kepada anak buah, kita memberikan pengarahan harus begini dan begunu. Namun, kita sendiri ternyata tidak melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Aneh.

Memang, kita tidak selalu harus melakukan pekerjaan yang sama dengan anak buah karena setiap posisi punya peran dan fungsinya masing-masing. Tapi ada banyak pemimpin yang menyandang gelar OMDO – alias omong doang. Bukankah itu mengindikasikan jika dia tidak melakukan apa yang dikatakannya? Maka memastikan kita melakukan apa yang kita katakan akan meningkatkan kesediaan orang lain untuk mendengar kata-kata kita.

Saya tidak kebagian bertemu dengan Presiden Soekarno. Namun, kisah kehandalannya berbicara di depan forum sedemikan melegenda. Mengapa rakyat rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk menghadiri forum dimana Sang Presiden berpidato? Tentu itu karena mereka merasa bahwa mendengarkan beliau bicara ada manfaatnya. Tidak rugi mendengar beliau bicara.

Seandainya saja kita sudah bisa menjadi pembicara seperti beliau. Mungkin kita tidak perlu lagi kesal karena ada hadirin yang tidak menyimak. Dan kita juga tidak perlu memaksa anak buah kita tetap melek, untuk mendengar kata-kata yang kita ucapkan.

NB: Program pelatihan “EFFECTIVE COMMUNICATION SKILLS FOR LEADERS” saya dirancang berdasarkan personality assessment. Untuk info lebih lanjut hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Training : Effective Communication Skills

Catatan Kaki:
Kemampuan berbicara di depan forum itu mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena, tidak ada pemimpin hebat tanpa didukung oleh kehandalannya dalam menyampaikan gagasan.

Gambar: The compliance and ethics blog

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.