Tuesday , September 25 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Pemimpin Yang Memberi Manfaat

Pemimpin Yang Memberi Manfaat

Atas dasar apa seseorang layak disebut sebagai seorang pemimpin? Karena jabatannya yang lebih tinggi dari orang lain? Mungkin. Tapi banyak orang yang memegang jabatan tinggi tidak menunjukkan kepantasan sebagai seorang pemimpin. Seseorang sering disebut pemimpin, tapi sebenarnya bukan. Makanya, kualitas kepemimpinan seseorang tidak terkait langsung dengan jabatannya.

Sebaliknya, sekalipun belum punya jabatan tinggi; Anda dan saya punya kesempatan untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan yang kita miliki. Apalagi jika sekarang Anda sudah punya jabatan. Ada team kerja. Dan ada orang-orang yang menjadi tanggungjawab Anda memimpinnya. Kita patut bertanya kepada diri sendiri; apakah saya sudah layak menyandang gelar sebagai pemimpin?

Para Nabi sering disebut sebagai pemimpin umat. Terlepas dari Nabi mana yang Anda yakini, saya pribadi menemukan dua hal yang menjadi ciri kepemimpinan mereka. Pertama, mereka selalu mengajak manusia untuk mentaati Tuhannya. Kedua, mereka selalu mengajak umatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut pendapat Anda; adakah orang yang punya kualitas kepemimpinan melampaui Nabi Anda?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Untuk menjadi pemimpin yang baik; kita perlu meniru manusia-manusia pilihan itu. Caranya? Dua hal ini harus dimilikinya. Pertama, menjadi pribadi yang taat kepada Allah. Dan kedua, menjalankan fungsi untuk mengembangkan. Agama kita mungkin berbeda, tapi aspek kempimpinan yang kita bahas ini berlaku kepada siapapun dengan agama apapun. Dan sebagai pemimpin, kita sama-sama punya tugas untuk mengembangkan.

Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjalankan fungsi pengembangan dalam kepemimpinan kita, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Mengembangkan diri sendiri. Kalau komputer atau gadget elektronik, semakin hari semakin berdatangan generasi baru yang lebih canggih. Manusia, tidak secara otomatis demikian. Tampaknya, Tuhan tidak menciptakan manusia di generasi sekarang dengan perangkat yang semakin mutakhir dibandingkan dengan manusia generasi sebelumnya. Sumber kecanggihan manusia itu sudah diinjeksikan 100% sejak generasi pertama dilahirkan. Sedangkan aktualisasinya, sangat ditentukan oleh seberapa banyak dari kapasitas diri itu yang bisa didayagunakannya.

Itulah sebabnya, mengapa orang zaman sekarang tidak secara otomatis lebih hebat pencapaiannya dibandingkan dengan orang zaman dahulu. Bahkan ada begitu banyak prestasi para pendahulu yang belum bisa disamai oleh manusia sekarang. Sejauh mana seseorang bisa mengembangkan dirinya; sejauh itu pulalah dia bisa membangun keunggulan. Seorang pemimpin, tidak akan unggul lagi jika dia berhenti berkembang. Karena, cepat atau lambat; dia akan tersalip oleh orang-orang baru yang lebih gigih mengembangkan dirinya. Maka seorang pemimpin, mesti tidak henti mengembangkan diri sendiri.

2. Mengembangkan orang lain. Sebagai atasan, kita suka menuntut anak buah memberikan hasil kerja yang lebih baik. Normalnya, target selalu naik setiap tahun. Maka tuntutan pun ikut meningkat. Situasi umum yang terjadi adalah; tuntutan atas hasil bertambah, tapi kemampuan anak buah tetap begitu-begitu saja. Sayangnya, hanya sedikit atasan yang menyadari keanehan itu. Makanya, hanya sedikit juga yang memberikan perhatian kepada proses pengembangan anak buahnya. Padahal, kualitas kepemimpinan kita ditentukan oleh komitmen kita dalam mengembangkan anak buah.

Jika hanya bisa menuntut kinerja mereka, maka kita belum menjadi pemimpin bagi mereka. Kita baru menjalankan fungsi sebagai tukang perintah dengan target-target pencapaian yang ‘entah bagaimana caranya’ mesti dipenuhi oleh anak buah. Seorang tukang perintah biasa menggunakan kata ‘POKOKNYA!’. Sedangkan seorang pemimpin, mengembangkan anak buahnya sehingga mereka semakin terampil untuk menemukan jalannya. Dengan keterampilan yang semakin tinggi itulah mereka bisa memberikan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

3. Mengembangkan team kerjanya. Team yang kita pimpin tidak selalu terdiri dari orang-orang yang bisa kompak dan selalu seiring sejalan. Semakin kompetitif tuntutan dan imbalannya, bisa membuat persaingan diantara mereka juga menjadi semakin sengit. Apa lagi jika kita berhasil mengembangkan kemampuan mereka. Biasanya, daya saing mereka juga menjadi semakin tinggi. Efek sampingnya adalah; mereka mungkin bersaing secara tidak sehat. Tentu hal itu sangat merugikan kinerja team. Bagaimana pun juga, akumulasi energy atau kekuatan mereka tidak akan menjadi keunggulan team.

Itulah sebabnya, kenapa banyak team yang terdiri dari orang-orang hebat tetapi tetap saja menjadi team pecundang. Mereka kalah oleh team lain yang terdiri dari orang-orang biasa saja, namun kompak dan terampil mengemas energy mereka sehingga bisa menjadi team yang tangguh. Apa yang menentukan hal itu? Kualitas kepemimpinannya. Pada akhirnya, kinerja kita dinilai oleh pencapaian team. Bukan orang per orang. Jadi, mengembangkan team tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka seorang pemimpin, mesti mampu mengelola ego setiap anak buahnya sehingga mereka bisa berkembang sebagai sebuah team yang solid.

4. Mengembangkan organisasinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar juga ukuran ego pribadinya. Dipupuk dengan ambisi untuk terus naik ke puncak karirnya. Disiram oleh kenyataan bahwa posisi yang lebih tinggi itu jumlahnya lebih sedikit. Sudah deh. Masing-masing membangun kerajaannya sendiri-sendiri. Makanya, tidak mengherankan jika persetruan paling sengit di kantor justru terjadi diantara orang-orang yang sudah punya jabatan tinggi. Mereka sering tidak peduli, jika ulahnya itu justru merugikan organisasi. Kita, mesti belajar mengendalikan ego pribadi. Karena pengendalian diri, adalah salah satu tingkatan yang paling tinggi dalam kepemimpinan. Jika memimpin diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana mungkin kita bisa memimpin organiasasi sebesar itu?

Sejak sekarang, berfokuslah kepada pengembangan organisasi tempat Anda bekerja. Bukan pada pemenuhan ego pribadi Anda. Mari kita bantu organisasi ini untuk terus berkembang, bukannya mengerdil karena digerogoti sikap-skap buruk para pemimpinnya dari dalam. Organisasi kita butuh pemimpin masa depan yang bisa mengembangkannya. Bukan pribadi-pribadi yang tenggelam dalam ambisinya sendiri-sendiri. Kitakah pemimpin masa depan itu?

5. Mengembangkan lingkungan disekitarnya. Hanya bisa dilakukan kalau sudah punya jabatan yang tinggi? Tidak juga. Kemampuan kita untuk mengembangkan lingkungan bisa dibangun saat ini. Meskipun Anda belum mempunyai jabatan tinggi. Lihatlah diri Anda sepulang kerja, misalnya. Apakah Anda punya kepedulian terhadap tetangga komplek Anda? Jika Anda memilih hidup ‘di dunia Anda sendiri’ tanpa peduli pada tetangga; mungkin kemampuan Anda mengembangkan lingkungan sangat buruk.

Anda jago bersosialisasi dengan orang dari segala penjuru bumi. Tapi tidak bersosialisasi dengan orang-orang disekitar Anda? Hati-hati. Karena kepedulian kepada lingkungan tempat tinggal kita adalah benih dari kepedulian kita yang tulus terhadap lingkungan yang lebih besar. Boss yang buruk hubungannya dengan tetangganya, kemungkinan besar bersikap buruk terhadap lingkungan tempat perusahaannya beroperasi. So, mulailah memperhatikan lingkungan terkecil dalam kehidupan harian Anda. Karena sikap dan perilaku kita di tempat tinggal kita itu, sangat menentukan kemampuan kita dalam mengembangkan lingkungan. Kelak setelah kita mempunyai kewenangan dan kekuasaan untuk melakukannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Rasulullah bersabda; “Ada tujuh jenis manusia yang diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain dariNya, yaitu: Pertama, Pemimpin yang Adil…” Untungnya, leadership is not a position. Kepemimpinan itu tidak identik dengan jabatan. Jadi meskipun belum mempunyai jabatan, pada hakekatnya kita adalah seorang pemimpin. Sehingga kita, boleh berharap untuk mendapatkan naungan Allah dihari akhir itu.

Modalnya sederhana. Yaitu menjadi pribadi yang patuh kepada aturan Allah. Dan menjadi pemimpin yang sanggup memberi manfaat kepada diri sendiri. Kepada orang-orang yang kita pimpin. Kepada organisasi atau perusahaan tempat kita bekerja. Maupun kepada lingkungan dimana kita berada. Mungkin berat menjalankannya. Namun sungguh sangat besar imbalannya; dilindungi Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan lain selain perlindunganNya. Dapatkah kita meraih imbalan seindah itu? Insya Allah.

NB: Apakah Supervisor dan Manager di kantor Anda sudah dibekali dengan in-house training “LEADERSHIP IN PRACTICE” saya? Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Leadership In Practice

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar: linkeding

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.