Monday , August 20 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Mengatasi Konflik Anak Buah

Mengatasi Konflik Anak Buah

Sebenarnya, solusi tidak harus selalu datang dari atasan. Lebih baik jika para bawahan pun mempunyai kemampuan untuk menemukan solusi atas masalah yang tengah dihadapinya. Terlebih lagi jika masalah itu melibatkan orang lain. Misalnya saja, masalah yang saat ini tengah marak terjadi di lingkungan masyarakan kita. Urusan sepele, bisa menjadi konflik yang membahayakan. Lalu, para pemimpin mengatakan; “Seharusnya Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik!” Lalu orang pun mencari ‘solusinya sendiri’.

Di kantor juga tidak kalah peliknya. Ketika ada anak buah yang tengah berkonflik, atasan cenderung mengharapkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kenyataannya, banyak karyawan – dari level staff sampai direktur – yang memelihara persetruan dengan koleganya sendiri selama karirnya. Sehari-hari, mereka tidak pernah akur. Kerjaannya berselisih melulu. Lantas, masihkah seorang pemimpin boleh mengatakan; “Seharusnya Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik!”?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Memang paling males, kalau menyelesaikan konflik orang lain. Tidak mau pusing. Begitulah sikap para pemimpin pada umumnya. Maunya tenterem ayem saja. Padahal, ketentraman dan keayeman itu mesti dibangun melalui kekuatan kepemimpinannya sendiri. Jika mengharapkan orang-orang yang dipimpinnya menciptakan ketenteraman itu, maka begitulah jadinya; orang-orang yang dipimpinnya berselisih tanpa akhir. Saling sikut-sikutan. Berebut jabatan. Dan bersaing suka-sukanya saja.

Apakah mereka tidak pernah mencari solusi? Pernah. Sering malah. Tapi, solusi yang mereka gunakan tidak selalu tepat. Bahkan tidak jarang sifatnya negatif. Tidak bisa tidak. Pemimpin harus bersedia memberikan solusinya. Jika tidak, ya jangan terlalu berharap bakal ada perbaikan hubungan di kalangan orang yang kita pimpin itu.

Gimana sih caranya?
Supaya tidak jadi menggurui, izinkan saya untuk mengambil contoh masa peralihan penerapan e-money dalam system pembayaran gerbang toll. Pada saat itu, banyak sekali pengguna jalan toll yang belum paham. Khsusunya mereka yang tidak punya kartu. Banyak yang setress melihat antrian panjang di jalur konvensional, lalu melihat jalur ‘disampingnya’ yang kosong melompong. Jalur GTO. Otomatis juga dong mereka nyelonong kesana. Padahal, tidak punya kartu. Walhasil, pintu toll tidak bisa dibuka. Mereka pun harus mundur, dan keluar dari jalur itu. Mending kalau tidak ada antrian mobil lain di belakangnya. Pas kalau mobil yang punya kartu masuk di belakangnya, nah terbayang deh repotnya.

“Tidak boleh masuk sini dong, Woi!” teriak petugas tol.
Sang pengemudi jadi semakin panik. “Jadi gimana dong?” katanya.
“Ya mundur ajalah,” jawab ketus petugas.
“Tapi dibelakang ada mobil,” katanya. Kali ini sambil memelas. Menunjukkan penyesalan. Tapi percuma saja. Tidak ada orang yang peduli pada perasaan bersalahnya. Sekarang mobil-mobil yang ‘berhak’ masuk ke jalur itu sudah semakin berjejer.

Petugas toll memberi isyarat agar sang pengemudi mundur pelan-pelan.
“Wooi! Apa-apa sih lu!” begitu teriak pengemudi mobil dibelakangnya. “Pelan-pelan dong!” katanya. Dia kesal. Karena dia pun tidak bisa mundur lagi.

Petugas toll angkat tangan. Sambil mengucapkan entah apa lagi.
Sang penerobos GTO itu semakin terpojokkan. Dia tidak bisa maju karena pintu toll tidak bisa terbuka. Dia juga tidak bisa mundur lagi, karena dibelakangnya sudah terjadi antrian yang panjang sekali. Salah sendiri! Tidak punya kartu kok main nyelonong saja!

Sedetik setalah itu. Terdengar satu bunyi klakson. Hanya satu bunyi klakson. Mungkin itulah yang namanya komunikasi. Kata dibalas kata. Klakson dibalas klakson yang lebih keras. Sewaktu bunyi klakson pertama terdengar. Untuk sementara semua orang masih diam saja. Antara sabar dan kesal. Lalu, terdengar bunyi klakson kedua. Dan, setelah bunyi kedua itulah kemudian terdengar bunyi klakson berikutnya. Lebih nyaring, lebih panjang. Dan. Lebih bersahut-sahutan. Semesta raya pun dilanda kegaduhan.

Sekarang. Orang sudah tidak lagi teriak dari balik kemudi. Mula-mula. Ada satu orang yang turun lalu mencak-mencak sambil berkacak pinggang. Maklum Jakarta. Time is money. Kemarin sudah terlambat masuk kantor. Masak sih hari ini terlambat lagi. Petugas toll tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga orang itu ‘mencari solusinya sendiri’. Lantas entah bicara apa dengan pengemudi yang ada didepannya. Suaranya tertelan oleh riuh rendah bunyi terompet mobil. Kemudian turun satu orang lagi. Turun lagi. Dan akhirnya, pintu toll itu berubah menjadi seperti pasar pagi. Hanya bisa melihat gerakan bibir dan gesturenya saja. Tidak bisa mendengar kata-katanya. Hiruk pikuk itu sudah menjadi seperti benang kusut saja.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Ketika semuanya semakin panas memuncak. Semua menjadi sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh kesalahan pengemudi yang nyelonong itu. Lalu semua orang pun menyalahkannya. “Jadi gimana dong kalau gini Mas!” hardik salah seorang pengemudi. Tidak sabar. Soalnya sudah tertahan cukup lama disana. Padahal, gerbang konsvensional sudah mulai lengang. Percuma saja punya kartu GTO.

Meskipun sambil marah-marah, semua sepakat untuk membantu petugas toll mencari solusinya. Banyak teori. Salah satunya semua mobil mundur. Tapi mau mundur bagaimana, dengan jumlah antrian sepanjang itu. Ada juga teori lainnya yang menyebabkan tempat itu berubah fungsi menjadi kelas workshop. Setelah sekian lama, tidak ada juga solusinya. Begitu memang jika rakyat dibiarkan mencari solusinya sendiri. Masih untung tidak ada orang senewen yang bilang;‘gulingkan saja mobilnya!’ Bahaya sekali kan?

Pelajaran apa yang saya dapat dari kejadian itu? Simple. Jika pada situasi genting seorang pemimpin masih menghimbau orang-orang yang dipimpinnya untuk mencari penyelesaian sendiri atas konflik yang terjadi; resikonya berat sekali. Soal kecil saja, bisa menjadi besar. Dan kalau sudah menjadi besar, maka yang jinak pun bisa berubah menjadi liar.

Bagaimana relevansinya dengan urusan kepemimpinan di kantor kita? Kita, tidak boleh berasumsi anak buah akan bisa menyelesaikan semua masalahnya. Minimal, kita mempunyai system monitoring yang bisa mengontrol batasan-batasannya. Jika tidak, maka kita akan terus menerus menemukan konflik berkepanjangan di kalangan orang-orang yang kita pimpin itu.

Relevansinya dengan kepemimpinan Negara? Lebih penting lagi. Tengok kejadian beberapa waktu lalu ketika orang ramai-ramai membawa senjata tajam masuk ke landas pacu bandara. Segerombolan manusia yang merangsek dengan senjata tajam didalam bandara di kota lainnya. Peristiwa pembacokan saksi ahli persidangan. Dibiarkan bebas berkeliarannya politisi yang pidato seperti mafia zaman old. Kepemimpinan Negara seperti itu, sungguh berbahaya.

Seorang pemimpin memang bertugas untuk memastikan lingkungan kerja, masyarakat atau wilayah yang dipimpinnya tentrem ayem, gemah ripah loh jinawi. Mau pemimpin Negara beserta perangkatnya. Ataupun pemimpin perusahaan beserta para managernya, ya sama saja.

Jika ada konflik berkepanjangan di Negara, wilayah, atau departemen atau unit kerja tertentu; maka itu menunjukkan bahwa fungsi kepemimpinanya tidak berjalan dengan baik. Konflik yang terjadi antara buruh dengan pengusaha pun, sama. Itu pertanda bahwa kepemimpinan yang membidangi buruh dan industry sedang tidak berfungsi.

Para pengemudi di GTO sudah semakin kesal. Apalagi sebagian dari mereka adalah orang ‘kaya’. Orang ‘penting’. Dan biasa mendapatkan ‘kemudahan’. Kita tahulah, kalau orang ‘terhormat’ itu kadang-kadang lebih mudah melontarkan hardikan, makian dan kata-kata tidak patut lainnya. Yang tidak sabar meminta mobil belakangnya mundur sedikit. Lalu dibalas; “Mau mundur kemana lagi? Pake dong matamu itu….”

Orang ‘terhormat’, mana rela disebut ‘Matamu!’
Yang semula sabar pun bisa-bisa darahnya langsung menyembur ke ubun-ubun. Sekarang konfliknya sudah menyebar kemana-mana.

Ditengah kerumitan sitauasi itu, seseorang turun dari mobil yang mengantri di belakang. Tak ada kata-kata yang diucapkannya. Dia, terus saja berjalan lurus ke depan. Menuju ke mobil yang menjadi biang keladinya. Oh! Gawat! Jika orang ini melakukan satu tindakan kecil saja, maka tindakannya itu bisa menimbulkan konsekuensi besar. Biasanya kan begitu. Hanya butuh trigger kecil untuk menimbulkan peristiwa besar.

Tapi tidak seorang pun mencegah orang itu. Dia terus saja berjalan. Sampai akhirnya tiba di samping pengemudi ‘lolot’ yang tidak tahu diri itu. Dia melongok kearahnya. Dibalas dengan tatapan pasrah dari pengemudi yang polos itu. Orang lain boleh menyebutnya polos. Dia sendiri merasa dirinya tidak bermaksud membuat keributan itu. Tapi, dia hanya bisa pasrah saja ketika orang itu menegurnya. “Pintu toll nggak bisa terbuka Pak…” katanya. Spontan memberikan penjelasan.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut orang itu. Lalu dia berjalan ke samping. Kemudian dia mendekatkan kartu GTO miliknya ke mesin scanner. Terdengar bunyi ‘Tit’. Lantas pintu toll secara otomatis terbuka selebar-lebarnya.

Pengemudi itu tidak bisa jalan. Bukan karena terhalang oleh pintu toll. Melainkan karena terpukau oleh tindakan yang dilakukan oleh orang itu. Sungguh diluar dugaannya. Dia mengira akan marah-marah seperti pengemudi lainnya. Tapi ternyata tidak. Orang ini, justru menggunakan kartu GTOnya untuk membayarkan karcisnya. “Silakan jalan…,” kata orang itu. Seperti dihipnotis saja, pengemudi itu pun berjalan lagi. Bahkan tanpa sempat mengucapkan terimakasih.

Semua mobil kembali melintasi GTO dengan kartunya masing-masing. Sedangkan orang itu dengan santainya kembali ke mobilnya dibarisan paling belakang. Kemudian melengggang, setelah semua mobil yang terjebak didepannya melintasi pintu toll otomatis itu.

Begitulah perilaku yang semestinya dimiliki oleh setiap pemimpin. Dia, percaya bahwa semua orang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, tidak tinggal diam pada situasi dimana dia harus turun tangan menyelesaikannya. Mengapa? Karena, tidak pada setiap situasi orang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Terlebih, di zaman ketika setiap orang tertekan oleh tuntutan hidup. Dan kondisi lingkungan yang semakin tidak ramah ini.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Maka para leader. Berhentilah berbicara. Berhentilah menghimbau. Berhentilah menasihati orang-orang yang Anda pimpin. Dan. Berhentilah mementingkan diri kelian sendiri. Berhenti pulalah. Untuk sekedar mengamankan posisi empukmu. Lalu. Mulailah melakukan sesuatu untuk menjadi bagian dari pencarian solusi atas masalah-masalah pelik yang bukan di level mereka kewenangan untuk menyelesaikannya. Melainkan amanah yang mestinya dirimu sadari sebagai tanggungjawabmu. Dan tindakanmu, memperlihatkan kualitas kepemimpinanmu.

NB: Salah satu Games Management yang saya rancang adalah S-TED (“Serving The Emperor’s Dinner”). Sarat dengan pembelajaran tentang strategi, problem solving, decision making, corporate alignment maupun continuous improvement. Apakah para leader di kantor Anda sudah memainkan games menejemen ini? Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

S-TED (Serving The Emperor’s Dinner)

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:Dictio Community

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.