Wednesday , September 26 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Kenapa Mesti Bersusah Payah?

Kenapa Mesti Bersusah Payah?

Bekerja di kota kecil itu kayaknya nyantai banget ya. Pada umumnya, orang berangkat dari rumah jam 7.30an. Dan sebelum magrib, sudah sampai di rumah lagi. Kenapa saya bilang nyantai? Karena saya menggunakan standar bekerja di metro politan.

Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, bekerja itu benar-benar melelahkan. Bahkan jika hanya sekedar menempuh perjalanan dari rumah ke kantor di pagi hari dan pulang lagi di malam hari. Jadi double lelahnya. Karena selain lelah karena pekerjaannya, juga ada lelah indirect karena perjalanan itu.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Itu sebabnya mengapa banyak teman saya yang tidak mau bekerja di kota besar. Tapi, tidak sedikit juga orang yang mau bahkan ingin bekerja di Jakarta. Memangnya masalah kalau kerja di kota kecil? Bukan begitu konteksnya. Calm down, bro.

Lantas, kenapa kok ada orang yang rela bersusah payah menjalani pekerjaan yang sedemikian beratnya di kota besar? Di kota kecil, roda ekonomi dan perputaran uangnya kecil. Maka dalam kondisi normal, dapatnya juga kecil. Di kota besar, bisa dapat lebih banyak. Yang jelas UMP-nya kan lebih gede. Maka bekerja di kota besar tetap menjadi pilihan logis.

Tapi, bisa dipahami juga jika sebagian orang beranggapan ngapain pergi jauh-jauh ke Jakarta untuk bekerja? Walaupun dapatnya banyak, pengeluarannya juga lebih besar. Dan rasa lelahnya, berkali-kali lipat. Bahkan baru-baru ini saya lihat cuitan di somed yang mempertanyakan; ‘Ngapain kerja habis-habisan. Nggak bakal bikin elo kaya juga!?’.

Bagi saya, bekerja di kota besar lebih dari sekedar soal uang. Benar uangnya lebih banyak, makanya saya memilih bekerja dan berkarya di Jakarta. Tapi sesungguhnya ada hal yang lebih fundamental lagi dari uang. Apa itu? Terdayagunakannya kapasitas diri kita.

Saya memperhatikan bahwa sebagian orang yang percaya bahwa ‘mencari nafkah itu adalah ibadah’, punya kecenderungan beranggapan ‘kan ada ibadah lainnya’. Jadi ya udah, alakadarnya aja kerja mah. Benarkah? Seolah benar. Padahal, ngawur.

Bekerja mencari nafkah itu, kompatibel dengan ibadah lainnya. Selain nafkah yang didapat memungkinkan kita melakukan ibadah lain yang butuh modal, bekerja juga menaikkan tantangan dalam menjalankan ibadah mahdoh.

Contoh. Sholat dzuhur. Katanya banyak yang tidak bisa sholat awal waktu karena sibuk bekerja. Bo’ong itu. Penyebab terbesar telat sholat mah bukan pekerjaan, melainkan rebutan makan siang. Coba perhatikan. Kalau jam 12 siang, orang antri air wudlu di masjid apa antri pesan makanan di kantin? Jleb!

Mulai hari ini. Prioritaskan sholat dzuhur. Makan belakangan. Dijamin prinsip ‘cari nafkah adalah ibadah’ itu bener dan berkah.

Sore harinya. Begitu terdengar adzan Ashar, berhenti. Ambil air wudlu. Lalu sholat 4 raka’at. Cuma butuh waktu 15 menit. Jauh lebih singkat daripada chattingan elu yang menyita waktu itu.

Kadang ada saatnya kerjaan nggak bisa dipotong emang. Misalnya, saat menjalankan mesin untuk suatu proses yang nggak boleh ada jeda. Nggak apa-apa diselesaikan dulu. Lalu sholat. Tidak awal waktu dong sholatnya? Iya. Tapi Allah tahu kita tidak menyengaja menundanya. Bukankah Rasulullah mengajarkan tentang ruhsoh?

Jika Anda percaya bahwa mencari nafkah itu ibadah. Bagus banget. Tinggal tambahkan pada kepercayaan Anda bahwa; kemampuan yang sudah Allah anugerahkan itu adalah amanah. Amanah apa? Amanah untuk didayagunakan dan dioptimalkan.

Maknanya, jika engkau dianugerahi Allah kemampuan tapi tidak dioptimalkan; maka boleh jadi, Allah nggak suka itu. Kenapa? Karena engkau menyia-nyiakan potensi diri yang Allah berikan. Engkau kurang amanah. Padahal, anugerah itu Allah kasih untuk membuat hidup kita lebih indah.

Tidak sedikit orang yang merasa hidupnya sempit, padahal mereka sudah dikasih Allah kemampuan yang tinggi. Tapi tidak dipakainya kemampuan itu. Anda tahu alasan mereka apa? Katanya, karena tidak ada kesempatan.

Anda tahu kenapa ‘tidak ada’ kesempatan? Karena mereka memilih untuk menunggu. Mereka memilih untuk berada di kota atau di tempat dimana kesempatan tidak berada.

Keliru. Jika kita menganggap kesempatan itu tidak ada. ADA. Tapi sang kesempatan bersemayam di tempat lain. Sehingga orang yang menunggunya, hanya akan dapat kesempatan jika ‘kebetulan’ saja dia berada di tempat yang sama.

Tapi namanya menunggu itu pasif. Dan karakter dasar orang pasif adalah; nggak ngapa-ngapain. Ini menjelaskan, kenapa pada saat ada kesempatan pun banyak orang yang tidak mengambilnya.

Lalu bagaimana caranya supaya kita mendapatkan kesempatan untuk menjalankan amanah penggunaan potensi diri ini? Ada 2 cara.

Pertama, menciptakan kesempatan sendiri. Anda boleh tinggal dimana saja jika menggunakan cara ini. Dan ini, menjelaskan mengapa ada orang-orang yang maju, berhasil, berdaya diri; walau pun tinggal di kota kecil atau kampung yang dikepung berbagai keterbatasan. Keren kan?

Kedua, menjemput kesempatan yang turun ditempat lain. Anda harus menggeliat dan bangkit jika menggunakan cara ini. Lalu beranjak dari tempat dimana saat ini Anda ngendon. Hijrah. Jemput kesempatan itu. Dijemputnya bisa ke kota lain. Bisa ke departemen lain. Bisa ke bidang lain. Bisa macam-macam.

Intinya, jangan lagi mengira tidak ada kesempatan. Ada. Hanya saja, kesempatan itu harus dijemput. Didatangi. Dicari. Dikejar. Ditangkap. Bukan ditunggu.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Cara mana yang paling sesuai dengan Anda? Silakan saja. Mau cara pertama atau kedua, sama baiknya. Yang jelas. Cara manapun yang kita tempuh, pasti menuntut kita untuk berikhtiar. Dan ikhtiar kita, tidak selalu mudah. Kadang bahkan menuntut kita untuk mau bersuah payah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutnya Al-‘Aqobah. Makanya, dalam pandangan Allah; bekerja bersungguh-sungguh itu bernilai ibadah. Sayangnya, sangat sedikit orang yang mau bersusah payah. Untuk mendaki perjalan di bukit ‘Aqobah.

NB: Saya punya program “CONNECTING & COLLABORATING (THE POWER OF SYNERGY)” lho. Cocok untuk sisipan acara RAKER di kantor Anda. Hubungi 0812-1989-9737 atau email: dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.

Core Value Internalization

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:pixabay

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.