Tuesday , December 11 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Nabrak Tembok

Nabrak Tembok

Banyak orang yang mengeluhkan tentang susahnya menembus kekuatan yang tidak tergoyahkan di kantor. Sebagai orang hebat dan berbakat, mereka mempunyai gagasan yang bagus untuk menunjukkan kualitasnya sebagai profesional. Sayangnya – kata mereka – selalu mentok dihadapan kekuatan otoriter. Karena kekuatan itu punya posisi yang lebih tinggi, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengurut dada. Sambil menahan rasa kesal. Dan sesekali memikirkan peluang untuk hengkang.

Di perusahaan keluarga kekuatan itu adalah owner yang ingin memegang kendali penuh terhadap jalannya perusahaan. Di perusahaan umum, sikap itu biasa ditunjukkan oleh board of director atau top management. Orang bilang; berurusan dengan mereka, rasanya seperti menabrak tembok. Seandainya Anda yang berhadapan dengan tembok-tembok itu, bagaimana Anda bersikap?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya singgah di sebuah masjid di luar kota untuk menunaikan kebutuhan bersujud. Tidak ada sesiapa di masjid itu, karena jadwal sholat berjamaah sudah lewat. Alhamdulillah, untuk orang dalam perjalanan; ada ruhsoh berupa kemudahan dan pemakluman. Lagi pula, sholat bisa dijamak jika jarak tempuhnya jauh. Mudah menjalankan Ibadah itu sesungguhnya. Kalau terasa sulit, itu karena kitanya saja.

Selama sholat itu, saya mendengar suara mengetuk-ngetuk. Dalam hati saya berpikir, kenapa di masjid orang harus mengetuk? Bukankah siapapun leluasa untuk masuk? “Oh, mungkin ada seorang musafir yang sedang dalam perjalanan,” begitu saya pikir. “Untuk sopan santun, beliau mengetuk sebelum masuk.” Namun ketukan itu tidak juga reda, sampai saya selesai sholat. Penasaran. Saya melihat kearah pintu masjid. Tidak ada seorang pun. Suasana kembali sunyi.

Maksud hati meneruskan untuk berdzikir. Tapi di keheningan itu, saya kembali mendengar suara ketukan. Dalam hati, saya berbisik; ”silakan masuk….” dengan bisikan itu saya berharap ‘dia’ yang mengetuk berkenan masuk dan menghentikan ketukannya. Dalam Al-Qur’an, ada diterangkan bahkan Jin pun ada yang beriman. Lalu. Hening lagi. Oh, rupanya sang pengetuk benar-benar penuh sopan santun. Tidak berani masuk sebelum dipersilakan. Saya kira dia hendak sholat juga. Barangkali sedang dalam perjalanan seperti halnya saya. Dalam hati, saya kembali berbisik; “Sesama musafir dalam perjalanan, dilarang saling mendahului….”

Saya berhasil berkomunikasi dengannya. Untuk sementara waktu, keadaan menjadi hening kembali. Dan dzikir pun bisa dilakukan dengan khusyuk. Tak berapa lama kemudian, terdengar lagi bunyi ketukan seperti tadi. Oh, apakah ada tamu lain yang datang? Ataukah dia yang tadi masih belum masuk kedalam? Tidak mungkin yang tadi. Karena saya sudah mempersilakannya. Jadi, mungkin ini tamu kedua yang datang untuk ikut sholat. Ada apakah ini? Apa yang membuat ‘mereka’ berdatangan ke tempat ini?

Karena tadi berhasil mempersilakan sang tetamu, maka saya pikir kenapa tidak saya persilakan juga saja? Tidak perlu menengok ke arah datangnya suara ketukan, karena penglihatan saya hanya bisa menangkap hal-hal yang kasat mata. Saya langsung saja berkata dalam hati disela-sela dzikir; ”Silakan masuk….”

Berhasil.
Setelah itu, bunyi ketukan tidak lagi terdengar. Saya pun kembali berdzikir. Sambil tetap yakin bahwa sesama mahluk baik tidak akan mungkin saling menyakiti. Seperti halnya sesama bis kota yang tidak saling mendahului. Benar sih, kadang-kadang ada juga bis kota yang jalannya ugal-ugalan. Bahkan sampai tabrakan. Apalagi sekedar saling mendahului…. Semoga saja para tetamu saya itu tidak ugal-ugalan seperti sopir metromini yang tak berlisensi.

Pilihannya hanya pasrah saja. Sambil terus berdoa. Wirid belum selesai. Malah sengaja dipilih yang panjang-panjang. Diiringi keyakinan yang makin kukuh bahwa sesama mahluk yang tunduk kepada Allah, tidak mungkin mengganggu yang sedang mengagungkan nama Tuhannya.

Benar saja. Tidak ada kejadian apapun. Dan saya makin tenggelam dalam dzikir. Sampai suara ketukan itu kembali terdengar. Ya ampun. Banyak sekali tetamu istimewa yang datang kesini. Jangan-jangan…. Ah, tidak usah membiarkan pikiran berandai-andai. Yakin saja. Saya memang pernah beberapa kali mampir ke masjid itu. Kalau pas sedang bertandang ke kota itu. Namun, tidak pernah sebelumnya mengalami kejadian seperti itu. Kali ini, mungkin mereka akan mengadakan konferensi disitu.

Saya berusaha untuk fokus pada doa-doa. Namun, tak lama setelah hening, ketukan itu kembali terdengar lagi. Tidak ada pilihan lain bagi saya selain berguman ‘silakan masuk’ untuk setiap ketukan. Karena saya percaya, sang pengetuk akan menghentikan ketukannya seperti tamu-tamu sebelumnya setelah saya ucapakan mantra sakti itu. Tidak ada keraguan dalam batin saya soal itu. Setidaknya untuk sembilan atau sepuluh pengetuk pertama. Mengapa begitu? Karena untuk ketukan berikutnya, tidak bisa saya hentikan begitu saja. Ketukan itu sepertinya tidak lagi mau berhenti. Padahal saya tidak melihat siapapun didepan pintu masjid berdinding kaca itu.

Ada dua kemungkinan. Satu, mantra itu sudah tidak ampuh lagi. Dua, terlalu banyak yang mengantri sehingga setiap kali satu pengetuk masuk, antrian berikutnya langsung mengetuk juga sehingga nyaris tidak ada jeda bagi saya bahkan untuk sekedar mengambil nafas. “Ini sudah berlebihan!” begitu saya pikir.

Tidak mungkin saya bisa sesabar itu, karena kenyataannya saya adalah manusia yang tidak sabaran, bahkan masih sering marah-marah. Maka saya pun mengatakan – masih dalam hati – “Aku bukan tuan rumah disini!” Sambil berharap ada pertalian batin dengan mereka. “Kalau kalian mau masuk, ya masuk saja. Tidak usah bikin ribut seperti itu!”

Ajaib.
Ketukan itu berhenti. Mungkinkah untuk sesaat saja berhentinya? Ternyata tidak. Ketukan itu benar-benar berhenti hingga saya selesai melakukan wirid dan dzikir. Puas sekali rasanya. Ditambah pula dengan perasaan menjadi pemenang. Sekaligus merasa menjadi seseorang yang mempunyai kekuatan lewat kata-kata. Maka saya pun berdiri, hendak meneruskan perjalanan lagi.

Ketika menuju ke pintu masjid. Saya melihat ada sesuatu yang aneh di pojok dinding kaca. Seonggok kecil yang bergerak lembut. Segera saya mengenakan kaca mata. Dan, jelaslah sekarang mahluk apakah gerangan yang tersudut disitu. Seekor burung yang kelelahan.

Duh, saya terpaku sambil menggerutu kepada diri sendiri. “Betapa bodohnya aku ini!”

Ternyata yang sedari tadi mengetuk itu bukannya tamu-tamu yang minta ijin hendak masuk. Melainkan seekor burung yang tak tahu jalan keluar. Dia terganggu oleh kehadiran saya sehingga bermaksud meninggalkan masjid itu. Namun ketika dia hendak terbang ke langit, ada sesuatu yang ditabraknya. Sebuah dinding kokoh yang tidak kelihatan. Selapis kaca bening yang tidak mungkin ditembusnya.

Eh, kita sedang bicara apa tadi?
Kita sedang bicara tentang kekuatan-kekuatan yang tidak bisa dipengaruhi di kantor kita. Tentang tembok-tembok kokoh yang tidak mungkin kita tembus. Tentang pemegang keputusan, dan pemilik perusahaan yang tidak selalu sejalan dengan cara pandang kita. Tentang rasa frustrasi kita berhadapan dengan penentu arah kebijakan. Tentang rasa lelah batin kita menjalani hari-hari kerja menabrak tembok. Lelah, seperti terkurasnya tenaga burung kecil itu.

Setiap orang mempunyai idealisme. Kita tahu itu. Mininal punya suatu sudut pandang yang menurut dirinya benar atau lebih bagus daripada pendapat orang lain. Semakin yakin dia dengan kebenaran pendapatnya, semakin kuat keterikatan batinnya terhadap pendapat itu. Sehingga dia juga semakin sulit untuk menerima pendapat orang lain. Makanya, kita sering melihat orang lain sedemikian sulitnya diajak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sama seperti keras kepalanya kita untuk menerima sudut pandang mereka.

Saya kasihan pada burung kecil itu. Makanya saya sengaja memberi isyarat agar dia segera pergi melalui celah angin yang terdapat di dekat plafon. Saya juga kasihan kepada sahabat-sahabat saya yang sering menabrak tembok. Makanya saya sengaja mengatakan disini; belajarlah untuk berhenti menabrakkan diri ke tembok itu. Belajarlah mencari jalan keluar tanpa mengusik tembok yang kokoh itu.

Sang burung menclak-menclok sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Keatas dan kebawah. Sepertinya dia mengerti maksud saya. Dia mengepakkan sayapnya. Lalu menclok di dekat lubang angin itu. Masuk. Kemudian dia terbang ke langit bebas dengan senangnya.

Saya berharap agar sahabat-sahabat yang pernah ngobrol dengan saya juga menemukan lubang angin itu. Demikian pula sahabat lain yang saya tidak pernah punya kesempatan untuk mendengar curhat-curhat mereka. Semoga, tidak membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk memaksa dinding kaca itu roboh dengan menabraknya terus menerus.

Semoga, mereka menemukan pintu atau lubang yang bisa memberinya akses untuk bisa masuk dan keluar dengan leluasa. Dengan begitu, para sahabat saya akan tetap bisa eksis diantara kokohnya tembok-tembok itu. Tetap bisa menuangkan gagasan-gagasan briliannya. Tetap bersuka cita. Dan tetap dicintai dinding-dinding kokoh itu.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya juga kasihan kepada diri sendiri. Yang sudah diperbudak oleh fantasi mistis perualangan mental sendiri. Tapi, saya bahagia. Karena melalui kebodohan ini, saya bisa mengatakan kepada sahabat-sahabat saya. Bahwa tembok yang kita hadapi itu memang bukan untuk ditabrak. Bukan untuk diruntuhkan.

Melainkan untuk dipoles. Dicat. Ditempeli lukisan. Sehingga menjadi tembok kokoh yang indah. Yang melindung diri Anda dari udara diluar yang tidak selalu bersahabat. Tembok itu. Bisa menjadi tempat bernaung yang menyenangkan selama Anda menjalani karir profesional Anda disana. Bisa? Bisa. Jika Anda berhasil menemukan lubang anginnya.

N.B: Training “TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM” saya cocok untuk karyawan potensial di kantor Anda. Hubungi 0812-1989-9737 email dkadarusman@yahoo.com
 
Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.

Turning Potential Power Into Professionalism

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:National Audubon Society

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.