Monday , May 21 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Agar Didengar Oleh Anak Buah

Agar Didengar Oleh Anak Buah

Tidak ada satu orang pun atasan yang bisa bekerja secara efektif, jika anak buahnya tidak mau mendengar kata-katanya. Logis ya? Tentu dong. Jika tidak mau mendengar kata-kata atasannya, bagaimana mungkin seseorang bisa bekerja sesuai dengan harapan atasan? Tidak mungkin, bukan?

Oleh karena itu, setiap atasan ingin anak buahnya mendengarnya. Karena seseorang yang yang suaranya didengar, menunjukkan jika orang itu dihormati. Lebih dari itu, seseorang yang suaranya didengar punya peluang kata-katanya dituruti oleh orang lain. Sehingga, dalam konteks kepemimpinan; hal itu sangat menentukan kualitas kepemimpinan itu sendiri. Pertanyaannya adalah; apakah semua anak buah Anda bersedia untuk mendengar Anda? Oh, tentu saja.

Seorang sahabat bertanya; “Gimana caranya agar anak buah mau mendengar kata-kata saya?”. Wajahnya menampakkan kegelisahan. “Tenang saja. Tidak usah terlampau cemas.” Begitu komentar saya. “Masih banyak atasan yang kondisinya lebih buruk dari Anda.” Sahabat ini menampakkan wajah seolah tidak percaya. “Yaitu para atasan yang mengira anak buahnya mau mendengarnya, padahal tidak. Anda? Beda. Lebih baik. Karena Anda tahu bahwa anak buah Anda tidak mau mendengar Anda….”

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya tidak bermaksud menghiburnya. Memang bagus kok, jika kita sadar bahwa anak buah kita tidak mau mendengarkan kata-kata kita. Karena dengan kesadaran itu, kita bisa mencari cara untuk memperbaiki keadaan itu. Jika kita tidak sadar, bagaimana bisa tertarik mencari solusinya, kan? Sebaliknya, ketika menyadari kondisi itu; maka kita bertanya ‘apa yang mesti kita lakukan?’.

Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi atasan yang didengar oleh anak buah, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Sejalan antara kata dan perbuatan. Salah satu penyebab utama mengapa seseorang tidak didengarkan kata-katanya adalah; perilaku sehari-hari dirinya tidak sejalan dengan perkataannya. Tidak tertarik kan kita mendengar kata-kata orang seperti itu. Sebaliknya, kita akan dengan senang hati mendengar orang yang selaras antara kata dan perbuatannya. Kenapa ya? Karena hanya orang yang tindak tanduknya sesuai dengan apa yang dikatakannya saja yang pantas untuk didengarkan. Maka jika kita ingin didengar oleh anak buah, hal pertama yang perlu kita pastikan adalah; tindak tanduk kita, sejalan dengan perkataan kita. Jika tidak, maka anak buah akan kehilangan selera untuk mendengar kata-kata kita.

Contohnya, kepada anak buah kita berkata;”gunakan jam kerjamu sebaik-baiknya…” Tapi, mereka pernah memergoki Anda bermain game computer di jam kerja. Wah… sulit sekali tuch untuk membuat anak buah Anda mendengar kata-kata Anda. Tapi jika mereka pun tahu bahwa Anda sendiri sangat menghargai waktu kerja Anda, maka mereka akan menyesuaikan diri dan mengikuti apa yang Anda katakan dan lakukan.

2. Mendengar pendapat anak buah. Paling males kalau punya atasan yang merasa serba tahu, serba ahli, dan serba sempurna. Jadi hanya pendapat dia saja yang paling benar. Ada atasan seperti itu? Banyak. Padahal, tidak seorang pun yang punya sudut pandang sempurna. Tahu kenapa? Karena sudah fitrah setiap orang untuk tidak bisa melihat semua hal sendirian. Sesuatu yang terang benderang bagi seseorang, bisa merupakan titik buta bagi orang lain. Hal itu, juga berlaku sebaliknya.

Oleh karenanya, kesempurnaan sudut pandang hanya bisa diperoleh jika setiap orang berkesempatan untuk melakukan ‘laporan pandangan mata’ dari posisinya tentang suatu subyek. Makanya, penting untuk mendengar pendapat anak buah. Selain berguna untuk membuat keputusan yang lebih baik, juga menjadikan anak buah bersedia mendengar kata-kata kita. Jika sebagai atasan kita tidak mau mendengar pendapat mereka, maka wajar dong kalau mereka juga tidak mau mendengar kita kan? Jadi, belajarlah untuk mendengarkan pendapat anak buah.

3. Menjadi orang pertama yang melakukan. Bicara itu mudah. Melakukannya, tidak semudah itu. Khususnya, bagi orang yang selalu ingin di dengar. Padahal, keinginan kita untuk lebih didengar oleh anak buah saja sudah menunjukkan bahwa kita banyak bicara. Makanya ada istilah NATO. Jelek banget deh atasan yang cuma bisa ngomong doang. Berbeda dengan atasan yang bukan hanya sekedar bicara, tapi dia sendiri menjadi orang pertama yang melakukannya.

Lho, bukankah pekerjaan kita berbeda dengan anak buah? Iya, kalau kita hanya fokus pada hal-hal teknis. Tapi jika kita melihat fungsi sebagai professional; maka pada hakekatnya, atasan pun punya kesamaan kewajiban dalam menyelesaikan tugasnya. Jadi, cara kita mengerjakan tugas-tugas kita sendiri, menunjukkan jika kita melakukan atau tidak melakukan apa yang kita katakan. Jika kita suka bikin susah atasan kita misalnya, maka anak buah kita tidak akan mau mendengar kata-kata kita untuk membuat mereka patuh kepada kita. Jadilah orang pertama yang melakukan apa yang kita katakan. Maka anak buah kita, akan mau mendengar kata-kata kita.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

4. Memenuhi janji-janji yang pernah diucapkan. Sebel banget kan berurusan dengan si tukang obral janji. Tapi janji-janjinya sering menguap seperti spiritus dijemur. Anda, pernah ketemu atasan yang gampang sekali berjanji kepada anak buahnya? Demi membuat anak buahnya patuh. “Kalau kamu blablabla, nanti saya akan blablabla….” Begitu anak buahnya melakukan seperti yang dikatakan, eh sang atasan mencari-cari alasan untuk mengelak dari janjinya. Satu kali saja janji tidak dipenuhi, maka maaf. Janji elo, nggak bisa dipercaya lagi! Hilang deh kepercayaan anak buah jika demikian.

Selalu atasannya yang salah? Tidak juga. Ingkarnya dari janji itu kadang disebabkan karena keputusan tidak 100% berada ditangannya. Perlu otorisasi dari pejabat yang lebih tinggi. Makanya, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Lebih baik, cari cara lain untuk memotivasi anak buah. Dan jika pun harus berjanji, hanya dengan sesuatu yang jelas berada dalam kewenangan penuh kita. Supaya janji-janji kita bisa ditunaikan, sehingga anak buah selalu bersedia mendengarkan kata-kata yang kita ucapkan.

5. Peduli kepada kehidupan mereka. Anak buah kita pada umumnya berangkat dari rumah ke kantor dengan seribu satu permasalahan didalam benaknya. Porsi terbesarnya biasanya soal keuangan, urusan anak sekolah, kebutuhan dapur, serta hutang yang jatuh tempo. Jadi, sering kali fokus pikiran mereka itu bukan pada pekerjaan. Melainkan pada masalah yang mereka bawa dari rumah. Faktanya, atasan yang peduli kepada kehidupan anak buahnya; punya hubungan yang lebih baik.

Dan tentunya, punya kualitas komunikasi yang lebih baik dibandingkan dengan atasan yang hanya fokus pada pekerjaan dan memenuhi isi komunikasinya dengan urusan mengejar target-target pekerjaan belaka. “Sudah kelas berapa anak elo sekarang?” coba Anda tanyakan hal itu kepada staf Anda yang sudah punya anak. Lalu lihat responnya. Anda akan tahu, bahwa kepedulian Anda kepada mereka, meningkatkan kesediaan mereka untuk mendengar kata-kata Anda.

Kata-kata, merupakan perangkat penting untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan seseorang. Maka membuat anak buah kita mau mendengar kata-kata kita merupakan salah satu keterampilan yang sangat esensial dalam karir kepemimpinan.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Karena tugas kepemimpinan ini mewajibkan kita untuk membawa kebaikan kepada orang-orang yang kita pimpin, maka kita pun berkewajiban memastikan setiap perkataan kita bermanfaat bagi mereka. Mengajak mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan mengingatkan mereka tentang anugerah serta kesempatan yang Tuhan berikan. Agar semakin tebal rasa syukur mereka. Dan semakin berkobar semangat mereka, dalam memperjuangkan hidup.

Kepada setiap atasan seperti kita, Rasulullah menasihatkan begini; “Setiap ucapan anak Adam itu mencelakakannya, bukan menguntungkan. Kecuali ajakan untuk melakukan kebaikan, mencegah orang lain dari melakukan keburukan, serta berdzikir kepada Allah.”

Maka jika ingin didengar oleh anak buah, kita perlu memastikan bahwa pembicaraan kita memenuhi ketiga kriteria itu. Sehingga perkataan yang kita ucapkan, akan membawa kebaikan. Bagi kita. Maupun bagi orang-orang yang kita pimpin. Insya Allah.

NB: Apakah Supervisor dan Manager di kantor Anda sudah dibekali dengan in-house training “FUNDAMENTAL LEADERSHIP IN PRACTICE” saya? Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Leadership In Practice

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:ANZIIF

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.