Monday , July 16 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Kenapa Anak Buah Malas Belajar Lagi?

Kenapa Anak Buah Malas Belajar Lagi?

Sebagai atasan, kita mempunyai kewajiban untuk selalu mendorong agar anak buah kita terus mengembangkan diri. Supaya kemampuan kerja mereka meningkat. Dan mereka pun bisa mendapatkan lebih banyak pencapaian dan reward. Demi kepentingan mereka sendiri, kan?

Sebenarnya sih, kita juga untung dong. Kan enak banget kalau punya anak buah yang hebat-hebat. Kita, tidak usah diribetin oleh masalah-masalah yang muncul karena ketidakmampuan anak buah menangani pekerjaannya. Pokoknya, rugi sendiri deh kalau sebagai atasan kita tidak mau membantu anak buah mengembangkan diri mereka.

Makanya wajar dong, kalau sebagai atasan kita terus mengingatkan anak buah agar tidak henti mengembangkan diri. Tapi, apakah anak buah kita bisa disuruh terus belajar dengan semudah itu? Tidak sesederhana itu ternyata ya? Anda tahu kenapa?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya punya dua teman dekat. Hubungan kami sangat dekat sekali sehingga saking dekatnya itu, bolehlah kalau saya sebut kedua teman saya itu sebagai ‘Mr. Kanan’ dan ‘Mr. Kiri’. Boleh ya? Terimakasih. Keduanya sekarang sedang terlibat dalam diskusi alot. Mereka mempertanyakan; apa yang kita lakukan untuk mengembangkan diri kita sendiri? Padahal kita sering berbusa-busa memerintahkan anak buah kita supaya serius belajar. Gigih mempelajari hal baru. Dan sebagainya. Bagaimana dengan kita?

Kenyataannya, kita sering melihat atasan yang hanya pandai menyuruh anak buah untuk terus mengasah kemampuan dirinya. Namun sering lupa, bahwa sebagai atasan; kita pun mesti terus mengasah kemampuan yang kita miliki. Sambil menyuruh anak buah berlatih, kita bersembunyi dibalik kata ‘sibuk’, bahkan untuk sekedar membaca buku tentang bagaimana cara mengasah kemampuan kepemimpinan kita. Padahal, meski kita sering merasa sudah menjadi pemimpin yang bagus pun; faktanya mah kita sering kesulitan untuk menangani orang-orang yang kita pimpin.

“Ya nggak gitu-gitu amat kali. Kita juga sering kan ikut training? Toh kantor punya budget untuk mengirim kita ke berbagai macam event training. Kita juga belajar terus kok.” Begitu Mr. Kiri memprotes.

Mr. Kanan pun menimpali;”Iya sih.” Katanya. “Tapi coba aja elo pikir-pikir lagi.” Tambahnya. “Apa elo benar-benar mempelajari sesuatu di kelas training jika setiap sesi elo datang telat melulu.” Lanjutnya. “Pembukaan telat.” Katanya. “Habis coffee break telat.” Cecarnya. “Setelah istirahat makan siang juga elo kembali ke kelas dengan telat…..”

“Halah Mas Bro, gue kan Manager. Banyak kerjaan yang mesti dilakukan….” Begitu Mr. Kiri berkilah. Padahal, yang manager sibuk itu kan sebenarnya bukan kita aja ya. Tapi, kenapa cuman kita yang doyan bersembunyi dibalik alasan kesibukan ya?

“Well…” Mr. Kanan menarik nafas. “Didalam kelas juga elo lebih sering baca WA daripada mendengarkan papar pembicara ….”
Gadget, menjadi candu baru di zaman kita. Makanya kita sering banget buka tutup aplikasi sosial. Kalau tidak ada pesan yang masuk itu rasanya gimanaaa gitu.

“Kesimpulannya.” Begitu Mr. Kanan merespon. “Elo cuman bisa menyuruh anak buah elo untuk terus belajar, dan mengembangkan diri. Sementara elo sendiri….. NOL BESAR.” Sepertinya saya melihat Mr. Kanan itu mengacungkan logo ‘O’ yang dibentuk dari jari telunjuk dan jempolnya.

“Sudahlah Mas Bro…” balas Mr. Kiri. “Nggak bisa gue belajar dari trainer yang gayanya membosankan begini…..” Duh. Seandainya Mr. Kiri itu menyadari bahwa meskipun trainer yang sekarang sedang berdiri di depan kelas itu membosankan, tapi… dia tidak lebih membosankan daripada diri kita sendiri ketika menceramahi anak buah kita soal pengembangan diri.

Trainer itu, cuma dua jam berdiri disitu. Atau paling lama ya dua hari saja berceloteh didepan kita. Mungkin cuma itu satu-satunya momen pertemuan kita dengannya seumur hidup kita. Sedangkan kita? Setiap hari bertemu dengan anak buah kita. Dan kita. Menceramahi mereka dengan kata-kata yang sama. Nada yang sama. Tingkah polah yang sama. Lalu kita masih menganggap diri kita ini tidak membosankan ya. Oh….

“Siapa yang lebih membosankan?” kata Mr. Kanan saya. “Trainer itu dimata elo? Ataukah diri elo dimata anak buah elo….?” Kalau kita pinter, mestinya kita bisa memilih trainer yang cocok dengan kita. Banyak pilihannya kok. Ada yang pinter tapi serius banget. Ada juga yang lucu, tapi ilmunya pas-pasan. Ya tak apa dong. Kita tidak butuh ilmu selangit kok untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Intinya. Bukan berfokus pada keterbatasan kapasitas orang lain. Dan wajar kalau manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing mah. Tapi. Kalau menyangkut sikap, tidak bisa ditawar-tawar.

“Tapi apa iya di level kita masih butuh training ya?” Mr. Kiri berguman. Seolah pertanyaan itu hanya untuk dirinya sendiri. Yaaa… kalau kita tidak merasa butuh, mana bisa kita sepenuh hati menjalaninya kan? Kalau kita memang tidak butuh, kenapa mesti ikut training yang tidak kita butuhkan?

“Tidak. “ jawab Mr. Kanan. “Kita tidak butuh training kok.” Tambahnya. Mantap dan lugas. Sebenarnya saya merasa sedikit terkhianati. Saya tidak berharap Mr. Kanan bicara begitu.

“Hnnaaah… kan elo udah tahu soal itu Mas Bro!” jingkrak Mr. Kiri. “Maaasak sih di level kayak kita ini masih butuh training segala?!” Kayaknya kita memang tidak membutuhkan training kok. Sebab, training; hanya merupakan satu dari sekian banyak proses pembelajaran untuk terus meningkatkan diri. Lagi pula, dalam setahun Anda sanggup mengikuti berapa kali training sih? Selain berbiaya tinggi, training kan juga menyita banyak waktu.

“Proses apapun elo tempuh…” jawab Mr. Kanan. “Bebas aja kok pren.” Lanjutnya. “Yang penting elo pastikan tuch mulut elo nggak cuman bisa memerintah anak buah elo doang. Elo. Gue. Mesti bisa melakukannya buat diri sendiri.” Oh, sekarang saya seneng lagi karena bisa memahami apa yang tadi dimaksudkan oleh Mr. Kanan.

“Ohoho… so pasti dong Mas Bro!” timpal Mr. Kiri. “Gue. Nggak pernah berhenti belajar.” Katanya. “Istilahnya: terus belajar, belajar terus.” Sekarang, pernyataan itu bagi saya terdengar lebih menyerupai jargon. Yaa….. jargon. Soalnya, saya tahu persis apa yang selama ini dilakukan oleh diri saya sendiri. Jadi, saya tahu persis kalau Mr. Kiri itu melakukan apa yang dikatakannya atau hanya indah dimulut saja.

“Tidak ada masalah…” timpal Mr. Kanan. “Yang penting, ada bukti nyata dari proses yang elo bilang elo terus-menerus lakukan itu.”

Sekarang saya tercenung. Bukan lagi sekedar Mr. Kiri yang merasa tertohok. Ini saya. Sekujur tubuh saya yang tercenung. Sambil bertanya kepada diri saya sendiri; “Bukti apa yang bisa saya tunjukkan bahwa selama ini saya memang benar-benar terus berusaha untuk belajar meningkatkan diri?” Sebagai atasan, selama ini saya sudah terlalu sering menasihati anak buah untuk ini dan itu. Tetapi diri saya sendiri…..?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Benar kata Mr. Kiri. Apa buktinya kalau selama ini saya terus mengembangkan diri? Adakah skill saya yang bertambah? Atau masih hanya bisa yang itu-itu saja? Adakah ilmu saya semakin tinggi? Adakah wawasan saya semakin luas? Adakah keberanian saya mengambil resiko semakin terukur? Adakah kemampuan saya dalam mengambil keputusan semakin akurat? Jika tidak ada aspek dalam diri saya yang lebih baik dari sebelumnya dalam menjalankan tugas kepemimpinan ini, maka itu menunjukkan bahwa sebenarnya; selama ini, saya tidak belajar apa-apa.

Padahal jelaaaaaas sekali nasihat Rasulullah kepada umatnya. “Tuntutlah ilmu, hingga engkau berangkat ke liang lahad.” Hanya maut yang boleh membuat kita berhenti belajar. Begitulah nasihat beliau. Tetapi sebagai atasan, saya sering merasa jika ilmu saya sudah cukup tinggi. Sehingga sekarang, giliran anak buah saya yang giat berlatih dan belajar. Sehingga tanpa disadari, diri saya sendiri; sudah sejak lama berhenti bertumbuh kembang.

Sebenarnya… siapa sih yang mesti terus mengembangkan diri itu? Anak buah saya. Iya. Teman-teman saya. Juga iya. Sedangkan diri saya sendiri? Lebih iya lagi. Sebab dalam perjalanan karir saya kemudian, saya menemukan bahwa ceramah saya kepada anak buah tentang pentingnya untuk terus menuntut ilmu itu sama sekali tidak berguna. Mereka tidak mau menuruti kata-kata saya.

Walaupun sudah saya sediakan training yang bagus dan mahal bagi mereka. Namun tidak ada bekas-bekasnya. Saya ragu jika mereka mempelajari sesuatu dari training itu. Lalu saya berhenti berceramah. Lantas mulai mengajari diri sendiri untuk terus belajar. S-a-y-a yang mesti terus belajar.

Believe It, Or Not! Ketika saya rajin menjinjing buku, dan membacanya. Beberapa anak buah saya menjadi lebih sering terlihat membaca buku. Bahkan ada yang datang kepada saya mengusulkan agar perusahaan menyediakan buku untuk dibaca bergantian. Ada juga yang mengirimkan kembali kepada saya buku yang kami hadiahkan untuk mereka sambil berkata;”Pak, saya lebih suka buku yang judulnya blablabla, apakah boleh saya tukar?” Bahkan ada yang membaca buku bagus yang para manager pun belum tentu pernah membacanya.

Ketika saya memaksa diri keluar dari zona nyaman itu. Saya melihat beberapa anak buah saya berani melakukan sesuatu yang selama ini tidak mau dilakukannya. Ada yang datang kepada saya, dengan gagasan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. “Pak, bagaimana kalau kita mencobanya dengan cara seperti ini?”

Ketika saya mengambil cuti untuk mengikuti training dengan biaya sendiri. Team member saya datang ke ruang kerja saya untuk mengatakan “Dang, gimana kalau teman-teman kita dikasih training tentang blablabla….”

Sejak saat itu. Saya memahami bahwa yang menjadi penyebab sulitnya menumbuhkan budaya belajar dan pengembangan diri bagi anak buah saya adalah karena saya; ‘menyuruh’ mereka melakukannya. Saya, tidak ‘melakukannya’. Dan sekarang, saya menemukan begitu banyak fenomena yang sama dihadapi oleh para atasan. Sulit untuk menyuruh anak buahnya terus mengembangkan diri.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Sahabatku, jika Anda menghadapi masalah yang sama. Mungkin, Anda harus berhenti menginstruksikan. Dan mulai menunjukkan. Tentang bagaimana seseorang mengadopsi budaya mengembangkan diri itu.

Jika Anda bersedia melakukannya, maka Anda tidak usah lagi menyuruh mereka. Karena mereka, akan mengikuti Anda dalam melakukannya. Insya Allah. Dicoba ya.

NB: Apakah Supervisor dan Manager di kantor Anda sudah dibekali dengan in-house training “FUNDAMENTAL LEADERSHIP IN PRACTICE” saya? Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Leadership In Practice

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:K2PartenringSolution

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.