Tuesday , December 11 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Apa Sih Pemimpin Itu?

Apa Sih Pemimpin Itu?

Apa sih pemimpin itu? Anda pernah mendapatkan pertanyaan itu? Mungkin jarang ya? Termasuk saya juga. Padahal, saya sering membawakan training tentang kepemimpinan. Tampaknya, semua orang sudah paham apa sih pemimpin itu. Sehingga tidak ada perlunya untuk bertanya soal itu. Kenapa pula menanyakan sesuatu yang sudah kita ketahui kan?

Tapi, akhir-akhir ini batin saya diusik oleh pertanyaan yang sama. Seolah-olah tengah ‘mempertanyakan’ pemahaman saya sendiri. Woohooooo, masa sih seorang trainer tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Nyatanya, saya memang tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan sederhana ini; apa sih pemimpin itu? Anda sudah punya jawabannya?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Sore itu saya sholat Ashar di sebuah masjid. Begitu selesai wirid, langsung keluar untuk melanjutkan pekerjaan. Diselasar masjid itu saya berpapasan dengan imam. Lalu kami bersalaman. Selain bersilaturahmi, juga mengharapkan berkah. Apalagi saat bersalaman itu kami juga saling berbalas ucapan salam.

Bagi teman-teman yang belum mengetahuinya, izinkan saya menyampaikan bahwa ucapan ‘Assalaaamu’alaikum’ itu dalam bahasa kita berarti ‘Semoga keselamatan menyertai Anda…” Kalau ditambah dengan ‘Warahmatullaah’ berarti orang itu mendoakan kita agar ‘mendapatkan kasih sayang dari Allah’. Terlebih jika dilengkapi dengan ‘Wabarokaatuh’, yang bermakna ‘Beserta berkah dari Allah yang senantiasa menjadi milik Anda….’

Keren kan artinya?
Maka ketika seseorang mengucapkan salam kepada kita, sebenarnya beliau sedang berdoa untuk kita. Agar selalu selamat sejahtera. Senantiasa mendapatkan kasih sayang Ilahi. Dan agar selamanya mendapatkan limpahan berkah dari Sang Maha Kuasa.

Hari itu, saya mendapatkan doa yang sedemikian indahnya dari imam masjid. “Wa’alaikumsalaaam Warohmatullaah Wabarokaatuh…” demikianlah saya membalas ucapan salam yang indah itu. Terasa sejuk didalam kalbu, khususnya jika kita sama-sama memahami arti dan makna yang terkandung didalamnya.

“Rasulullah bersabda,” begitu sang imam berkata secara tiba-tiba. Saya agak kaget juga. Tapi segera memasang telinga lebar-lebar. Karena pasti, beliau akan menyampaikan pesan penting dari ajaran Rasul. Benar saja. Sang imam menjelaskan sebuah kalimat yang sungguh sarat dengan makna. Kalimat yang pas banget dengan pikiran saya ketika itu.

Pikiran saya memang sedang dipenuhi oleh rasa heran, mengapa kok orang-orang pada rebutan mengejar jabatan. Di kantor, orang sampai sikut-sikutan. Di pemerintahan, orang sibuk mencari dukungan. Di gedung dewan, tebar pesona sepeti wabah yang sedang ditularkan. Semua berebutan. Terlebih lagi menjelang pemilu seperti saat ini. Di tivi pemberitaan dan diskusi seru sekali. Intinya, mereka bersedia membayar mahal untuk bisa mendapatkan jabatan.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Bukankah kita semakin sering melihat orang-orang ‘hebat’ yang idealismenya luntur hanya karena diangkat menjadi direktur BUMN? Hampir tak berbilang juga orang yang ‘berbalik arah’ ideologinya bahkan keimanannya; hanya dengan godaan berupa jabatan sebagai komisioner alias komisaris bergaji beberapa puluh juta rupiah. Jabatan dan kedudukan, bisa melunturkan jati diri seseorang.

“Memangnya masyalah buat eloh?” begitu hati saya membatin. Nggak ada salahnya kan kalau kita mengejar-ngejar jabatan.

Memang tidak masalah sih. Tapi belakangan ini saya terlampau sering melihat orang-orang yang mempunyai jabatan itu sepertinya hanya mementingkan diri sendiri saja. Mungkin hanya perasaan saya saja barangkali ya. Tapi gimana lagi. Di tivi mereka pada tampil glamor memamerkan kemewahan. Di jalan, mereka bergeluyuran dengan pengawalan menakjubkan. Kalau perlu, jalan tol pun ditutup sementara demi melenggang lenggoknya sang pemimpin. Rakyat, hanya diposisikan sebagai penonton.

Di kantor-kator perusahaan swasta juga sama. Mulai dari pemimpin kecil yang belaga, misalnya. Padahal dulu sewaktu masih sama-sama menjadi staff ya sama susahnya jugalah. Tinggal satu kosan. Kadang-kadang saling meminjam uang. Sekarang, beda status. Beda gaya. Terlebih lagi di posisi-posisi yang lebih tinggi. Pokoknya, semakin tinggi posisi ya semakin tidak terjangkau oleh orang-orang yang ada di bawahnya.

Di perusahaan-perusahaan raksasa Amerika, fenomena itu lebih jelas kelihatan. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan alam keterbukaan. Kalau disini, orang masih sungkan membuka-buka gaya hidup dan pola perilaku para atasan. Jadi orang memilih bungkam. Hanya dampak dan fenomenanya saja yang bisa kita rasakan. Masih ingat heboh soal gaji CEO sebuah lembaga amal yang menyamai gaji dan fasilitas CEO perusahaan-perusahaan swasta Amerika tingkat global? Menggelikan. Karena pendapatan mereka, diperoleh lewat sumbangan.

Saya memang sedang galau. Khususnya ketika fenomena orang mengejar jabatan tengah heboh-hebohnya. Sehingga ketika sang imam menyampaikan sabda Rasulullah itu kok rasanya klop banget dengan perasaan dan kegundahan hati saya. Setelah mendengar nasihat Rasul itu, saya merasa lebih tenang.

Karena akhirnya saya sadar bahwa memang akan tiba saat dimana manusia saling berebutan mengejar jabatan, tanpa paham; apakah sebenarnya makna dari jabatan yang disandangnya itu. Memang sudah menjadi fitrah manusia untuk melakukan hal itu. Bahkan dalam kitab suci pun sudah dijelaskan bahwa setiap manusia itu adalah pemimpin. Maka wajar kalau kita berlomba-lomba menunjukkan bahwa diri kitalah yang layak untuk memangku jabatan tertentu.

Maka sahabatku, jika Anda termasuk orang yang gemar mengejar jabatan. Tidak usah ragu. Kejarlah jabatan itu. Apakah jabatan di kantor. Di pemerintahan. Atau pun di gedung dewan. Kejarlah, sampai Anda mendapatkannya. Karena boleh jadi, memang sudah takdir Anda untuk menjadi seorang pemimpin dengan jabatan dan kedudukan yang tinggi.

Sekarang. Sebagai seorang teman. Izinkan saya untuk menyampaikan sebuah pesan yang saya dapat dari imam masjid itu. Yaitu pesan yang 1500 tahun lalu dinasihatkan oleh Rasulullah kepada para sahabatanya. Insya Allah, jika Anda berpegang teguh kepada pesan itu; maka Anda bisa menjadi atasan yang baik bagi anak buah Anda dikantor. Insya Allah Anda bisa menjadi pejabat publik yang adil bagi rakyatnya. Dan Insya Allah, Anda bisa menjadi anggota dewan yang benar-benar terhormat martabatnya. Bukan terhormat hanya sebutan belaka.

Siap mendengar pesan dari Rasulullah itu? Baiklah. Sahabatku, Rasulullah SAW bersabda; ”Setiap pemimpin adalah pelayan bagi umat yang dipimpinnya.” Setiap pemimpin adalah pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Begitulah pesan Rasulullah yang sampai kepada saya melalui imam masjid itu.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Sebuah kalimat yang sederhana saja. Namun bisa menjadi faktor pembeda yang sarat makna. Sehingga kita bisa menilai gaya kepemimpinan kita sendiri. Sudah sesuaikah dengan kaidah-kaidah kepemimpinan yang disukai Ilahi? Ataukah kita masih diperbudak oleh rasa mabuk terhadap keglamoran jabatan. Kemewahan fasilitas dan tunjangan. Atau pun lezatnya ketenaran.

Sekarang saya paham. Bahwa pemimpin itu adalah pelayan bagi umatnya. Bukan jabatan. Maka jika kita ingin mengetahui apakah diri kita ini memiliki kualitas seorang pemimpin atau tidak; caranya sederhana sekali. Begini cara mengujinya:

Jika kita selalu ingin dilayani oleh orang lain, maka mungkin kita ini bukan pemimpin. Tidak peduli jabatan kita setinggi apapun, kita ini bukan pemimpin jika masih kukuh memelihara jiwa yang doyan dilayani. Karena keberadaan kita sebagai pemimpin ini, bukan untuk dilayani. Melainkan untuk melayani orang-orang yang kita pimpin.

Oleh karenanya, mari renungkan; apakah sebagai atasan selama ini kita lebih banyak melayani orang-orang yang kita pimpin? Ataukah kita lebih banyak dilayani oleh mereka? Agar kita tahu apakah kita ini seorang pemimpin atau bukan. Mumpung masih ada kesempatan untuk memperbaikinya mulai sekarang. Kenapa?

Karena konsekuensi dari jabatan yang kita sandang ini tidak hanya sebatas gaji besar dan fasilitas yang menggiurkan. Melainkan juga pertanggungjawaban resmi kelak dihadapan Allah subhanahu wata’ala. Melalui proses pertanggungjawaban yang hanya bisa kita jalani dengan baik, jika selama memimpin ini; kita sudah menjadi pemimpin yang sebenarnya. Yaitu, pemimpin yang melayani umatnya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Allah menyediakan untuk para pemimpin yang menjalankan amanah kepemimpinannya dengan adil; pelayan-pelayan terbaiknya untuk memanjakan. Memberikan kenikmatan, dan keindahan yang tidak ada tandingannya didalam sorga. Maka jika kita bisa melayani didunia ini, kita ini adalah pemimpin dalam apapun jabatan kita. Sehingga diakhirat kelak; kita bisa mendapatkan balasan terbaik yang Allah sediakan. Insya Allah.

NB: Apakah Supervisor dan Manager di kantor Anda sudah dibekali dengan in-house training “FUNDAMENTAL LEADERSHIP IN PRACTICE” saya? Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner

Leadership In Practice

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:pinterest

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.