Wednesday , November 14 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Natural Intelligence / Yang Menggerogoti Uang Kita

Yang Menggerogoti Uang Kita

Tidak diragukan lagi jika harga barang-barang yang terus naik merupakan biang keladi semakin terkikis habisnya uang kita. Sepuluh juta hari ini, rasanya hanya lewat begitu saja. Padahal 10 tahun lalu, dapat uang 10 juta itu sesuatu banget. Sekarang, nggak kerasa greget.

Kenaikan hargakah penyebabnya? Iya. Tapi itu bukan penyebab yang hanya satu-satunya. Ada 1 faktor penting yang sering tidak kita sadari telah menggerogoti uang kita. Dan parahnya lagi, tidak memberi kita manfaat apa-apa. Tahukah Anda apa?

Agar bisa mendapatkan jawaban yang dimaksud, saya kasih Anda petunjuk melalui ‘case-study’ kecil-kecilan berikut ini.

Misalnya, Anda hendak membeli mobil seharga 250 juta. Sedangkan di buku tabungan Anda ada dana sebesar 250 juta juga. Pertanyaan saya; Anda membeli mobil itu dengan cash, atau membayar hanya uang mukanya saja untuk kemudian mencicil sisanya?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya tidak sedang membahas pola pembelian mobil yang ditahun 2015 lalu saja diperkirakan 83-85% pembelian dilakukan secara kredit. Walaupun mungkin ada kaitannya juga. Saya, sedang mengajak Anda mengidentifikasi sang penggerogot uang kita itu.

Dari case ini: Sudahkah Anda mengetahui apa yang menggerogoti uang kita? Jika belum, saya kasih satu petunjuk lagi.

Misalnya Anda mendapat tagihan kartu kredit senilai 10juta. Dan pada saat itu, isi rekening bank Anda ada 11 juta. Ini misalnya ya. Apakah Anda memilih melunasi tagihan 10 juta itu dan memegang sisa cash 1 juta? Ataukah Anda membayar sebagian tagihan kartu kredit itu supaya masih pegang beberapa juta ditangan?

Sekarang Anda sudah mendapat cukup petunjuk kan? Baiklah. Jadi apa yang menggerogoti uang kita itu? Anda benar jika menjawab ‘bunga’. Ya. Bunga atas hutang-hutang kitalah sang penggerogot uang itu. Yang tanpa kita sadari, mengurangi nilai pendapatan kita.

Jika Mr. X mendapatkan gaji 10 juta sebulan misalnya. Maka boleh jadi 3 atau 4 juta dari penghasilan bulanannya digunakan untuk membayar bunga atas hutang-hutangnya.

Cotoh kasus yang saya kemukakan tadi itu bukan tentang orang yang pengen beli mobil tapi nggak punya duwitnya loh ya. Juga bukan tentang pengguna kartu kredit yang nggak pegang uang sejumlah tagihan. Mereka punya cukup uang untuk melunasinya. Tapi mereka memilih untuk membayar sebagian saja. Lalu ‘merelakan’ bunga menggerogoti uangnya.

Jika orang yang uangnya cukup saja bersikap seperti itu; apalagi yang duwitnya kurang kan? Bisa dibayangkan bagaimana uangnya digerus bunga dengan rakus. Sehingga sebagian penghasilannya menguap begitu saja.

Harap jangan tersinggung. Karena ini bukan tentang Anda. Melainkan tentang saya. Jika Anda demikian juga, maka ini tentang kita. Maka ketika saya sadari itu, saya pun belajar mendisiplinkan diri. Membayar hutang harus menjadi prioritas dibandingkan dengan ‘menyimpan’ uang.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Faktanya, bunga dari hutang kita selalu jauuh lebih tinggi dari pada bunga tabungan kita kan. Lucunya, kita suka membayar sebagian. Dan menyimpan sebagian lagi. Padahal tanpa kita sadari, uang yang kita simpan itu; terus-menerus digerogoti. Bukan hanya oleh inflasi, melainkan utamanya ya oleh bunga itu.

Itu kalau uang kita ada. Kalau nggak ada gimana? Ya terpaksa nyicil dong. Tagihan kartu kredit dibayar minimumnya dulu aja. Mau gimana lagi? Duit buat melunasinya nggak ada!

Iya. Iya. Jangan esmosi begitu. Saya juga pernah berada pada situasi seperti itu. Lalu bagaimana jalan keluarnya? Dari semua opsi yang pernah saya pelajari, ternyata yang paling masuk akal adalah ‘melepaskan diri dari keterikatan kepada semua benda yang membuat kita harus membayar bunga itu’.

Dengan cara itu kita bisa menikmati penghasilan kita secara maksimal. Sebab faktanya; Jika kita tidak harus membayar bunga, maka 100% penghasilan kita bisa dinikmati. Utuh.

Iya sih. Tapi bagaimana caranya kita tidak kena bunga? Ambil kredit dengan bunga NOL persen, betul? Tidak betul. Karena kredit nol persen itu menjadi jebakan membeli barang melampaui kemampuan bayarnya.

Anda kira kenapa bank mau ‘menalangi’ belanja Anda tanpa dapat apa-apa? Karena para penggemar kredit nol persen itu akhirnya menunda pembayaran sehingga kena bunga yang berbunga dan kemudian kembali berbunga-bunga.

Hanya yang benar-benar kuat mendisiplinkan diri yang nggak kena bunga. Dan itu jumlahnya sedikit. Lebih dari itu, pemegang kartu kredit seperti itu tidak disukai bank. Ada saja cara bank untuk tidak memperpanjang kartu kredit itu tahun berikutnya. Percayalah; ada tekniknya.

Bank justru tidak senang pada orang disiplin yang suka melunasi tagihannya. Dan bank, paling senang pada nasabah yang suka membayar minimum tagihan. Anda, termasuk nasabah yang disukai bank? Atau yang disebelinnya?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Oke. Disiplin membayar tagihan jalan keluarnya. Tapi itu bersifat kuratif. Seperti menangkis serangan tawon yang datang bertubi-tubi. Cepat atau lambat bakal kena juga. Seperti menghindari hujan dengan payung. Pasti bakal kena cipratannya juga.

Lantas solusi ampuhnya bagaimana? Membelinya kalau punya duwit saja. Kalau nggak punya duwitnya, ya sabar saja. Terdengar kasar dan vulgar? Mungkin. Tapi itulah yang sedang saya praktekkan.

Mari kita analisis. Kebanyakan barang kebutuhan tersier kita dijual dengan ‘kemudahan’ pembayaran kan? Dimudahkan kita untuk membelinya dengan berbagai skema pembayaran. Menurut pendapat Anda, kenapa sedemikian ‘dimudahkan’?

Karena produsen dan penjualnya tahu bahwa mayoritas konsumen tidak memiliki kemampuan finansial untuk membayarnya secara tunai. Maka satu-satunya cara agar produknya terjual adalah dengan ‘menghutangkan’.

Disisi lain, manusia – kita – senang sekali mengikuti keinginan. Padahal keinginan selalu mendahului kemampuan. Maka ketika boleh ngutang, kita pun melihat peluang. Akhirnya, kita pun mau.

Terus yang bayar siapa? Kan nggak mungkin pabrik mau dihutangin? Gimana bayar gaji pekerjanya? Gimana mau bikin produk lagi? Toko penjualnya? Ya nggak mau jugalah. Mana mau mereka duwit modalnya mandek?

Jadi siapa yang bayar? Bank. Lewat kartu kredit yang kita gesek dengan bunga nol persen sambil nunggu kepelesetnya nasabah kena bunga karena kebanyakan ngutang.

Kalau bukan bank? Ya leasing. Dengan bermodal ktp, jebret! Barang harga 5 juta pun bisa dicicil 12×600 ribu. Sudah kena selisih 2,2 juta didepan tanpa terasa. Plus, kalau telat sehari saja bayar cicilannya; kena denda nol koma sekian persen perhari. Jebol.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Itu kalau nilai jualnya kecil saja. Bagaimana dengan yang ratusan juta? Ya antara bank dan leasing itulah jalan keluar yang kita punya. Dengan mekanisme yang sedikit beda, tapi prinsipnya sama saja. Dan hasil akhirnya, uang kita digerogoti; tanpa kita menyadarinya.

Kenapa kita kena? Karena berhutang yang awalnya karena kebutuhan, sudah berubah menjadi kebiasaan. Dan kalau hutang sudah menjadi kebiasaan. Maka dijamin deh; kita bakal kena bunga.

Maka kalimat kita; ‘bunga menggerogoti uang kita’ tadi sudah tidak valid lagi. Ternyata bukan bunga biang keladinya. Karena bunga hanyalah ikutan dari pohonnya. Dan pohon itu bernama; hutang.

Maka kebiasaan ngutang itulah musuh keuangan kita yang sebenarnya. Karena dari hutang itu bermekaran bunga berwarna warni. Yang walaupun tampak indah. Tapi membuat kondisi ekonomi kita berdarah-darah.

Hutang itulah yang membuat iuran sekolah anak kita tertunggak. Hutang juga yang membuat kita nggak bisa bantu konban bencana alam di Palu dan Lombok. Duwitnya ada, eh duwitnya nggak ada ternyata – maaf diralat. Dan solusi lucunya adalah; boleh ngutang dulu ke bank sambil nunggu duwit bantuannya cair yang entah kapan. Silakan janjinya ditelan.

Hutang juga yang membuat pelayanan kesehatan masyarakat morat marit. Hutang pula yang membuat berbagai badan usaha merugi. Hutang jugalah yang membuat nilai tukar rupiah susah diatasi.

Eh, pembahasannya kok jadi melipir kesini ya. Tidak usah diteruskan ya. Walaupun miris hati melihat ibu pertiwi terlilit hutang yang makin membumbung tinggi ini.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Di level kita saja barangkali. Bisa mulai dengan mengerem. Tahan dulu nafsu membeli ini dan itu, jika uangnya belum ada. Bebaskan diri dari hutang. Karena ternyata; hutang menggerogoti uang kita.

Terakhir. Mari kita berdoa..memohon pertolongan yang maha kuasa. Semoga kita, dijauhkan dari hutang. Dan dihindarkan kita dari kebiasaan berhutang. Sehingga penghasilan kita, dapat dinikmati sepenuhnya. Dan seutuhnya.

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.

Training – DeKa

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:suara.com

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.