Tuesday , December 11 2018
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Istiqomah Dalam Berintegritas

Istiqomah Dalam Berintegritas

Integritas. Siapa yang tidak kenal kata itu. Kaum profesional, semuanya sudah tahu. Tapi tahu, tidak selalu berarti mampu mengamalkannya. Makanya, walau kata itu tidak asing lagi bagi kita. Namun ada yang masih jarang ditemukan di lingkungan kita, yaitu; orang yang istiqomah menjaga integritas dirinya.

Lantas, apa yang membuat sulit bagi kita untuk mempertahankan integritas? Konon, penyebab nomor 1 berada di peringkat tertingginya adalah; urusan uang. Khususnya di zaman hedonis seperti sekarang.

Kita, berlomba untuk menampilkan citra yang melampaui kemampuan kita. Dan kita, gemar mengoleksi benda-benda yang sebenarnya, penghasilan kita belum bisa menjangkaunya. Belum bisa, tapi maksa. Belum waktunya, tapi kan ada ‘solusinya’.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Jika demikian cara kita menjalani kehidupan, maka tak mengherankan jika kemudian kita berada dalam perasaan ‘kekurangan’. Lantas, bagaimana cara menutupi kekurangan itu? Ada banyak jalan. Namun kita, sangat suka jalan pintas. Sehingga jalan pintas itulah yang kita tempuh. Walau jalan pintas itu berarti mengorbankan integritas.

Tapi. Apakah memang demikian kencerungan manusia? Ada seorang anak remaja yang melakukan sebuah eksperimen sederhana. Remaja itu bernama, Sam. Lewat eksperimen itu dia ingin mengetahui, apakah orang akan berlaku jujur atau tidak; jika sudah berurusan dengan uang. Bagaimana cara mengujinya?

Sam membuat brownis istimewa. Apa yang membuatnya istimewa? Brownis itu dibuat dengan resep khusus. Demikian dia menjelaskan kepada teman-temannya. Sam menyandingkan brownis khusus buatannya dengan brownis yang dibelinya ditoko kue. Kemudian dia meminta teman-temannya untuk membadingkan brownis mana yang paling enak.

Ups. Tunggu dulu. Sebelum teman-temannya mencoba kedua brownis itu, Sam memberinya uang 1 dollar. Kata Sam, mamanya pernah bilang;”Kalau kamu ingin orang lain berada di pihakmu, berilah mereka uang.” Setelah itu temannya memakan kedua jenis brownis itu, kemudian memberikan suara; brownis mana yang paling enak.

Sampai disini, Anda bisa menebak pilihan teman-teman Sam memvoting brownis mana? Ahaha. Hasilnya mudah ditebak ya. Semua teman Sam, memfavoritkan brownis bikinannya.

Menurut pendapat Anda, pilihan mereka jujur atau tidak? Kemungkinan besar, pilihan itu sudah terdistorsi oleh pemberian Sam berupa uang sebelum mereka semua memakan brownis-brownis itu. Betul demikian?

Eksperimen ini membuktikan bahwa uang, mempengaruhi keputusan. Itu sebabnya kenapa dibanyak perusahaan, karyawan dilarang menerima pemberian apapun dari suplier. Apa lagi jika jaksa, hakim dan panitera menerima pemberian dari terdakwa ya. Tapi di negeri kita, konon sudah menjadi peristiwa biasa.

Sampai disini, stop dulu. Ada informasi tambahan yang perlu Anda ketahui. Saya informasikan bahwa Sam, membuat brownisnya dengan jumlah cokelat yang baaanyaaak sekali. Bukan brownis namanya kalau tidak pakai cokelat. Dan brownis bikinan Sam, kaya dengan cokelat. Jadi. Pasti enak. Siapa yang tidak suka sama cokelat kan?

Dengan informasi tambahan itu, Anda masih menilai keputusan teman-temannya dipengaruhi uang yang mereka terima?

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Mungkin Anda menganggapnya tidak terpengaruh. Karena, memang kandungan cokelat dalam brownis Sam banyak banget. Jadi. Dikasih uang atau tidak, teman-temannya tetap akan memberi suara kepada brownisnya Sam.

Tidak perlu memberi uang, untuk mendapatkan suara mereka kan? Dengan kualitas brownis yang bagus, keputusan mereka; tidak ada hubungannya dengan uang yang mereka terima. Benar demikian? Yo-i.

Baiklah. Sekarang kita lihat apa yang terjadi didalam kehidupan kita. Tidak sedikit orang yang bersembunyi dibalik dalih itu. Produk atau jasa yang ditawarkan oleh ‘vendor’ tertentu memang kualitasnya lebih baik daripada vendor lain.

Jadi. Walaupun mereka ‘memberi uang’; tapi keputusan penunjukkan itu tidak terpengaruh. Murni karena kualitas barang dan jasa yang ditawarkan. Bukankah banyak yang berprinsip demikian? Itu loh yang namanya ‘conflict of interest’ alias konflik kepentingan.

Sekarang. Ijinkan saya menambah satu lagi informasi tentang brownis buatan Sam. Murah hatinya Sam dalam memberikan cokelat merupakan salah satu faktor penting yang menjadikan brownisnya istimewa. Tapi ada satu bahan lain yang membuatnya lebih istimewa lagi. Anda tahu apa itu?

Jika brownis pada umumnya dibuat dengan menambahkan gula, maka Sam. Sama sekali tidak memakai gula. Sebaliknya, dia menggunakan garam sebanyak gula yang biasa dimasukkan kedalam adonan brownis pada umumnya. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya brownis bikinan Sam?

Sekarang. Setelah Anda mengetahui komposisi bahan dalam adonan brownis Sam. Menurut pendapat Anda; apakah keputusan yang diambil oleh teman-temannya memberikan suara kepada brownis miliknya tidak dipengaruhi oleh uang yang mereka terima? Nah.

Kita sudah melihat. Betapa berbahayanya uang yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Di perusahaan swasta, bumn, lembaga negara; itu menjadi tantangan terbesar integritas kita.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Di lingkup yang lebih luas, bisa dibayangkan jika hal itu terjadi dalam pemilihan kepala daerah. Apalagi presiden. Seseorang akan terpilih menjadi pemimpin publik bukan karena kualitas dan kapasitas dirinya. Melainkan, karena amplop yang diberikan kepada para pemilihnya.

Maka tidak heran jika masa jabatannya, akan menjadi kesibukan kerja demi mengembalikan modalnya. Tidak mungkin jargon kerjanya akan memberi manfaat maksimal kepada masyarakat jika demikian kan? Rusaknya ekonomi dan kedaulatan di banyak negara yang tidak maju-maju, konon dari situ sumber utamanya.

Di banyak kantor juga sama. Ada rahasia umum yang saking umumnya, masyarakat menganggapnya biasa. Posisi-posisi tertentu seolah dijajakan dengan harga masing-masing. Bahkan untuk melamar pekerjaan, soal testnya hanya berbunyi ‘wani piro’ saja. Efeknya, tidak kalah buruknya. Tidak disemua lembaga dan perusahaan demikian tentu saja.

Lantas. Bagaimana dong caranya supaya integritas diri kita bisa tetap terjaga? Hal pertama yang perlu kita lakukan tentu saja adalah; jangan menerima pemberian apapun dari siapapun yang membuat kita tersandera dengan rasa ‘tidak enak’. Apa lagi jika rasa tidak enak itu sampai ke level ‘hutang budi’.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Perhatikan saja. Bukankah di negeri dongeng ada indikasi bahwa lembaga yang seharusnya mengabdi kepada masyarakat justeru malah mendedikasikan dirinya kepada ‘penyumbang’ dana terbesarnya? Hmmmh… barangkali tengah terjadi distorsi eksperimentasi brownis.

Maka tidak menerima pemberian diluar jalur profesional, merupakan benteng pertama pertahanan integritas diri. Selama benteng itu tegak, selama itu juga integritas kita bisa dipertahankan. Dan selama itu pula, nilai-nilai profesional bisa kita terapkan. Dan… selama itu juga harga diri kita tetap tinggi.

Kedua. Takutlah kepada Allah. Karena murka Allah teramat sangat besarnya. Khususnya jika Pancasila beneran masih menjadi identitas kita. Bukan sekedar jargon kosong ‘Saya Pancasila’ tapi kelakuan nista belaka. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mestinya cukup membuat kita terjaga. Sehingga kita tidak ikut-ikutan berbuat demikian.

Tapi ada argumen lain yang dipakai oleh tidak sedikit orang. “Kita kan tidak meminta!” Begitu katanya. “Kalau dikasih, masa di tolak sih”, demikian bahasa lainnya. Ya seperti anak-anak dalam percobaan brownis itu. Kan nggak minta. Dikasih. Ya diterima.

Jika masih suka terlintas dalam pikiran kita prinsip seperti itu. Maka kita perlu meresapi dan merenungkan peringatan Rasulullah. Ketika pemberian itu mempengaruhi keputusan, maka; “Kepada yang memberi. Dan yang menerima. Sama-sama Allah murkanya.” Begitu peringatan kerasnya.

Demikianlah kita dididik untuk benar-benar menjaga amanah ini dengan sepenuh integritas diri. Karena konsekuensinya, tidak hanya kepada urusan dunia semata. Melainkan juga bakal dibawa sampai ke akhirat kelak. Ini khusus bagi yang beneran pancasilais. Yang percaya, kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Berlaku jugakah kepada mereka yang mengatakan bahwa akhirat hanyalah dongeng belaka? Berlaku jugakah bagi mereka menjadikan sila ketuhanan hanya sekedar klaim di mulut saja tanpa meresapinya didalam hati? Tentu saja. Karena kepada segala sesuatu, Kuasa Allah meliputi.

Semoga Allah, senantiasa menolong hamba-hambanya. Untuk menjadi pribadi yang berintegritas tinggi. Baik dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Maupun dalam kehidupan profesional kita. Aamiin.

NB: Saya punya program “CONNECTING & COLLABORATING (THE POWER OF SYNERGY)” lho. Cocok untuk sisipan acara RAKER di kantor Anda. Hubungi 0812-1989-9737 atau email: dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.
http://www.dadangkadarusman.com

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:TheHagueAcademy

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.