Tuesday , March 26 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Pemimpin Yang Memiliki Empati

Pemimpin Yang Memiliki Empati

Kalau pandai memilihnya, dari tivi kita bisa mendapatkan acara bagus yang sarat dengan pelajaran. Antara lain saya dapatkan itu dari MasterChef Junior. Khususnya episode Road To The Finale.

Kompetisi itu menyisakan Avery, Beni, dan Quani untuk kembali bertanding di Grand Final. Sebelum pertandingan terakhir itu berlangsung, ada satu episode khusus berupa flash back selama perjalanan session 4.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Yang menarik dari episode itu adalah, ketika Gordon Ramsey menyampaikan sebuah pertanyaan retorik; bagaimana anak-anak itu bisa memasak dengan menggunakan peralatan standar orang dewasa?

Bagi saya, itu merupakan million dollar question. Karena, pertanyaan itu menunjukkan sebuah kualitas pribadi yang sangat tinggi, yaitu; empati.

Hari ini, kita melihat betapa empati susah dicari. Tentu saja yang kita maksudkan adalah, dari orang yang posisinya lebih tinggi. Orang yang kedudukannya lebih tinggi, sangat sedikit yang memiliki empati tinggi. Hari ini. Kita menyaksikannya sendiri.

Padahal, empati itulah yang bisa membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Lalu mendorong kita untuk melakukan sesuatu agar menjadi bagian dari solusi yang dibutuhkannya.

Jika yang tidak memiliki empati itu seorang pemimpin, maka dampaknya tentu lebih besar lagi. Karena pemimpin seharusnya ada untuk orang-orang yang dipimpinnya. Karena tanpa empati itu, sang pemimpin hanya akan mementingkan dirinya sendiri.

Dikantor, pemimpin yang tidak memiliki empati tidak akan paham kesulitan apa yang dialami dan dirasakan oleh anak buahnya. Maka jangan harap cara memimpinnya akan sesuai dengan kaidah-kaidah kepemimpinan yang sesungguhnya.

Di level negara, pemimpin yang tidak memiliki empati dampak negatifnya bakal lebih serius lagi. Karena selain cakupan kepemimpinannya lebih luas, juga karena kepemimpinan level negara adalah amanah yang dititipkan rakyat di pundaknya.

Jika amanah itu dipegang oleh orang yang tidak memiliki empati, maka penyalahgunaan kekuasaan bakal menjadi keniscayaan yang pasti terjadi. Minimal, kesenjangan sosial semakin tinggi. Ketimpangan ekonomi makin menjadi-jadi. Maksimalnya, kehancuran tatanan moral dan sosial, bahkan kedautalan sebuah negara dipertaruhkan.

Kenapa? Karena kita tidak bisa mengharapkan kepedulian dari orang yang tidak memiliki empati. Kewenangan hanya akan diutilisasi untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Padahal kepentingan kelompok, tidak mencerminkan kepentingan semua komponen negeri.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Lantas, apakah untuk memiliki empati kita harus menjadi seperti anak buah kita? Ternyata tidak. Karena, bagaimana pun juga kita bukan mereka. Sehingga tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi seolah-olah sama dengan mereka.

Soal ini, Gordon Ramsey punya resep lezatnya. Di episode Road To The Finale itu, ada segmen dimana dia sendiri yang harus memasak dengan peralatan dapur yang proporsinya dibesarkan. Bukan alat masak standar orang dewasa yang dia pakai. Melainkan alat masak para raksasa.

Hanya berupa simulasi saja sebenarnya. Tapi sekarang, Gordon Ramsey bisa mengalami sendiri bagaimana rasanya ketika para chef cilik yang umurnya baru 6 sampai 8 tahun itu mengangkat wajan, memotong bawang, memanggul gandum dan sebagainya dengan standar sarana orang dewasa.

Ternyata. Chef dunia sekelas Gordon Ramsey pun kelelahan dan harus bersusah payah dalam melaksanakan penugasan yang sebenarnya sudah menjadi keahliannya. “Now I understand….” demikian fakta dan rasa yang dipelajarinya.

Temuan itulah yang kemudin menjadikan Gordon Ramsey juri masak yang benar-benar paham bagaimana menjalankan perannya dengan tepat. Tanpa harus mengurangi sifat demandingnya yang menuntut hasil berstandard tinggi.

And you know what. Dengan cara itulah Gordon Ramsey menjadi juri favorit yang paling disukai oleh para kontestan. Padahal kita tahu. Bahwa dia, merupakan juga yang paling ‘menakutkan’ dibandingkan juri lainnya.

Belajar dari episode itu, saya membayangkan di kantor; kita bisa menjadi leader yang memiliki empati tinggi. Dengan kualitas kepemimpinan seperti itu, kita tidak akan membiarkan anak buah kita berjuang sendirian.

Kita akan menjadi bagian dari perjuangan mereka. Saling mendukung. Saling menyokong. Sehingga kita bisa menjadi pemimpin yang layak buat anak buah kita.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Saya juga membayangkan, Indonesia dianugerahi Allah dengan pemimpin yang memiliki empati tinggi untuk rakyatnya. Bangsanya. Negaranya. Tanah tumpah darahnya. Yang kemerdekaannya diraih dengan pengorbanan para pendahulu dan pendiri bangsa ini.

Pemimpin seperti itu tentu tidak akan membiarkan rakyatnya berjuang sendirian menghadapi kehidupan. Terlebih ditengah semakin sengitnya persaingan dengan para pekerja global. Sehingga beliau benar-benar layak untuk memimpin negara yang sedemikian besar, luas, dan beragam ini. Semoga.

NB: Salah satu topik pelatihan kepemimpinan yang dibutuhkan para leader adalah “SERVANT LEADERSHIP”. Para leader dikantor Anda, perlu juga mendapatkannya. Siapa trainer yang layak Anda pilih? Kabari kami jika membutuhkan bantuan.

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner
http://www.dadangkadarusman.com

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Allah; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:verywellmind

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.