Wednesday , July 17 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Leadership / Woooy, Ada Gen Y Di Team Elooh!

Woooy, Ada Gen Y Di Team Elooh!

Gen Y dan Gen X. Buat yang tidak suka ribet-ribet mikirin, soal ini tidak terlalu menarik. Sekalipun begitu, setiap pemimpin tidak boleh menganggap enteng. Kenapa? Karena sekarang, mereka yang dikategorikan sebagai Gen Y itu sudah menjadi ‘pemain’ yang paling dominan di dunia kerja. Dan boleh jadi, sekarang; orang-orang di team yang Anda pimpin itu kebanyakan Gen Y. Hal ini menimbulkan implikasi yang cukup besar dalam cara kita memimpin. Sebab cara memimpin kita selama ini, mungkin tidak efektif lagi untuk mengelola anak buah yang karakternya sungguh sangat berbeda itu. Apakah Anda sudah bisa merasakannya?

Dalam perjalanan profesi mendampingi berbagai klien terkait pengembangan SDM, saya sering berhadapan dengan situasi seperti ini. Dan saat ini, soal Gen X dan Gen Y itu sudah tidak lagi berada dalam ranah teori saja. Melainkan sudah berpindah ke tataran praktisnya. Mereka disebut sebagai kaum millennial. Bahkan. Tolong dicatat, bahkan; tahun depan, dunia kerja kita akan secara massif dimasuki oleh generasi yang lebih baru lagi. Yaitu Gen Z, alias generasi Centenial. Simak misalnya pembicaraan berikut ini.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

“Anak-anak sekarang mah pada manja-manja…” begitu gerutu seorang atasan.
“Manja bagaimana tuch?” Supaya tidak salah paham, saya mencoba mengklarifikasinya.
“Iyya, mereka itu nggak mau susah. Maunya yang gampang-gampang saja.” Jawabnya. “Kalau kita jaman dulu…, wooo disuruh kerja apa saja mau. Sekarang, mereka pada milih-milih kerjaan,” tambahnya. “Dulu, kita nurut banget sama atasan. Anak muda zaman sekarang, mana ada takutnya. Sopan santunnya aja sudah nggak ada.”

“Oh ya?” hanya itu respon saya.
“Memang begitu. Dipecat aja mereka nggak takut kok.” Kata teman saya. “Kalau dibilangin mau dipecat malah mereka berani nyolot…”
“Nyolot gimana maksudnya?”
“’Ya udah kalau Bapak mau mecat ya pecat aja Pak’ giiitu katanya. Lah, kita kan jadi susah juga.” Katanya.
“Susah gimana?”
“Ya susahlah kalau punya anak buah kepedean kayak gitu,”
“Emangnya, masyalah buat eloh?” Sekalian saja saya menggodanya.

Perhatikan hal-hal berikut ini: Punya akses pergaulan yang luas. Melek teknologi informasi. Selalu online dan terhubung dengan dunia luar. Bisa mengikuti job fair dua kali dalam sebulan. Menyebarkan CV hanya dengan sekali klik. Punya prinsip ‘Gaji boleh besar, asal kerjaannya asyik’. Rasa percaya diri tinggi. Kalau nggak enak disini, ya udah cari yang lain aja. Dan sebagainya.

Bandingkan dengan yang ini; takut kehilangan pekerjaan. Takut sama atasan. Takut dimarahin. Susah nyari kenalan head hunter. Nyari kejaan baru susah banget. Takut ketahuan atasan kalau melamar ke perusahaan lain. Gadget sih bagus, tapi hanya dipake buat nelepon dan SMS doang. Kerjaannya emang nggak enak sih, tapi mau gimana lagi. Dan sebagainya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Itu antara lain perbedaan antara Gen X dan Gen Y. Makanya, orang bilang lebih mudah mengelola Gen X dari pada Gen Y. Tampaknya memang banyak atasan yang belum siap untuk berhadapan dengan perubahan pola perilaku yang menjadi ciri utama pada generasi baru itu. Bahkan, kadang-kadang kita juga menyangkal bahwa pergeseran pola perilaku itu tengah terjadi.

Tidak sedikit juga atasan yang menuntut anak buahnya yang Gen Y itu menyesuaikan diri dengan tata nilai, tata krama, maupun sopan santun yang selama ini dianut oleh Gen X. “Namanya orang kerja, ya harus menyesuaikan diri dong dengan tempat kerjanya…” begitu prinsip mereka.

Prinsip itu benar secara normatif. Tapi tidak benar dalam pola hubungan atasan-bawahan dizaman baru. Faktanya, kita tidak sedang berhadapan dengan orang perorang. Sepuluh tahun lalu mungkin saja sudah ada anak buah kita yang perilakunya ‘aneh’ seperti itu. Tapi hanya dia sendiri yang begitu. Sehingga mudah bagi kita untuk mengarahkan dia agar menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya.

Sekarang? Kita tidak berhadapan dengan individu-individu, melainkan dengan sebuah generasi yang mempunyai pola perilaku baru. Dan itu, sudah dan sedang terjadi dalam tingkat global. Apa bisa kita melawan energy perubahan semasif itu? Hmmh…. Hampir mustahil ya.

Maka untuk menjaga efektivitas kepemimpinan, tidak ada pilihan lain bagi kita selain melakukan perubahan dari cara kita memimpin itu sendiri. Lagipula, tidak semua pola perilaku Gen Y itu buruk kok. Bahkan banyak dari pola perilaku Gen Y yang justru sangat konstruktif. Misalnya saja, rasa percaya diri yang tinggi. Kecepatan dalam menyerap informasi. Kecepatan dalam mempelajari hal-hal baru. Atau, kemampuan untuk membangun jaringan luas dalam waktu yang relatif singkat.

Jika kita bisa mengadopsi hal-hal positif itu kedalam pola perilaku team kerja kita; justru malah akan memberi manfaat yang banyak. Misalnya; gaya bekerja yang fun. Kan asyik juga kalau kita bisa membangun budaya kerja yang fun di team kita. Nggak cuman Gen Y yang bakal suka loh. Gen X pun suka juga kok. Soal ini, saya punya banyak buktilah.

Sekalipun demikian, kita juga memang harus fair dalam memandang sisi sebaliknya. Misalnya. Sikap Gen Y yang mudah sekali untuk berpindah. Ini adalah konsekuensi dari hasil kombinasi antara sifat indipenden, percaya diri yang tinggi, lingkup pergaulan yang luas, dan sedemikian kayanya sumber informasi yang bisa mereka akses.

Bayangkan saja misalnya situasi berikut ini: tanggal 23-24 ada job fair di sebuah gedung mentereng di Jakarta. Tanggal 30-31- nya, diadakan lagi acara job fair di gedung yang sama dengan EO yang berbeda. Dan tahukah Anda, bahwa event seperti itu sekarang sudah sedemuikian ‘biasa’-nya dan dikelola serta dipublikasi secara digital?

Dulu Anda harus menyiapkan segepok berkas agar bisa memasukkan CV ke beberapa perusahaan. Sekarang, Anda hanya perlu mengisi selembar formulir. Lalu data itu masuk kedalam system computer. Lantas disimpan didalam kartu elektronik. Dan. Anda tinggal ‘menempelkan’ kartu itu ke sebuah alat mungil yang dipajang di setiap stand perusahaan yang ikut job fair. Hanya dengan bunyi ‘nit’, maka data Anda sudah masuk kedalam system database HRD mereka.

Konsekuensinya, mereka akan mempunyai peluang lebih besar untuk melompat ke perusahaan lain dengan sedemikian mudahnya. Dalam tahap ini, salah satu peran penting kita sebagai atasan adalah; membantu mereka untuk belajar membangun profesionalisme dan kredibilitas yang tinggi. Supaya mereka bukan sekedar menjadi pribadi yang berorientasi pada gaji dan logo perusahaan. Yang nothing to loose untuk mencoba sesuatu. Yang berprinsip untuk ‘cobain aja, kalau nggak suka tinggal pindah lagi ke perusahaan lain’. Inilah salah satu lahan besar bagi pada leader dalam memenangkan hati dan komitmen anak buahnya dari kategori Gen Y.

“Hadeuh… betapa ribetnya urusan kita kalau mesti ngurusin sampai sebegitunya….” Mungkin ada keberatan seperti itu dalam hati kita. Well, mungkin ribet dan cape banget. Tapi, bukankah itu lebih baik daripada mesti keseringan kehilangan anak buah justru pada saat pekerjaan Anda lagi banyak-banyaknya?

Lagi pula, bukankah merupakan tugas kita untuk melayani anak buah? Jika Anda lupa, izinkan saya mengingkatkan kembali bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Setiap pemimpin adalah pelayan bagi umat yang dipimpinnya….” Tidak ada keraguan jika kita ini bekerja untuk melayani mereka. Bukan untuk dilayani. Dan sabda Rasul itu mesti membuat kita selalu sadar bahwa; lelah kita, adalah ibadah.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Apalagi lelah yang ditimbulkan dari sebuah proses mendidik anak buah. Terlebih anak buah dari Gen Y yang pada umumnya, masih gamang dengan karir itu. Karena mereka masih disilaukan oleh keinginan khas kaum muda. Yang inginnya kerja gampang, tampilan keren, plus bayaran besar. Padahal, kita yang lebih berpengalaman ini kan paham; bahwa kualitas pribadi seorang professional tidak dibangun dengan cara itu.

Maka wajar dong, kalau kita mengeluarkan tenaga ekstra untuk mendidik mereka. Agar bisa mempersiapkan dirinya untuk menjadi professional handal dimasa mendatang. Dan kalau kita sudah meniatkannya untuk ibadah, biarlah Allah saja yang menakar imbalannya. Minimal, Anda akan memiki team yang tangguh di unit kerja yang Anda pimpin. Siap memimpin anak buah Gen Y? Insya Allah.

NB: Coba perhatikan, apakah para leader di perusahaan Anda sudah punya bekal yang memadai untuk memimpin Generasi Millenials? Jika belum, segera beri mereka bekal itu. Saya punya in-house training “LEADING MULTI GENERATIONS” sebagai salah satu alternatifnya. Hubungi 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner
http://www.dadangkadarusman.com

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan (1) Nama dan tulis (2) “Dekadarus And Friends Group”. Agustus 2015. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “L (=Leadership)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:thenewyorktimes

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.