Sunday , September 22 2019
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Konsekuensi Gaji Gede

Konsekuensi Gaji Gede

Anda, digaji berapa disana? Maafkan jika pertanyaan itu agak vulgar. Nggak usah Anda kasih tahu saya. Rahasiakan saja. Tapi betul ya, Anda ingin digaji besar? Tidak? Maulah pastinya. Siapa yang tidak mau kan.

Pertanyaannya adalah; darimana sih datangnya hitung-hitungan angka yang tertera dalam slip gaji kita? Waktu masih kerja dulu, saya suka ngitung-ngitung tuch. Ini gaji dan tunjangan gue segini. Perusahaan dapat apa dari gue ya? Bener. Apa lagi ketika masih jadi salesman. Suka iseng aja ngitung.

Ada gunanya nggak mikirin yang begitu? Kayaknya sih buang waktu aja kan ya. Tapi ternyata nggak sia-sia loh. Kita jadi paham bahwa besaran gaji kita itu nggak ujug-ujug segitu. Dan sebagai seorang pegawai, kita bisa ‘do something’ untuk memungkinkan kita dapat kenaikan lagih. Itu pertama.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Ke-2. Kita suka melihat, orang dengan gaji gede sering agak belagu kan ya. Wajarlah sebenarnya. Kan gajinya gede. Dan wajar kalau kita bilang mereka belagu. Soalnya kan bukan kita yang gajinya gede. Glek!

Serius. Walaupun gaji gede itu nikmat dan lezat. Tapi ada hal-hal yang sering luput dari perhatian kita. Semua orang yang bergaji gede, cenderung begitu. Baru cenderung loh ya. Begitu begimana? Begini.

Tadi malam, sambil melepas lelah saya nonton tivi. Sedang tayang film THE COMMUTER yang dibintangi Liam Nelson. Niat awalnya sih cuma melemaskan otot-otot setelah beraktivitas cukup menyita energi siang tadi. Nonton bentar terus tidur.

Tapi. Saya jadi penasaran dengan film itu. Apa penyebabnya? Kehidupan Michael yang serba wah sebagai seorang eksekutif sebuah perusahaan keuangan di Wallstreet. Rumahnya megah. Mobilnya BMW model terbaru. Anaknya, sekolah di institusi swasta yang mahal. Istrinya? Ibu-ibu borju dong.

Setiap pagi dia diantar istrinya menuju ke stasiun untuk kemudian menggunakan kereta menuju ke Grand Central Station di New York. Sejauh yang saya tahu, disana mereka nggak maniak pake mobil saat ngantor. Naek kereta aja. Beda dengan kita. Bawa mobil ke kantor merupakan ‘penegasan’ atas kesuksesan karir. Maka tak heran kita suka maksain beli mobil kreditan kan.

Sudah 10 tahun Michael menjalani rutinitas kerja seperti itu. Dan hari itu, seperti hari-hari lainnya. Dalam perjalanan menuju ke stasiun, ia diskusi cukup ‘hangat’ tentang uang kuliah supermahal anaknya yang belum termasuk sewa apartemen. Kehidupan orang-orang sukses yang menggiurkan, ya kan?

Dikantor, Michael sibuk banget. Dia sedang berbicara lewat telepon ketika bossnya mengetuk pintu, kemudian memintanya untuk datang ke ruangannya. Dia pun menutup teleponnya. Lalu mengikuti atasannya.

What happened? Singkat cerita, atasannya memuji kinerjanya. Tentu. Itu bukan hal baru. Karena karirnya tidak akan mungkin sampai sejauh ini jika dirinya tidak sebagus itu. Tapi hari itu, closing statement-nya agak beda. Agak menyentak dan diluar dugaan.

“Tapi gaji dan kompensasi kamu terlalu besar dibandingkan dengan kontribusi yang kamu berikan kepada perusahaan…” demikian atasannya mengatakan. “Jadi dengan menyesal…” kalimat selanjutnya bisa Anda terka.

Coba bayangkan Anda berada di posisi Michael. Apa yang Anda lakukan? Sebagai tambahan bahan pertimbangan; umurnya 5 tahun menuju pensiun. Tidak gampang lagi cari pekerjaan baru. Istrinya sedang lucu-lucunya bersosialita. Anaknya mau masuk universitas swasta papan atas. Rumah megahnya masih cicilan. Mobil mewahnya juga. What are you going to tell to your wife at home? Itu yang kedua.

Jadi apa dong refleksinya dalam kehidupan kerja kita? Well. Ada 2 juga. Pertama. Jika Anda seorang pekerja profesional. Yang ingin dapat bayaran tinggi. Sebetulnya, ada caranya.

Coba mulai dengan peduli terhadap hitung-hitungan ini; “Berapa gaji dan tunjangan yang Anda terima. Dan berapa minimal yang harus perusahaan Anda dapatkan dari kontribusi Anda.” Dengan begitu nanti Anda bisa mengukur, seberapa penting Anda buat perusahaan.

Teknik hitungan itu, bisa Anda pakai juga untuk ‘membidik’ berapa gaji dan tunjangan yang Anda canangkan dimasa depan. Lugasnya; Elo pengen digaji berapa. Perusahaan bakal kasih angka itu. Kalau…. blablabla? Gitu caranya.

Teori? Tidak. Saya masih sempat menyimpan dokumen kenaikan gaji waktu masih kerja dulu. A bit differente dibanding kebanyakan orang lainnya, i believe. Tapi. Tidak perlu saya detailkan disini kan? It worked. Just try it yourself deh.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Ke-2. Yakin Anda ingin digaji gede? Oke. Nggak ada masalah. Tapi sadarkah Anda dengan konsekuensinya? Kalau soal kerja kerasnya sih nggak saya ragukan. Anda pasti sangguplah. Kerja keras kalau digaji gede mah oke. Begitu kan prinsipnya? Yes. Kita semua sudah tahu itu. Makanya bukan konsekuenai yang itu yang saya maksudkan.

Apa dong? Konsekuensi gaya hidup.
Ya. Saya tidak bercanda. Dan ini efeknya tidak ringan. Anda yang sekarang gajinya sudah gede, pasti paham apa yang saya maksudkan. Kita. Sering kepengeeeen banget dapat gaji tuch yang gede sekalian. Kayaknya bisa hidup serba enaknya deh ya. Iya. Kayaknya.

Kenapa kayaknya? Karena enaknya teh tidak multak euy. Tahu gitu saya? Lumayan tahulah. Dari film The Commuter itu. Dan dari fakta hidup yang kita temui sehari-hari.

Emangnya what’s wrong dengan gaya hidup? Nothing’s wrong. Kalau saja segala sesuatunya berjalan mulus. Tapi faktanya, hidup tidak selalu semulus itu kan. Kisah Michael dalam The Commuter itu, adalah potret kecil para profesional sukses di zaman kita. Income besar. Tapi tak punya tabungan. Kira-kira gitulah.

Eh. Kok nyindir Dang!
Sssshh… ini tentang gue. Jadi nggak usah baperan. Kalau nasib ente juga sama, ya udah kita tahu sama tahu aja ya kan.

Gaji gede, menempatkan kita pada kelompok kelas menengah. Dengan ciri, bergaya tinggi, demen belanja barang-barang branded, suka menjadikan cicilan 0% sebagai andalan, gaji bulanan hanya bertahan setengah jam sebelum lompat kesana sini melalui berbagai kewajiban transferan, bonus tahunan sebagian besarnya digunakan untuk nuntupin tunggakan. Maka sebagai kelas menengah, kita ini merupakan mahluk yang paling rentan.

Terus kita mesti menghilangkan keinginan untuk dapat gaji gede gitu? Nah. Bukan itu tujuannya. Kita bahas sedikit lagi. Begini.

Kalau hari ini. Anda belum masuk kedalam kategori profesional bergaji besar. Bersyukurlah. Karena dengan gaji yang ‘tidak besar’ itu Allah memberi Anda kecukupan. Dan Allah, menjaga istri dan putera puteri Anda dari sifat hedonis. Minimal, anak usia SD Anda nggak minta smart phone diatas 5 jutaan kan?

Mumpung belum bergaji besar, siapkan perjuangan menuju ke profesi bergaji besar itu dengan tekad dan mental bahwa Anda bersama anak dan istri akan konsisten dalam kebersahajaan. Bersahaja kan nggak berarti hidup susah. Tetep hepi. Berkelimpahan. Tapi tidak berlebih-lebihan. Mesti begitu tekad sikap yang bakal diterapkan nanti kalau dapat gaji gede. Mesti begitu tekadnya. Karena kalau nanti, susah. Percayalah.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Bagaimana kalau hari ini, Anda sudah terlanjur mendapatkan gaji gede? Lah, bagus dong. Banyakin alhamdulillahnya. Lebih banyak lagi syukurnya kalau didalam guyuran gaji gede itu, Anda dan keluarga sudah terbiasa menahan diri dari sifat berlebih-lebihan. Yang saya yakin. Itu tidak gampang.

Lantas apa yang mesti dilakukan? Ya berkontribusilah sepatutnya kepada perusahaan. Supaya gaji gede itu tidak jadi bumerang ketika perusahaan melakukan evaluasi efisiensi bidang keuangan. Minimal begitu. Minimal. Kalau bisa menata ulang gaya hidup, bagus. Walau tentu nggak seru.

Kalau bisa nyisih-nyisihin sebagian pendapatan, keren. Meski pasti mesti balapan sama cicilan. Kalau bisa mulai invest, mantap tenan. Biarpun pasti ada resiko mengalami kerugian.

Intinya mah. Lets do whatever we can do lah. Sekecil apapun itu. Pasti ada manfaatnya. Minimal. Kita paham konsekuensi dari besar atau kecilnya gaji kita. Dan semoga kita. Anda dan saya. Bisa lebih baik lagi menyikapinya.

N.B: Untuk membekali talenta muda, saya punya Training “TURNING POTENTIAL POWER INTO PROFESSIONALISM“. Untuk membekali leadernya, saya punya training “HOW TO BECOME A PEOPLE BUILDER“. Hubungi 0812-1989-9737 atau email dkadarusman@yahoo.com

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner.
http://www.dadangkadarusman.com

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor : 0812-19899-737. Sebutkan Nama Lengkap dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar:adzuna

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.