Thursday , April 9 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Personal Development / Buah Ketulusan Dalam Bekerja

Buah Ketulusan Dalam Bekerja

Dari sisi bapak, kami termasuk keluarga yang sederhana. Secara materi, kami sangat bersahaja. Maka jika ada sepupuan yang karirnya bagus, merupakan kebanggaan bagi keluarga kami. Salah satunya adalah adik sepupu saya. Anak kecil ingusan itu, kini sudah bertransformasi menjadi lelaki gagah dengan gaji khas orang pertambangan.

Anak itu memang ulet banget. Pinter juga. Cuman karena ekonomi keluarga dengan 9 kakak adik, ya sekolahnya lumayan tersendat juga. Maka ketika dia diberi kesempatan untuk bekerja itulah potensi dirinya seperti dilepaskan dari kerangkeng kesulitan ekonomi.

Soal prestasi kerja itu, adalah soal kemauan dirinya sendiri. Dan itu, selalu menarik untuk dikaji. Tapi untuk sampai kepada status ‘pekerja’ itu lebih menarik lagi untuk kita renungkan. Orang kampung seperti kami, tak mudah mendapatkannya. Lalu bagaimana dia bisa memperolehnya? Berkat ketulusan ayahnya dalam bekerja. Loh, bagaimana ceritanya? Begini.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Suatu hari di acara keluarga, saya bertemu dengan ayahnya. Paman saya. Saya bilang pada beliau bahwa saya ikut gembira dengan pekerjaan putera lelakinya. Tanpa saya minta, beliau pun bercerita bagaimana seorang anak yang tinggal di pedalaman bisa sampai ke rantau nun jauh disana. Ketika mengawali pembicaraan itu, wajah beliau menyiratkan kebanggaan. Tentunya biasa saja kalau orang tua bangga pada anaknya, kan? Tapi. Menjadi luar biasa bagi saya ketika beliau menceritakan detailnya.

Paman saya itu punya 9 anak. Saya ulang; sem-bi-lan. Tinggal di kampung dengan 9 orang anak, tentu bukanlah cerita kehidupan yang menjanjikan. Saya tahu betul kehidupan keluarga kami. Saya sendiri adalah anak seorang guru sekolah dasar dengan 6 anak. Ayah saya yang guru itu adalah 11 bersaudara dan beliau merupakan anak lelaki tertua yang menjadi tumpuan harapan kakek nenek saya. Ayah, mesti merangkap menjadi petani. Dengan begitu, beliau bisa menjadi ‘sandaran’ seluruh keluarga. Jadi, saya bisa membayangkan. Seperti apa kehidupan paman saya dengan dengan 9 anaknya itu.

“Paman juga nggak nyangka kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan di pertambangan itu Dang…” begitu paman saya bercerita.”Waktu itu paman mengunjungi orang yang meninggal.” Lanjutnya. “Eh, rupanya disana ada seseorang yang paman kenal puluhan tahun lalu.” Katanya.

“Puluhan tahun lalu?” tanya saya.
“Iya,” katanya. Memang, dulu paman saya pernah ‘menghilang’ dari kampung selama sekitar satu atau dua tahun. Keluarga tidak ada yang tahu. Malam itu beliau bercerita bahwa ‘menghilangnya’ dirinya itu karena dia menjaga agar jangan sampai keluarga tahu bahwa dirinya bekerja sebagai ‘pembantu’ di rumah dinas sebuah perusahaan yang dihuni oleh beberapa karyawan. Mess, mungkin bisa disebut demikian. Tugasnya adalah mencuci baju, memasak, membersihkan mess, menyediakan semua kebutuhan karyawan. Seperti pembantu rumah tangga gitulah. Cuman dalam versi ‘cowok’-nya.

“Pak… masih, ingat saya?” Begitu sapa paman saya ketika seseorang yang dikenalnya itu hendak masuk kedalam mobilnya setelah takziah. Dan begitu orang yang disapa melihat kearahnya, sungguh diluar dugaan. Beliau bukan hanya masih ingat, melainkan juga memeluknya erat-erat. Lalu memperkenalkannya kepada istrinya. “Mamah…” katanya. “Inilah orang yang paling berjasa selama hidup Papa…” kata beliau sambil menyebutkan nama paman saya itu. “Dialah yang merawat Papa dulu sewaktu Papa masih bujangan. Pokoknya Papa berhutang budi kepadanya Mah….”

“Kamu itu kemana saja. Saya mencari-cari kemana-mana kok tidak ada jejaknya sama sekali,” kata beliau. Kali ini sepertinya sedang marah. “Saya mau memberi kamu pekerjaan penting, tapi kamu kok malah menghilang begitu.” Rupanya, ketika karir beliau menanjak naik paman saya malah meminta berhenti bekerja. Dan saya kenal betul karakter paman saya. Jika dia bilang ingin berhenti ya berhenti saja. Sedangkan karir mantan bossnya itu terus melambung hingga beliau menjadi orang nomor satu di perusahaan itu.

“Berapa anakmu sekarang?” tanya beliau.
“Sembilan Pak…” kata paman saya.

“Haaaaaah?” Kayaknya orang kota selalu syok mendengar orang yang punya anak sampai Sembilan. Di kampung kami, yang seperti itu sudah biasa. Bahkan ada yang lebih banyak dari itu. “Ya sudah, kalau begitu.” Kata beliau. “Kamu punya anak yang sudah besar atau tidak…?”

“Ada Pak.” jawab paman saya pendek.
“Sudah kerja?”
“Belum Pak…..”
“Hiiiih gimana sih kamu itu?” kata beliau. “Saaaaya ini bisa memberikan pekerjaan apa saja kepada anak kamu. Kenapa kamu tidak menghubungi saya heh?”

“Wah… saya malu Pak…” jawab paman saya.
“Malu. Malu. Kamu itu sudah saya anggap seperti keluarga, tahu tidak?!” Beliau kembali menggunakan nada yang tinggi. “Nih nomor telepon saya. Kamu punya hape apa tidak?”

“Punya Pak…”
“Berapa nomornya, sini.”
Lalu kedua insan yang berbeda status itu saling bertukar nomor telepon. “Suruh anak kamu itu menelepon saya secepatnya ya….”

“Iya Pak…”
Lalu beliau pun meninggalkan tempat itu dengan mobilnya yang membuat semua mata terpana.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Pertanyaan; menurut pendapat Anda, apa yang telah dilakukan oleh paman saya ketika dia bekerja sebagai ‘pembantu’ di mess beliau itu? Kok sampai-sampai beliau sedemikian merasa berhutang budinya kepada pegawai kecil itu. Apa yang dia lakukan selama bekerja disana?

Dasar orang kampung. Sudah dikasih kesempatan sama boss besar pun masih saja takut mengambilnya. Paman saya itu bilang kalau dia malu untuk menelepon mantan bossnya. Jadi, setiap hari dia hanya bisa memandangi nomor telepon itu tanpa berani menghubunginya. Sesekali dia memandang wajah anak lelakinya yang tengah tertidur lelap. Kasihaaaaan rasanya kok masih tejebak di tempat terpencil begitu. Padahal di STM dia dapat nilai yang bagus. Pinter anaknya. Tapi yaaaah… namanya di kampung. Anak pinter juga hanya bisa menjadi buruh tani atau tukang ojek.

Ketika memandang wajah anaknya itu, paman saya punya kekuatan untuk menelepon. Tetapi ketika hendak memencet tanda ‘call’ hatinya kembali ciut. Sehingga dia tidak pernah menelepon. Sama sekali tidak. Sampai akhirnya, hand phone jadulnya itu berdering. Kaget dia. Karena yang menelepon itu mantan bossnya. “Gemetaran paman waktu mengangkat telepon itu, Dang…” katanya. “Apalagi waktu itu langsung si boss marah-marah.”

“Kenapa dia marah?” Begitu saya bilang. ‘Enak banget orang marahin paman gue…’ begitu hati saya memprotes. Maklum, keren-keren gini juga saya ini mantan anak badung. Nggak terima dong kalau anggota keluarga saya ditindas orang … haha…

“Dia tersinggung karena paman mengabaikannya,” katanya. Sekarang saya mengerti.
“Besok, anakmu akan ditelepon oleh anak buah saya. Suruh dia siap-siap.” Begitu suara dari seberang telepon. Lalu ditutup. Hanya tinggal paman saya yang termangu. Tanpa menyadari lelehan air mata yang membasahi pipinya. Padahal, saya tahu. Dia bukan orang yang cengeng. Dimasa mudanya, paman saya itu semacam anak nongkrong. Dengan rambut kribo dan gaya berpakaian cutbray. Anda bisa bayangkan anak muda di pedalaman terkena demam music rock God Bless ditahun 80an? Itulah paman-paman saya kakak beradik beserta ‘gerombolannya’. Dia itu anak metal. Tapi hari ketika menerima telepon dari bossnya sambil menatap wajah ke-9 anaknya yang sedang tidur nyenyak disatu ruangan rame-rame….tangisannya seperti bidadari yang sedang patah hati.

Besoknya. Telepon berdering dijam yang sudah dijanjikan. Kepala personalia sebuah perusahaan. Putera mantan boss itu yang sekarang mengelolanya. Pak kepala personalia itu meminta adik sepupu saya datang ke kantornya di Jakarta untuk wawancara. Tentu saja disambut gembira dan sukacita seluruh keluarga. Anak lelaki dewasanya akan mendapatkan pekerjaan dikota. Keluarga mana yang tidak bahagia?

Tapi, bahagia itu hanya berlangsung sesaat saja. Tiba-tiba semua wajah berubah. Membayangkan harus pakai baju yang mana? Baju yang ada, tidak layak. Baju yang layak memang ada juga sih. Tapi bukan dirumah mereka. Sepatu juga yaah… begitulah. Terus, ke Jakarta mau naik apa? Kan nggak mungkin berjalan kaki atau naik sepeda sejauh 250 kilometer. Semua orang terdiam. Mengiringi harapan yang terhempas dijurang kemiskinan yang dalam. Dan sepupu saya itu…. Tidak berangkat memenuhi panggilan kerja.

Paman saya. Hanya bisa menerawang. Tentang masa depan yang berbalut lingkaran kehidupan begitu-begitu saja. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya lagi. Dia. Sedang membayangkan masa depan anak-anaknya yang sembilan orang itu……

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Keesokan harinya, handphone jadul itu menjerit-jerit lagi. Melantunkan ringtone yang sudah tidak dikenali oleh anak-anak dan remaja yang tinggal di kota. “Kamu itu bagaimana sih,” begitulah kata pertama yang dilontarkan oleh pak kepala personalia. Beliau merasa dipermainkan. Bisa dimengerti jika dalam sesi telepon itu, paman saya lebih banyak menerima lontaran kekesalan. Orang kampung memang tidak mengerti jika jabatan kepala personalia itu bergengsi sekali. Waktunya sangat berharga sehingga tidak ada perlunya membuang waktu untuk menelepon calon karyawan dari kampung yang belum jelas juntrungannya. Namun beliau harus menjalankan tugas dari bossnya. Maka beliau memberi kesempatan satu kali lagi untuk bertemu. Hanya sekali lagi. Namun, itu membuat matahari dalam keluarga itu kembali bersinar.

Sepupu saya sudah bulat tekadnya untuk berangkat ke Jakarta. Tapi ayahnya – yang paman saya itu – tidak juga berhasil mendapatkan ongkos perjalanannya. Sehingga….kesempatan terakhir itu….kembali melayang. Terbang ke awang-awang. Menghilang. Seperti mimpi-mimpi keluarga itu yang serupa dengan fatamorgana….

Besoknya. Hape jadul itu kembali melengkingkan ringtone garingnya. Haddduuh… pak kepala personalia lagi. Paman saya sudah pasrah saja untuk kembali terkena marah. Dasar orang kampung. Padahal kan dia itu tidak usah mengangkat teleponnya. Biarkan saja. Daripada panas telinga. Mendingan cuekin saja. Atau bilang saja;”haloh. Haloh. Haloh. Maaf sinyalnya tidak bagus. Suara bapak terputus-putus.” Terus matikan deh teleponnya. Aman. Tapi bukan itu yang dilakukan paman saya. Dia malah mengangkatnya sambil tergopoh-gopoh memohon maaf karena telah mengecewakan beliau…

“Aduh Pak….mohon maaf Pak,” ada kalimat yang seperti itu terdengar. Menurut Anda, suara siapa itu? “Saya minta maaf Pak. Saya tidak bermaksud tidak sopan pada Bapak. Tapi tolonglah Pak, suruh anak Bapak datang ke Jakarta. Kalau anak Bapak tidak datang nanti saya bisa kena marah boss saya…..”

Paman saya, sama sekali tidak menduga jika beliau itu berbicara demikian di telepon kali ini. Rupanya, mantan boss paman saya menegur kepala personalia karena ‘tidak berhasil’ mendatangkan anak mantan pembantunya dari kampung untuk bisa sampai ke Jakarta itu. “Tolonglah Pak. Terserah anak Bapak mau datangnya kapan. Saya tunggu…,” katanya.

Tiba-tiba saja langit mendung kembali menyingsingkan sinar cerahnya bagi keluarga itu. Ada harapan lagi. Dan kali ini, tidak boleh lagi disia-siakan. Karena selain penyia-nyiaan itu akan menyebabkan harapan keluarga bisa hilang lagi, juga akan membuat karir seseorang diseberang sana terancam. Maka anak lelaki itu pun berangkat ke Jakarta dengan beberapa pesan dari ayahnya. Antara lain. Kalau lapar, puasa saja. Dan kalau ngantuk, tidur di musola saja. Bismillah. Getaran sukma. Doa. Dan air mata seluruh keluarga mengiringi kepergiannya.

Esok harinya. Si telepon jadul kembali memperdengarkan lagu ringtone sumbangnya. Sekali lagi. Tapi kali ini, dari anak lelaki kebanggaan keluarga itu. Sedangkan orang kampung tidak sabar untuk mendengar apa saja yang terjadi dalam wawancara itu. “Ini lagi ada di bank…” kata anak itu. “Nggak tahu. Langsung disuruh membuat rekening bank untuk transfer gajian….”

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Bahagia. Bangga. Kagum. Haru. Semuanya bercampuraduk ketika malam itu saya mendengar penuturan paman saya. Tapi saya tidak akan menceritakan kelanjutan kisah yang membuat hati saya seperti tersayat-sayat itu. Biarlah itu menjadi harta karun jiwa saya bersama keluarga paman saya saja. Lagi pula. Belum tentu Anda berkenan untuk mendengarnya. Saya hanya ingin bertanya kepada Anda. Menurut pendapat Anda, apa yang telah dilakukan oleh paman saya ketika dia bekerja sebagai ‘pembantu’ di mess beliau itu? Kok sampai-sampai beliau sedemikian merasa berhutang budinya kepada pegawai kecil itu. Apa yang dia lakukan selama bekerja disana?

Saya tidak tahu persis. Tetapi. Dari pernyataan mantan bossnya. Saya tahu bahwa. Selama bekerja. Paman saya itu benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati. Seluruh kesungguhan. Dan segenap kemampuan yang dimilikinya. Untuk membuat pekerjaannya benar-benar bermakna. Melalui pekerjaan yang tak mentereng itu, paman saya menunjukkan symbol kesempurnaan Ilahi dalam menciptakan setiap insan. Bahkan dalam wujudnya yang sedemikian sederhana itu, Allah menyelipkan keagungan pribadi yang seutuhnya. Sepertinya malam itu paman saya bertanya;”Sudahkah kamu menunjukkan kesempurnaan penciptaan dirimu melalui pekerjaanmu, Dadang?” Pertanyaan itu membuat mata saya berkaca-kaca…….

Sahabatku, buah dari pekerjaan kita ini; mungkin bukan kita yang bisa memetik dan menikmati hasilnya. Melainkan anak-anak kita kelak, jika mereka sudah membutuhkannya. Insya Allah.

Malam itu, saya mendengar kisah yang menggetarkan. Dan ketika hendak tidur, batin saya berbisik; “Ya Allah, aku titipkan masa depan anak-anakku kepada kebijaksanaanMu….”

NB: Training “CONNECTING & COLLABORATING PEOPLE FOR PERFORMANCE” saya cocok untuk membangun sinergi antar individu maupun lintas departemen di kantor Anda. Hubungi kami.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Change Matter Learning Partner
http://www.dadangkadarusman.com/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor: 0812-1989-9737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar dari:toonpool.com

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.