Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Perang Melawan Covid-19 (P-1)

Perang Melawan Covid-19 (P-1)

Tulisan ini, hanya untuk orang-orang yang open minded. Bagi yang tidak, mohon tidak membacanya. Terimakasih.

Disclaimer: Tulisan ini tidak berisi kebenaran mutlak. Jika ada pakar dibidang terkait yang berbeda sudut pandang, mari sama-sama memperkaya khazanah pengetahuan publik.

Baik. Kita mulai. Pak presiden menabuh genderang perang melawan corona. Netizen bertanya: bagaimana cara perangnya pak presiden? Yang ditanya, tidak memberi jawaban spesifiknya. Lembaga negara terkait pun sama gelagapannya. Saya bantu pak presiden untuk memberikan sebagian dari jawabannya disini. Semoga menjadi sumbangsih bagi kelengkapan strategy perang yang akan diterapkan.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Minimal, masyarakat bisa ikhtiar untuk diri dan keluarganya sendiri. Sambil menunggu pemerintah menemukan cara penanganan yang professional. Saat ini, publik hanya punya 2 pilihan saja. Yaitu, (1) Tetap bersembunyi didalam rumah entah sampai kapan. Tanpa pekerjaan. Tanpa penghasilan. Juga tanpa tunjangan dan bantuan. Atau (2) Kembali aktif mencari nafkah diluar sana dengan resiko yang besar untuk terinfeksi oleh virus itu. Anda ambil pilihan yang mana? Kalau saya, mendambakan pilihan ke-3, yaitu: memperkecil resiko terinfeksi dan bisa leluasa mencari nafkah lagi. Apakah mungkin?

Beberapa hari lalu, saya menulis 2 artikel dengan judul “Tak Perlu Takut Terinfeksi Covid” dan “Kita Sudah Kebal Terhadap Covid-19“. Ada beragam respon yang saya terima. Pro maupun kontra. Wajarlah. Tidak semua orang mesti sepaham kan. Sahabat saya sudah berbaik hati menyampaikan pokok pemikiran dan gagasan dalam kedua tulisan itu kepada gugus tugas covid pemerintah. Tulisan kali ini memuat penjelasan lebih lanjut dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari pembaca. Maaf saya gabungkan jawabannya karena tidak bisa saya layani orang per orang.

Disini, ada 2 pokok bahasan. Yaitu tentang (1) antibody dalam system kekebalan tubuh, dan tentang (2) konsep melawan microba dengan microba. Saya akan membaginya kedalam 2 serial tulisan. Pak presiden, ini adalah bagian dari paket jawaban yang bisa bapak sampaikan kepada netizen yang bertanya; “Bagaimana cara perang melawan corona yang bapak perintahkan itu?”

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

BAGIAN-I: Antibody Immunoglobulin-G (Ig-G).
Ketahuilah bahwa ini adalah semacam aparat keamanan didalam tubuh Anda, yang mampu mengenali dengan segera kedatangan virus atau microba lainnya yang pernah menginfeksi Anda. Kalau Anda punya Ig-G covid didalam tubuh Anda, maka jika kelak Anda terpapar oleh covid; Ig-G itu akan segera bereaksi untuk memproteksi Anda supaya kehadiran si covid itu tidak membuat Anda sakit. Sampai sini jelas ya. Oke.

Kita ini kan nggak mungkin terus-terusan PSBB. Tapi untuk beraktivitas diluar rumah dengan leluasa seperti dulu lagi, sangat beresiko. Disinilah justru pentingnya pemerintah melakukan test Ig-G kepada masyarakat di wilayah yang sudah lebih dari 1 bulan dinyatakan sebagai zona merah. Untuk memperkecil ruang lingkupnya, bisa saja kita mulai dari orang-orang yang telah dinyatakan sebagai ODP dan OTG serta orang-orang yang diduga pernah melakukan KONTAK FISIK dengan pasien covid. Tahap selanjutnya, diperluas lagi kepada orang-orang yang berada di zona merah dengan kategori lainnya. Pak presiden, semoga berkenan memerintahkan ini kepada gugus tugas perang corona Anda.

Dari test itu kita mengidentifikasi apakah mereka punya Ig-G atau tidak. Jika ternyata didalam tubuh mereka belum ada antibody yang cukup, maka WFH masih menjadi pilihan terbaik. Setidaknya sampai ada solusi lain yang lebih baik. Dengan menyadari bahwa dirinya belum punya proteksi antibody, maka orang-orang badung yang gemar melanggar PSBB itu mungkin agak sedikit takut. Jadi mereka lebih patuh dan berdisiplin menjalankan social distancing kan. Kita menyelamatkan orang-orang beresiko ini agar tidak sampai terinfeksi karena ketidaktahuannya.

Tapi jika hasil test itu menunjukkan bahwa didalam tubuh mereka sudah ada Ig-G- nya, maka sungguh sebuah kemubadziran besar-besaran yang dilakukan oleh negara jika kepada kelompok orang ini diberlakukan PSBB seperti kepada orang yang tidak punya Ig-G itu. Kenapa kita menerapkan aturan yang sama kepada orang yang kondisinya berbeda? Padahal, dimasa wabah ini; SDM yang bisa bertahan dari covid mungkin lebih bernilai dari emas dan minyak. Kok diwasted begitu? Pak presiden, silakan perintahkan kementerian terkait untuk mengkaji strategy ini.

Peran pribadi dan masyarakat. Minimal Anda mesti mengerti prinsip dasarnya. Kalau Ig-G positif didalam tubuh Anda, itu bukan hal buruk. Justru baik buat Anda. Maka Anda tidak terlalu takut terinfeksi kan? Bila tiba masanya PSBB berakhir, Anda bisa langsung bekerja tanpa merasa waswas lagi. Kalaupun PSBB masih diberlakukan, khusus buat yang punya Ig-G positif; sudah bisa menjalankan bisnis dan pekerjaannya lagi. Tapi ingat, tidak berarti Anda boleh sok-sokan nantang penyakit itu loh ya. Anda tetap mesti mengikuti protocol yang berlaku selama periode wabah. Kenapa demikian? Nanti kita bahas.

Bagaimana caranya untuk mengetahui kita sudah punya Ig-G atau belum? Jika Anda mau membayar test atas biaya sendiri, Anda boleh pergi ke laboratorium klinik. Tentu, mesti lab yang benar-benar kredibel. Sebab kredibilitas lab berbanding lurus dengan keyakinan kita terhadap hasil testnya. Lab yang tidak kredible, bahkan bisa membahayakan. Ini jelas ya teman-teman? Ok.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Apakah boleh pakai alat test yang Anda beli sendiri? Problem dari alat test yang sekarang beredar bebas di pasaran adalah; aspek akurasinya. Tampaknya, pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol peredarannya. Jadi, tidak ada yang bisa menjamin kualitasnya. Jika alat test Anda abal-abal, saran saya; jangan dipakai. Tapi jika Anda punya alat test yang kredibel, maka Anda boleh menggunakannya. Setidaknya untuk pegangan awal Anda, sampai pemerintah memfasilitasi test yang terstandarisasi.

Bagaimana cara mengontrol kualitas alat test? Sebetulnya, negara sudah memiliki aturan baku tentang tata cara pengadaan alat kesehatan dan laboratorium. Tinggal diterapkan saja peraturan itu dengan sungguh-sungguh. Sehingga masyarakat terlindungi dari kejahilan pedagang alkes opportunis. (Saya mengusulkan agar pemerintah yang melakukan pengadaan alat test ini. Beli dari perusahaan atau negara yang punya reputasi baik sebagai supplier alkes. Jangan beli dari perusahaan yang baru muncul setelah ada wabah. Dan jangan beli dari negara yang terkenal rendah kualitas produknya. Satu lagi, jangan dimark-up harganya). Pak presiden, silakan perintahkan kepada lembaga negara terkait untuk kerja, kerja, kerjanya juga meliputi aspek ini.

Bagaimana memahami data atau hasil test-nya? Cara terbaik adalah bertanya kepada dokter atau petugas lab klinik Anda. Supaya Anda paham maknanya. Saya berikan gambaran umumnya saja ya. Begini. Jika hasil testnya Ig-G Anda positif, berarti Anda pernah terpapar virus itu dimasa lalu. Tapi bersyukurlah, karena antibody didalam tubuh Anda sudah terbentuk. Lihat juga Immunoglobulin-M (Ig-M) Anda. Kalau Ig-M positif juga, maka Anda harus melakukan isolasi mandiri karena kemungkinan ada virus yang masih aktif didalam tubuh Anda. Isolasi mandiri itu sangat baik untuk melindungi orang lain agar tidak tertular infeksi itu dari Anda.

Apakah isolasi mandiri harus tinggal terpisah dari keluarga? Jika Anda punya tempat tinggal lain selain rumah, silakan digunakan. Tapi, jika hanya rumah itu satu-satunya tempat tinggal bersama keluarga maka Anda bisa diam didalam kamar saja dan hindari kontak fisik langsung dengan anggota keluarga lain selama 14 hari. Tidak perlu terlalu khawatir. Karena kekhawatiran yang berlebihan justru akan membuat daya tahan tubuh Anda menurun. Yang penting, nutrisi dan istirahat Anda bagus serta lakukan monitoring terhadap fungsi organ-organ vital. Para ahli sudah menyatakan bahwa pada dasarnya, penyakit yang ditimbulkan oleh covid ini bersifat self limited. Artinya, tubuh yang berada dalam kondisi fit; bisa menyembuhkan diri sendiri. Makanya tidak semua orang yang terinfeksi jatuh sakit. Banyak yang tetap sehat saja kan.

Perhatikan juga, jika Anda punya riwayat sakit jantung atau paru dimasa lalu. Dalam kondisi ini, Anda perlu lebih waspada. Sebab, para ahli menyatakan bahwa; tingkat keparahan infeksi covid ini bertambah pada pasien-pasien yang mempunyai riwayat sakit jantung dan paru. Demikian pula jika dirumah Anda ada orang-orang yang sudah sepuh. Jika ada salah satu anggota keluarga yang menjalani isolasi mandiri, sebaiknya orang-orang sepuh tinggal dengan anggota keluarga lainnya. Kalau punya teman dokter yang bisa dihubungi sewaktu-waktu, baik sekali. Untuk berjaga-jaga bila suatu saat diperlukan.

Jika dalam masa isolasi mandiri itu timbul keluhan yang berat semisal sesak nafas atau suhu tubuh yang terus tinggi (38 derajat atau lebih) dan tidak turun dengan parasetamol atau kondisi mencurigakan lainnya, sebaiknya hubungi rumah sakit atau satgas covid dikota Anda. Sampai sini clear ya? Oke.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Kalau sudah punya Ig-G, apakah seseorang masih berpeluang terinfeksi kembali? Pada dasarnya Ig-G adalah bukti bahwa tubuh kita pernah mengalahkan virus itu dimasa lalu dan itu akan menjadi sarana perlindungan agar tidak terinfeksi lagi di masa depan. Namun, ada kondisi tertentu yang memungkinkan Ig-G itu kalah. Misalnya ketika kondisi tubuh Anda sedang lemah. Contoh, kalau seseorang punya komorbiditas penyakit lain dan sedang kambuh; kan kondisi tubuhnya lemah, maka system kekebalan tubuhnya bisa menurun. Infeksi berulang juga bisa terjadi jika virusnya sudah bermutasi. Sebab virus yang bermutasi mungkin tidak dikenali oleh antibody.

Jika masih bisa terinfeksi, apa gunanya kita punya Ig-G? Cara berpikirnya harus diperbaiki tuch. Ketahuilah bahwa prinsip yang digunakan dalam vaksinasi buatan juga demikian. Jika Anda berpikir seperti itu, kenapa anak bayi Anda disuntik vaksin DPT dan BCG, misalnya. Memang ada peluang terinfeksi lagi, tapi selain peluang itu lebih kecil; kemampuan tubuh yang memiliki antibody untuk mengalahkan virus atau bakteri yang melakukan reinfeksi itu jauh lebih baik. Nah, antibody ini bisa dihasilkan dari vaksinasi buatan jika ada vaksinnya – tapi kan sampai sekarang belum ditemukan. Bisa juga diperoleh secara alami. Masih ingat ketika saya menyarankan dalam masa lockdown anda perlu sekali-sekali berinteraksi dengan orang lain kan? Dengan catatan, ikuti protocol social distancing dan perhatikan kondisi tubuh Anda.

Adakah hal lainnya yang perlu diperhatikan? Ada beberapa catatan khusus yang perlu menjadi perhatian jika pemerintah mau menjalankan strategy perang covid dengan test Ig-G ini.

Pertama. Memang benar, tidak ada alat test yang akurat 100%. Tapi, itu semua berlaku dimana pun. Intinya memilih alat test paling reliable diantara alternative yang ada menjadi sangat penting. Sekedar pengetahuan kita, level akurasi itu lazimnya dinyatakan sebagai sensitivitas dan spesifisitas. Sensitivitas menunjukkan seberapa akurat alat test itu dalam mengidentifikasi pasien yang positif melalui hasil test positif. Sedangkan Spesifisitas menunjukkan seberapa akurat alat test itu untuk mengidentifikasi pasien yang negatif melalui hasil test negatif. Ada rumus matematikanya untuk mengukur kedua aspek ini. Ketidakakuuratan hasil test menimbulkan false positive atau false negative. Sekali lagi, hati-hati dengan alat test abal-abal yang sekarang dengan bebasnya banyak dijual.

Kedua, Pemeriksaan pada orang yang tinggal di daerah yang terkena wabah DBD juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Study yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menjelaskan temuan tentang pasien-pasien yang didiagnosis DBD ternyata kemudian diketahui sebenarnya terinfeksi covid. Dari study ini kita bisa melihat adanya kemungkinan orang yang terinfeksi covid tapi dikira kena DBD. Namun study ini tidak mengindikasikan secara langsung adanya kesalahan diagnosis sebaliknya dimana infeksi DBD dikira covid. Tapi apakah hal ini bisa terjadi? Wallaahu a’lam.

Ketiga, Untuk menjamin standar hasil test ini saya menyarankan semua alat dan prosesnya difasilitasi oleh pemerintah dengan melibatkan IDI dan lembaga terkait lainnya. Sehingga masyarakat tidak melakukannya sendiri-sendiri. Adapun untuk masyarakat, hal ini cukup menjadi pengetahuan saja. Supaya kalau pemerintah menerapkan scenario ini, masyarakat paham dan mendukung langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah secara penuh.

Perang ini belum selesai pak presiden. Mahluk yang sudah bapak putuskan sebagai musuh itu masih berkeliaran dan mengancam keselamatan rakyat Indonesia. Jangan dulu mengajak berdamai pak. Semangat!

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner
http://www.dadangkadarusman.com/2020/05/08/orang-terhormat-si-bodoh-dan-seekor-gnijna/

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor: 0812-1989-9737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar dari:Freepik

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.