Tuesday , September 29 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Kurva Covid Khas Indonesia

Kurva Covid Khas Indonesia

Seperti tulisan sebelumnya, ini hanya untuk orang-orang yang open minded. Yang tidak demikian, mohon tidak membacanya. Terimakasih.

Ada beberapa lembaga ternama dunia yang melakukan analisis terhadap perkembangan covid di berbagai negara. Pada umumnya grafik di setiap negara berbentuk kurva menyerupai lonceng. Atau bagaikan gambar gunung. Walaupun tarikan garis lukisan dibagian kanannya belum sempurna sampai ke titik dasarnya.

Wajar. Karena, wabah ini memang belum sampai kepada perjalanan terakhirnya. Jadi garis grafisnya masih akan terus bergerak lagi. Tapi tarikan garisnya memberi harapan bahwa garis itu bakal terus menuju kebawah, dan berhenti pada titik terendahnya. Nadanya optimis, karena grafik mereka; jelas kemana arah proyeksinya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Sekarang. Semua negara sedang bersiap untuk keluar dari krisis akibat wabah ini. Sebab, covid tampaknya tak terlalu tertarik lagi tinggal lama-lama disana. Bisa dibilang kabar gembira ini berlaku untuk semua negara. Kecuali Indonesia. Kenapa gitu dengan Indonesia?

Grafik perkembangan kasus covid Indonesia memang lain dari yang lain. Dilukis dengan teknik painting bernama ‘pantang copy paste dari negara lain’. Maka jika negara lain pakai model kurva lonceng, Indonesia menggunakan pemodelan tanaman merambat. Tunasnya, senantiasa menuju ke sumber cahaya. Merambat terus untuk mengejar sang surya.

Apakah butuh professor matematika untuk memahaminya? Tidak. Setiap grafik disetiap negara lahir dari angka-angka. Termasuk grafik covidnya Indonesia. Lalu kenapa grafik Indonesia seperti mengalami anomaly? Karena, seluruh rangkaian titik tak terhingga dalam goresan garis pada grafik itu menggambarkan angka-angka yang ditopang oleh berbagai parameter. Dan bersama parameter itu, terselip asumsi-asumsi. Jika parameternya berubah, maka angkanya berubah dan grafiknya pun berubah. Jika asumsinya berubah? Ya berubah juga proyeksi masa depannya.

Dari sajian grafik-grafiknya terlihat sekali bahwa lembaga-lembaga survey itu menggunakan parameter dan asumsi yang boleh dibilang agak-agak mirip untuk semua negara. Menurut hemat saya, tidak sepenuhnya tepat. Sebab kondisi setiap negara berbeda. Minimal, ada negara-negara tertentu yang tidak bisa menggunakan parameter bersama. Misalnya, kualitas kepala negara itu. Konteks kualitasnya dalam mengomandani pasukan tempur melawan covid loh ya. Anggap saja secara kolektif, kualitas para kepala negara itu berada pada level rata-rata deh. Tapi di negara tertentu, mungkin kualitas kepala negaranya lebih superior alias berada diatas rata-rata. Contohnya, kepala negara Vietnam, kepala negara Taiwan – jika bisa disebut negara. Juga kepala negara Korea Selatan. Tapi di negara lain, mungkin kualitas kepala negaranya jauuuuuh dibawah rata-rata. Mungkin loh ya. Itu juga baru asumsi.

Dengan perbedaan parameter dan asumsi-asumsi itu, maka tidak layak menjadikan grafik itu sebagai ukuran buat semua negara. Lagi pula, grafik itu direspon dengan 3 cara berbeda. Pertama, kaum awam; tidak peduli, karena pikiran mereka dipenuhi oleh teka-teki cara mengisi perut yang kosong. Kedua kaum intelektual, yang dengan lugunya menelan mentah-mentah prediksi kapan wabah ini akan berakhir sekalipun prediksi itu sudah diundur-undur berkali-kali. Ketiga, pemerintah yang dengan santuynya bisa menggunakan data itu bila dirasa sejalan dengan kehendaknya atau mengabaikannya kalau dirasa menghalangi keinginannya. Ada golongan keempat sih, yaitu mereka yang masih tetap terjaga nalar dan akal sehatnya.

Jadi kemana garis nasib perjalanan covid di Indonesia akan menuju? Jika menyimak kegamangan pemerintah dikombinasi dengan kondisi geografis dan demografis serta perilaku penduduknya, maka patut diduga bahwa grafik kasus covid di Indonesia tidak akan memiliki titik puncaknya. Mengapa? Begini.

Suatu grafik akan punya puncak ketika garisnya naik sampai pada satu titik dimana dia berhenti sejenak di titik itu, lalu bergerak turun lagi. Dia akan punya puncak. Seperti gambar gunung saat kita masih SD dulu. Dan itu bisa dicapai jika di negara itu, perkembangan kasus wabahnya berhasil dikendalikan sedemikian rupa sehingga penyebaran dan penularannya terkontrol dengan baik.

Bagaimana mengontrolnya? Kalau dinegara yang kepala negaranya bagus tadi, pengontrolan meliputi 3 area utama ini: 1) Ditolaknya pendatang dari negara tempat berjangkitnya wabah pertama kali, 2) Diisolasinya warga yang sudah terbukti positif terinfeksi 3) Memberlakukan pembatasan kontak fisik antar warganya sambil menjamin terpenuhinya kebutuhan dasarnya. Pada dasarnya, hanya 3 itu saja.

Di Indonesia? Ketiga tindakan kritikal itu dilakukan atau tidak? Nggak usah dijawab. Cukup dalam hati saja. Maka hal yang paling logis akan terjadi dinegeri ini adalah begini; wabah ini akan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Jadi, jika di wilayah yang duluan berhasil melakukan pembatasan kontak fisik kasusnya akan menurun; maka wabah itu akan pergi ke wilayah lain sehingga di wilayah baru itu dia akan naik lagi. Terus begitu. Sehingga agregat data nasionalnya, akan stabil tinggi. Indikasinya apa? Kihat lihat saja betapa berbeda-bedanya kebijakan setiap daerah soal PSBB. Dan betapa membingungkannya saling sahut-sahutan presiden dan para menteri yang kelihatan jika mereka itu berjalan sendiri-sendiri.

Jadi data atau grafik covid di Indonesia sebagai sebuah negara, tidak akan punya puncak. Karena penurunan angka infeksi di satu wilayah yang berhasil mengatasinya akan dikompensasi oleh wilayah lainnya yang baru mulai kalang kabut menghadapinya. Oleh karenanya, maka sangat besar kemungkinan grafiknya bakal naik terus sampai disatu titik, kemudian dari titik itu tidak naik lagi secara signifikan dan juga tidak turun secara bermakna.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Kok bisa? Ya bisa, jika penurunan kasus di suatu wilayah dikompensasi oleh kenaikan kasus di wilayah lainnya. Jadi grafiknya bakal seperti mata gergaji. Naik turun sedikit, tapi pada dasarnya tetap mendatar. Jadi kalau negara lain mungkin bisa mengatasi wabah ini sekitar juli, agustus atau September, atau oktober. Tapi di Indonesia, jika pola penanganan yang simpang siur seperti saat ini terus berlanjut; mungkin grafiknya akan terus berbentuk gerigi gergaji. Sampai kapan? Sampai tingkat infeksi itu mencapai titik jenuhnya.

Bisakah grafik gerigi gergaji itu dimodifikasi? Bisa. Caranya? Pertama, bisa dengan cara menghentikan identifikasi kasus baru. Udah, berhenti saja. Gak usah ditest lagi. Grafiknya bakal langsung drop. Tapi kan ini bukan cara yang bener ya. Cara kedua kalau gitu. Gimana? Gini. Bikin dulu goresan garis grafiknya, kemudian tentukan angka-angkanya. Pasti penampakannya bakal sangat indah. Cuman cara ini kan nggak etis kan ya. Tapi mungkin terjadi nggak? Kalau melihat track record otak atik data dimasa lalu sih, yagidudeh…

Ada cara lain? Ada dong. Gimana? Cara ini, hanya bisa dilakukan jika kepala negaranya memiliki kemauan yang kuat untuk menyelesaikan masalah sampai tuntas dan tidak doyan berhenti sebelum urusannya selesai. Dan didukung oleh para menteri yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Serta di patuhi oleh masyarakatnya. Itu 3 prasyaratnya.

Apakah Indonesia punya ketiga prasyarat itu? Punya. Tinggal dimulai saja.

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner

Perang Melawan Covid-19 (P-2)

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor: 0812-1989-9737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar dari:eleveniablog

About Dadang Kadarusman

Dadang Kadarusman
Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.