Monday , May 25 2020
Topik Pelatihan Dari Dadang Kadarusman>>>
You are here: Home / Miscellaneous / Bukan Mahluk Yang Hina

Bukan Mahluk Yang Hina

Sudah panjang lebar sang arif memberi penjelasan. Melalui kata. Tindak dan lakunya. Maupun lewat isyarat lainnya. Tapi sang murid masih menampakkan ketidakpuasannya.

Dia memiliki ciri utama seorang pembelajar. Tak pernah kenyang. Bukan dengan hidangan. Melainkan dengan pengetahuan.

Ukuran perutnya sebanding dengan pemuda lain seusianya. Tapi sejak bertemu dengan sang arif, dia tidak lagi pernah mengisinya hingga penuh. Paling banyak hanya dua per tiganya saja. Sepertiga untuk air. Sepertiga lagi untuk makanan. Dan. Sepertiga lainnya lagi. Untuk udara yang bersemayam di ruang kosong rongga lambungnya.

Itu pun hanya sesekali saja. Seringnya, hanya air saja isinya. Sedangkan makanan, disantapnya untuk sekedar bisa menegakkan tulang punggungnya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

“Engkau lapar?” Tanya sang arif.
“Saya selalu lapar tuan,” jawabnya.
“Makanlah sepotong roti,” sarannya. “Engkau akan kenyang lagi,” tambahnya.

“Tak ada jenis roti yang bisa menghapus rasa laparku, tuan…” sanggahnya.
“Lantas apa maumu?” Tanya sang arif.
“Sebuah penjelasan….” jawabnya.

“Lanjutkan…” kata sang arif.
“Tuan menyebutnya sebagai anjing…” lirihnya.
“Anjing?” Sang arif mengerenyitkan dahi. “Anjing yang mana?” Pandangan matanya yang teduh tetap menatap ujung garis pertemuan antara langit dan bumi jauh diujung horizon. “Bukankah setiap mahluk berhak menerima sebutan sesuai keadaan dirinya…” lanjutnya.

“Benar tuan,” jawab sang murid. “Tapi, bukankah tuan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa lelaki itu manusia.” Sanggahnya. “Mengapa tuan menyebutnya anjing?”

“Lelaki manakah yang engkau maksudkan?” Sang arif balik bertanya.
“Lelaki berperangai buruk yang menghina tuan dikampung itu…” jawabnya.

“Astagfirullah. Semoga Allah mengampuni kebodohanku…” sang arif segera beristigfar. “Benarkah aku menyebutnya anjing?” Lanjutnya.

“T-tuan tidak menyebutkan demikian,” sang murid buru-buru menjawab. Dia sendiri tidak berharap tuannya diterpa sesal sedemikian mendalam. “Tuan hanya mengumpamakannya sebagai seekor anjing…” kilahnya.

“Apa yang aku katakan kala itu?” Tanya sang arif.

“Tuan berkata,” jawab sang murid. “Jika ada seekor anjing yang menggonggong, apakah engkau akan berdebat dengannya?” Jelasnya.

“Ooo… itu,” sambut sang arif. “Ada masalah apa dengan kata-kataku?” Tanyanya.

“Tidakkah tuan telah merendahkan martabat seorang manusia?” Sergah sang murid.

“Oh…, begitukah?” Berkernyit dahi sang arif. “Bagaimana mungkin seseorang merasa direndahkan oleh kata-kataku itu?” Lanjutnya.

“Karena anjing adalah mahluk yang hina, tuan…” jawab sang murid.

“Hmmmh…” gumam sang guru. “Siapakah yang telah mengajarimu pengetahuan sekeji itu?” Dia menoleh sebentar. Tersenyum tipis. Lalu kembali melihat tepian langit.

Sang murid jadi gelagapan. Tidak ada yang mengajarinya soal itu. Tapi. Setidaknya kan… ah… dia seperti dibangunkan dari tidur. Bahwa anjing itu bersifat najis, iya. Maka setelah terkena air liur anjing, seseorang harus segera bersuci. Mesti kembali berwudlu ketika hendak sholat. Dan benda-benda harus disucikan dari najis itu dengan mencucinya sesuai contoh dari Rasulullah. Tujuh kali mencuci. Dan salah satunya, dengan debu bersih dari tanah.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Kembali terlintas dalam benak sang murid. Bahwa anjing itu najis, betul begitulah hukumnya. Tapi apakah anjing itu mahluk yang hina? A-a-aaa…. e-emh.

Jadi. Siapa yang mengajari kalian pengetahuan keji bahwa anjing itu mahluk yang hina?

“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengutus seekor anjing untuk menemani para pemuda ashabul kahfi?” Tanya sang arif.

Sang murid mengangguk. “I-ya tuan. Saya tahu…” gagapnya.

“Sungguh tidak mungkin Allah menolong hamba-hamba yang bertakwa melalui mahluk yang dihinakannya….” tambahnya.

“Tidak mungkin tuan,” jawab sang murid.

“Kecuali Allah sendiri yang berkehendak demikian,” lanjut sang arif seolah hendak memberikan pengecualian.

Untuk sesaat. Mereka berjalan dalam keheningan dibawah iringan semilir angin. Sesekali terdengar derap kaki kelinci yang lari dari sambaran elang.

Sang murid menarik nafas dalam. “Tahukah engkau,” dia kembali mendengar suara sang arif disela gemerisik dedaunan dibelai e-anginan. “Seorang perempuan tanpa peradaban dihadiahi Allah masuk kedalam sorganya hanya karena dia memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Pernahkah engkau mendengar kisahnya?” Katanya.

“I-ya tuan. Saya sudah mendengarnya…” jawabnya. “Lalu…” suaranya parau dalam keraguan.

“Lalu bagaimana?” Sang arif mengejarnya.

“Bagaimana dengan kejadian di kampung sebelah itu?” Tanyanya.
“Kampung yang mana? Kejadian apa?” Sang arif meminta ketegasan.

“Kampung yang didatangi oleh sekelompok orang yang memberi makan orang-orang miskin dengan makanan berupa nasi anjing itu, tuan…” beber sang murid.

Dia hendak menjelaskan lebih detail lagi agar sang arif mengerti duduk perkaranya. Tapi dia ragu, masa sih sang arif tidak paham apa yang sedang dibicarakannya. Jadi, dia berhenti disitu. Tak perlu penjelasan lebih. Nanti jadi terkesan seperti mengungkit-ungkit perbuatan yang tidak patut itu.

“Hmmmh….” sang arif berguman. “Setiap amal perbuatan akan dinilai berdasarkan niatnya. Tahukah engkau tentang itu?” Seolah sang arif hendak menguji muridnya.

“S-saya tahu, tuan…” jawabnya.
“Siapa yang mengatakan hal itu…?” Sepertinya. Sang arif memang tengah mengujinya.

“Tuan sendiri yang menga….” belum selesai sang murid berkata.
“Rasulullah yang mengajari kita tentang niat dan adab dalam setiap perbuatan.” Kata sang arif.

Sang murid mengangguk dalam. Dia semakin paham bahwa kita, tidak lagi patut menghukumi perbuatan orang lain. Orang yang dianggap berbuat baik dimata manusia, belum tentu baik dihadapan Allah. Demikian pula sebaliknya.

“Jadi. Sedekah makanan mereka diterima oleh Allah, tuan?” Seru sang murid seakan hendak meyakinkan.

“Aku tidak berhak menghukumi perbuatan orang lain,” jawabnya. “Tapi Allah sendiri yang berfirman bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia-sia dihadapanNya,” lanjutnya.

Sang murid mengangguk. Sekarang dia paham. Bahwa. Setiap perbuatan baik, pasti bernilai kebaikan dimata Allah. Jelas sekali itu. Tak ada bantahan. Jadi pelajaran tentang anjing itu sudah selesai…

“Kalau,” tiba-tiba sang arif kembali bicara. Berhenti sejenak. Lalu…”kalau niatnya murni hendak berbuat kebaikan…” lanjutnya.

Sang murid paham bahwa ada kemungkinan lainnya. Seperti siang dan malam. Hidup dan mati. Niat, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Tapi manusia, tidak memiliki kemampuan untuk mengukurnya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

“Bagaimana seandainya niat mereka benar-benar baik tuan?” Tanya sang murid.

“Hmmmh…” sang arif mengais-ais janggutnya. “Menurut pendapatmu, bagaimana seandainya engkau memberi makan kepada orang-orang yang mengharamkan sapi sambil menyebut makanan yang engkau berikan itu sebagai nasi sapi?”

….

Salam hormat.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman.
Change Matter Learning Partner

Baca juga:

Kurva Covid Khas Indonesia

Catatan kaki:
Kebanyakan klien pelatihan saya adalah pelanggan lama yang sebelumnya pernah mengundang saya. Atau pelanggan baru yang mendapatkan rekomendasi dari klien lainnya. Ada juga yang PIC-nya pindah ke perusahaan lain, lalu mereka ‘membawa’ saya ke kantor barunya…. ? Thank you all!

Jika Anda ingin mendapatkan update article saya via WA silakan bergabung dengan Group WA “Dekadarus And Friends” di nomor: 0812-1989-9737. Sebutkan Nama dan tulis “Dekadarus And Friends Group”. Jumlah member terbatas.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Disclaimer:
Saya tidak selalu mampu merespon balik komentar atau sanggahan atas tulisan ini. Karena berbagai keterbatasan yang ada pada saya. Terimakasih atas pengertiannya.

Jika kantor Anda ingin melakukan training terkait topik ini, silakan hubungi DeKa di 0812-1989-9737 atau dkadarusman@yahoo.com

Gambar dari:Freepik

About Dadang Kadarusman

Dalam bidang pelatihan, Dadang merupakan salah satu dari hanya sedikit trainer di Indonesia yang telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel dan buku-buku pengembangan diri. Dadang juga berbicara di radio, tampil di televisi, manulis berbagai artikel dalam jurnal Human Capital, serta berbagai macam publikasi lainnya. Dadang mengukuhkan dirinya sebagai pionir dalam bidang Natural Intelligence yang masih sangat jarang dimiliki dunia saat ini. Pada Februari 2011 Dadang terpilih sebagai The Best Performer Trainer dalam event Trainer BootCamp yang diselenggarakan oleh Indonesia Inspiring Movement. Dadang membawakan program-program pelatihannya dengan antusias, menyenangkan, interaktif disertai dengan contoh-contoh aktual yang Dadang tunjukkan langsung dihadapan peserta. Dadang, tidak hanya bicara tentang teori. Melainkan mencontohkan bagaimana cara melakukannya dengan cara yang kreatif, interaktif dan variatif. Untuk mengundang Dadang bicara di perusahaan Anda, silakan hubungi 0812 19899 737.

Comments are closed.