<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dadang Kadarusman (DEKA) &#187; Social Life</title>
	<atom:link href="http://www.dadangkadarusman.com/category/social-life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dadangkadarusman.com</link>
	<description>NatIn™ People Development Training &#38; Consulting</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 23:41:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Membagikan Ilmu Yang Kita Miliki</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2011/10/31/membagikan-ilmu-yang-kita-miliki/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2011/10/31/membagikan-ilmu-yang-kita-miliki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 02:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=2247</guid>
		<description><![CDATA[Program Baru! In-House Training menyambut Tahun Bisnis Baru. Topik: &#8220;New Year &#8211; New Spirit &#8211; New Hope&#8221;. Cocok untuk melengkapi meeting tahunan dengan karyawan kunci. Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327. Hore, Hari Baru! Teman-teman. Dari dulu, kita menghormati &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2011/10/31/membagikan-ilmu-yang-kita-miliki/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1"> Program Baru! In-House Training menyambut Tahun Bisnis Baru. Topik: &#8220;New Year &#8211; New Spirit &#8211; New Hope&#8221;. Cocok untuk melengkapi meeting tahunan dengan karyawan kunci. Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327. </font></marquee> </p>
<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/10/guru-uvebanacm.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/10/guru-uvebanacm.jpg" alt="" title="guru-uvebanacm" width="275" height="183" class="alignleft size-full wp-image-2250" /></a> Hore, Hari Baru! Teman-teman.</p>
<p>Dari dulu, kita menghormati para guru. Bukan karena jabatannya. Bukan juga karena uangnya. Melainkan karena ilmunya. Meski kedudukan kita lebih tinggi, kita tetap menghormati mereka. Meski kekayaan kita lebih banyak, rasa hormat itu pun tetap ada. Begitulah orang-orang berilmu memiliki tempat teristimewa dihati kita. Penghormatan kita kepada seseorang tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat profesi, posisi, maupun kepemilikan. Implikasinya, siapapun bisa mendapatkan penghargaan yang sama selama bisa berkontribusi dengan ilmunya. Sekalipun tidak berprofesi sebagai guru, kita pun bisa mendapatkan kemuliaan seperti yang didapatkan oleh para guru itu. Syaratnya sederhana saja, yaitu; membagikan ilmu yang kita miliki.     <span id="more-2247"></span></p>
<p>Banyak orang yang tidak berprofesi sebagai ‘guru’, namun memainkan peran penting layaknya para guru. Bahkan boleh jadi, kemuliaan sesungguhnya adalah milik mereka yang bukan guru – namun bersedia berbagi ilmu seperti mereka itu. Mereka yang berbagi ilmu tanpa menuntut bayaran, tentu lebih pantas mendapatkan imbalan dari sisi Tuhannya. Janggal sekali jika orang yang menetapkan tarip – saya yang trainer ini misalnya – masih menuntut pahala yang banyak. Bukankah transaksinya sudah selesai ketika klien saya setuju untuk membayar fee training sesuai dengan tarip saya? Justru orang-orang yang bukan trainer atau guru itu lebih patut mendapatkan kemuliaan. Yaitu, mereka yang tanpa embel-embel atau syarat ini-itu bersedia berbagi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan. Rumitkah melakukannya? Tidak juga. Cukup dengan 2 aspek saja. Pertama, memiliki ilmu. Ilmu apa? Ilmu apapun yang bermanfaat. Kedua, bersedia untuk membagi ilmu itu. Berbagi kepada siapa? Kepada siapapun yang dapat mengambil manfaatnya.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membagikan ilmu yang kita miliki, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com" title="Natural Intelligence" target="_blank">Natural Intelligence (NatIn)</a> berikut ini:  </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1"> Public Training: New Manager’s Leadership Program (Practical Guide for New Managers). Tanggal 9-10 Januari 2012 di Jakarta. HANYA 30 ORANG per batch. Investasi early bird Rp.2,250,000.- Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327. </font></marquee>	</p>
<p><strong>1. Sekecil apapun, ilmu tetaplah ilmu</strong>. Begitu banyak orang yang merasa dirinya tidak cukup berilmu. Padahal, setiap orang memiliki ilmu yang cukup untuk dibagikan kepada orang lain. Kita tidak harus meraih gelar akademis tinggi untuk memiliki ilmu. Tidak juga harus mengikuti training atau kursus yang mahal dan bergengsi. Kita hanya perlu menyadari bahwa didalam diri kita ada ilmu yang bermanfaat. Siapapun Anda, punya ilmu yang bisa Anda tebarkan. Sederhananya begini. Saat Anda kelas 5 SD, pelajaran kelas 5 mungkin terasa berat buat Anda. Tetapi, Anda kan masih bisa mengajari adik yang masih kelas 1 untuk sekedar belajar membaca? Ilmu membaca Anda sudah cukup untuk mengajari adik yang masih kelas 1 itu. Percayalah, ilmu apapun yang Anda miliki – jika itu baik – maka tentu akan berguna bagi Anda dan orang lain. Maka tidak perlu ragu untuk berbagi ilmu, karena sekecil apapun; ilmu adalah ilmu. Boleh jadi, disekitar Anda ada orang yang membutuhkan ilmu itu. Kongkritnya, sebagai seorang senior di kantor, Anda bisa menjadi pembimbing bagi karyawan baru yang bergabung di team Anda. Tampaknya memang sederhana. Tapi dampaknya? Tentu luar biasa. Cobalah pilih 1 orang saja di team Anda. Lalu Anda tekadkan untuk membagi ilmu Anda dengannya. Maka Anda akan kebagian keutamaan ilmu itu, melalui kemauan Anda untuk membagikannya kepada orang itu. </p>
<p><strong>2. Ilmu membutuhkan pupuk untuk berkembang</strong>. Cobalah Anda simpan sendiri ilmu yang Anda miliki, maka ilmu itu sangat sulit untuk berkembang. Sebaliknya, semakin rajin Anda berbagi, semakin bertambah ilmu yang Anda miliki. Proses berbagi ilmu itu seperti pupuk yang menyuburkan tanaman. Tanpa pupuk, tanaman tidak bisa tumbuh subur. Dan tanpa proses membagikannya, ilmu yang kita miliki tidak bisa bertambah. Maka jika Anda ingin ilmunya bertambah, tidak ada cara lain selain membagikannya kepada orang lain. Mungkin bukan jumlah ilmunya yang bertambah. Melainkan derajat pemahaman kita kepadanya. Banyak ilmu yang baru kita pahami kulit luarnya saja. Namun ketika kita mempersiapkan diri untuk membagikannya, secara ajaib kita merasakan sel-sel otak dan hati kita bekerja untuk mendapatkan pemahaman yang semakin mendalam. Begitulah proses tumbuh kembangnya ilmu. Meski jumlah tidak bertambah, tetapi pemahaman kita kepadanya menjadi semakin mendalam. Dan itu, bisa kita dapatkan dengan memberinya pupuk berupa kesediaan untuk membagikannya kepada orang lain.</p>
<p style="visibility: visible"><object width="426" height="320" data="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" type="application/x-shockwave-flash" style="width: 426px; height: 320px"><param value="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" name="movie"></param><param value="high" name="quality"></param><param value="noscale" name="scale"></param><param value="l" name="salign"></param><param value="transparent" name="wmode"></param><param value="cy=ms&amp;il=1&amp;channel=3530822107904199294&amp;site=widget-7e.slide.com" name="flashvars"></param></object></p>
<p><strong>3. Ilmu adalah amanah untuk disampaikan</strong>.  Tergetar hati saya beberapa waktu lalu ketika bertemu dengan seorang pria sederhana. Begini kalimat yang meluncur dari lidahnya; “Jangan sampai ilmu itu kita bawa mati, tanpa seorangpun bisa meneruskannya di muka bumi.” Setiap kali kita mendapatkan tambahan ilmu, bisa jadi itu adalah pertanda semakin bertambahnya amanah yang dititipkan Tuhan untuk kita sampaikan. Sang Maha Berilmu tentu ingin agar ilmunya semakin banyak yang dikuasai oleh umat manusia. Maka ketika Dia mengajarkan kita tentang sebuah ilmu, kita berkewajiban untuk meneruskannya kepada orang lain. Guru kehidupan saya menasihatkan;”Sampaikanlah ajaran kebaikan meskipun hanya satu kalimat&#8230;” Anda, pasti memiliki begitu banyak ilmu. Apalagi menyimak deretan gelar yang tertera didepan atau belakang nama Anda. Dan itu, berarti ada begitu besar amanah yang diemban untuk meneruskan ilmu yang Anda miliki kepada orang lain. Bagaimana kalau profesi Anda bukan guru atau trainer? Itu jauh lebih baik lagi. Karena profesi bisa menjadi belenggu yang menghalangi ruang gerak Anda. Dan profesi bisa menjebak Anda pada tuntutan atas sejumlah uang. Jika klien Anda tidak setuju dengan tarip Anda, mungkin Anda akan batal membagikan ilmu itu. Begitulah kenyataannya. Justru orang seperti Anda bisa berbuat lebih banyak tanpa harus hitung-hitungan soal waktu dan jumlah ilmu yang ditebarkan. Sedangkan mereka yang masih meminta imbalan? Masih harus mencari cara lain untuk menunaikan amanahnya. </p>
<p><strong>4. Mengambil peran dalam penyebaran ilmu</strong>. Tidak mudah untuk membangun rasa percaya diri. Banyak orang berilmu merasa bahwa ilmunya terlalu sedikit untuk dibagikan kepada orang lain. Ada juga yang berkata; I  don’t know how? Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk melakukan hal sederhana ini; mulailah dengan cara ‘meneruskan’ ilmu yang Anda dapat dari orang lain kepada seseorang yang Anda kenal. Jika Anda baru belajar dari seseorang misalnya, Anda ceritakan pelajaran itu kepada satu teman di team Anda. Jika Anda baru megikuti sebuah training, cobalah ceritakan apa saja yang Anda dapat dari training itu kepada seseorang yang tidak mengikutinya. Atau jika Anda baru mendapatkan email berisi pelajaran bagus dari orang lain, forwardlah email itu kepada sahabat Anda. Dengan begitu, Anda mengambil peran dalam proses penyebaran ilmu. Perhatikanlah, Anda bahkan tidak harus menjadi sang pemilik ilmu untuk mengambil peran itu. Jika Anda masih merasa sulit untuk mengajarkan ilmu yang Anda miliki, maka cara ini dapat Anda gunakan sebagai langkah awalnya. Jika seumur hidup Anda tetap hanya bisa menjadi penyampai pesan? Apa masalahnya? Toh Anda sudah melakukan kebaikan itu sepanjang usia Anda. So, tidak ada ruginya, bukan? Bahkan tugas para Nabi pun adalah menyampaikan pesan Tuhan. Mengapa kita tidak menirunya untuk menjadi penyampai pesan nilai-nilai kebaikan yang sempat singgah keranah pengetahuan kita? </p>
<p><strong>5. Ilmu adalah peninggalan yang dibawa pulang</strong>. Peninggalan yang dibawa pulang? Rada aneh, ya. Ditinggalkan, tapi dibawa pulang. Begitulah sifat unik ilmu. Anda bisa meninggalkan ilmu itu ditempat manapun yang pernah Anda singgahi. Tapi, ketika tiba kembali di rumah, ilmu itu masih tetap melekat didalam diri Anda. Dan pada saat yang sama menjadi peninggalan berharga di tempat yang baru saja Anda tinggalkan. Pulang, bukan sekedar bermakna tempat tinggal dialam fana. Melainkan tempat dimana kesejatian berbaur dengan keabadian. Orang-orang yang pulang sambil meninggalkan ilmu yang bermanfaat beroleh peluang untuk mendapatkan aliran pahala terus-menerus. Khususnya jika ketika melakukannya tidak dibatasi oleh batasan-batasan tansaksional, hingga seluruh pahalanya utuh. Itu adalah imbalan bagi mereka yang meninggalkan ilmu. Apakah yang ditinggalkan itu ilmu miliknya pribadi. Ataukah yang diteruskannya dari seseorang kepada orang berikutnya. Semuanya akan mendapatkan bagiannya masing-masing. Maka tenteramlah orang-orang yang selama hidupnya bersedia untuk berbagi ilmu. Karena setiap ilmu yang dteruskannya kepada orang lain seperti sebutir biji yang terus tumbuh dan berkembang. Laksana saham yang harganya terus menanjak naik. Dia akan terus menjadi miliknya, selama orang-orang yang ditinggalkannya di dunia terus menggunakannya untuk kemanfaatan kehidupan mereka. Maka tinggalkanlah sesuatu untuk dibawa pulang, lewat ilmu yang Anda teruskan.  </p>
<p>Coba bayangkan seandainya setiap orang di kantor Anda menyadari bahwa masing-masing memiliki ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Lalu masing-masing menyediakan diri untuk saling berbagi dengan temannya. Saya, tidak sedang berbicara teori. Proses inilah yang dulu ketika masih bekerja sebagai seorang profesional saya fasilitasi didalam team yang saya pimpin. Menakjubkan sekali. Setiap orang bisa menjadi guru bagi orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Senior dan junior bisa saling berbagi ilmu. Bahkan seorang atasan bisa berguru kepada bawahan. Karena soal ilmu, tidak ada kaitannya dengan kedudukan. Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang layak untuk dimuliakan. Maka jika Anda ingin dihormati oleh kolega dan atasan Anda, mulailah sekarang juga untuk berbagi ilmu yang Anda miliki kepada rekan-rekan dikantor Anda. Dan Anda akan tahu, bahwa; keutamaan ilmu bukanlah monopoli para guru. </p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman – 31 Oktober 2011<br />
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap editing di penerbit)<br />
Segera daftar untuk mendapatkan early bird special price Training New Manager&#8217;s Leadership Program (Practical Guide for New Managers) bersama DEKA<br />
Contact person training: Ms. Vivi &#8211; 0812 1040 3327<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Info Public Training</strong>: New Manager’s Leadership Program (Practical Guide for New Managers). Tanggal 9-10 Januari 2012 di Jakarta. HANYA 30 ORANG per batch. Trainer: DEKA. Investasi early bird Rp.2,250,000.- Hubungi Ms. Vivi di 0812 1040 3327.  Info selengkapnya: <a href="http://www.dadangkadarusman.com/new-managers-leadership-program/" title="New Manager’s Leadership Program" target="_blank">New Manager’s Leadership Program &#8211; Practical Guide for New Managers</a></p>
<p><strong>Info In-house training</strong>: Topik Baru! “New Year – New Spirit – New Hope“. Cocok untuk melengkapi acara pertemuan bisnis tahunan bersama karyawan kunci. Hanya untuk November – Desember 2011. Segera booking melalui Ms. Vivi di 0812 1040 3327.   Infor Selengkapnya: <a href="http://www.dadangkadarusman.com/new-year-new-spirit-new-hope-topik-baru/" title="New Year – New Spirit – New Hope (Topik Baru!)" target="_blank">&#8220;<strong>New Year &#8211; New Spirit &#8211; New Hope</strong>&#8220;</a>. </p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
Kecendekiawanan seseorang tidak terletak pada deretan gelar yang menempel pada namanya, melainkan kepada penggunaan dan kemanfaatan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. </p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman </font></marquee></p>
<p>Gambar :  www.uvebana.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2011/10/31/membagikan-ilmu-yang-kita-miliki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Godaan Dari Luar, Atas Pernikahan Kita</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/23/mengatasi-godaan-dari-luar-atas-pernikahan-kita/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/23/mengatasi-godaan-dari-luar-atas-pernikahan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 03:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=1534</guid>
		<description><![CDATA[Ingin mengundang DEKA sharing tapi takut budgetnya tidak cukup? Tidak perlu takut. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; Hore, Hari Baru! Teman-teman. Sudah berapa lama Anda menikah? Saya tidak akan menanyakan apakah Anda pernah bertengkar dengan pasangan atau tidak. Biarlah itu &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/23/mengatasi-godaan-dari-luar-atas-pernikahan-kita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Ingin mengundang DEKA sharing tapi takut budgetnya tidak cukup? Tidak perlu takut. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; </font></marquee>	<a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/08/marriage-mrsnaz-diamondheartbgspt.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/08/marriage-mrsnaz-diamondheartbgspt.jpg" alt="" title="marriage-mrsnaz-diamondheartbgspt" width="300" height="238" class="alignleft size-full wp-image-1539" /></a>Hore, Hari Baru! Teman-teman.</p>
<p>Sudah berapa lama Anda menikah? Saya tidak akan menanyakan apakah Anda pernah bertengkar dengan pasangan atau tidak. Biarlah itu menjadi rahasia kita masing-masing. Kita semua bukanlah pribadi yang identik. Jadi, dengan siapapun kita menikah, tidak akan pernah bisa kita buat kesepakatan, kesesuaian dan kesalarasan 100%. Pasti ada perbedaan. Entah hanya sekedar sudut pandang, prinsip, atau aspek lain dalam kehidupan kita. Hal terpetingnya bukan soal pernah bertengkar atau tidak, tetapi bagaimana kita membuat penyelesaian pertengkaran itu. Jika sekarang saya menulis dengan topik pernikahan, bukan karena merasa sudah baik dalam pernikahan. Namun, untuk sekedar berbagi perjalanan dan pengalaman yang saya dan istri saya alami. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi. <span id="more-1534"></span></p>
<p>Godaan dari luar atas pernikahan kita datang nyaris tiada henti. Terlebih ketika teknologi komunikasi menguasai setiap lorong-lorong paling sempit dan paling pribadi dalam hidup kita. Saya dan istri saya tidak terleas dari godaan itu. Namun yang paling sering mengalaminya adalah istri saya. Dengan blackberry ditangannya, seolah para lelaki penggoda mempunyai beribu cara untuk mengejarnya kemanapun dia pergi. Ada diantara mereka yang dapat dengan mudah ‘diminta’ berhenti. Namun, ada beberapa juga yang sedemikian kurang ajarnya sehingga terus melakukan apapun untuk mengejarnya meski tahu jika dia sudah bersuami. Tak jarang yang sampai membuat kita panas hati. Untuk yang ringan, saya percayakan istri saya menanganinya sendiri. Tapi untuk yang ‘sulit’, saya menemukan bahwa hanya dengan kerjasama antara suami dan istri kita bisa menangani kekurang ajaran mereka yang tidak senonoh. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mengatasi godaan dari luar atas pernikahan kita, saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman <a href="http://www.dadangkadarusman.com" title="Natural Intelligence" target="_blank">Natural Intellligence </a> berikut ini:<br />
<marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Cobalah training 2 JAM Dari DEKA, yang pasti cocok dengan budget Anda. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; </font></marquee><br />
<strong>1. Menjaga kepercayaan pasangan</strong>. Siapapun Anda, tidak mungkin bisa membuntuti dan mengawasi pasangan hidup Anda. Tidak mungkin. Sama seperti dia yang tidak bisa selalu mengawasi Anda.  Saya juga demikian. Meskipun ada didalam ruang tertutup, masih ada alat telekomunikasi canggih yang membuka akses ke tempat manapun di dunia. Apalagi di dunia bebas seperti yang kita tinggali saat ini. Ketika para suami bekerja, apa yang dilakukan para istri? Ketika para istri berada dirumah, apa yang dilakukan oleh para suami diluar rumah? Tidak mungkin untuk mengetahui semuanya. Bahkan, ketika sepasang suami istri sedang berada dalam ruangan yang sama; jiwa dan emosinya sering berada di dunia yang berbeda, bukan? Jadi, saling mengawasi pasangan hidup bukanlah solusinya. Apalagi membatasi mereka dalam kubik kecil kehidupannya. Menjaga kepercayaan pasangan, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Sebagai suami, ada kepercayaan dari istri untuk kita jaga. Dan para istri, memiliki kepercayaan dari suami yang patut dijaga juga. Selama kita bisa menjaga kepercayaan itu, pasti segalanya akan baik-baik saja. </p>
<p><strong>2. Mengendalikan emosi.</strong> Di luar sana, begitu banyak orang yang memiliki beribu muslihat untuk mengajak kita berbuat maksiat. Banyak akal dan cara hingga tak mudah menghindarinya. Parahnya lagi, mereka sudah punya akses langsung ke blackberry, telepon, dan facebook kita, bahkan telah menjebol pintu hati kita. Jika hal ini terjadi pada pasangan Anda, apakah Anda suka? Pasti tidak. Mengetahui pasangan kita tergoda, rasanya darah sudah naik ke ubun-ubun. Tidak masalah apakah Anda lelaki atau perempuan; Anda tidak akan suka pasangan Anda mengikuti arus yang diciptakan para penggoda. Kalau sudah begitu, kita sering terbawa oleh emosi. Terutama para lelaki, hingga tangan bisa melayang menimbulkan bekas di pipi istrinya. Mari belajar kepada Nabi Ayub. Ketika kemarahan kepada istrinya sudah sedemikian memuncak, beliau tergoda untuk memukulnya. Namun, Allah memberinya hidayah. Apa yang dilakukan Nabi suci itu? Diambilnya sejumput rumput, lalu ‘dipukulkan’ rumput lembut itu kepada istrinya tanpa sedikitpun menimbulkan rasa sakit. Itu adalah pelajaran yang saya dapat dari ayah saya; &#8220;Haramkan tangan dari memukul istri.&#8221; Alhamdulillah, hingga saat ini masih terus terjaga. Kita menikahi seseorang bukan untuk dipukuli. Tidak akan selesai masalah dengan mengikuti dorongan emosi.</p>
<p style="visibility: visible"><object width="426" height="320" data="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" type="application/x-shockwave-flash" style="width: 426px; height: 320px"><param value="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" name="movie"></param><param value="high" name="quality"></param><param value="noscale" name="scale"></param><param value="l" name="salign"></param><param value="transparent" name="wmode"></param><param value="cy=ms&amp;il=1&amp;channel=3530822107904199294&amp;site=widget-7e.slide.com" name="flashvars"></param></object></p>
<p><strong>3. Sebagai pasangan, Anda adalah juru selamatnya</strong>. Seperti halnya diri kita sendiri yang bisa kepeleset, pasangan hidup kita mungkin saja terjerat oleh jebakan para penggoda lihai. Percayalah, dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka yang menggodanya sering terlalu kuat untuk bisa diminta berhenti. Makanya, pasangan kita membutuhkan dukungan sepenuhnya untuk menghadapi mereka. Jika itu terjadi pada pasangan Anda, ketahuilah bahwa dia membutuhkan bantuan Anda. Wajar jika Anda marah atas semua yang telah terjadi. Tetapi, kemarahan itu tidak boleh melampaui batas. Mari terima kenyataan bahwa dunia kita sudah berubah. Sudah tidak ada lagi hijab dan dinding-dinding yang bisa memisahkan pergaulan baik dan buruk. Inilah dunia kita. Maka kemarahan yang berlebihan, hanya akan menambah parah keadaan. Itu hanya akan menguntungkan mereka yang didalam hatinya ada penyakit, sehingga mereka semakin leluasa memperalat pasangan hidup Anda. Dia bisa saja terperosok semakin dalam. Tetapi jika Anda bersedia menolongnya, maka dia punya kesempatan lebih besar untuk terbebas dari jerat. Mengapa? Karena sebagai pasangan, Anda adalah juru selamatnya.</p>
<p><strong>4. Solusinya tidak berada ditangan orang lain</strong>. Kalau soal ini, saya to the point saja; sehebat apapun Anda menjalani kehidupan pernikahan, Anda tidak akan pernah terbebas dari masalah. Mungkin soal uang; terlalu sedikit, atau terlalu banyak. Soal perhatian. Soal kemesraan. Soal kebutuhan fisik. Soal kebutuhan emosional. Sebut saja apa. Kita sering mengira jika pasangan kita sudah tidak romantis lagi. Dia tidak sering membelai lagi. Sudah jarang memuji lagi. Sudah tidak enak lagi untuk diajak bicara. Ingatlah. Ada beribu alasan yang kita punya. Lalu kita tergoda untuk mencari solusi dari luar. Sayangnya, kita sering sembarangan memilih orang. Hanya karena mereka bisa membuat kita tertawa lewat leluconnya. Atau membuat kita tersipu dengan pujiannya. Atau merasa tenang karena ‘kebijaksanaan’-nya (pakai tanda petik lho ya…). Lalu kita mengira dialah orang yang tepat untuk mencari solusi atas masalah rumah tangga kita. Padahal, kita tidak benar-benar mengetahui siapa sebenarnya dia. Keliru. Percayalah, tak seorang pun di luar lingkaran pernikahan Anda yang bisa memberi solusi atas masalah pernikahan Anda. Bahkan konsultan pernikahan sekalipun. Apalagi orang-orang yang tidak jelas juntrungannya. Berhentilah mencari solusi dari orang lain. Karena hanya Anda dan pasangan hidup Anda yang memilikinya.</p>
<p><strong>5. Hadapilah sebagai tantangan bagi berdua</strong>. Tak seorang pun bisa memaksa mereka yang moralnya sudah tidak utuh berhenti merusak rumah tangga orang lain. Makanya, tidak heran jika ada orang yang sangat sulit sekali untuk diminta berhenti menggoda. Seseorang pernah berkata begini; justru bagus kalau dia sudah punya suami. Lho? Kalau terjadi apa-apa, ada yang ‘bertanggungjawab’, katanya.  Maka seorang istri yang terjebak tidak mungkin bisa membebaskan dirinya sendiri. Begitu juga seorang suami yang  terjerat. Jika sudah tidak bisa diatasinya sendiri, istri saya memberi tahu saya tentang para penggoda itu. Pada situasi tertentu, memang saya harus turun tangan menghadapi mereka. Saya tidak berada dalam posisi yang bisa mengajak mereka menghentikan kebiasaan buruknya menggoda istri orang. Saya hanya memposisikan diri sebagai pasangan bagi istri saya. Dan saya siap untuk menghadapi invasi tidak senonoh dari pihak luar. Meski nyawa taruhannya. Alhamdulillah, sejauh ini kami masih bisa mengatasinya. Dalam pernikahan, kita bukan sekedar soul-mate. Melainkan juga sebagai team-mate bagi pasangan kita. Jadi, jika terjadi sesuatu dalam kehidupan pernikahan kita, maka kita tidak boleh mengatasinya sendiri-sendiri.  </p>
<p>Guru kehidupan saya mengingatkan bahwa salah satu ciri dekatnya kiamat adalah;”<strong>ketika manusia sudah berubah menjadi binatang</strong>.” Tidak dalam pengertian fisik. Tapi perilaku. Sebagai penikmat kemajuan teknologi komunikasi yang sudah dewasa, tentu kita tahu betapa amburadulnya akhlak manusia di zaman ini. Nyaris hilang urat malu kita dalam mengumbar nafsu. Bahkan di ruang publik sekalipun. Tidak mungkin mencegahnya, karena hal itu adalah bagian dari fitrah Tuhan. Memang begitulah nasib moral kita saat kiamat sudah dekat. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha agar Tuhan berkenan menjagakan kesucian harga diri citra kemanusiaan kita. Semoga Tuhan menjauhkan sifat hewani dari diri kita. Jika yang membaca artikel ini pernah mengalami hal yang sama dengan yang kami alami; semoga Tuhan memberi kekuatan untuk menyelesaikannya dengan baik. Jika ada yang sudah terlanjur jauh, semoga Tuhan memberi kekuatan untuk bertaubat. Dan kembali kepada keutuhan pernikahannya. Jika ada yang pernah menyakiti pasangannya, semoga berhasil untuk berbalik arah. Jika ada yang pernah disakiti oleh pasangannya, semoga dibantu Tuhan untuk tabah. Mari kembali kepada kesucian pernikahan kita. Mari kembali kepada harkat dan derajat kemanusiaan kita.</p>
<p>Nasihat untuk para istri: Jika ada lelaki yang tahu Anda sudah bersuami namun tetap menggoda Anda, maka dia sedang menjadi agen nafsu para binatang. Percayalah, dia tidak mempunyai cinta seperti yang dibualkannya kepada Anda. Apakah Anda punya nasihat untuk para suami? Silakan.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman  &#8211; 23 Agustus 2011<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/tarip-training-dadang/"><strong>2 HOURS AT YOUR BUDGET™  Since 17 August 2011</strong></a><br />
Penulis buku ”Tuhan Terimalah Taubatku”<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/">http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/</a><br />
Contact person in-house training: Ms. Vivi &#8211; 0812 1040 3327<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
Mohon maaf ya&#8230;, saya tidak melayani konsultasi tentang pernikahan.</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.</p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Follow DEKA on Twitter @dangkadarusman </font></marquee></p>
<p>Gambar :   mrsnaz-diamondheart.blogspot.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/23/mengatasi-godaan-dari-luar-atas-pernikahan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Pribadi Di Dunia Kecil Kita</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/19/peran-pribadi-di-dunia-kecil-kita/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/19/peran-pribadi-di-dunia-kecil-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 02:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=1365</guid>
		<description><![CDATA[Ingin mengundang DEKA sharing tapi takut budgetnya tidak cukup? Tidak perlu takut. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; Hore, Hari Baru! Teman-teman. Dunia kita terbilang besar. Buktinya, tak seorangpun pernah menginjakkan kakinya di setiap jengkal tanah. Dunia kita juga kecil. Buktinya, &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/19/peran-pribadi-di-dunia-kecil-kita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Ingin mengundang DEKA sharing tapi takut budgetnya tidak cukup? Tidak perlu takut. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; </font></marquee>	<a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/08/sapu-zico1234blspt.png"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/08/sapu-zico1234blspt-300x300.png" alt="" title="sapu-zico1234blspt" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1367" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Dunia kita terbilang besar. Buktinya, tak seorangpun pernah menginjakkan kakinya di setiap jengkal tanah. Dunia kita juga kecil. Buktinya, kita lebih banyak menghabiskan waktu di tempat atau lingkungan yang itu-itu saja. Di awal milenium ketiga, kita menyebut dunia sudah menjadi datar. Mungkin, hari ini kita boleh mengatakan jika dunia sudah mengkerut. Betapa tidak? Jarak sudah tidak lagi relevan dizaman ini. Pengaruh tindakan kita bisa secepat kilat menyebar ke seluruh dunia. Gagasan yang dilontarkan seseorang di New York City, bisa sampai ke Jakarta dalam sepersekian detik. Sebaliknya, gagasan yang kita bagikan di Jakarta, bisa memasuki setiap lorong jembatan komunikasi di seluruh dunia dalam sekejap mata. Kecilnya dunia, tidak hanya berupa kiasan. Tetapi juga bermakna sebenarnya. Lingkungan yang kita tinggali, adalah dunia kecil yang sesungguhnya. Sudahkah kita memainkan peran pribadi untuk menjadikan dunia kecil kita lebih baik dari hari ke hari? <span id="more-1365"></span></p>
<p>Sudah lama saya tidak menggunakan jembatan yang menghubungkan Polda Metro Jaya dan Plaza Semanggi. Ketika kesana kemarin, suasananya berbeda sekali. Sejak menginjak tangga pertama, saya tidak melihat sampah atau debu yang biasanya menumpuk. Begitu tiba diatas, saya mengerti; mengapa jembatan itu sedemikian bersihnya. Ada seorang pribadi istimewa yang beringsut-ingsut menyapunya. Mengapa dia istimewa? Karena tubuhnya tidak sesempurna kebanyakan orang. Namun, dengan tangan yang hanya sebelah itu, dia melakukan sesuatu yang membuat lingkungannya menjadi bersih. Dalam keadaan yang serba terbatas itu, dia telah memainkan peran penting untuk menjadikan dunia kecilnya indah. Bagaimana dengan kita? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mengambil peran pribadi dalam dunia kecil yang kita huni, saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intellligence berikut ini:<br />
<marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Cobalah training 2 JAM Dari DEKA, yang pasti cocok dengan budget Anda. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; </font></marquee><br />
<strong>1. Pilihlah peranmu sendiri</strong>. Ada yang berperan sebagai pengemis, pedagang, pejalan kaki, pembuang sampah, bahkan mungkin juga disana ada pencoleng. Tetapi, Bapak yang tubuhnya tidak sesempurna kita itu memilih perannya sendiri. Peran yang sungguh membuat dunia kecil itu begitu indah. Semua jembatan penyeberangan membutuhkan orang yang mau memilih peran positif seperti beliau. Dunia kecil yang kita tinggali juga sama. Dunia kecil kita, bisa saja berupa ruang kantor yang yang kita datangi setiap hari. Komplek perumahan yang kita tinggali. Atau komunitas dunia maya dimana kita bergabung didalamnya. Didalam dunia kecil kita, setiap orang mengambil perannya sendiri-sendiri. Pribadi istimewa itu menunjukkan bahwa dimanapun kita berada, hendaknya kita memilih peran kita sendiri. Beliau memberi contoh agar kita mengambil peran yang bernilai dan memberi dampak positif bagi dunia kecil kita. Beliau tidak memiliki kesempurnaan fisik. Namun jiwanya begitu sempurna. Pakaian yang beliau kenakan dipenuhi dengan debu. Namun, hati beliau berkilau dengan cahaya. Melihat beliau, seolah sedang menyeru sebuah kalimat indah; “Wahai pribadi-pribadi yang fisiknya sempurna, sudahkah engkau memilih peran untuk memperindah dunia kecilmu?”</p>
<p style="visibility: visible"><object width="426" height="320" data="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" type="application/x-shockwave-flash" style="width: 426px; height: 320px"><param value="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" name="movie"></param><param value="high" name="quality"></param><param value="noscale" name="scale"></param><param value="l" name="salign"></param><param value="transparent" name="wmode"></param><param value="cy=ms&amp;il=1&amp;channel=3530822107904199294&amp;site=widget-7e.slide.com" name="flashvars"></param></object></p>
<p><strong>2. Mainkanlah peran pilihanmu sendiri</strong>. Secara struktural, Dinas Kebersihan DKI bertanggungjawab untuk memastikan semua jembatan penyeberangan dan fasilitas umum di Jakarta tetap bersih. Tetapi, menumpahkan semua tanggungjawab itu kepundak petugas kebersihan sungguh tidak realistis. Pribadi istimewa itu, memainkan perannya dengan piawai tanpa banyak bicara, karena beliau faham benar bahwa perannya memang bukan sebagai ‘pembicara’. Beliau sadar bahwa tempat para pembicara adalah di ruang-ruang meeting dan forum ilmiah. Bukan didunia kecil yang dihuninya. Tidak cocok jika dia berbicara ditempat itu. Di kantor atau di lingkungan rumah kita juga sama. Setiap orang memiliki perannya masing-masing untuk memperindah dunia kecil itu. Sayangnya kita masih sering menggerutu. Pak RT dan Pak managernya kurang perhatian. Pak direkturnya sibuk sendiri. Pak Presidennya kurang tegas mengambil keputusan. Barangkali, memang itulah peran yang mereka pilih untuk dunianya. Namun, pribadi istimewa di jembatan penyeberangan itu, tidak tertarik untuk menghakimi peran orang lain. Dia memilih untuk memainkan peran penting yang dipilihnya sendiri; menjadikan dunia kecilnya indah. Sudahkah kita memainkan peran yang kita pilih?</p>
<p><strong>3. Jauhilah sifat pamrih kepada manusia</strong>. Pribadi istimewa itu memiliki begitu banyak pilihan untuk meminta imbalan. Bahkan imbalan untuk sekedar duduk disana. Dia bisa saja mengemis seperti ‘penghuni’ lainnya. Tetapi tidak melakukannya. Dia bisa saja meminta upah atas pekerjaan pembersihan yang dilakukannya. Tetapi, dia juga tidak lakukan. Jika Anda melintas di jembatan itu, tataplah wajahnya. Anda tidak akan melihat isyarat meminta imbalan kepada Anda yang melintasi jembatan yang dibersihkannya. Jelas sekali jika beliau tidak memiliki pamrih kepada manusia. Jadi, siapa yang membalas jasanya? Kita yang bertubuh sempurna ini sering menuntut imbalan dimuka. ‘What in it for me?’ begitulah bahasa kerennya. Kalau tidak ada imbalannya, ngapain saya melakukannya? Tuhan menggerakkan hati orang-orang baik untuk berbagi rezeki dengan pribadi istimewa yang telah berbuat baik dalam dunia kecilnya itu. Semoga Tuhan pun berkenan untuk menjamin kecukupan dan berkah nafkah orang-orang yang tanpa pamrih memainkan peran positif bagi dunia kecilnya masing-masing. </p>
<p><strong>4. Hunilah dunia kecil yang sudah kita benahi</strong>. Hitungan matematis kita sering mengkalkulasi untung dan rugi. Rasanya rugi sekali jika kita melakukan tindakan baik tetapi orang lain yang menikmatinya. Enak di elo, susah di gue!  Apalagi jika manfaat tindakan baik yang kita lakukan itu didapatkan oleh orang-orang yang tidak kita kenali. Pribadi istimewa itu tidak mengenal saya. Tidak juga mengenal orang lainnya yang berjalan hilir mudik. Tapi saya percaya sepenuhnya bahwa setiap orang yang melintas disana merasakan nyamannya berjalan dijembatan penyeberangan yang bersih lagi rapi. Berbeda 180 derajat dengan kebanyakan jembatan penyeberangan lainnya yang penuh sampah, bahkan kadang berbau pesing. Orang itu melakukan sesuatu untuk orang-orang yang tidak dikenalnya. Tetapi lebih dari itu, beliau sendiripun turut merasakan kebersihan yang diciptakannya sendiri. Jika kita bersedia untuk melakukan sesuatu bagi keindahan dunia kecil kita, maka bukan hanya orang lain yang bisa memetik manfaatnya. Kita sendiripun bisa merasakannya. Bahkan boleh jadi, kepuasan didalam hati kita melampaui kenikmatan fisikal yang kita dapatkan. Maka benahilah dunia kecilmu. Dengan begitu, engkau akan menghuni tempat yang lebih indah untuk dirimu. </p>
<p><strong>5. Rancanglah dunia kecil masa depanmu</strong>. Iman kita memberitakan tentang sebuah tempat yang menjadi asal muasal diri kita. Semua orang berusaha untuk bisa kembali lagi ketempat itu. Tempat dimana manusia pertama yang menjadi nenek moyang sejati kita tinggal. Kita menyebutnya surga. Guru kehidupan saya menceritakan bahwa surga itu sebuah tempat hunian indah nan asri. Setiap rumah dibangun dengan rancangan arsitektur yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki rumah dengan model dan disainnya sendiri-sendiri. Siapakah arsitek yang sedemikian piawainya membuat disain yang bervariasi? Malaikatkah? Bukan. Tuhankah? Bukan. Lantas siapa? Arsiteknya adalah penghuninya sendiri. Lantas, bagaimana orang awam bisa membuat arsitektur hunian yang sedemikian indahnya? Beliau bilang;”Setiap perbuatan baik seseorang, menghasilkan sebuah goresan garis rancangan.” Maka setiap gerakan sapu dari tangan pribadi istimewa di jembatan penyeberangan itu, menghasilkan satu garis indah dalam rancangan arsitektur rumah surganya. Perbanyaklah perbuatan baik, agar disain rancangan rumah surgamu menjadi semakin sempurna. Karena kesempurnaan rancangan hunian abadi kita, ditentukan oleh kesempurnaan amak baik yang kita lakukan untuk dunia kecil kita.    </p>
<p>Dunia yang kita huni adalah cermin yang memantulkan perilaku kita apa adanya. Selama masih ada orang yang peduli untuk selalu membuatnya menjadi indah, maka dia akan selalu memperlihatkan pantulan indah. Tetapi jika tak seorangpun peduli, dunia kecil ini pun akan memperlihatkan citra ketidakpedulian penghuninya. Jika kita masih sering merasakan dunia kecil kita tidak nyaman untuk dihuni, mungkin karena tak seorangpun bersedia untuk membenahinya. Jika kita tidak melakukannya dengan tangan kita sendiri, mungkin ada orang lain yang akan melakukannya. Mungkin juga tidak. Tetapi jika kita bersedia melakukannya dengan tangan kita sendiri, mungkin kita bisa membuat sebuah perbedaan kecil, namun cukup bermakna. Dunia seperti apakah yang ingin Anda huni?</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
DEKA &#8211; Dadang Kadarusman  &#8211; 19 Agustus 2011<br />
2 HOURS AT YOUR BUDGET™  Since 17 August 2011<br />
Penulis buku ”Tuhan Terimalah Taubatku”<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/">http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/</a><br />
Contact person in-house training: Ms. Vivi &#8211; 0812 1040 3327<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
Ketika kita sibuk mempermasalahkan ketidaknyamanan lingkungan kita, seseorang yang tubuhnya tidak sempurna sibuk memperindah dunia kecil yang kita tinggali.</p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.<br />
<marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Jangan ragu kalau mau mengundang DEKA bicara. Keterbatasan budget Anda bukan halangan lagi kok. Cek di bagian &#8220;TARIP KHUSUS&#8221; </font></marquee><br />
Gambar : zico1234.blopspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2011/08/19/peran-pribadi-di-dunia-kecil-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertanyaan Paling Sulit Tentang Pernikahan</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2011/07/20/pertanyaan-paling-sulit-tentang-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2011/07/20/pertanyaan-paling-sulit-tentang-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 01:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-teman. Salah satu pertanyaan paling sulit yang saya dapatkan adalah ini;”Bagaimana mempertahankan pernikahan kami?” Sampai sekarang pun saya belum tahu harus menjawab apa, soalnya pernikahan kami sendiri baru berumur 14 tahun lebih sedikit. Masih terlalu dini untuk &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2011/07/20/pertanyaan-paling-sulit-tentang-pernikahan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/07/mariage-lacoquettedtmondoblogorg.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2011/07/mariage-lacoquettedtmondoblogorg-200x300.jpg" alt="" title="mariage-lacoquettedtmondoblogorg" width="200" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-1127" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Salah satu pertanyaan paling sulit yang saya dapatkan adalah ini;”Bagaimana mempertahankan pernikahan kami?” Sampai sekarang pun saya belum tahu harus menjawab apa,  soalnya pernikahan kami sendiri baru berumur 14 tahun lebih sedikit. Masih terlalu dini untuk bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan pengalaman kami sendiri. Sebenarnya saya bisa saja menjawabnya secara ‘teoritis’. Toh sang penanya tidak tahu bagaimana saya menjalani kehidupan pernikahan kami. Tetapi, lha kok rasanya kurang afdol ya? Bagaimana jadinya jika teori yang saya gunakan itu, ternyata benar-benar ‘hanya sebatas teori’ saja. Bagaimana seandainya ternyata suatu saat nanti saya tidak berhasil melewati masa-masa sulit dalam kehidupan rumah tangga kami. Bagaimana seandainya kami….. <span id="more-1124"></span></p>
<p>Akhirnya saya memilih untuk ‘tidak menjawab’ pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebab setelah cukup lama bersemedi pun ternyata saya tidak memiliki kemantapan hati untuk berani menjawabnya. Kalau pun saya harus menjawabnya, saya harus melakukannya berdua dengan istri saya. Dan jika kami jadi menjawabnya, maka kami terikat oleh sebuah kewajiban untuk melakukan apa yang kami katakan kepada orang lain. Padahal, jika kami menghadapi badai yang sama; belum tentu kami pun berhasil melewatinya. Walhasil, daripada menjawab pertanyaan itu; saya lebih memilih untuk berceloteh saja tentang apa yang sedang saya dan istri saya pelajari saat ini dalam pernikahan kami. Bagi Anda yang tertarik menemani kami belajar menjaga bahtera pernikahan ini; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:  </p>
<p><strong>1. Mengingat saat pertama kali jatuh cinta</strong>. Saat jatuh cinta pertama kali kepadanya adalah salah satu saat terindah dalam hidup saya. Seperti serum saja, didalam darah saya terkandung nuansa romansa itu. Dan serum inilah yang sering menolong saya menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan pernikahan kami. Setiap kali saya memerlukan penyegaran atas cinta dan kehidupan rumah tangga kami, saya berusaha untuk mengingat saat-saat pertama kali kami jatuh cinta. Mengingat hal itu, rasanya setiap kekesalan dan kekecewaan mencair begitu saja. Dalam sekejap saya sudah bisa merasakan gelora itu lagi. Persis seperti pertama kali saya melihatnya. Persis seperti ketika saya bertekad; tidak ada perempuan lain yang lebih saya inginkan selain dirinya.</p>
<p style="visibility: visible"><object width="426" height="320" data="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" type="application/x-shockwave-flash" style="width: 426px; height: 320px"><param value="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" name="movie"></param><param value="high" name="quality"></param><param value="noscale" name="scale"></param><param value="l" name="salign"></param><param value="transparent" name="wmode"></param><param value="cy=ms&amp;il=1&amp;channel=3530822107904199294&amp;site=widget-7e.slide.com" name="flashvars"></param></object></p>
<p><strong>2. Mengikrarkan cinta saat dia tidak mendengarnya</strong>. Rajin-rajinlah mengucapkan kata ‘cinta’ ditelinganya. Begitulah nasihatnya. Saya tidak terlalu percaya itu.  Faktanya, sering sekali kata cinta itu hambar rasanya. Terutama ketika kita mengucapkannya tidak sambil membawa ketulusan hati. Saya memilih untuk lebih banyak mengikrarkan cinta justru pada saat istri saya tidak mendengarnya. Ketika dia sedang bergaya didepan cermin, saya berbisik didalam hati;”Damn, I love her sooo much!”. Saat dia sedang senyum-senyum didepan blackberry, saya bergumam sendiri;”Saya sangat mencintainya…” Waktu dia cemberut, hati saya berkata;”dia semakin menggairahkan saat bibirnya manyun begitu…” </p>
<p><strong>3. Berterimakasih atas penerimaannya</strong>. Jujur saja, saya belum tentu merupakan lelaki terbaik untuk belahan jiwa saya. Dia bisa saja mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada saya. Tetapi, dia menerima saya. Mengijinkan saya untuk mengobral rayuan gombal dibungkus kata cinta yang klise itu. Membiarkan saya melamarnya dengan gaya koboy. Mengangguk ketika saya mengajaknya untuk menikah. Menandatangai surat nikah itu. Mengikuti kemana saja saya membawanya pergi meski lebih banyak susahnya daripada senangnya. Sungguh, dia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini. Maka tak pernah lekang rasa terimakasih saya kepadanya atas semua penerimaan yang telah diberikannya kepada saya. Saya lebih sering terjaga dimalam hari daripada dirinya. Sehingga saya memiliki kesempatan untuk menatap wajahnya ketika sedang terlelap. Memandangnya, sungguh membuat hati saya tersentuh. Sambil mengecup keningnya, saya berterimakasih kepadanya. Atas penerimaan yang telah diberikannya kepada saya.</p>
<p><strong>4. Ganti ‘tak kenal maka tak sayang’ dengan ‘semakin kenal semakin sayang’</strong>. Tak kenal maka tak sayang. Itu benar. Tetapi, banyak juga pasangan yang justru bercerai setelah satu sama lain saling mengenal. “Sekarang saya tahu siapa dia sesungguhnya,” adalah kalimat yang sering kita dengar di infotainmen saat sedang mengeksploitasi pasangan yang sedang bermasalah. Makanya, dalam konteks pernikahan pepatah itu tidak cocok. Ganti pepatah itu menjadi ‘semakin kenal semakin sayang’. Sebelum menikah, kita tidak tahu kalau dia tidurnya mengorok. Kita juga tidak tahu jika dia suka melempar handuk sembarangan. Atau menyimpan pakaian kotor dilantai. Kita, tidak tahu tentang semua hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah menikah, kita mengetahui lebih banyak hal. Seandainya saja ‘semakin kenal kita semakin sayang’, maka mungkin cinta kita semakin hari semakin bertambah murni.</p>
<p><strong>5. Percaya kepada diri sendiri</strong>. Awalnya, saya menuruti nasihat untuk ‘memberi kepercayaan kepada pasangan’. Sebab katanya, jika kita memberi kepercayaan itu, maka dia pasti menjaganya dengan baik. Tetapi kemudian saya merasa hal itu malah menempatkan dirinya pada sebuah tuntutan untuk ‘bisa saya percaya’. Padahal saya percaya bahwa ‘cinta’ bukan soal tuntutan kepada orang yang kita cintai; melainkan memberikan komitmen kita kepada dirinya. Makanya, titik berat saya sekarang bukanlah menuntut dirinya untuk menjaga kepercayaan yang saya berikan, melainkan menjaga kepercayaan saya kepada diri saya sendiri. Yaitu; saya ‘percaya kepada diri saya sendiri’ bahwa saya dapat menjaga kesucian cinta kami. Jika saya sampai merusak kepercayaan itu, maka saya sendiri mengetahuinya. Dan saya tidak sedang mengkhianati siapapun selain diri saya sendiri. Tidak fair jika saya menuntut soul mate saya untuk mempercayai saya, jika dihadapan diri sendiri saja ternyata saya tidak bisa dipercaya. Maka sebelum memintanya untuk percaya kepada saya, sekarang saya belajar untuk terlebih dahulu memberi diri saya sendiri kepercayaan itu.</p>
<p>Sungguh, saya tidak tahu akan menjadi seperti apakah perjalanan pernikahan kami. Namun dengan ke-5 hal itu saya menjadi lebih tentram. Bahkan saya masih tenang ketika di HP-nya ada SMS gombal dari para lelaki culas. Apalagi setelah kita memasuki era blackberry. Didunia ini banyak sekali lelaki yang gemar menggoda istri orang dengan menyalahgunakan anugerah teknologi yang Tuhan titipkan ditangannya. Saya tahu itu karena istri saya sesekali menunjukkan pesan-pesan di blackberry-nya yang tidak senonoh. Kadang kami menjadikannya sebagai bahan candaan. Malah ada diantara para lelaki itu yang saya tahu persis siapa orangnya. Bahkan di fitness center, saya mengenal seorang lelaki yang dia tidak tahu jika saya tahu kata-kata apa yang dikirimkannya kepada blackberry istri saya. Alih-alih emosi, saya malah kasihan kepadanya. Kasihan, sudah setua itu masih saja mengumbar nafsu hewani. Jadi;”Bagaimana mempertahankan pernikahan kami?” Saya tidak tahu. Tetapi, semoga celoteh ini bisa mengkompensasi ketidakmampuan saya dalam menjawabnya.  </p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman &#8211; 20 Juli 2011<br />
Master Trainer &#038; Natural Intelligence Inventor<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/">http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/</a><br />
Contact person in-house training: Ms. Vivi &#8211; 0812 1040 3327<br />
<a href="http://www.twitter.com/dangkadarusman"><img src="http://twitter-badges.s3.amazonaws.com/follow_me-a.png" alt="Follow dangkadarusman on Twitter"/></a><br />
<a href="http://www.facebook.com/#!/notes/dadang-kadarusman/pertanyaan-paling-sulit-tentang-pernikahan/10150258846114044"><strong>FACEBOOK</strong></a></p>
<p><strong>Catatan Kaki</strong>:<br />
Tidak ada yang mengetahui akan menjadi seperti apa perjalanan perkawinannya. Namun, jika sesuatu yang buruk terjadi, kita perlu memastikan bahwa bukan kita penyebabnya. </p>
<p>Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.</p>
<p><marquee scrollamount="5" bgcolor="#e2e2e2"><font size="+1">Follow DK on Twitter @dangkadarusman</font></marquee></p>
<p>Gambar :   lacoquette.mondoblog.org </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2011/07/20/pertanyaan-paling-sulit-tentang-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Plagiat &#8211; Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/11/24/plagiat-kapan-kita-berhenti-meklaim-hasil-karya-orang-lain/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/11/24/plagiat-kapan-kita-berhenti-meklaim-hasil-karya-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 02:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-teman. Hari ini saya mengirim teguran tertulis kepada sebuah penerbit di Jakarta karena mereka menerbitkan sebuah buku. Lho, apa hak saya menegur penerbit? Benar, saya tidak berhak menegur mereka jika menjalankan bisnisnya dengan etika. Tetapi, penerbit itu &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2010/11/24/plagiat-kapan-kita-berhenti-meklaim-hasil-karya-orang-lain/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/11/TSAD-front-Cover.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/11/TSAD-front-Cover-225x300.jpg" alt="" title="TSAD front Cover" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-551" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Hari ini saya mengirim teguran tertulis kepada sebuah penerbit di Jakarta karena mereka menerbitkan sebuah buku. Lho, apa hak saya menegur penerbit? Benar, saya tidak berhak menegur mereka jika menjalankan bisnisnya dengan etika. Tetapi, penerbit itu jelas-jelas mengetahui jika buku yang diterbitkannya itu menjiplak sebagian dari isi buku saya yang sudah diterbitkan terlebih dahulu. Tanpa meminta ijin, tanpa menyebutkan sumbernya. Ada bukti kuat yang menunjukkan jika mereka memang melakukannya secara sadar.  <span id="more-550"></span></p>
<p>Sedih saya dengan perilaku penulis di Indonesia. Bahkan untuk sekedar belajar beretika menulis saja mereka enggan melakukannya. Apa lagi diajak beretika untuk hal-hal yang lebih bernilai dari itu? Lebih sedih lagi saya, karena dalam kasus ini sang jago jiplak itu adalah seseorang yang juga berprofesi sebagai trainer, seperti halnya profesi saya. ‘<em>Jeruk makan jeruk’ </em> ini namanya. Beliau itu bukan trainer sembarangan alias kaliber kelas atas karena; beliau termasuk salah satu dari beberapa trainer yang disebut sebagai pemegang rekor MURI. Barangkali ini adalah salah satu contoh percaya diri seorang pribadi panutan yang kebablasan. Maaf, saya mengatakan demikian karena kita mesti belajar untuk bersikap tegas kepada perilaku tidak beretika. Siapa pun pelakunya.</p>
<p>Pun jika suatu saat nanti Anda menemukan saya yang melakukan penyimpangan. TOLONG. Jangan biarkan saya tersesat dalam jalan yang merendahkan martabat kita sendiri. Baik profesi sebagai Trainer, sebagai pendidik, sebagai penulis, maupun sebagai pribadi seperti halnya pribadi-pribadi lain. Saya juga sama manusianya dengan Anda semua, bisa kepeleset. Bahkan sudah sering kepeleset. Jadi jangan biarkan saya terseret arus sesat. Bantu saya untuk insyaf. Silakan.</p>
<p>Saya sempat berpikir untuk menegur langsung penulisnya. <em>Wake up, man!</em> Dunia penerbitan buku itu berbeda dengan budaya <em>copy paste </em> internet! Apakah sulit untuk sekedar <em>&#8216;menyebut  sebuah nama&#8217;  </em>seandainya you tidak sanggup untuk &#8216;<em>berpermisi</em>’ ria? That&#8217;s the universal ethic.</p>
<p>Namun, akhirnya saya urungkan niat itu karena saya percaya penerbit buku yang mewakili saya bisa menjadi ‘<em>representative body’ </em> yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah ini. </p>
<p>Sebelum saya menegur penerbit itu, saya berulang kali membaca kalimat-kalimatnya. Hahaha, yakin; <em>kalimat itu gue banget!</em> Lalu saya cocokan dengan buku-buku saya. Bingo! Ternyata memang isi buku baru itu di halaman 8 sampai 17 sama persis dengan isi buku saya yang berjudul “<a href="www.bukudadang.com "><strong>Ternyata Semutnya Ada Di Sini</strong></a>”, kecuali satu atau dua kata yang diganti.</p>
<p>Anda yang pernah membaca buku saya yang berjudul “<strong>Ternyata Semutnya Ada Di Sini</strong>” atau yang mungkin suatu saat nanti akan membacanya, jangan kaget kalau isi buku pada halaman 88-95 telah dijiplak oleh sang penulis buku baru itu. Sekedar Anda tahu saja, beliau tidak pernah menghubungi saya untuk mengambil bagian isi buku itu untuk buku yang diterbitkan atas namanya. Padahal kalau saja beliau berbesar hati menyebutkan nama penulis orisinilnya; memang tidak harus minta ijin <em>kok</em>. Kecuali kalau beliau berkenan melakukan yang lebih dari itu.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Leadership &#038; People Development Training<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Penulis buku Indonesia, mari terus berkomitmen kepada etika. Karena etika itulah yang bisa menyelamatkan muka kita dihadapan para pembaca setia kita.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di www.bukudadang.com  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/11/24/plagiat-kapan-kita-berhenti-meklaim-hasil-karya-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengembangkan SDM Di Bulan Ramadhan?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 05:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Natural Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-Teman. Hari ini kita memasuki hari pertama puasa (Ramadhan) 1431H. Sayangnya, bulan puasa kadang disalahartikan sebagai bulan ‘slow down’. Padahal, justru sebaliknya bulan Ramadhan merupakan bulan ‘peak performance’ secara lahir dan batin untuk menjadi manusia yang jauh &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan-225x300.jpg" alt="" title="ramadhan" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-485" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-Teman.</p>
<p>Hari ini kita memasuki hari pertama puasa (Ramadhan) 1431H. Sayangnya, bulan puasa kadang disalahartikan sebagai bulan ‘<em>slow down’</em>. Padahal, justru sebaliknya bulan Ramadhan merupakan bulan ‘<em>peak performance</em>’ secara lahir dan batin untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan bisa menjadi momentum istimewa untuk melakukan training bagi karyawan di perusahaan.   <span id="more-482"></span></p>
<p>Beberapa prinsip berikut ini mungkin bisa diterapkan di perusahaan Anda:<br />
<em><strong>Prinsip pertama, Universal</strong></em>. Yakini bahwa momentum pelatihan bulan puasa bukanlah milik kaum muslimin belaka, melainkan seluruh karyawan di perusahaan. Kita bisa mengajak semua orang untuk memiliki semangat perenungan di bulan ini dengan tetap berpegang teguh kepada keyakinan masing-masing. Perenungan itu dibutuhkan oleh setiap insan, setiap hari. Misalnya, setiap malam menjelang tidur pun kan kita bisa dan biasa merenungkan apa yang sudah kita lakukan sepanjang hari ini. Sehingga, kita semua bisa menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk bersama-sama membangun kebiasaan proses perenungan itu. Mumpung suasana dan lingkungannya mendukung. Dengan begitu proses belajar kita bisa lebih berdampak.</p>
<p><em><strong>Prinsip kedua, Terbuka.</strong></em> Pada dasarnya, training apapun bisa dilakukan pada bulan puasa. Hanya saja, porsi tuntutan terhadap kerja atau aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi para peserta yang sedang berpuasa. Porsi rangsangan daya pikir tidak berubah, bahkan bisa lebih tajam. Sedangkan porsi kesiapan mental/emosional/spiritual bisa lebih tinggi dari hari-hari lainnya.</p>
<p><em><strong>Prinsip ketiga, Toleran.</strong></em> Di bulan Ramadhan, prinsip toleran bisa benar-benar diterapkan. Tapi jangan salah kaprah. Tidak berarti pada bulan Ramadhan kaum muslimin yang berpuasa boleh mendapatkan porsi tanggungjawab yang lebih rendah. Justru bulan Ramadhan itu merupakan tempat latihan fisik, mental, emosional, dan spiritual yang paling gigih untuk membekali diri dalam menghadapi 11 bulan lainnya dalam setahun. Toleran di bulan Ramadhan berarti kita bisa belajar saling memahami satu sama lain. Dalam proses belajar, hal ini bisa diwujudkan secara nyata misalnya pada acara buka puasa bersama.</p>
<p>Saya menyarankan acara buka puasa itu dijadikan momen silaturahmi seluruh karyawan di perusahaan. Bukan hanya karyawan muslim. Oleh sebab itu, materi ceramah pada saat buka puasa sebaiknya dibuat general, sehingga teman-teman yang bukan muslim merasa nyaman mendengarnya dan memiliki semangat belajar yang sama untuk menciptakan etos kerja dan kinerja perusahaan yang lebih baik.</p>
<p>Lho, bukankah di bulan Ramadhan kita harus lebih banyak bedzikir, tafakur, mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu ke-Islam-an? Benar. Namun kita perlu menyadari bahwa yang disebut sebagai ‘ilmu agama’ itu tidak hanya berkaitan dengan hal-hal ritual belaka, melainkan mencakup seluruh kehidupan kita termasuk bekerja dan besosialisasi. Apa lagi jika kita berpegang teguh kepada firman Tuhan, bahwa Nabi SAW membawa Islam untuk menjadi <em>Rahmatan Lil ‘Alamiin</em>. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. </p>
<p>Lho, kalau acara buka puasa diisi oleh ceramah atau seminar bertema umum, kapan kita bertadarrus? Tadarus itu bagian dari Dzikir.  Sedangkan Adz-Dzkir itu memiliki kelapangan yang sungguh sangat luas dan agung. Saking mulianya Dzikr itu, sampai-sampai seorang Muslim diperintahkan untuk melakukannya pada saat berdiri, ketika duduk, maupun sedang berbaring. Tidak ada saat yang terlewat kecuali bersama dzikir. Begitulah Rasulullah menasihatkan. </p>
<p>Ya, itu Dzikir <em>munfarid </em>(pribadi/perorangan). Bagaimana dengan Dzikr berjamaah? Mari kita perhatikan. Setiap hari, kita memiliki waktu sekitar 1 jam untuk beristirahat. Diluar bulan Ramadhan, kita menggunakan waktu  1 jam tersebut untuk memberi diri kita nutrisi fisik, alias makan siang. Bulan suci Ramadhan akan menjadi semakin indah ketika kita setiap hari bisa menggunakan waktu 1 jam itu untuk Dzikr berjamaah di kantor. Mengaji dan mengkaji. Mengundang para alim ‘ulama untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap Al-Islam. </p>
<p>Mulailah dari hal sederhana. Misalnya, apa sih arti ‘Islam’ itu? Al-Islam memiliki banyak makna. Salah satunya adalah, ‘<strong>Keselamatan</strong>”. Islam itu diturunkan untuk membawa keselamatan bagi seluruh alam. Jadi, seorang muslim sejati pasti sanggup memastikan keselamatan siapapun yang berada disekitarnya melalui sikap adil dan penyayangnya.</p>
<p>Islam juga berarti “<strong>Kedamaian</strong>”. Kita perlu bertanya kembali, apakah sebagai seorang pemeluk Islam kita sudah mampu memberi kedamaian kepada kolega-kolega kita. Tetangga-tetangga kita. Bahkan kepada pesaing-pesaing kita?</p>
<p>Al-Islam juga berarti <strong>&#8220;Penyerahan Diri&#8221;. </strong>Kepada siapa? Kepada Sang Pemilik segala kebenaran. Dia-lah yang oleh para Bapak Bangsa kita digambarkan sebagai titik pusat ikrar kebangsaan kita: “<em>Ketuhanan Yang Maha Esa.” </em></p>
<p>Hal-hal semacam ini sangat baik untuk dikaji setiap hari pada jam istirahat siang di kantor. Sedangkan acara buka puasa bersama itu apa? Itu bukan momentum milik karyawan yang berpuasa saja. Melainkan kesempatan bagi ummat Islam untuk semakin mendekatkan diri dengan rekan-rekan lainnya. Lagi pula, acara buka puasa bersama cukup dilakukan satu kali selama bulan Ramadhan itu. Sedangkan acara tadarrus dan Dizkr tadi, bisa dilakukan setiap hari pada saat istirahat siang, selama bulan Ramadhan.</p>
<p>Sekarang, ijinkan saya untuk mengambil 2 kesimpulan:<br />
<em>Pertama, </em> istirahat harian 1 jam di kantor bisa digunakan menjadi acara ‘santap ruhani’ seluruh karyawan muslim. Patut sekali jika manajemen atau HRD di kantor memfasilitasi program ‘training keislaman’ dengan memanggil para alim ‘ulama untuk meningkatkan keimanan dan etos kerja karyawan setiap hari. Silakan hitung itu sebagai ‘<em>training hour’ </em>dalam proses pengembangan SDM Anda. Ulama bisa membantu karyawan untuk menemukan bahwa ‘bekerja adalah bagian penting dalam proses peribadatan seseorang’. Sehingga etos kerja orang yang faham terhadap ajaran Islam pasti akan jauh lebih baik lagi.</p>
<p><em>Kedua, </em>acara buka puasa bersama bisa dijadikan ajang silaturahmi dan saling berkasih sayang dengan seluruh karyawan di perusahaan. Pada momen ini, sebaiknya HRD dan menejemen memfasilitasi proses belajar dengan topik yang general dan bisa diterima oleh semua orang yang hadir. Saya yakin Anda bisa menemukan para pembicara yang tepat untuk sesi-sesi seperti ini. Indonesia, memiliki banyak sekali trainer hebat. <em>You can count on them, believe me</em>.</p>
<p>Dengan demikian, aspek vertical maupun horizontal dari makna Ramadhan ini bisa tercapai. Karena Islam, sama sekali bukan hanya tentang urusan penyembahan kepada Allah Yang Esa. Melainkan juga tentang kontribusi dan kepedulian kita semua kepada sesama.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p>gambar: diambil dari www.binamuslim.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan-jangan Plagiat Itu Produk Lembaga Pendidikan</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/19/jangan-jangan-plagiat-itu-produk-lembaga-pendidikan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/19/jangan-jangan-plagiat-itu-produk-lembaga-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 01:41:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-teman. Plagiat lagi. Kaum intelek lagi. Institusi pendidikan lagi. Kita sependapat untuk tidak memberi tempat kepada praktek-praktek plagiat, dan tidak memberi tempat kepada pelakunya. Bukan karena tidak menyukai orangnya, tapi perilakunya. Disisi lain, kita juga sering disuguhi &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/19/jangan-jangan-plagiat-itu-produk-lembaga-pendidikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/04/Cheating-300x300.jpg" alt="" title="Cheating" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-298" />Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Plagiat lagi. Kaum intelek lagi. Institusi pendidikan lagi. Kita sependapat untuk tidak memberi tempat kepada praktek-praktek plagiat, dan tidak memberi tempat kepada pelakunya. Bukan karena tidak menyukai orangnya, tapi perilakunya. Disisi lain, kita juga sering disuguhi fakta bahwa institusi sering mengelak  dari tanggungjawab. Seolah hendak bercuci tangan. Padahal, sudah saatnya untuk mengevaluasi; jangan-jangan plagiat itu merupakan salah satu produk lembaga pendidikan.  <span id="more-289"></span></p>
<p>Sikap defensif institusi pendidikan terhadap kasus plagiat tidak akan bisa menyelesaikan masalah. ’Merasa kecolongan’, atau ’merasa ditipu’sama sekali bukanlah bentuk jawaban yang konstruktif. Sebaliknya, malah semakin menegaskan bahwa memang institusi pendidikan cenderung cuci tangan. Mereka tidak ingin nama baiknya tercemar, namun sesungguhnya mereka tidak memiliki sistim yang bisa diandalkan agar praktek plagiat semacam itu tidak terjadi di institusinya. Ini bukan soal institusinya apa. Sebab, disemua institusi pendidikan manapun mahasiswa S-1 yang sedang membuat tugas akhir mendapatkan akses tinggi terhadap makalah atau skiripsi yang dibuat oleh kakak kelasnya. Internet pun menyediakan banyak kemudahan. Namun, kita perlu mawas diri; apakah akses yang luas itu sudah diimbangi dengan pembekalan yang memadai tentang etika dalam penyusunan karya tulis? Padahal, jika untuk meraih gelar sarjana S-1 saja seseorang menjiplak, sangat mungkin untuk tesis pada jejang pendidikan S-2 dan S-3 melakukan tindakan serupa. </p>
<p>Kalau ditelaah lebih jauh, sebenarnya penjiplakan itu sudah menjadi penyakit sistemik dalam sistem pendidikan di Indonesia. Buktinya, untuk lulus Ujian Nasional saja kita mencontek. Padahal, mencontek adalah salah satu bibit plagiat dikemudian hari. Jika seorang Menteri dan aparat kepolisian saja kelabakan mencegah pencotekan; bagaimana mungkin kita bisa yakin bahwa kasus-kasus plagiat itu terjadi hanya sedikit? Jangan-jangan kita hanya melihat permukaannya saja. Sedangkan akar masalah yang sesungguhnya tetap tersembunyi dibawah laut.</p>
<p>Institusi pendidikan boleh mengatakan ’mereka kecolongan’ jika mereka hanya berfokus kepada ’pengajaran teknis intelektualitas’ belaka di kampusnya. Padahal, pendidikan yang sesungguhnya bukanlah sekedar memenuhi otak anak didik dengan pengetahuan. Melainkan juga membangun jiwanya agar memiliki sikap mental yang baik. Kalau target proses pendidikan mereka sampai kepada titik ini, maka pasti mereka tidak akan cuci tangan. Sebaliknya mereka akan mengakui fakta itu sebagai salah satu titik lemah yang mesti dicarikan jalan keluarnya. Sayangnya, perguruan tinggi di negeri kita jarang bersikap demikian. Fokus utama mereka adalah; menyelamatkan muka dan citra belaka. Padahal, itu semakin menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak menjadikan ”character building” sebagai landasan pendidikan mereka.</p>
<p>Kita juga sering lupa pahwa mental plagiat itu menimbulkan ekses yang kompleks. Hal itu membentuk sebuah pola berantai seperti ini; saat ujian mereka mencontek, saat membuat skripsi mereka menjiplak, dan ketika terjun kedunia nyata mereka mencurangi hasil karya orang lain. Makanya, kita kehilangan generasi kreatif yang mempercayai bahwa dirinya memiliki keunikan. Sehingga mereka lebih suka meniru atau menggunakan tools ’copy paste’ dari karya-karya orang lain untuk kemudian memberikan label bahwa itu adalah hasil karyanya sendiri.</p>
<p>Dalam industri perbukuan juga demikian. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat menceritakan tentang kecurangan yang lumrah terjadi di dunia penerbitan.  Kurang dari tiga bulan setelah buku yang ditulisnya terbit; muncul buku lain yang sejenis. Dalam buku saingannya itu ada bagian-bagian yang ’plek ketiplek’ di copy paste dari bukunya. Bahkan, ada 20 halaman yang dijiplak hingga titik komanya pun sama. Modus lain yang sering digunakan para pengarang kacangan dan penerbit yang tidak beretika adalah; mengincar buku-buku bagus. Lalu, menerbitkan buku yang isinya hampir sama dengan buku itu. Anda juga bisa menemukan banyak buku yang tidak jelas siapa penulisnya. Padahal, salah satu cara untuk menguji kualitas sebuah karya tulis adalah; apakah penulisnya memiliki kesediaan dan kemampuan untuk mempertanggungjawabkan karya tulisnya dihadapan para pembaca? Dan di Indonesia, belum ada lembaga relugator yang menggawangi tantangan-tantangan seperti itu. Makanya, plagiatisme tumbuh subur dan menjamur.  </p>
<p>Keterkaitan antara sistem pendidikan, sistem pengawasan, dan keutuhan moral sang penulis jelas sekali kelihatan. Kalau salah satu dari ketiga komponen itu masih asyik dengan jurus lamanya untuk berlepas tangan, maka kasus-kasus penjiplakan akan terus berkembang. Jadi, kita memang tidak boleh menganggap remeh plagiatisme. Namun, penyelesaiannya sama sekali bukanlah dengan cara menunjuk hidung si pelaku belaka. Institusi pendidikan harus berani mengambil tanggungjawab. Pemerintah mesti mampu mengawasi. Industri dan penulis juga mesti tahu diri.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman</p>
<p>http://www.bukudadang.com/</p>
<p>Penulis Buku ” Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk”  </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Mencotek hasil karya orang lain itu menggambarkan sikap mental pelakunya yang imitatif. Seperti kembang plastik, hasil karyanya terlihat indah. Tapi tidak memiliki nyawa.  </p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan dapatkan di <a href="www.bukudadang.com">www.bukudadang.com</a>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/19/jangan-jangan-plagiat-itu-produk-lembaga-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kado Terbaik Bagi Seseorang Yang Kita Cintai</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/13/kado-terbaik-bagi-seseorang-yang-kita-cintai/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/13/kado-terbaik-bagi-seseorang-yang-kita-cintai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 05:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-teman. Kali ini saya tidak memposting artikel. Melainkan hendak curhat saja. Jadi, mungkin ini tidak terlampau bermanfaat bagi Anda. Silakan treat tulisan ini sekedarnya saja. Jika orang yang anda cintai berulang tahun, anda memberinya kado apa? Kecupan &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/13/kado-terbaik-bagi-seseorang-yang-kita-cintai/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/04/Nyamuk-Front-Cover.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/04/Nyamuk-Front-Cover-221x300.jpg" alt="" title="Nyamuk-Front Cover" width="221" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-283" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Kali ini saya tidak memposting artikel. Melainkan hendak curhat saja. Jadi, mungkin ini tidak terlampau bermanfaat bagi Anda. Silakan treat tulisan ini sekedarnya saja.</p>
<p>Jika orang yang anda cintai berulang tahun, anda memberinya kado apa? Kecupan dikeningnya sudah pasti. Tetapi, selain ungkapan kasih sayang seperti itu saya yakin anda sangat ingin memberinya sesuatu yang berharga. Cincin berlian, misalnya. Atau sebuah hand phone canggih. Bahkan mobil atau rumah baru. Mengapa sih kita memberinya hadiah? Karena kita ingin menunjukkan betapa kita sangat mencintai dirinya. Namun, kadang kita keliru mendefinisikan cinta’ itu. Misalnya, orang tua yang membelikan kado berupa sepeda motor kepada anaknya yang belum genap berusia 17 tahun. Padahal itu sangat beresiko bagi keselamatan anaknya sendiri. Lagipula, apakah kado ulang tahun harus berupa benda-benda mahal seperti itu? <span id="more-284"></span></p>
<p>Beberapa belas tahun lalu, seorang perempuan cantik yang saya cintai berulang tahun. Padahal, saya tidak termasuk orang yang mampu memberikan kemewahan dan hadiah-hadiah berharga mahal. Itu jika saya boleh mengganti kata ’bokek’ dengan ungkapan yang lebih halus. Tetapi, saat itu saya bersedia menyerahkan hal terbaik yang saya miliki kepadanya. Yaitu diri saya sendiri. Maka, dihari ulang tahunnya itu saya menyerahkan diri saya sendiri melalui sebuah janji untuk setia mengarungi sisa hidup yang saya miliki.  Sejak saat itu, hari ulang tahun kelahirannya adalah juga hari ulang tahun pernikahan kami. </p>
<p>Kemarin, saya kedatangan tamu. Seorang teman lama yang dulu sering berbagi cerita dan pekerjaan sewaktu kami masih sama-sama bekerja. Seperti kebanyakan orang lainnya, kami pun tenggelam dalam kisah-kisah masa silam. Lalu, pertanyaan: ”Sekarang si ini dimana?” dan ”Si itu sudah jadi apa, ya?” berseliweran disela-sela tawa. Semua yang kami tanyakan tentulah orang-orang yang pernah dekat dengan kami. Dan teman saya ini adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menghimpun banyak sekali informasi. Sehingga darinya, saya bisa mengetahui hal-hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kami ikut merasa senang ketika mendengar teman-teman berhasil meraih pencapaian yang lebih tinggi. Kami juga ikut bersedih ketika ada teman yang kurang beruntung. Namun, diantara senang dan susah itu ada juga yang membuat saya tidak tahu apakah harus ikut senang. Atau bersedih. Bahkan saya tidak sepenuhnya mempercayai kisah itu. Tahukah Anda mengapa? </p>
<p>Teman saya bercerita tentang sahabat kami yang dikenal begitu baik dan taat. Namun, dalam perjalanan selanjutnya setelah kami berpisah beliau dikabarkan bermasalah dengan sebuah keluarga lain. Mungkin dia khilaf karena ’mendekati’ perempuan bersuami hingga menimbulkan masalah dikemudian hari. Dari dulu, saya tidak tertarik mendengar hal-hal seperti itu. Saya memilih untuk ’menjadi tidak tahu’ tentang hal itu. Tapi kali ini, saya ngeri mendengarnya karena dua hari lagi adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Saya tidak tahu, apakah bisa tetap istikomah untuk terhindar dari hal serupa itu atau tidak. Tetapi malam itu, seolah saya mendapatkan kado berupa sebuah nasihat tentang contoh yang tidak perlu ditiru.</p>
<p>Keesokan harinya, saya membaca dimedia masa dan menyaksikan dilayar televisi. Seorang selebriti mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan permohonan maaf karena telah menyebabkan rumah tangga seseorang berantakan. Untuk kedua kalinya saya mendapatkan kado ulang tahun pernikahan. Mudah-mudahan, tidak ikut terseret arus sedemikian. Tidak mudah memang. Terutama ketika kita sering bepergian. Berinteraksi dengan jenis manusia yang beragam. Membuat godaan demi godaan seolah menjadi santapan harian. Sahabat saya bilang;”Jangan pernah memulainya,” katanya. Karena menurutnya; sekali mencoba, sangat sulit untuk menghentikannya. Mungkin memang demikian. Saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati; ’Adakah kado yang lebih baik dari kesetiaan?’</p>
<p>Hari ini istri saya berulang tahun. Anak pertama kami memberinya 30 lembar voucher pijat gratis yang bisa di klaim ibunya untuk mendapatkan pijatan darinya selama 30 hari. Anak kedua kami mengirimkan dua buket bunga tanda cinta. Anak ketiga kami yang masih TK, bahkan memberinya hadiah ’ulang tahun setiap hari’ dengan sekuntum bunga mungil yang dipetiknya dari halaman rumah. Ditambah kecupan dipipi kiri dan kanan. Saya harus memberi kado apa ya? Tidak mungkin saya memberikan diri saya lagi, karena sudah menjadi miliknya sejak ijab kabul dulu.  Kali ini, saya hanya bisa memberinya kado berupa buku yang saya tulis sendiri. Sebuah penerbit telah berbaik hati menerbitkannya untuk kami. Dan istri saya, menjadi orang pertama yang mendapatkannya.</p>
<p>”Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk?  Kok judulnya aneh begini sih?”<br />
”Biar saja.” saya bilang. ”Supaya menjadi pelajaran bagi kita untuk membebaskan diri dari sifat serakah.” Seserakah-serakahnya nyamuk, dia pasti berhenti rebutan materi ketika perutnya sudah kekenyangan. Kita? Tidak tahu kapan harus berhenti. Karena kita memiliki gudang penyimpanan yang melebihi perut. Sehingga sifat serakah kita nyaris tidak ada batasnya. Semoga buku itu menjadi panduan bagi kami untuk semakin memupuk rasa syukur. Sebab, jika rasa syukur itu tumbuh subur. Mungkin kami tidak perlu lagi melirik kekanan dan kekiri. Rasa syukur itu menghidupkan ketentraman hati. Sehingga, kita tidak panas hati ketika melihat orang lain lebih ini dan lebih itu. Dan rasa syukur, bisa menyelamatkan kita dari dorongan untuk mengambil materi yang bukan hak kita. Karena dengan rasa syukur, kita berterimakasih kepada Tuhan. Tanpa menuntut-Nya untuk memberikan sesuatu yang belum tentu baik dimata-Nya.</p>
<p>Kalau orang yang Anda cintai berulang tahun; kado terbaik apa yang Anda persembahkan kepadanya? Sampai sekarangpun saya masih ragu; ’Adakah kado yang lebih baik dari kesetiaan?’ Barangkali, kita bisa memulai dengan permohonan maaf yang tulus kepadanya. Atas semua yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Kemudian memulai ikrar baru. Untuk menyerahkan diri kita kepadanya. Seutuhnya. Semoga.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman &#8211; <a href="http://www.bukudadang.com/">http://www.bukudadang.com/</a><br />
Penulis Buku ” Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk”  </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tidak ada kesalahan yang tidak termaafkan, ketika sesal yang tulus mengiringi permintaan maaf yang kita ucapkan.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/04/13/kado-terbaik-bagi-seseorang-yang-kita-cintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prinsip Dasar Cara Berbisnis Insan Pilihan</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/03/14/prinsip-dasar-cara-berbisnis-insan-pilihan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/03/14/prinsip-dasar-cara-berbisnis-insan-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 04:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/2010/03/14/prinsip-dasar-cara-berbisnis-insan-pilihan/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda pernah mendengar seseorang mengatakan; &#8220;Cari duit haram saja susah, apalagi yang halal?&#8221;. Saya pernah. Dan ketika mendengar itu, hati saya miris. Bukan karena sikap orang itu. Melainkan karena ketakutan saya untuk ikut-ikutan mempunyai prinsip hidup seperti itu. Sebab, &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2010/03/14/prinsip-dasar-cara-berbisnis-insan-pilihan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/03/IMG_2930.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/03/IMG_2930-224x300.jpg" alt="" title="IMG_2930" width="224" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-258" /></a> Apakah anda pernah mendengar seseorang mengatakan; <em> &#8220;Cari duit haram saja susah, apalagi yang halal?&#8221;. </em>Saya pernah. Dan ketika mendengar itu, hati saya miris. Bukan karena sikap orang itu. Melainkan karena ketakutan saya untuk ikut-ikutan mempunyai prinsip hidup seperti itu. Sebab, saya ingin agar seluruh sel hidup dalam tubuh istri dan anak-anak, serta diri saya sendiri hanya memakan makanan yang dihasilkan dari nafkah yang halal saja. Saya takut Tuhan marah karena menafkahi keluarga dengan sesuatu yang Dia tidak suka. Masalahnya adalah; lingkungan bisnis kita sering menganggap seolah hal semacam itu merupakan sesuatu yang sudah lumrah.  <span id="more-241"></span></p>
<p>Suatu sore belum lama ini, sahabat saya menelepon. Dia mengabarkan kalau saat ini sedang berada di sebuah pameran buku. Saya terkejut ketika dia bilang bahwa buku edisi pertama saya yang pertama kali diterbitkan di tahun 2005 itu katanya juga ikut dipamerkan. Padahal, selalu saya katakan bahwa buku itu sudah sejak lama tidak ada dipasaran. Buku itu sekarang muncul lagi setelah hampir dua tahun lamanya hak penerbitannya kembali ke tangan saya. Apa iya penerbit sebesar itu melakukan tindakan serupa itu? Begitu saya berpikir. Tetapi, saya yakin sahabat saya tidak sedang bercanda.</p>
<p>Maka keesokan harinya, saya meluncur ketempat pameran buku itu. Dan benar saja. Disana terdapat buku saya yang dulu oleh penerbitnya dilaporkan sudah tidak ada stok lagi. Memang, ada sedikit stok. Namun, jumlah copy yang ada dipameran itu saja sudah melebihi angka yang ada dalam lembar laporan mereka sekitar 2 tahun lalu. Untuk sekedar dokumentasi, saya memfoto stand pameran itu. Lengkap dengan tumpukan buku-buku saya. Lalu membeli satu copy. Lantas, saya tempelkan struk pembeliannya dibuku itu. Beberapa saat sebelum pengembalian hak penerbitan itu, memang saya sempat meminta penjelasan mengenai keanehan laporan status stok buku yang tidak terlacak sejumlah lebih dari 500 eksemplar. </p>
<p>Menemukan fakta ini, saya sempat menerawang atas apa yang akan terjadi pada naskah buku lain yang saya miliki. Padahal, tahun 2010 ini saya sudah mencanangkan untuk menerbitkan minimal 4 judul buku baru. Dan jika segala sesuatunya lancar; tepat pada saat ulang tahun pernikahan kami, dibulan April ini sudah tersedia di toko buku. Sesaat kemudian, kekhawatiran saya atas fakta ini segera tergantikan oleh kata-kata orang itu tentang duit tadi. Tetapi, saya tidak yakin kalau dari menjual buku itu mereka mendapatkan banyak penghasilan. Lalu, pikiran saya berkata;&#8221;<em>Mungkin sekarang mereka menemukan stok buku yang dulu hilang.&#8221;  </em>Daripada buku itu masuk ke tempat sampah, kan lebih baik di jual ke orang? Tetapi, siapa sih sesungguhnya pemilik buku-buku itu? </p>
<p>Dari sinilah kemudian saya teringat pelajaran yang disampaikan guru mengaji saya tentang ahlak Rasulullah. Beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah seorang pengusaha yang sangat jujur. Dalam berniaga, beliau memastikan tidak ada hak-hak pihak lain yang terlanggar. Bahkan saking jujurnya Kekasih Allah itu, sampai-sampai beliau memberi tahu pelanggannya tentang berapa modal dasar barang yang dijualnya. Misalnya, beliau membeli barang modal seharga 10 dirham. Lalu membawa barang itu untuk dijual kembali. Dan saat bertemu dengan calon pembeli, Rasulullah mengatakan bahwa beliau membeli barang itu dipasar dengan harga 10 dirham. Lalu beliau menetapkan harga jual kembali dengan selisih keuntungan yang diambilnya. </p>
<p>Saya tidak terlampau kagum ketika mendengar kisah ini. Karena, waktu kisah itu diceritakan; umur saya masih kecil. Bukan tidak kagum kepada ahlak Nabi. Melainkan karena saya tidak memiliki kaitan dan pemahaman langsung tentang apa yang sesungguhnya terjadi didunia bisnis. Namun, ajaib sekali. Pelajaran yang saya peroleh dimasa belia itu masih bersemayam didalam alam bawah sadar saya hingga kini. Sehingga, ketika saya benar-benar mulai mengenal dunia kerja itu seperti apa; saya bisa menemukan relevansinya. Sekarang saya mengerti, mengapa Tuhan mengutus Nabi sebagai seorang pedagang. Karena, Tuhan ingin agar Nabi memberi contoh nyata tentang tata cara berniaga yang penuh berkah.</p>
<p>Nabi tidak pernah melarang para pedagang untuk mengambil keuntungan yang banyak. Karena, dalam berbisnis kita boleh mengambil untung sebanyak yang kita bisa. Kalau kita bisa mengambil untung yang banyak; silakan saja. Sebab, pelanggan memegang kendali sepenuhnya untuk membeli lagi, atau mencari pemasok lain saja. Tetapi, Nabi mengajarkan kita tentang etika. Supaya hasil yang kita peroleh dalam usaha tidak hanya banyak jumlah fisiknya saja. Melainkan juga berkah nilainya. Itulah sebabnya dalam berbisnis, Nabi mengutamakan kejujuran. Dan menghindari muslihat. </p>
<p>Kata guru mengaji saya; &#8220;<em>Nabi melarang kita mengurangi takaran.&#8221;.  </em>Kita bilang satu kilo, tetapi berat sesungguhnya hanya 950 gram. Kita melaporkan terjual 3, padalah sisa hasil penjualan unit lainnya disembunyikan. Kita mengaku rugi kepada pemilik saham, padahal dalam pembukuan yang sebenarnya mencatatkan keuntungan. Ketika beliau menyampaikan ajaran itu; manusia berada pada jamam jahiliyyah. Artinya, kecurangan tengah merajalela. Tipu muslihat menjadi nafas cara berbisnis para pengusaha. Dan kebohongan, merupakah senjata utama para pelobi. Sedangkan kerakusan merupakan sifat dasar perencana proyek.</p>
<p>Anda yang bukan pengusaha mungkin terkekeh-kekeh. Karena, melalui guru mengaji saya Sang Nabi tengah menasihati para pengusaha. Tetapi, jangan lupa; bahwa sebelum menjadi pengusaha beliau juga seorang pegawai upahan. Beliaulah yang menggembalakan domba-domba milik para majikan. Dan dari pekerjaannya itulah beliau memperoleh bayaran. Sama seperti kita. Ternyata, sebelum diangkat menjadi Nabi; Muhammad juga adalah seorang pekerja. Hal terindah yang paling saya ingat tentang sifatnya yang terekam dalam sejarah adalah; para majikannya tidak pernah menemukan karyawan sejujur, dan segiat insan pilihan itu. Makanya, gelar Al-Amien melekat kepada dirinya sejak masih kanak-kanak hingga wafat. Artinya, orang-orang bersaksi bahwa Dia adalah manusia yang jujur, dan dapat dipercaya. Baik didalam kehidupannya sebagai seorang pekerja. Maupun sebagai pengusaha. Bisakah kita juga menirunya?</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Learning Facilitator  of &#8220;œFundamental Leadership Development&#8221; Program</p>
<p>http://www.dadangkadarusman.com/</p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Jika kita tahu bahwa mencari uang haram itu susah, mengapa kita tidak mengupayakan untuk memperoleh yang halal saja?</p>
<p>Melanjutkan tradisi tahun lalu, pada bulan April dan Mei 2010 ini kami akan mengundi/memilih 4 perusahaan untuk memperoleh sesi Pengembangan Diri Gratis kami selama 2 jam. Hanya berlaku di DKI Jakarta. Topiknya; â€Kita Ini Mahluk Sempurna, Tapi Tidak Berarti Tanpa Cela.â€  Bagi Anda yang tertarik untuk mengikutsertakan perusahaannya dalam undian/pemilihan ini  silakan mendaftarkan nama dan identitas perusahaannya melalui email dengan subjek â€œTradisi 2010â€ lalu kirim ke dkadarusman@yahoo.com . Perusahaan yang tahun lalu sudah terpilih diperbolehkan untuk mendaftar kembali.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul â€Belajar Sukses Kepada Alamâ€ versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com </p>
<p><object width="480" height="385"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/YYhRbnmbhno&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/YYhRbnmbhno&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/03/14/prinsip-dasar-cara-berbisnis-insan-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serum Penangkal Rasa Sakit Hati</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2008/10/11/serum-penangkal-rasa-sakit-hati/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2008/10/11/serum-penangkal-rasa-sakit-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 20:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dadang Kadarusman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Development]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/2008/10/11/serum-penangkal-rasa-sakit-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Hore, Hari Baru! Teman-teman. Kemarin, saya benar-benar dikenalkan kepada dunia baru. Yaitu dunia dimana kita bisa berbicara melalui gelombang suara yang dipancarkan dari studio radio. Mbak Nuning Purnama yang sudah sangat ahli itu memandu saya supaya tidak terlalu norak sewaktu &#8230; <a href="http://www.dadangkadarusman.com/2008/10/11/serum-penangkal-rasa-sakit-hati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Kemarin, saya benar-benar dikenalkan kepada dunia baru. Yaitu dunia dimana kita bisa berbicara melalui gelombang suara yang dipancarkan dari studio radio. Mbak Nuning Purnama yang sudah sangat ahli itu memandu saya supaya tidak terlalu norak sewaktu siaran. Saya senang alang kepalang. Seperti seorang anak yang mendapatkan mainan baru. Dan lebih senang lagi karena dari acara itu saya mendapatkan sebuah pelajaran baru ketika salah seorang pendengar mengirim SMS dengan mengatakan â€<em>Wah, bagus tuch kalau sekalian diiringi lagu â€™ular berbisaâ€™.â€ </em>Memang konteksnya kala itu adalah tentang belajar dari alam bagaimana caranya supaya kita bisa sukses dalam menjalani hidup ini. Oh, ternyata salah satu tujuan Tuhan menciptakan ular berbisa itu adalah supaya manusia bisa mempelajari sebuah filosofi tentang hidup. Sudahkah anda tahu filosofi itu?   <span id="more-143"></span></p>
<p>Ular berbisa mempunyai reputasi yang sangat buruk. Karena dia dianggap hewan yang berbahaya dan sangat mematikan. Padahal, konon ular cenderung bersikap menghindari konfrontasi dengan manusia. Dengan kata lain, ular lebih memilih menyingkir daripada berantem dengan kita. <em>â€Berurusan dengan manusia? Caaaape ddeh!!â€ </em>mungkin begitu dia bilang. Alhasil, bisa yang dimilikinya dapat difungsikan untuk mempertahankan diri atau berburu mangsa. </p>
<p>Lebih dari itu, kita sekarang tahu bahwa bisa ular, tidak semata-mata dapat digunakan untuk membunuh. Namun justru sebaliknya bisa memberi kehidupan kepada manusia. Karena, dengan kemajuan teknologi saat ini kita bisa membuktikan bahwa bisa merupakan sumber potensial bagi berbagai macam obat-obatan untuk menyembuhkan  dan menyelamatkan hidup manusia. Dan, rupanya disinilah letak pelajaran yang hendak disampaikan Tuhan melalui sang ular itu.</p>
<p>Ular berbisa, dapat diibaratkan sebagai tantangan atau kesulitan hidup. Kenyataannya, hidup kita tidak selalu mudah, bukan? Semakin hari, kehidupan kita terasa semakin berat. Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Rintangan demi rintangan seakan tiada hendak berhenti. Persis seperti bisa ular. Kita bisa mengolah bisa ular menjadi serum. Dengan serum itu, tubuh seseorang menjadi kebal. Atau disembuhkan dari berbagai macam penyakit. Demikian pula halnya dengan kesulitan hidup. Didalam setiap kesulitan hidup yang kita alami, tersembunyi â€™serum kehidupanâ€™. Dengan serum itu, kita bisa manjadikan jiwa ini lebih tahan banting. Lebih kuat dalam menghadapi cobaan demi cobaan yang datang silih berganti. Dan, dengan serum itu, kita dapat menjadikan diri lebih sehat secara mental dan spiritual.</p>
<p>Ular berbisa juga menggambarkan manusia-manusia yang berperangai buruk. Kita tahu bahwa kita tidak selalu berhasil membangun hubungan dengan orang lain. Ada saja orang-orang yang membuat kita tidak nyaman saat berhubungan dengan mereka. Dan, setelah kita berbuat baik kepada merekapun, tetap saja mereka menunjukkan sikap yang buruk kepada kita. Ada yang merendahkan kita. Ada yang menghina kita. Dan ada yang mencari-cari kelemahan dan kekurangan diri kita. Seakan-akan, kita sama sekali tidak memiliki sisi baik sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. </p>
<p>Begitu banyak perempuan yang dinikahi oleh para lelaki. Namun, madu kehidupan pernikahan itu perlahan-lahan mengering, dan kemudian para perempuan itu disia-siakan. Disakiti hatinya. Dan dicampakkan. Sebaliknya, banyak pula lelaki baik yang dikhianati perempuan-perempuan yang mereka nikahi. Menyisakan luka hati yang begitu dalam. Dan kekecewaan yang teramat sangat. Ular mengajarkan kepada kita, bahwa hubungan kita dengan sesama manusia kadang-kadang tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Dan ular bertanya kepada kita; <em>â€Sudahkah kita memiliki serum untuk melindungi diri dari semua perlakuan buruk orang lain itu?â€ </em></p>
<p>Dengan serum itu, kita bisa menolong diri sendiri. Supaya hidup kita tidak hancur hanya gara-gara perlakukan kurang menyenangkan dari orang lain. Karena sungguh, kita memegang kendali atas diri kita sendiri. Orang lain bisa menyakiti hati kita. Orang lain bisa merendahkan kita. Tapi, jika kita mengatakan kepada diri sendiri; <em>â€Sorry ye, gak ngaruh!â€ </em> maka, hidup kita akan baik-baik saja. </p>
<p>Selain itu, serum yang benar-benar tangguh bisa membebaskan diri kita dari sifat dendam. Ngapain kita mesti dendam kepada orang itu jika apapun yang dia lakukan kepada kita; tidak bisa merusak hidup kita? Justru sebaliknya, kita mesti berterimakasih kepada mereka karena bersedia menjadikan diri kita semakin kuat. Misalnya, baru-baru ini saya  mendapatkan teguran yang sangat sinis dari seseorang. Dia mengatakan bahwa saya ini manusia bodoh rendah yang murahan. Namanya juga manusia, tidak semuanya sepaham dengan pendapat kita, bukan? </p>
<p>Saat mendapatkan kecaman itu, ego saya mengatakan<em>;â€Gue kuliah di sekolah T-O-P B-G-T, yang belum tentu manusia satu itu mampu untuk sekedar menginjakkan kakinya dikampus itu. Tapi, dia berani mengucapkan perkataan buruk itu sama gue!â€.</em> Mungkin, saya bisa membalas cacian orang itu dengan makian yang sama beracunnya. Tapi, serum itu benar-benar menolong saya untuk melihat sisi positifnya. Dan ternyata, kebodohan saya memang terbukti. Sebab, untuk sekedar membedakan gado-gado, pecel, dan lotek saja ternyata saya masih suka keliru. Oh, benar. Ternyata, saya ini tidak sempurna. Belakangan, saya berterima kasih kepada orang itu karena telah menunjukkan kelemahan diri yang bisa saya perbaiki. </p>
<p>Selain berguna untuk diri sendiri, serum itu juga bisa kita gunakan untuk menolong orang lain. Jika kita pernah berhasil melewati masa-masa sulit ketika dikecewakan oleh seseorang, misalnya. Maka kita bisa menolong orang lain yang sedang dilanda kekecewaan yang sama. Kita bisa memahami perasaannya. Menyelami batinnya. Dan berempati kepadanya. Lalu,  menyuntikkan serum itu kedalam dirinya. Sehingga, orang itu berhasil melewati saat-saat sulit yang dialaminya. Dan kemudian mampu, membuat serumnya sendiri. </p>
<p>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Dadang Kadarusman<br />
<a href="http://www.dadangkadarusman.com/ ">http://www.dadangkadarusman.com/ </a></p>
<p><strong>Catatan Kaki: </strong><br />
Cobaan hidup itu bagaikan racun ular berbisa. Dia dapat membuat kita mati terbunuh, atau menjadi kebal karenanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2008/10/11/serum-penangkal-rasa-sakit-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

